
Meski aku sulit tertidur malam itu lama kelamaan akhirnya aku juga bisa tidur dengan lelap dalam posisi saling berpelukan dengannya dan ketika bangun aku langsung menjerit sangat kaget, aku pikir aku sudah melakukannya dengan dia namun untungnya tidak itu hanya pikiranku yang terlalu berpikiran tidak jelas.
"Aahhh....untunglah" ucapku sangat tenang ketika melihat semua pakaian masih melekat di badanku dengan seharusnya.
Setelah kejadian itu aku dan Albercio menjadi sedikit canggung bahkan ketika sarapan tidak ada yang kami bicarakan satu sama lain hingga dia mulai memberi tahu aku mengenai pamanku yang ditahan oleh bibi Minda yang jahat dan kejam.
"Ekmm...masalah pamanmu, maafkan aku kami tidak bisa membantumu" ucap dia begitu saja.
Aku tentu saja sangat kaget dan kesal pada awalnya dia sendiri yang berkata bahwa dia akan melakukan semuanya sendiri dan melarang aku untuk membalaskan dendam pada bibiku seorang diri tapi sekarang pendiriannya berubah begitu saja dan aku sangat membencinya karena itu.
"APA? jika kau tidak bisa menepati perkataan dirimu sendiri, kenapa kau berjanji padaku saat itu, ini hanya membuang-buang waktu saja" ucapku sangat kesal sambil segera bangkit dari meja makan.
Aku pergi begitu saja masuk ke dalam kamarku dan memilih untuk mengurung diri disana, sedangkan Albercio segera pergi ke kantornya dan tidak lupa dia meminta para pelayan untuk mengawasi aku.
"Bi....awasi dia lebih ketat, jangan biarkan dia keluar tanpa izinku" ucapnya memerintahkan.
Aku sudah tahu dia akan melakukan itu karena dia juga pasti takut aku yang akan bergerak sendiri menyelamatkan pamanku, sayangnya meski dia berusaha keras menahanku aku tidak akan tinggal diam dan akan tetap pergi menyelamatkan pamanku dengan caraku sendiri, karena dia sudah tidak bisa membantuku lagi.
"Seberapa kuat sih keluarga Koward itu, hingga seorang Albercio bahkan tidak bisa menyinggung mereka, benar-benar menjengkelkan!" Gerutuku sangat kesal.
Aku sudah menyiapkan rencana pelarian diri dan memakai topeng yang aku milikku sebelumnya, dengan memakai topeng ini tidak ada akan yang mengenaliku, di tambah aku juga berdandan seperti pria, rambut yang aku ikat dan aku memakai wig lalu memakai topi juga pakaian pria yang lengkap, celana longgar dan kemeja pria.
__ADS_1
Aku rasa penyamaranku saat ini sempurna, aku pergi berjalan keluar untuk melihat keadaan sekitar, lalu aku mulai turun dari kamarku menggunakan tali yang aku ikat dari balkon, aku bisa turun dengan mudah tanpa terhambat sesuatu apapun.
Sebelumnya di dalam kamar aku sudah membuat tipuan menggunakan guling dan rambut palsu yang aku simpan di tempat tidur sehingga mereka yang memeriksa aku akan mengira sesuatu di balik selimut itu adalah aku.
"Hah....ini akan menjadi penyamaran yang paling hebat" ucapku sambil menepuk tanganku pelan.
Aku segera pergi memanjat benteng kediaman Albercio dari belakang dan segera pergi menuju rumah sakit tempat pamanku di rawat, hingga sesampainya disana aku melihat Melinda yang berjalan masuk ke ruang rawat yang sama seperti sebelumnya namun dia tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam dan saat dia masuk dia berteriak memanggil dokter sambil menangis histeris.
"Ada apa dengannya, dan sandiwara apa yang dia lakukan saat ini?" Gerutuku memikirkan sambil terus berdiri di balik dinding memperhatikannya.
Hingga tiba-tiba saja ketika dokter masuk dan memeriksa tidak terdengar lagi suara tangisan Melinda hingga dokter mendorong seseorang yang di tutupi kain putih dan aku langsung terbelalak serta merasa sangat lemas saat melihatnya.
Perlahan tangan itu tergeletak keluar dari kain putih yang menutupi seluruh tangannya dan aku bisa melihat dengan jelas di tangan tersebut ada sebuah gelang yang selalu di pakai oleh pamanku, dengan begitu aku menjadi sangat yakin bahwa itu adalah pamanku.
Semua rasa sakit itu berubah menjadi dendam yang sangat membara di dalam diriku dan aku segera bangkit dengan kekuatan dan jiwa yang baru aku pergi ke ruang mayat untuk memeriksa keadaannya, karena aku masih belum bisa mempercayai semuanya dengan benar.
Tapi ketika aku sudah masuk di ruang mayat dan aku perlahan membuka kain putih yang menutupi orang tersebut, rupanya itu benar-benar pamanku, dia sudah tidak bernyawa lagi dan aku tidak kuat melihat kondisinya yang penuh dengan lebam merah di sekitar dada juga wajahnya.
Semua lebam merah ini seperti dapat dari sesuatu bukan dari kekerasan, karena aku bisa mengetahuinya, dan tidak mungkin juga Melinda membuat kekarasan seperti itu kepada mantan suaminya sendiri di rumah sakit mewah seperti ini, aku yakin sekali jika ini perbuatan Melinda namun dengan cara yang halus, cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku berjalan keluar dari ruang mayat dengan lemas dan tidak bisa melakukan apapun lagi, aku sudah terlambat menyadari semuanya dan terlambat untuk menolong pamanku sendiri, aku segera pergi ke kamar mandi dan mengubah penyamaranku, aku sudah tidak perduli lagi meski Melinda akan mengetahui keberadaanku, aku sangat kacau saat itu dan tidak bisa melakukan apapun lagi.
__ADS_1
"Hiks...hiks...hiks... Maafkan aku, sungguh kumohon maafkan aku ayah, ibu dan paman aku gagal menyelamatkan kalian semua aku sungguh tidak berguna hiks...hiks..., Aku tidak pantas hidup" ucapku menyalahkan diriku sendiri di depan cermin.
Setelah beberapa saat berlalu aku berusaha menenangkan diriku dan segera pergi dari sana, aku kembali ke kediaman Albercio dan hanya duduk melamun di depan kolam renang seorang diri.
Aku tahu jika bi Mia dan pelayan lain tengah menatapku dari kejauhan mereka juga datang menghampiri aku dan berusaha menghiburku bahkan bi Susan mau mendengarkan ceritaku tapi aku sedang tidak ingin bercerita apapun kepada mereka semua.
"Nona ada apa denganmu? Apa nona merasa bosan, bibi bisa menemani nona untuk mengobrol bersama" ucap bi Susan kepadaku,
"Tidak papa bi aku hanya ingin sendiri saja, ini adalah hari berduka untukku, tolong biarkan aku sendiri" ucapku tanpa menatap mereka.
Aku terus menatap ke atas langit dan berharap mereka bisa melihatku dari atas sana, aku tidak bisa melakukan apapun dan bi Susan juga bi Mia segera pergi meninggalkanku, aku menitikan air mata secara perlahan ketika menutup mataku dengan pelan.
Aku genggamankan tanganku dengan kuat dan saat itu juga aku sudah membuat keputusan dengan diriku sendiri.
"Melinda aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!" Ucapku dengan penuh tekad dan merekatkan gigiku dengan kuat.
Aku membiarkan diriku tenggelam dalam kesedihan dan terus diam disana hingga tidak terasa aku tertidur tanpa sadar, bahkan hingga malam tiba aku tetap tertidur disana dan sama sekali tidak menyadari bahwa Albercio sudah berdiri di sampingku dan dia segera menggendong aku membawaku masuk ke dalam dan menidurkan aku di ranjang dengan lembut.
"Maafkan aku, aku juga gagal menyelamatkan pamanmu, tapi aku berjanji akan selalu melindungimu Arisha" ucap Albercio lalu mencium keningku dengan lembut.
Saat itu sebenarnya aku sudah bangun sejak.
__ADS_1
dia memindahkan aku dari kolam ke dalam kamar namun aku sengaja terus berputar-putar tertidur karena tidak ingin melihat wajahnya dan tidak mau berbicara dengan orang seperti dia.