
Bibi Mia langsung berjalan menghampiriku dan menanyakan keadaanku karena dia melihat aku yang berjalan dengan menggusur kakiku yang terasa sakit.
"Nyonya apa anda baik baik saja, mari bibi bantu" ucap bibi Mia sambil memapahku dengan perlahan.
Bibi Mia membantuku hingga duduk di sofa lalu bibi membawa air hangat dan mengompres kakiku aku benar benar merasa tidak enak karena sudah merepotkan ya dan membuat dia harus menjaga dan merawatku seperti ini.
"Bi...sudah...biar aku lakukan sendiri saja, lagi pula tanganku baik baik saja aku bisa melakukannya sendiri" ucapku sambil meraih kain kompresan dari tangan bibi Mia.
Namun bibi Mia tidak memberikannya dan dia terus saja menyuruhku untuk diam sedangkan membiarkan dia sendiri yang mengurusimu seperti seorang putri kecil yang dirawat oleh ibunya.
"Sudah nyonya diam saja, lagian ini sudah tugas saya untuk merawat nyonya" ucap bibi Mia dengan sorot mata yang begitu tulus.
Di sisi lain masih ada rasa syukur yang terpendam dalam diriku meski aku harus menjadi istri Albercio, dengan aku ada di sana aku bisa mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang bibi Mia, dia selalu menjagaku dan memperlakukanku dengan sangat baik selama tinggal di rumah itu, padahal bibi Mia juga mengetahui bahwa aku bukan benar benar istri Albercio dia juga tidak menyukaiku dan aku hanyalah seorang tahanan yang dicurigai.
Aku sangat berharap bisa segera melepaskan diri dari genggaman Albercio dan mencari paman juga bibi lalu membalaskan semua dendam dalam diriku.
Aku harus mencari kebenaran dan mengungkap semua fakta di balik kecelakaan yang telah menimpa aku juga keluargaku, di saat aku tengah termenung dan merasakan kaki yang tengah di kompres oleh bibi Mia tiba tiba suara teriakkan penjaga terdengar dari depan aku sangat penasaran dan ingin melihatnya namun bibi Mia menahanku dan mengatakan bahwa dia yang akan pergi melihat untukku.
Aku pun menganggu patuh, lalu saat bibi Mia kembali aku langsung menanyakannya.
"Bi...apa yang terjadi di luar siapa mereka dan apa Albercio sudah kembali?" Tanyaku sangat penasaran,
"Mereka anak buah tuan namun nampaknya mereka membawa seorang tahanan ke dalam ruang bawah tanah, saya tidak melihat tuan diantara mereka, mungkin tuan akan menyusul secepatnya" ucap bibi Mia memberitahu.
__ADS_1
Aku sedikit penasaran dengan siapa yang dibawa dan akan di tahan di penjara bawah tanah oleh Albercio, aku tidak pernah berpikir bahwa di rumah itu ada sebuah penjara bawah tanah untuk menahan orang dengan ilegal.
"Siapa yang mereka tahan di ruang bawah tanah, mencurigakan sekali" gumamku dalam hati.
Saat itu aku ingin menanyakan pada bibi Mia namun rasanya bibi Mia pasti tidak akan memberitahukan semuanya kepadaku, sebaiknya aku menanyakan langsung pada Albercio ketika nanti dia tiba.
Bibi Mia selesai mengompres kakiku dan dia membiarkanku untuk duduk bersantai di sofa depan seorang diri, beberapa saat aku pikir aku mulai mengantuk dan hendak naik ke lantai atas tempat di mana kamarku berada namun aku tak sengaja mendengar teriakkan seorang pria yang meringis kesakitan dan aku merasa suara itu tidak asing ditelinga ku.
"Asrkkkk....ampun...ampun..." Teriak seorang pria yang meringis kesakitan dan meminta ampun,
Aku mencoba mendengarkan teriakkan itu lebih jelas lagi dan mencari tau dari mana asal teriakkan tersebut.
"Suara siapa ini, kenapa rasanya tidak asing" gerutuku sambil terus mendengarkan jeritannya.
Aku terus berjalan mengikuti asal suara sampai aku keluar dari rumah dan salah satu bodyguard menahanku.
"Astaga...kau ini mengagetkanku saja, heh apa kau tidak mendengar jeritan seorang pria?, Darimana asal suara itu aku mendengarnya tadi" ucap ku bertanya pada bodyguard itu.
Nampak bodyguard itu justru malah menatapku dengan mengerutkan kedua alisnya seperti merasa aneh dengan apa yang aku tanyakan padanya, jelas aku juga ikut bingung dan keheranan melihat reaksinya yang tidak jelas.
"Heh...kenapa kau malah diam saja, aku tanya kau dengar juga atau tidak" bentakku bertanya lagi,
"Maaf nyonya tapi saya tidak mendengar apapun sedari tadi" jawab bodyguard tersebut sambil menggaruk belakang kepalanya seperti menyembunyikan sesuatu dariku.
__ADS_1
Aku mencurigainya karena ekspresi wajah bodyguard itu sangat mencurigakan jadi aku tidak yakin dengan jawaban yang dia ucapkan padaku, terlebih suara jeritan tadi sangat keras dan terdengar jelas bagaimana mungkin hanya aku yang mendengarnya.
Aku menatap bodyguard itu dengan tajam dan lama lalu aku bertanya kembali untuk memastikan dan sedikit menaikkan nada bicaraku agar dia mau berkata jujur padaku.
"Heh...apa kamu sungguh tidak mendengarnya?, Tadi itu suaranya sangat kencang apa kau tuli atau memang itu hanya perasaanku saja?" Tanyaku sedikit membentak,
"Nyonya saya benar benar tidak mendengar apapun mungkin itu hanya perasaan nyonya saja, sudahlah nyonya ini sudah larut sebaiknya nyonya kembali ke kamar dan beristirahat" ucap bodyguard itu.
Entah mengapa meski bodyguard itu terus berkata bahwa dia tidak mendengarkan apapun hati terus merasa yakin kalau pendengaran ku tidak salah suara jeritan tadi sangat aku kenal dan setelah aku mengingat ngingat tetap saja aku tak bisa memastikan itu suara siapa karena aku tidak melihat wajahnya.
"Aishh....siapa sebenarnya yang berteriak sekencang tadi, kedengarannya pria itu pasti sangat kesakitan" gerutuku terus memikirkan.
Aku sangat penasaran dan ingin mencari tau yang sebenarnya karena aku sulit mempercayai orang lain kecuali aku sudah memastikan dengan mataku sendiri, tapi aku tidak bisa berbuat apapun karena penjagaan rumah selalu lebih ketat ketua Albercio tidak ada di sana sehingga sulit untukku mencari asal suara itu.
Aku masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, setelah aku rasa mengantuk aku pun mengistirahatkan diriku dan tidur lebih awal malam itu.
*****
Di saat Arisha sudah tertidur pulas, tepat lewat tengah malam Albercio baru sampai di kediamannya dan dia segera pergi ke ruang tahanan bawah tanah pribadi miliknya dia pergi untuk memastikan bahwa paman Arisha sudah di kurung di sana dengan penjagaan yang ketat.
Saat dia lihat paman Arisha duduk terkulai lemas di lantai barulah Albercio segera kembali ke kediamannya dan masuk ke dalam kamar, saat melewati kamar Arisha dia teringat bahwa Arisha masih sakit pada pergelangan kakinya.
Albercio pun masuk ke dalam kamar Arisha untuk memastikan apakah dia sudah tidur atau tidak, saat di lihatnya Arisha sudah tertidur pulas, Albercio membenarkan selimut yang digunakan Arisha agar dia tidak kedinginan saat tertidur.
__ADS_1
"Maafkan aku karena sudah mencurigainya bersekongkol dengan mereka" ucap Albercio dengan suara yang sangat kecil.
Setelah membenarkan selimut Arisha, Albercio langsung kbali keluar dan masuk ke dalam kamarnya dia segera membersihkan diri dan memerintahkan semua orang yang ada di dalam rumah itu untuk merahasiakan keberadaan paman Arisha yang dia kurung di penjara bawah tanah.