Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Tas


__ADS_3

Albercio sama sekali tidak menanggapi sapaan dari sang ibu dia hanya fokus duduk dan menatap sang adik yang mulai makan dengan lahap bahkan di sana Albercio sama sekali tidak menyentuh makanan yang sudah di sajikan sedikitpun.


"Albercio apa kamu masih marah dengan ibu, mengapa kamu tidak memakan makanan yang sudah ibu persiapkan dengan sepenuh hati?" Ucap ibu Mariana dengan wajah yang pilu.


Albercio yang sudah mengenal ibunya sejak lama dia tau dan bisa melihat dengan jelas bahwa semua sikapnya itu hanyalah ke pura puraan yang sering dilakukan oleh sang ibu kepadanya, entah apa yang membuat ibu Mariana hingga bertengkar hebat dengan Albercio padahal dia adalah ibu kandungnya sendiri namun sama sekali tidak memperdulikan kebahagiaan putranya.


Ayah Albercio yang saat itu juga duduk di satu meja yang sama dia nampak sudah muak dengan semua drama yang dibuat oleh istrinya dia menjatuhkan sendok makan dengan keras lalu pergi meninggalkan meja makan begitu saja.


"Ibu aku sibuk, tolong sampaikan salamku pada ayah" ucap Albercio dan segera bergegas pergi dari sana.


Saat dia berjalan keluar dari Mension dengan kesal dan mengepalkan kedua lengannya, adik tercintanya terus berlari dan berteriak memanggil namanya membuat Albercio harus menghentikan langkah lalu berbalik menatap sang adik.


"Kakak...kak Alber tunggu aku..." Teriak Kayla sangat kencang,


Albercio langsung merubah ekspresi dalam dirinya ketika berhadapan pada adik tercintanya.


"Kayla sayang, kakak harus segera kembali banyak pekerjaan yang harus dilakukan orang dewasa, kamu belajar dengan baik lalu kelak kakak akan menjemputmu dari penjara ini" ucap Albercio dengan lembut,


"Kakak...apa yang kau bicarakan, Kayla tinggal di rumah bukan penjara" jawab Kayla dengan polosnya,


"Itu akan menjadi rumah hanya saat kamu kecil, cepat kembali nanti ibu akan mengkhawatirkanmu" ujar Albercio seakan memberikan penjelasan pada Kayla,


Kayla memeluk Albercio terakhir kalinya sebelum dia kembali berpisah dengan kakak tercintanya tersebut.

__ADS_1


"Kakak...tepati janjimu itu yah, kau harus kembali ke mari dan menjemput ku jangan lupa bawakan aku bidadari cantik yang akan kau nikahi, kau sudah berjanji padaku kan kak" ucap Kayla dengan senyum merekah dan mengangkat jari kelingking.


Albercio mengangguk dan dia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Kayla tanda mereka sudah mengikat janji, setelah itu Albercio mengusap lembut rambut adiknya dan menyuruh dia agar segera kembali masuk ke dalam Mension.


Kayla menuruti ucapan Albercio dan dia berlari kembali masuk ke dalam Mension yang dia pikir adalah rumah yang baik untuknya.


Albercio menatap sekolah bangunan mewah yang bak istana itu, tempat yang dulu pernah menjadi rumah terbaik baginya namun seketika berubah menjadi neraka yang menyeramkan dan selalu mengancam kebahagiaan juga ketentraman dirinya.


Setelah semua urusannya selesai Albercio menyuruh sekretaris Han untuk membawa paman Arisha terbang bersamanya ke negara XX dan akan mengurungnya di kediaman bawah tanah yang ada di rumahnya sendiri.


Saat itu juga Albercio bersiap kembali terbang ke negaranya dan sudah menyelesaikan semua permasalahan dengan cepat, dia tidak ingin tinggal terlalu lama di kota yang banyak menyimpan luka dan sebuah ke tidak adilan atas kehidupan dia dinmasa lalu.


Sedangkan di sisi lain Arisha yang tengah sarapan dia mulai merasakan keanehan karena kali ini dia bisa sarapan dengan bebas juga tidak perlu menunggu Albercio untuk mulai menyantap sarapan seperti biasanya, karena penasaran Arisha pun menanyakannya pada bibi Mia.


"Bi...apa Albercio tidak ada di rumah?" Tanyaku menduga duga,


"Tuan muda juga menitipkan salam pada bibi untuk nyonya dan agar nyonya merawat kaki nyonya dengan baik" tambah bibi Mia yang aku tanggapi dengan anggukkan.


Aku melanjutkan sarapanku dan makan dengan lahap, seperti ini jauh lebih baik ketika tidak ada Albercio aku bisa segera mengambil bungkusan barang barang yang aku sembunyikan di balik semak semak sebelumnya.


Saat sudah selesai sarapan aku mengatakan bahwa aku ingin berolahraga mengelilingi rumah dan tidak membutuhkan bodyguard untuk mengikutiku karena aku tidak keluar dari gerbang.


"Bi..aku mau olahraga dan berkeliling rumah ini dulu yah" ucapku meminta izin,

__ADS_1


"Eh...tunggu nyonya bukankah kaki anda masih sakit bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu sebaiknya nyonya beristirahat saja" ucap bibi Mia yang terlalu mengkhawatirkanku,


Aku berusaha membujuk dan meyakinkan bibi Mia agar dia memperbolehkan ku pergi.


"Tidak papa bi aku ini sudah sembuh, tuh kakiku saja sudah sangat baik cuman sakit sedikit tidak masalah, aku janji akan memperhatikan jalanku, dan aku tidak butuh bodyguard rasanya menyebalkan hanya berkeliling ke belakang rumah tapi harus di ikuti bodyguard, aku harap bibi mengerti, lagian aku tidak akan bisa kabur dengan kondisi kakiku kan" ucapku berusaha meyakinkan bibi Mia.


Nampak bibi Mia sedikit berpikir untuk beberapa saat sampai akhirnya dia mengijinkanku untuk pergi seorang diri.


"Eummm...baiklah, tapi jika nyonya tidak kembali dalam tiga puluh menit saya akan memeriksanya ke sana bersama semua bodyguard, bagaimana?" Ucap bibi Mia membuat persetujuan denganku,


"Baik silahkan saja lagian aku juga hanya sebentar kok" jawabku menyetujuinya tanpa banyak berpikir.


Aku langsung mengganti pakaian dan segera pergi ke belakang rumah dengan berjalan dan sambil pemanasan agar tidak membuat curiga pada pelayan di sana yang aku lewati, saat sampai di belakang rupanya di sana ada banyak bangunan kecil lain yang sepertinya digunakan sebagai tempat tinggal para pelayan.


Namun bagunan itu nampak sepi, mungkin karena semua pelayan tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing di dalam rumah mewah milik Albercio karena ini masih sangat pagi, aku merasa itu adalah kesempatan terbaik untukku dan aku tidak akan menyia nyiakan kesempatan sebagus itu.


"Haha...ini kesempatan bagus aku akan segera mengambilnya lalu kembali ke dalam rumah" gerutuku pelan,


Aku mulai mencari keberadaan tas ku diantara semak semak dan banyaknya pohon bunga di sana, namun aku sudah mencarinya selama dua puluh menit tetap belum berhasil menemukannya, aku kembali mencarinya dengan lebih detail dan teliti tetap saja tidak ada hasil, aku menggaruk belakang kepalaku dengan frustasi karena tidak berhasil menemukan tas milikku yang aku lempar ke sana sebelumnya.


"Aishh....perasaan terakhir kali aku melemparkannya ke mari, bagaimana aku bisa lupa?, Atau jangan jangan sudah ada yang menemukannya...aaaahhh bagaimana ini" gerutuku memikirkan dan banyak menduga duga.


Aku frustasi dan tidak punya cara lain untuk mencarinya karena waktu sudah habis aku pun memutuskan untuk berjalan kembali dan saat baru saja kembali nampak bibi Mia sudah bersiap dengan para bodyguard untuk mencariku, aku bahkan sempat kaget melihat bibi Mia sungguh mengkhawatirkanku sebesar itu.

__ADS_1


"Ahhh...melihat reaksi mereka aku semakin yakin kalau aku ini adalah tahanan" gumamku dalam hati.


Aku berjalan menghampirinya dengan berjalan perlahan karena kakiku kembali terasa sakit, aku tadi mengabaikan rasa sakitnya karena panik dan terburu buru untuk mencari buntelan yang aku lempar namun nyatanya aku tetap tidak bisa menemukan barang barangku itu.


__ADS_2