Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Sampai di rumah


__ADS_3

Saat sampai di rumah aku langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, meski Albercio meneriaki ku dengan keras aku tetap masuk dan mengabaikan teriakannya.


"He.. he... Tunggu bagaimana dengan belanjaanmu ini" teriak Albercio,


Aku merasa puas saat melihat wajah Albercio yang begitu kesal dan dengan terpaksa dia harus membawa semua belanjaan tadi masuk ke dalam rumah sampai ke kamarku, aku tertawa terbahak bahak saat melihat dia tertekan dengan wajah merah padam dan tangan yang penuh membawa barang belanjaan tadi sambil berjalan menaiki tangga.


"Ahahaha... Rasakan itu, mencoba mempermainkan ku hah, jangan harap" ucapku sambil menjulurkan lidah dan menertawakan Albercio.


Setelah puas menertawakan dan mengejeknya aku langsung masuk ke dalam kamar karena aku tau dia akan marah besar padaku, dan tak perlu waktu lama saat aku selesai mengunci pintu kamar dia langsung menggedor pintu kamarku dengan keras dan merutuki dengan semua kutukannya yang menyebalkan.


"Buk...buk...buk... Hei pendek buka pintunya, dasar kau sialan, pendek tak tau diri, menjengkelkan, aku akan menghukum mu awas kau!!" Teriak dia merutukiku habis habisan.


Aku tidak peduli dengan semua omelannya, aku hanya duduk santai di ranjang dan menatap ke luar jendela melihat langit yang cerah, itu sangat mengasyikan membuatnya marah dan menanggung perbuatannya sendiri.


"Siapa suruh kau membuat lututku luka dan membuatku kelaparan ditambah aku harus membawa semua barang itu seorang diri, hukuman tadi saja belum cukup untuknya setelah apa yang dia lakukan padaku" ucapku masih memendam kekesalan.


Aku pergi membersihkan diri karena badanku yang sudah sangat lengket dengan keringat, rasanya segar sekali setelah mandi dan berendam beberapa saat, tapi aku bodoh karena lupa tidak membawa pakaian ganti dan aku juga baru ingat bahwa aku tidak memiliki pakaian lain selain dari pakaian yang aku kenakan dan pakaian itu sudah bau apek karena keringatku sendiri.


Aku keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan sehelai handuk berwarna putih yang ukurannya hanya sampai di atas lututku, aku terus berjalan mondar mandir di depan pintu keluar karena kebingungan harus melakukan apa dan bagaimana caraku meminta bantuan pada bibi Mia agar mendapatkan pakaian.

__ADS_1


"Aishh... Jika aku keluar bagaimana kalau bertemu pria itu dia bisa bisa menyiksaku" ucapku sambil menggigit ujung kuku ibu jariku.


Lama aku berjalan mondar mandir dan memikirkan cara sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengintip situasi di luar terlebih dahulu, ku buka pintu kamar perlahan dan mencoba melihat ke luar dari sela sela pintu yang kecil sampai tiba tiba saja pintu itu dibuka dari luar dengan kencang oleh pria sialan itu sampai aku kaget dan terjatuh ke belakang.


Aku tak sadar menarik Albercio hingga dia ikut terjatuh dan menimpa tubuhku, Albercio jatuh di atas tubuhku dan wajah kami sangat dekat sampai bibirnya menyentuh pipiku, aku terdiam per sekian detik dan kaget membelalakkan kedua bola mataku.


"Arkhhh....." Teriakku saat sadar kalau aku masih mengenakan sehelai handuk saja.


Aku mendorong Albercio dengan kuat sampai dia keluar dari kamarku lalu ku tutup lagi pintu secepat mungkin, aku sungguh malu entahlah sejak kapan pipiku merona, kejadian tadi sangat memalukan dan dia berhasil mendapatkan kesempatan dalam ke sempitan, bahkan dia tidak berkutik sama sekali setelah bibirnya menyentuh pipiku, aku tak terima dia mencium pipiku meskipun itu tidak di sengaja.


"AHHHH... tidak tidak itu hanya tidak sengaja aku harus menghapus bekas bibirnya ini dengan sabun, menjijikan" ucapku sambil ku usap berkali kali pipiku dengan handuk.


Aku beristirahat duduk di tepi ranjang dan bingung harus melakukan apa ingin keluar dari kamar tapi aku masih malu dan terbayang kejadian tadi bersama Albercio, aku saja bingung harus menghadapinya seperti apa jika nanti berpapasan dengan pria itu, sehingga aku memutuskan untuk tetap diam di kamar meski merasa sangat bosan.


****


Sedangkan di sisi lain Albercio masih duduk tertegun di kursi ruangan kerjanya sambil memegangi bibirnya sendiri.


"Tidak... Tadi itu aku tidak menciumnya hanya bibirku saja yang tak sengaja menempel pada wajahnya, iya hanya menempel sedikit, arghhh aku bisa gila kalau begini terus" ucap Albercio yang nampak frustasi dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sebelumnya Albercio juga yang menyuruh bibi Li memasukkan semua barang itu untuk Arisha karena dia tau tidak ada pakaian yang bisa Arisha kenakan di kamar itu, Albercio yang tadinya marah dan murka seketika menjadi linglung dan terus mengacak kasar rambut belakang kepalanya karena masih tak percaya dia mencium pipi Arisha, wanita yang membuatnya jengkel.


Saking frustasinya Albercio langsung pergi ke kamarnya dan dia menggosok gigi sampai berkali kali sambil menggerutu di depan cermin kamar mandinya.


"Iya Albercio itu hanya menempel sedikit, dan akan bersih dengan menggosok gigi, ayolah jangan mengingatnya lagi arghhh" ucap Albercio merasa kesal sendiri.


Sampai selesai membersihkan diri dia langsung kembali memeriksa jadwal di perusahaan karena besok dia akan mulai kembali dengan aktivitas sibuknya seperti biasa.


"Dengan bekerja aku akan melupakan kejadian itu, fokus Albercio fokus" ucapnya lagi sambil membuka laptop dan siap bekerja.


Saat membuka laptop banyak sekali email yang masuk dan jadwalnya yang begitu padat, mungkin karena dia sudah mengambil cuti di Minggu kemarin begitu banyak karena harus mengurusi urusan pernikahannya dan harus berhubungan dengan paman juga bibi Arisha yang sudah sukses menipu seorang Albercio, meski lebih tepatnya sekretaris Albercio lah yang telah lalai karena mempercayai orang dengan sembarangan seperti paman dan bibi nya Arisha.


Albercio segera membalas dan membaca satu persatu email yang masuk padanya, dia juga menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk terus melacak keberadaan paman dan bibi nya Arisha, Albercio sungguh tidak akan pernah membiarkan mereka lolos sedikitpun.


Dia juga menghubungi sekretarisnya untuk memperketat penjagaan di sekitar rumah miliknya untuk berjaga jaga agar Arisha tidak bisa kabur dengan mudah dari sana, mengingat dia yang tidak akan ada di rumah itu selama dua puluh empat jam setiap harinya.


Ben yang dikatahui sekretaris sekaligus tangan kanan Albercio segera mengikuti perintah tuannya dia segera mencari para bodyguard terbaik untuk menjaga di kediaman Albercio, tak tanggung tanggung bahkan Albercio meminta 10 orang bodyguard yang tinggi kekar dan kaut untuk menjaga rumahnya tepatnya menjaga Arisha agar dia tidak punya kesempatan sedikitpun untuk mencoba kabur dari sana.


"Cepat cari bodyguard terbaik dan saya mau mereka sudah bisa bertugas besok pagi" ucap Albercio memberi perintah pada sekretaris Ben dengan tegas.

__ADS_1


"Baik tuan anda tidak perlu cemas" jawab sekretaris Ben dan panggilan telpon pun terputus.


__ADS_2