
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan padaku karena aku bukan orang yang akan memanjakan mu" ucapnya sambil meminum segelas air dan kembali menaruhnya diatas meja makan.
Aku membuka mataku dengan lebar dan tidak mengerti dengan apa yang dia maksud sebenarnya, padahal aku hanya kesal karena sikapnya yang terlalu mengekang ku selama ini, dan aku rasa selama ini yang kekanak-kanakan adalah dia bukan aku tapi kenapa tiba-tiba sekarang malah dia yang berkata seperti ini kepadaku, lantas aku menjadi heran dan mengerutkan kedua alisku bersamaan menatapnya dengan penuh ketidak percayaan.
"Hah?, Haha...kau lucu ya, menurutmu akulah yang kekanak-kanakan lalu bagaimana dengan sikapmu yang begitu protektif kepadaku bahkan untuk keluar saja aku harus meminta izinmu dan pulang sesuai waktu yang sudah kau tentukan, apa kau pikir aku ini seorang tahanan?" Ucapku kepadanya dengan kesal.
Dia hanya diam saja setelah aku mengatakan itu hingga tidak lama bi Mia datang bersama beberapa pelayan lain dan menyajikan makanan untuk sarapan, aku berniat pergi dan sudah bangkit berdiri dari kursiku namun dia menahanku dan menyuruh aku untuk kembali duduk di hadapannya.
"Berhenti, mau kemana kau?" Tanya nya kepadaku dengan wajah yang masih sangat datar,
"Aku mau ke kamar, menurutmu apa lagi yang bisa aku lakukan aku tidak akan bisa kabur dari genggamanku tuan Albercio" ucapku sambil merotasikan mataku,
"Kembali duduk dan nikmat sarapannya bersamaku" ucapnya begitu mendominasi,
"Kau sarapan saja sendiri aku tidak lapar" balasku yang masih membencinya,
"Jika kau tidak lapar untuk apa kau meminta bi Mia membawakan makanan ke kamarmu, cepat duduk atau aku akan membuang semua makanan ini" ucapnya mengancamku lagi.
Aku tidak bisa melawannya dan aku kembali duduk dengan berdecak kesal dan segera menikmati makanan yang tersaji di atas meja, meski aku sangat kesal terhadap Albercio tapi tidak dapat dipungkiri aku juga merasa lapar atas perutku sehingga walaupun aku kesal dan ingin marah, aku tetap menikmati makanannya.
Hanya saja aku menghabiskan makanan itu lebih cepat dari sebelumnya karena aku tidak tahan melihat wajahnya lebih lama lagi, aku juga memiliki banyak urusan yang harus aku lakukan bukan hanya tentang dirinya saja.
__ADS_1
"Aku sudah selesai" ucapku sambil berniat untuk segera pergi dari hadapannya.
Tapi lagi-lagi dia menahanku dan menyuruhku untuk tetap diam di depan meja makan, itu membuatku sangat jengkel menghadapinya dan aku sudah menekuk wajahku sejak lama tapi dia tetap menatapku dengan datar dan serius.
"Ada apa lagi sih?, Apa kau tidak puas menahanku terus, aku ingin menenangkan diriku Albercio" ucapku merengek karena sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya.
Dia pun terlihat menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan lalu dia mulai mengatakan semua niatnya kepadaku.
"Ibuku ingin bertemu denganmu dan aku akan membawamu menemui mereka beberapa hari lagi" ucapnya mengungkapkan.
Aku kaget dan membelalakkan mataku lebar, aku tidak menyangka dia benar-benar akan mempertemukan aku dengan kedua orangtuanya dan membawaku ke negara yang jauh itu.
"Apa kau pikir aku bercanda, tidakkah kau lihat wajahku ini, aku serius tentang hal itu Arisha. Dan ibuku juga sudah pernah melihatmu sehingga dia sudah sangat penasaran dengan dirimu" ucapnya menjelaskan.
Aku langsung tertunduk lemas dan tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku tidak mau menemui kedua orangtuanya karena tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan kehidupan dia, meski secara hukum aku ini memang sudah menjadi istri sah nya tetapi aku tahu semua ini hanyalah sebuah kontrak dan perjanjian bersama diantara aku dan dia.
Dan semua pernikahan ini juga disebabkan oleh paman dan bibiku yang menjebak aku dengan sengaja, sehingga bagaimana mungkin aku melibatkan kedua orang tuan Albercio untuk ikut ke dalam hal seperti ini, aku hanya takut mereka nantinya akan kecewa saat mengetahui semua kebenarannya.
Aku pun langsung menolak ajakan Albercio saat itu juga karena aku tidak ingin menyakiti siapapun karena pernikahan kontrak seperti ini.
"Tidak aku tidak ingin menemui kedua orangtuamu, kau lupa apa? Kita ini hanya nikah kontrak setelah satu tahun berlalu aku akan lepas darimu dan setelah kau mendapatkan kekuasaan dari kedua orangtuamu kau juga akan meninggalkan aku, apa yang bisa dihadapkan jika aku menemui mereka dan mereka menyukaiku aku tidak ingin membuat orang lain terlibat dan ikut merasakan sakitnya" ucapku menjelaskan,
__ADS_1
Ku pikir dia akan mengerti dengan maksud yang aku katakan kepadanya namun ternyata aku memang terlalu berharap lebih kepada orang berhati batu sepertinya, bahkan kepada kedua orangtuanya sendiri dia tidak perduli.
"Kau tetap harus menemui mereka karena itu tertulis dalam surat perjanjian dan kau sudah menyetujuinya jauh sebelum semua ini direncanakan, satu lagi aku tidak memiliki hati lemah sepertimu, aku tidak perduli sekalipun kedua orangtuaku menyukaimu atau tidak dan apa mereka akan sakit hati atau tidak jika mengetahui kebenarannya" balasnya membuatku benar-benar menyesal telah menandatangani perjanjian dengan manusia tidak berperasaan sepertinya.
"Hey, apa kau manusia sungguhan?, Aku rasa kau lebih mirip sebuah boneka yang di program hanya untuk bekerja dan bisnis atau bahkan kau adalah robot yang ingin menguasai dunia" ucapku mengatainya saking jengkelnya menghadapi dia,
"Kau bisa memanggilku seperti itu, karena itu memang kenyataannya" balasnya yang sama sekali tidak terlihat tersinggung oleh ucapanku.
Aku benar-benar kaget melihat sikapnya yang semakin ke sini justru malah semakin dingin serta tidak berperasaan, tidak tahu apa yang menyebabkan dia bisa tumbuh menjadi pria tidak berhati seperti sekarang ini, bahkan aku menjadi ragu dengan apakah ada hati betulan di dalam tubuhnya atau tidak sama sekali.
"Waahhh ...kau benar-benar berhati batu, aku menyesal menjadi istrimu walaupun hanya istri kontrak, bagaimana kau bisa menyayangi istrimu jika kau saja tidak perduli dengan kedua orangtuamu sendiri" balasku sambil menggelengkan kepala tidak memahami pemikirannya itu.
"Bagus jika kau tahu itu, jadi kau tidak perlu berharap aku akan menyukaimu" balasnya dengan santai dan meneguk air minumnya.
Aku sungguh tidak mengerti lagi dengan pemikirannya itu, tapi melihat dia yang begitu dingin dan sungguh tidak memiliki sedikitpun rasa empati kepada manusia, rasanya ini sangat janggal untukku dan aku merasa sedikit takut dengannya kali ini, aku pun menyetujui permintaannya untuk menemui kedua orangtuanya beberapa hari lagi karena aku pikir dia tidak keberatan jika aku membuat kedua orangtuanya membenciku.
"Jadi bagaimana keputusanmu?" Ucapnya bertanya kepadaku,
"Hmm...baiklah aku setuju untuk menemui kedua orangtuamu karena kau juga tidak masalah dengan dampaknya nanti, aku juga tidak akan segan-segan membuat kedua orangtuamu membenciku secara sengaja" balasku menyetujuinya.
Aku pikir tidak ada salahnya jika hanya bertemu mereka sebentar, terlebih aku sudah pernah melihat bagaimana antusiasnya ibu Albercio ketika melihatku hanya lewat panggilan video, setidaknya jika putranya saja tidak menyayangi dia mungkin aku bisa mengobati sedikit luka kekosongan dihati perempuan itu, atau aku juga bisa membuatnya membenciku agar aku tidak terikat lagi dengan keluarga aneh ini.
__ADS_1