
Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti menangis dan segera keluar dari kamar karena aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan aku, aku pergi menuju dapur dan menemui bi Mia yang tengah memerintah pada pelayan lainnya untuk melakukan pekerjaannya dengan benar.
"Ehh...non Arisha akhirnya kamu keluar juga, bagaimana keadaanmu apa nona lapar bibi akan ambilkan makanan untukmu" ucap bi Mia begitu perhatian.
Bibi Mia langsung pergi mengambilkan makanan untukku dan menyajikannya di atas meja, aku sangat senang dan karena memang lapar aku pun segera menikmatinya dengan senang hati, aku harus berubah dan berusaha melupakan semua hal yang menyakitkan.
Aku tidak bisa terus menjadi lemah dan terpuruk seperti ini, aku pikir aku harus bangkit dan menjadi kuat jika ingin membalaskan dendam ku kepada paman dan bibiku sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman berharga dari perbuatan yang pernah mereka lakukan terhadap aku dan kedua keluargaku.
"Eummm.... Makanannya selalu enak dan luar biasa seperti biasanya, terimakasih bi atas makanya" ucapku mengucapkan terimakasih.
Bi Mia hanya mengangguk dan dia permisi untuk melanjutkan tugasnya yang lain, sedangkan aku setelah selesai makan aku pergi menemui bi Susan dan bi Meli aku meminta untuk pergi ke kantor Albercio karena aku ingin meminta izin agar bisa berjalan-jalan keluar sejenak.
"Bi....aku ingin pergi ke kantor Albercio, aku harus meminta izin kepadanya jika ingin berpergian bukan, sekarang aku bosan dan suntuk terus di rumah seperti ini tanpa melakukan apapun, makanya aku ingin pergi meminta izin kepadanya" ucapku kepada bi Susan.
Bi Susan yang sudah mengerti dengan maksudku dia pun segera mengangguk dan pergi meminta bibi Mia untuk menelponku tuan Albercio.
"Ya sudah nona tunggu disini bibi akan meminta kepala pelayan Mia untuk menelponku tuan besar agar nona bisa meminta izin kepadanya tanpa harus pergi ke perusahaan" balas bi Susan,
"Aahh...iya yah aku lupa bi Mia bisa menghubungi Albercio, ya sudah tolong ya bi" tambahku yang baru mengingat hal tersebut.
Disisi lain paman Arisha yang tak lain adalah Amar dia saat ini tengah di rawat di salah satu rumah sakit terbesar dan mewah di ibukota, apa yang di duga oleh sekretaris Katy memang benar paman Amar itu diculik oleh mantan istrinya sendiri yang tidak lain adalah Melinda yang kini telah menjadi seorang nyonya besar dalam keluarga Koward sehingga tentu saja dia bisa dengan mudah melacak mantan suaminya lewat sebuah GPS yang ada di cincin pernikahannya dahulu.
__ADS_1
Melinda sangatlah licik dan dia tahu bahwa Amar sangat mencintainya bahkan setelah mereka memutuskan untuk bercerai Amar tidak akan pernah melepaskan cincin pernikahannya tersebut, maka dari itu Melinda berhasil menemukannya dan saat pertama kali mengetahui bahwa mantan suaminya itu di tahan oleh Albercio dia mulai merasa curiga dan segera menyelamatkan Amar untuk mencari informasi lebih lanjut.
Melinda takut semua ini ada hubungannya dengan keponakannya tersebut yang sudah dia jual kepada Albercio untuk melunasi semua hutangnya beberapa bulan yang lalu, dia juga tahu bagaimana karakter Arisha, dia mulai curiga ketika teror tiba-tiba saja datang ke rumahnya dan dia mulai mencurigai bahwa itu adalah perbuatan dari Arisha yang dibantu oleh Albercio.
Sampai saat ini Melinda begitu cemas dan terus menunggu Amar hingga dia siuman.
"Amar bangunlah....aku harus menggali informasi darimu, dasar mantan suami tidak berguna dia tidak bisa membahagiakan aku ketika dia sehat sekarang masih bisa menyusahkan ku juga, ARKHHHHH!" Gerutu Melinda dan berteriak sangat kencang.
Dia masih begitu kesal dan emosi karena sejak kejadian sebuah teror yang masuk ke kamarnya kini putra tirinya menjadi jauh lebih sinis dan semakin membencinya sehingga itu menyulitkan dia untuk mengambil seluruh harta keluarga Koward.
"Semua ini karena bocah sialan dan teror kampungannya itu, awas saja kau Arisha aku tidak akan tinggal diam selama kau masih terus berusaha mengganggu kehidupanku!" Ancam Melinda dengan sorot mata tajam dan wajah merah padam di penuhi dengan emosi.
Apalagi Andi sudah beberapa kali memergoki Melinda yang hanya bisa terus menghambur-hamburkan uang milik ayahnya bahkan Andi juga sempat memergoki Melinda yang memerintahkan bodyguard keluarga Koward untuk menyelamatkan seorang pria dari genggaman Albercio, maka dari itu Andi terus meminta semua orang-orang kepercayaannya agar menuruti semua yang di perintahkan oleh Melinda sedangkan mereka akan terus memberikan laporan pada Andi tanpa sepengetahuan Melinda.
Kini Andi bahkan mengikuti Melinda hingga ke rumah sakit dan dia berdiri di balik pintu sebuah ruang rawat VIP yang di pakai oleh Amar, jelas Andi bisa mendengar semua ucapan Melinda yang terus merutuki mantan suaminya juga Arisha.
"Ternyata orang yang dia selamatkan mantan suaminya, berani sekali dia menyembunyikan hal sebesar ini dari ayahku, bahkan dia mencoba campur tangan dengan seorang Albercio. Dia akan mati pada akhirnya" gumam Andi lalu dia langsung pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
Andi yang sudah mengetahui semua kebusukan Melinda dia sangat kesal dan marah namun hanya bisa menahan emosinya dengan kepalan tangan yang sangat kuat dan masuk ke dalam mobil lalu segera melajukan mobilnya dengan cepat.
Sedangkan Arisha yang tengah menelpon dengan Albercio dia pun mulai meminta izin dengan lantang.
__ADS_1
"Albercio aku ingin keluar berjalan-jalan sebentar ini juga tidak akan lama dan aku akan pergi bersama bi Susan jika kau masih khawatir aku akan kabur" ucapku meminta izinnya secara baik-baik,
"Baiklah kau boleh keluar tapi ingat jangan sampai kau mencoba kabur dari pengawasan bi Susan, jika Katy sudah kembali aku akan memerintahkan dia untuk mengawasimu awas saja kau jika mencoba kabur" ucap Albercio memperingatiku.
Dia masih saja tidak bisa mempercayai aku meski aku sudah berkata dengan jujur dan berjanji kepadanya, aku sudah sangat bosan dan jengkel mendengarnya yang terus memberikan ancaman dan peringatan selalu kepadaku, aku bahkan hampir gila terus mendengar peringatannya itu.
"Iya...iya aku akan mengingatnya" balasku lalu langsung menutup telponnya lebih dulu dengan kesal dan menghembuskan nafas kasar.
Aku segera mengembalikan ponse itu kepada bi Mia dan segera pergi ke luar dengan bi Susan, saat pertama kali keluar dari rumah tersebut aku sungguh merasa sangat bebas dan akhirnya bisa menghirup udara segar aku pun teringat dengan sebuah cafe es krim yang pernah aku datangi.
"Nona kita mau ke mana sekarang?" Tanya bi Susan kepadaku,
"Aahhh....aku ingat di dekat apartemen Albercio ada sebuah cafe es krim yang sangat laris, bagaimana kalau kita kesana saja, aku pernah mencicipi es krimnya dan itu sangat enak" ucapku begitu antusias.
Bibi Susan hanya mengangguk dan kami segera mencari taxi lalu pergi menuju tempat itu, untunglah aku masih mengingat jalanannya dan sesampainya disana apa yang aku katakan memang benar cafe es krim itu sangat terkenal bahkan antriannya begitu panjang hingga ke jalanan.
"Ya ampun bi, cafe es krim ini begitu laku, bagaimana kita bisa mendapatkan es krim enaknya?" Ucapku sambil menghembuskan nafas lesu.
Antriannya sangat panjang tapi bi Susan masih mau mengikuti mengantri dengan banyaknya orang-orang yang berjajar disana, aku sudah sangat pegal terus berdiri dan hanya maju satu langkah saja, bahkan ini sudah berlangsung selama setengah jam dan aku masih belum bisa masuk ke dalam untuk menikmati es krim enak itu.
"Bi...ini lama mungkin Albercio akan marah jika dia tahu aku masih diluar dan belum kembali, kita pulang saja" ucapku dan membalikkan badan hendak pulang dengan lesu.
__ADS_1