Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Di bebaskan


__ADS_3

Bukannya aku tidak merasa senang dengan kabar ini, namun mengapa begitu tiba tiba, sejak awal dia bersih keras menahanku di rumahnya bahkan sampai menikah denganku dan membuat kontrak perjanjian dimana aku harus mengurusi semua keperluannya.


Meski selama aku tinggal di sana aku tidak melakukan semua yang tertulis di dalam kontrak dia juga tidak pernah marah dan mungkin karena belakangan ini dia terlalu sibuk sehingga jarang berada di rumah dan aku tidak perlu untuk terus melayaninya, namun keputusannya membebaskanku sungguh membuatku merasa curiga dan sangat heran.


"Ini sungguhan cepat kemasi barang barangmu dan pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran" ucap Albercio dengan tenang,


Aku masih merasa semua ini tidak nyata dan kembali menanyakan semua itu untuk memastikannya.


"Apa kau sungguh memintaku pergi dari rumahmu?, Lalu apa aku bisa mendapatkan kembali kunci rumahku?, Apa kita juga bisa bercerai?, Apa aku sungguh di bebaskan?" Tanyaku lagi bertubi tubi.


Tiba tiba Albercio menatapku dengan tajam dan membuatku kesulitan menelan salivaku sendiri, tatapannya sangat tajam dia mulai mengintimidasi ku lagi dan aku selalu berdiam membeku tak bisa bergerak ketika dia menatapku setajam itu.


"Ke...kenapa kau menatapku begitu, berhenti mengintimidasiku kau membuatku tidak bisa bergerak" ucapku dengan detak jantung yang begitu cepat saking takutnya.


"Heh....dengar baik baik, aku menyuruhmu keluar dari rumahku bukan berarti aku benar benar membebaskanmu, dan jangan harap rumah itu menjadi milikmu lagi, aku sudah menjualnya dan besok pemilik baru sudah akan menempatinya" jawab Albercio,


"Apa?, Kau menjualnya?, Lalu ke mana aku akan pergi jika rumah itu sudah milik orang lain, apa kau gila?" Bentakku tidak bisa menahan emosi ketika mendengar kabar tersebut.


Albercio hanya mengabaikanku lalu dia berjalan menuju sebuah lemari dan aku terus mengikutinya entah dia tengah mengambil apapun tapi aku tidak mau tau aku terus bicara padanya menanyakan kejelasan dan apa maksudnya melakukan semua ini padaku.


"Heh...apa kau dengar aku, apa maksudmu mengusirku dan mengambil rumahku, apa kau benar benar manusia aku tidak punya siapa siapa lagi sekarang" bentakku kepadanya.

__ADS_1


Tiba tiba saja dia mengeluarkan tas buntelan yang aku sembunyikan di belakang rumah sebelumnya.


"I...itu....itukan tasku, kenapa bisa ada padamu?" Tanyaku dengan kaget.


Sebenarnya tadi saat Albercio mengikuti Arisha ke belakang rumah dia sudah merasa curiga dan menyuruh satpam untuk memeriksa rekaman cctv sampai akhirnya dia mengetahui semua ulah yang dilakukan Arisha beberapa hari lalu, saat Albercio mencari tas itu rupanya salah satu bodyguard sudah menemukannya lebih dulu dan memberikannya segera kepada Albercio.


Awalnya bodyguard itu pikir bahwa itu adalah buntelan sampah yang tidak terbuang makanya dia hendak membuangnya untunglah Albercio datang tepat waktu untuk mengambil barang tersebut karena dia tau Arisha yang melemparkannya, dia juga tidak menyangka Arisha bisa diam diam kabur dari pengamatannya dan pergi ke rumah tersebut sampai mengambil beberapa barang dan menyembunyikannya dengan baik.


"Kau mencoba kabur dariku kan, maka aku akan membebaskanmu, jadi apa masalahnya sekarang" ucap Albercio,


"Ta..tapi....aku...aku hanya ingin mengambil barang barang kenangan kedua orangtuaku, aku tidak memiliki ponsel dan tidak bisa pergi kemanapun, setiap hari seakan dikurung di rumah ini dan tidak bisa melakukan banyak hal, aku juga ingin bebas aku ingin memiliki kehidupan seperti orang pada umumnya, apa kau mengerti itu" ucapku begitu saja dengan mulut yang gemetar.


Aku tidak bisa menahan air mataku lagi dan perlahan sedikit demi sedikit air mata itu jatuh, aku langsung menghapusnya dengan tanganku dengan cepat namun sayangnya air mata itu terus saja keluar semakin banyak aku sudah tidak mampu menahannya dan aku menangis saat itu juga.


"Heuu...heu.....heuuuu....hiks...hiks....aku masih 19 tahun tapi harus hidup menyedihkan seperti ini, kenapa dunia tidak adil padaku, aku ingin membalaskan dendam kedua orang tuaku tapi aku sama sekali tidak berguna.....aku sudah menikah dengan orang asing dan hidupku hancur begitu saja....heu....heuuuu" ucapku sambil menangis dan berjongkok di lantai.


Aku tau aku sudah mempermalukan diriku sendiri di hadapan Albercio tapi aku sudah tidak perduli dengan harga diriku, aku sungguh ingin mencurahkan dan melepaskan semua beban yang aku simpan selama ini.


Tidak perduli dia memandangku seperti apa aku tetap menangis dengan keras dan semakin keras sampai dia menghampiriku dan memelukku, entah kenapa saat itu aku merasa sentuhannya begitu lembut padaku, mulai dari caranya memelukku dan mengusap kepalaku aku tau dia berusaha menenangkan ku tapi aku hanya ingin menangis agar bisa sedikit tenang dan melepaskan sedikit beban.


"Hiks...hiks...ini sangat memalukan, aku tidak pernah menangis sebelumnya, kenapa kau membuatku menangis padahal kau hanya diam hiks...hiks...menyebalkan" ucapku di sela sela Isak tangisku,

__ADS_1


"Sudah...kau berhak menangis dan mulai sekarang kau bisa menangis kapanku kau ingin jangan menahannya, aku akan ada di sampingmu" ucap Albercio dengan senyum yang begitu tulus.


Untuk pertama kalinya aku melihat sebuah senyuman tergambar begitu jelas dan nampak begitu tulus dari seorang Albercio, saat itulah aku merasa dia tidak seburuk yang aku pikirkan, mungkin selama ini aku terlalu menilainya dengan berlebihan.


Aku merasa bersalah dan malu padanya bahkan di saat dia mengetahui aku pernah mencoba untuk kabur dari penjagaannya dia tidak marah dan malah aku yang terbawa suasana, dia justru malah mau membebaskanku dan membiarkanku pergi, tapi aku tidak bisa pergi dari sana saat ini.


Mana mungkin aku keluar dari rumah itu, saat ini aku tak punya cukup uang, tak ada pekerjaan dan tidak punya siapapun untuk dipintai bantuan aku benar benar sebatang kara sekarang.


Tapi beberapa saat setelah aku sedikit tenang dia menahan badanku dan membantuku untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu, seakan dia menenangkanmu.


"Apa kau merasa lebih baik sekarang, sudah berhenti merasa sedih jika kau memang ingin tinggal di sini maka tinggal lah dengan baik, kau masih istri kecilku, aku tidak akan menelantarkanmu" ucapnya diakhiri dengan mengacak rambut atas kepalaku dengan lembut.


Bukannya tenang aku justru menangis lagi lebih kencang karena perlakuan Albercio mengingatkanku kepada ayahku yang selalu mengacak pelan rambut bagian atas kepalaku dan selalu tersenyum kepadaku.


"Hoaaawww....heuu..heuuu....hiks..hiks...kau" ucapku menangis lebih keras,


Albercio kaget dan dia merasa heran karena aku yang terus menangis dan malah lebih keras.


"Ehh...kenapa kau malah menangis lagi?, Sekarang apa yang salah, apa aku membuatmu menangis lagi?" Ucap Albercio kebingungan.


"Iya....kau mengingatkanku kepada ayahku, dulu...hiks...hiks...ayah selalu memelukku saat menangis lalu dia mengusap atas kepalaku sama seperti tadi kau mengusapnya.....hoaaaa....aku rindu ayahku...." Ucapku menjelaskannya sembari terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2