Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Kaget


__ADS_3

Aku terus diam di dalam kamar dengan bosan, sudah mengganti pakaian dengan piyama berwarna putih bersih dengan corak garis garis kecil yang lembut, aku rasa piyama itu mahal karena bahannya yang begitu lembut dan nyaman dipakai di badan, tapi saat aku berdiri di balkon menikmati hembusan angin malam tiba tiba saja perutku bersuara.


"Kreokkk.. kreokkk..." Suara perutku yang keroncongan,


"Aduh.. perut ini tidak bisa diajak kompromi sih, sepertinya aku harus keluar mencari makanan" ucapku pelan sambil berjalan menuju pintu.


Aku intip di balik sela sela pintu melihat keadaan diluar setelah aku rasa aman dan tak ada Albercio di sekitar sana aku pun langsung membuka pintu dan berjalan berjinjit perlahan menuruni tangga hingga sampai ke dapur dan bertemu bibi Mia.


"Ssstt... Bi... Bibi..." Ucapku berbisik,


"Nyonya kenapa anda di sana?" Ucap bibi Mia sambil menghampiriku,


"Aduh bi jangan keras keras, nanti Albercio dengar, saya lapar mau minta makanan yang banyak tapi aku mau bibi tolong bawakan ke kamarku yah" ucapku sambil berbisik di balik tembok,


"Iya nyonya, tapi kenapa nyonya harus bicara sepelan itu bibi sulit mendengarnya" jawab bibi Mia,


"Tidak papa bi, kalo gitu aku tunggu diatas yah" ujarku dan segera pergi kembali ke kamar.


Aku tidak bisa makan di meja makan bagaimana jika nanti tiba tiba saja Albercio datang untuk makan malam dan itu akan bahaya untukku, aku mengusap dadaku dengan perasaan lega karena berhasil kembali ke dalam kamar tanpa ketahuan oleh Albercio, ku duduk di samping ranjang menunggu bibi Mia mengantarkan makanan, rasanya sangat bosa tidak ada ponsel, tidak ada tv dan hanya duduk diam melamun.


Ketika sepi dan duduk seorang diri seperti ini aku mulai teringat dengan kepergian ayah dan ibu juga adik kecilku, mengingat lagi apa yang dilakukan oleh paman dan bibi pada keluargaku aku benar benar tidak bisa melupakan semua itu, amarahku memuncak begitu saja dan air mata membendung seakan siap meledak kapan saja.

__ADS_1


"Kenapa harus aku yang menerima takdir ini, aku akan membalaskan Dendam ini, mereka harus menerima balas yang pantas atas semua yang mereka lakukan pada hidupku!!" Ucapku dengan tangan yang mengepal kuat.


Aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa kabur dari kediaman Albercio, karena tidak mungkin aku akan terus tinggal di sana sebagai tahanan karena ulah paman dan bibi ku sedangkan aku juga harus membalaskan dendamku pada mereka berdua, aku mulai memikirkan rencana melarikan diri dari rumah itu sampai tiba tiba pintu kamarku diketuk dari luar tiga kali.


Ku kira itu bibi Mia dan aku segera datang membukakan pintu, namun saat ku buka rupanya itu bukan bibi Mia melainkan Albercio dengan menenteng makanan di tangannya aku refleks langsung menutup pintu secepat yang aku bisa tapi pintu itu sudah berhasil di tahan lebih dulu oleh tangan kekar milik Albercio.


"Euhh.... Lepaskan tanganmu itu, jangan masuk ke kamar ini" ucapku sambil berusaha keras menutup pintunya,


"Heiii... Aku hanya ingin memberimu makan kenapa kau sesulit ini sih!" Ucap Albercio dengan geram.


Mendengar ucapannya aku pun terdiam dan membiarkan dia masuk ke dalam kamar, Albercio menaruh makanan yang dia bawa ke atas meja di kamarku, lalu dia datang menghampiriku yang membuatku gugup dan merasa takut.


"He...heii... Kenapa kau menatapku begitu, menjauhlah dariku aku lapar" ucapku dengan gugup,


"A... Aku... Ti..tidak takut denganmu" ujarku berusaha menjauh darinya,


"ARISHA...., KAU EUHHH... cepat habiskan makanan ini dan bereskan kamarku seperti semula, kalau tidak aku akan memotong lenganmu!!" Bentak Albercio yang membuatku kaget dan hampir membuat jantungku berhenti berdetak,


Nafasnya yang menderu dan suaranya yang lantang memekikkan telinga membuatku takut ditambah tatapan matanya yang tajam dan wajah merah dengan penuh emosi, aku langsung mengangguk dan menyantap makanan dengan cepat, selama aku mengunyah makanan dia sama sekali tidak beranjak pergi, Albercio tetap berdiri seperti patung melihatku yang makan di sampingnya, dia menatapku tajam seakan siap menerkam ku kapan saja dengan kedua lengan yang dia lipatkan di dada dan bibir yang mengerucut menahan emosi.


Aku berusaha makan dengan cepat dan mengunyah semua makanan yang masuk ke dalam mulut dengan asal saking terburu burunya dan takut melihat Albercio yang menatapku setajam itu aku sampai tersedak dan hampir kehilangan nafas.

__ADS_1


"Eu....eu...eu...." Ucapku dengan mata yang membelalak dan berusaha mengeluarkan makanan yang membuatku tersedak,


Albercio yang melihatku tersedak dia nampak begitu panik dan langsung memukul leher bagian belakangku cukup kuat sampai akhirnya makanan yang nyangkut di tenggorokan ku berhasil di keluarkan, aku merasa sangat lega dan Albercio memberikanku segelas air minum, aku meminumnya dalam satu tegukan dan merasakan tenggorokan yang masih sakit sambil terbatuk.


"Ohokk....ohok...aduhh... Sakit sekali" ucapku sambil memegangi leher belakangku yang tadi ditepuk oleh Albercio,


"Heh... Apa kau mau membunuhku yah?, kenapa memukulnya sangat keras!!" Bentakku merasa kesal,


"Bukannya berterima kasih kau malah berani beraninya membentakku, asal kau tau jika aku tidak memukulnya dengan kuat belum tentu makanan itu keluar, paham!!" Balas Albercio tak mau kalah,


"Tapi itu sakit All, coba kau lihat pasti merah atau bahkan lebam, aku sampai sulit melirik begini" jawabku menjelaskan rasa sakitnya,


"Oke oke saya yang salah, tunggu di sini dan diam lah jangan buat kekacauan lagi, aku akan ambilkan obat untukmu" ujarnya sambil bergegas pergi,


Aku tidak tau kemana dia akan mengambil obat sampai tak berselang lama dia kembali membawa sekotak obat P3K di tangannya, lalu dia memberikan kotak itu dengan kasar kepadaku.


"Ambil ini dan obati punggung lehermu itu, hanya pakai salep ini nanti juga tidak akan merah dan kau tidak akan sakit lagi" ucapnya menjelaskan.


Aku pun mengambil salep yang Albercio maksud dan segera mengoleskannya ke leher belakangku namun agak sulit untuk menjangkau ke area yang benar karena walau menggunakan cermin tetap saja aku tidak bisa melihat punggung leherku dengan mata kepala sendiri terlebih leherku sulit di gerakkan sekarang, saat aku tengah kesulitan tiba tiba saja Albercio datang menghampiri dan merampas salep di tanganku lalu dia menyuruhku untuk berbalik.


"Cepat berbalik, aku akan oleskan salepnya" ucapnya dan aku pun menuruti,

__ADS_1


Selesai mengoleskan salep itu ku pikir dia masih memiliki hati ternyata aku salah dia tetap saja menyuruhku untuk membersihkan kamarnya, padahal banyak pelayan di rumah itu kenapa juga harus aku yang membereskannya apalagi itu kamarnya aku sangat benci sekali.


__ADS_2