Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Memutuskan


__ADS_3

Lama Serli terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan lesu, aku tau dan sangat paham dia sedih karena penolakkan dariku, tapi aku sungguh tidak bisa jika harus mengikutinya ke luar negeri, aku belum bisa jauh dari rumah ini karena hanya rumah ini tempat dimana aku tidak merasa kesepian dan tempat dimana aku masih bisa merasakan keberadaan keluargaku, aku bukan tidak ikhlas atas kepergian mereka namun aku masih berduka dan belum siap kalau harus melupakan kejadian itu saat ini, terlebih aku belum mendapatkan bukti yang kuat untuk mencari siapa orang dibalik penyebab kecelakaan mobil yang aku alami beberapa bulan lalu.


Perlahan aku genggam kedua tangan Serli dan memberikan penjelasan lagi padanya agar dia dapat mengerti dan menerima keputusanku.


"Serli maafkan aku, bukannya aku tidak mau menemanimu atau apapun itu, aku hanya belum siap saja, dan aku masih ingin mencari tau bukti atas penyebab kecelakaan saat itu, aku juga tidak akan marah padamu, aku justru mendukungmu untuk mendapatkan kebagaiaanmu sendiri bersama kak Anton, tapi aku titip padamu jika dia membuatmu terluka kembalilah pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu" ucapku dengan senyum menahan kesedihan,


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku juga tidak bisa memaksa, meski aku sangat berharap kamu ikut denganku" ucap Serli penuh harap.


Serli akhirnya memahami keinginanku dan dia mengangguk tanda mengerti, kami pun saling berpelukan dan memberikan kekuatan serta kehangatan satu sama lain, beginilah jika kita hidup tanpa kedua orang tua dan keluarga yang mendampingi, perih, sakit dan terluka semua harus ditanggung seorang diri menjadi sosok yang mandiri dalam segala hal dan harus bisa menjaga mental agar tetap waras.


"Tapi kamu juga janji yah jika kamu mendapatkan kesulitan di sini, kamu beritau aku dan kalau bisa aku masih berharap kamu akan ikut bersamaku dan Anton" balas Serli sambil melepaskan pelukannya,


Lagi lagi Serli masih terus mengharapkan aku agar bisa mengubah keputusan dan ikut bersamanya ke negara A, namun keputusanku sudah bulat aku tidak bisa meninggalkan rumah ini.

__ADS_1


"Iya kamu tenang saja, aku akan selalu mengabarimu, lagi pula kalau masalah paman dan bibi aku masih sanggup melawan mereka meski sendirian, jangan meragukanku soal itu hehe" jawabku diiringi sedikit tawa untuk meyakinkan Serli bahwa aku akan baik baik saja.


******************************


Ke esokan paginya aku baru tau kalau ternyata kak Anton sudah mempersiapkan segalanya untuk keberangkatan Serli juga dirinya ke negara A, dan jadwal penerbangan mereka nanti malam, kak Anton sengaja memilih penerbangan malam karena keadaan di perusahaan ayahnya sudah sangat membutuhkan keberadaan dia sehingga terpaksa harus mempercepat penerbangannya, aku juga sibuk membantu Serli berkemas, saat tengah membereskan barang barang aku merasa sangat berat akan berpisah dengan sosok Serli yang selalu menasehati ku dan mengajariku tentang kebaikan.


Mungkin setelah kepergiannya tidak akan ada lagi orang yang menasehati ku ketika aku bicara kasar, tidak akan ada lagi yang menjewer telingaku ketika aku makan dengan mengangkat sebelah kaki ke atas kursi, dan bahkan ketika aku marah tidak ada yang mengelus kelapaku untuk bersabar, aku sudah bisa merasakan bagaimana nantinya jika aku tanpa Serli.


Aku terus berusaha menahan tangis dengan menyibukkan diri sampai akhirnya waktu itu tiba, aku pergi mengantarkan Serli ke bandara dan di sana nampak kak Anton sudah tiba dia membawa 3 tiket pesawat karena dia pikir aku juga akan ikut, namun Serli segera menjelaskan semuanya, kak Anton masih sempat membujukku agar mau ikut dengan mereka namun dengan berat hati aku tetap tidak bisa.


"Arisha apa kamu yakin tidak mau ikut bersama kami?, aku sangat cemas tentangmu, sebaiknya kamu ikut saja, aku akan menjagamu seperti adikku sendiri" ucap kak Anton membujukku,


"Terimakasih atas kebaikanmu kak, tapi maaf aku sungguh tidak bisa, dan jangan cemaskan aku, aku ini kan kuat dan lagi pula pukulanku ini tidak main main loh" ucapku di iringi gurauan,

__ADS_1


Serli dan kak Anton tertawa kecil mendengar gurauan dariku, seperti biasa Serli selalu saja mengelus kasar pucuk kepalaku saat dia merasa gemas padaku, perlakuannya itu selalu mengingatkanku pada sosok ayah, ayah juga selalu melakukan hal itu padaku katanya itu adalah bentuk kasih sayang.


Sikap itulah yang membuatku merasa sangat dekat dengan Serli meski aku dan Serli hanya terpaut 9 bulan namun dia sudah seperti sosok kakak bagiku, apalagi aku adalah anak pertama di keluargaku dulu, sehingga keberadaan Serli sungguh membuatku merasa dimanjakan, dan perasaan itu hanya bisa kudapatkan saat bersama kedua orangtuaku dan Serli saja, sebab di depan adikku aku harus bersikap dewasa layaknya seorang kakak pada umumnya, tapi sekarang aku bahkan tidak bisa merasakan menjadi sosok kakak lagi, hati ini teriris tatkala mengingat kenangan indah saat masih bersama keluarga yang begitu hangat dan menyayangiku dengan tulus, kadang aku berpikir mengapa harus aku yang menelan pil pahit dalam hidup ini seorang diri.


Saat aku tengah melamun kak Anton membuyarkan pikiranku dan mereka berpamitan karena jadwal keberangkatan sudah hampir tiba, aku mengangguk dan berpelukan untuk terakhir kalinya bersama Serli, aku lihat Serli yang sudah menangis sesegukan dan aku bersama kak Anton berusaha menenangkannya.


"Hei...Serli berhentilah menangis, kau ini seperti anak kecil saja ditambah wajahmu itu jelek sekali saat menangis jangan membuat aku dan kak Anton malu tau" ucapku sengaja agar Serli berhenti menangis.


"Hiks..hiks... Kamu ini menyebalkan, aku sangat menyayangimu" ucap Serli memukulku kecil,


"sudah pergi sana, nanti kamu ketinggalan pesawat, bye...bye... Hati hati yah kalau sudah sampai cepat kabari aku" ucapku sambil melambaikan tangan dan melemparkan senyum terindah yang aku bisa sebagai tanda perpisahan.


Setelah Serli pergi dan sudah tak nampak dipandang mata, di situlah aku lemas tak berdaya aku berjongkok dan menangis dia antara selah kedua lututku, aku menenggelamkan wajah ini yang nampak begitu buruk, ku tumpahkan semua kesedihan saat itu juga, sebenarnya sedari tadi aku sudah menahan air mata itu agar tidak jatuh di hadapan Serli, aku tidak mau membuatnya khawatir, aku yakin aku bisa tanpa dia dan aku akan baik baik saja, aku tidak bisa menahannya bersamaku dia juga butuh kebahagiaan untuk dirinya sendiri, aku tidak bisa memperlihatkan sisi lemah dalam diriku pada orang lain apalagi pada Serli dan kak Anton yang sudah seperti keluarga bagiku.

__ADS_1


__ADS_2