Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Orang Jahat


__ADS_3

"Tentu saja nona, selama bibi bekerja di rumah ini hanya ada dua wanita yang masuk ke sini, yang pernah nyonya besar dan yang kedua sekretaris Katy, dia juga baru bekerja selama dua tahunan ke belakang itu karena tuan Albercio pernah menolong dia dalam sebuah kecelakaan besar, tuan Albercio sebenarnya adalah orang yang baik, buktinya dia pernah menyelamatkan sekretaris Katy dari seorang mafia besar di kota ini, jika bukan tuan Albercio yang menyelamatkannya saat itu, mungkin sekretaris Katy sudah tiada di tangan mafia kejam tersebut, maka dari itu sekretaris Katy mendedikasikan dirinya untuk tuan Albercio dan perusahaan" ucap bi Susan menceritakan semuanya.


Aku hanya diam terus mendengarkan ucapan bi Susan yang menceritakan semua hal mengenai tuan Albercio, aku benar-benar tidak menduga ketika mengetahui semua itu, aku pikir Albercio tidak seperti orang baik yang mau ikut campur dengan urusan orang lain apalagi membantu seorang sekretaris Katy dari kejaran mafia jahat seperti yang di ceritakan oleh bi Susan barusan, namun ketika melihat bagaimana cara bi Susan menceritakannya kepadaku saat itu, tidak mungkin dia juga berbohong.


Wajahnya menampakkan kejujuran begitu juga dengan sorot matanya, aku juga tidak menampik ketika sudah mengenalnya lebih lama dia memang tidak terlalu buruk dan justru lebih memperhatikan aku daripada sebelumnya.


Karena penasaran aku pun mencoba untuk menanyakan hal lain lagi kepada bi Susan mengenai Albercio karena aku ingin mengenal dia lebih dalam lagi.


"Bi jika bibi sudah bekerja sangat lama di rumah ini, apa bibi tahu mengapa Albercio tidak mau membantuku untuk membalas dendam kepada orang yang sudah membunuh kedua orangtuaku, jika dia bisa menyelamatkan sekretaris Katy dan bersikap baik pada sekretaris Ben, kenapa dia tidak mau menolongku?" Tanyaku kepadanya,


"Kalo masalah itu bibi juga tidak tahu nona Arisha, tetapi bibi yakin pasti ada alasan yang kuat kenapa tuan muda tidak mau melakukannya, mungkin saja perbuatan itu akan menimbulkan dampak yang buruk sehingga tuan muda tidak ingin sesuatu terjadi pada nona" balas bi Susan menduganya.


Setelah mendengar jawaban dari bi Susan aku mulai sedikit berpikir dan apa yang dikatakan oleh bi Susan sedikit masuk akal, setelah berbicara denganku bi Susan kembali ke dapur sedangkan aku masih saja termenung memikirkan masalah Albercio.


"Apa mungkin yang dikatakan oleh bi Susan benar? Tapi tetap saja aku ingin membalaskan dendam itu, mungkin aku bisa melupakannya tai ketika mengingat betapa kejamnya Melinda aku sungguh ingin menghajar dia dengan tanganku sendiri" gerutuku terus merasa kesal.


Aku ingin berhenti untuk memikirkan hal yang menyebalkan seperti itu sehingga aku pun pergi ke dapur untuk melihat bi Susan dan bi Meli yang tengah menyiapkan makanan untuk makan siang, namun di tengah-tengah itu mereka kehabisan bahan baku untuk masakannya sehingga menyudahinya dahulu dan pergi untuk berbelanja setelah di berikan jatah uang belanja oleh bibi Mia.


Aku mengejar mereka karena ingin ikut pergi ke luar.


"Bi tunggu aku ingin ikut" teriak ku mengejar mereka,


Aku berteriak memanggil bi Susan dan segera berlari kecil menghampirinya dengan cepat, aku memaksa pada bi Susan untuk ikut dengannya ke pasar bersama dengan bi Meli juga karena merasa bosan jika harus terus berdiam diri di rumah, meski awalnya bi Meli melarangku karena dia takut aku akan kelelahan sebab jarak antara pasar dari rumah cukup jauh, terlebih mereka sering menggunakan angkutan umum dimana akan berdesakkan dengan banyak orang sehingga bi Meli mencemaskan aku.


Tapi aku tetap nekat ingin ikut dengan mereka dan terus membujuk bi Susah dan bi Meli agar mengijinkan aku pergi bersama mereka sampai tidak lama akhirnya mereka mengijinkanku juga dan kami segera pergi ke pasar bersama.


Saat tengah menunggu angkot itu terlalu panas dan sudah sangat lama membuat kakiku pegal terus berdiri di samping jalan, aku pun langsung menghentikan taxi.


"Bi ayo kita naik taxi saja" ajakku kepada mereka,


"Tapi non uangnya tidak akan cukup, jika kita naik taxi" balas bi Meli padaku,


"Sudah jangan pikirkan ongkos, aku akan membayarnya lagi pula aku kan masih menyimpan kartu dari Albercio jadi kita tidak akan kehabisan uang, ayo bi naik saja" ucapku sambil menarik tangan bi Susan.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam setelah aku terus mendesak dan memaksa mereka agar masuk, hingga setibanya di pasar aku yang pertama kali melihat suasana pasar begitu ramai dan sangat luas aku sangat kaget melihat itu dan sangat kagum ketika pertama kali masuk ke dalam pasar induk tersebut.


"Waahhhh.... Bi ini pasar tempat kalian berbelanja? Wahhh ini besar sekali dan tempatnya tertata rapih juga bersih" ucapku kagum melihatnya,


"Iya nona hanya di pasar ini kita boleh berbelanja karena tuan Albercio hanya mau memakan sayuran dari sini" balas bi Meli.


Kami pun segera masuk ke dalam dan mulai berkeliling aku di tuntun oleh bi Meli di balakang sedangkan bi Susan berjalan di depan dan mulai membeli beberapa sayuran disana, ku lihat ada banyak sekali berbagai macam sayuran yang berjejer rapih di sekitar sana juga beberapa jenis buah-buahan yang terlihat segar.


"Bi... Buah apa itu kelihatannya aneh sekali?" Tanyaku kepadanya sambil menunjuk pada salah satu buah yang berbentuk bulat dan hijau.


Aku baru pertama kali melihat buah yang berukuran cukup besar dan bulat seperti sebuah kepala, namun warnanya hijau pudar dan ada seperti akar yang menjalar di luarnya, aku merasa aneh dan perhatianku terus tertuju pada buah itu sehingga aku terus menatapnya dan menanyakan mengenai buah itu pada bi Susan.


"Ohh... Itu, buah itu namanya buah melon nona, apa kamu mau mencoba membelinya, nanti akan bibi kupas dan sajikan untuk nona" balas bi Susan menawarkan.

__ADS_1


Aku pun langsung mengangguk karena sangat penasaran dengan buah yang baru aku lihat tersebut, mereka pun segera membungkus buah itu juga dan kami segera kembali ke rumah setelah berkeliling cukup lama di pasar tersebut.


Saat di perjalanan aku kembali menghentikan taxi dan mengajak bi Meli dan bi Susan untuk kembali naik ke taxi itu denganku, mereka juga untungnya mau namun disaat taxi sudah melaju beberapa saat dari pasar, aku kembali melihat seperti ada sebuah mobil yang mengikuti taxi yang aku tumpangi ini, sehingga aku mulai merasa cemas dan menyuruh sang supir taxi untuk melaju lebih cepat.


Sayangnya meski taxi kami sudah melaju cepat mobil itu juga bisa terus mengikuti kami bahkan mereka mulai melayangkan tembakan pada taxi yang aku tumpangi sehingga membuat bi Susan dan bi Meli kaget.


Juga tembakan ke dua yang mengenai salah satu ban belakang taxi tersebut sehingga sang supir terpaksa harus menghentikan mobilnya dan kedua mobil hitam yang mengikutiku sedari tadi langsung menghimpit taxi yang aku tumpangi hingga sang supir ketakutan dan tidak berani keluar dari mobil.


"Tok....tok....tok.... Keluar kalian! Serahkan gadis itu!" Bentak seseorang yang memakai sebuah penutup wajah berwarna hitam, hanya matanya saja yang nampak saat itu sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Nona bagaimana ini, siapa yang mereka inginkan?" Ucap sang supir taxi tersebut,


"Bi.... Cepat hubungi orang rumah, aku takut mereka ini adalah perampok, cepat bi!" Ucapku mendesaknya.


Bi Susan segera menelpon bi Mia dan meminta bantuannya namun disaat itu pintu taxi sudah terus berusaha di buka paksa dari luar oleh empat orang pria dengan tubuh yang kekar, hingga akhirnya pintu perlahan mulai terbuka dan terpaksa bi Susan dan bi Meli keluar untuk melindungi aku.


"Nona tetaplah di dalam kami akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu nona, dan ketika kami melawan mereka ceplah nona pergi berlari untuk meminta bantuan" ucap bi Susan kepadaku,


"Bi aku tidak mau meninggalkan kalian dalam bahaya seperti ini, aku akan melawan mereka jug" ucapku kepadanya,


"Tidak nona kamu tidak boleh lecet sedikitpun, pergilah dan cari bantuan itu akan sangat membantu kami" balas bi Meli sambil memelukku.


Aku benar-benar merasa sakit dan terharus dengan kesetiaan mereka dalam mengurusi aku dan melindungi aku sampai rela melakukan semua ini demi melindungiku aku pun mengangguk menyetujui rencana mereka.


Hingga bi Meli dan bi Susan langsung membuka pintu dengan keras dan membuat dia pria itu jatuh tersungkur karena terhantam oleh pintu taxi itu, sang supir taxi jug ikut keluar dan melawan dua pria yang ada disana begitu juga dengan bi Susan dan bi Meli.


Namun sayangnya ketika aku keluar dan hendak berlari aku melihat bi Susan yang jatuh tersungkur ke tanah dengan wajah yang babak belur juga darah yang mengalir dari mulutnya, aku tidak bisa diam saja melihat itu dan aku langsung berlari menendang pria yang hendak membanting bi Susan.


"Bi Susan, tidak aku harus membantu mereka!" Ucapku melihatnya,


"Haaaaaa.....brukkk" suara pria itu yang aku tendang dengan sekuat tenaga hingga pria itu jatuh menimpa mobilnya sendiri hingga sedikit penyok di bagian depannya dan kaca mobil itu yang retak.


Aku segera membantu bi Susan untuk berdiri dan memapahnya ke pinggir untuk menjauh dari mereka semua.


"Bi apa kau baik-baik saja, aku mohon bertahanlah aku akan membawa pergi dari sini" ucapku sambil memapahnya,


"Tidak nona, cepatlah pergi sebelum para penjahat itu bangkit dan mereka akan melukaimu tanpa ampun, tinggalkan bibi disini, bibi akan baik-baik saja" balas bi Susan kepadaku,


"Tidak bi aku tidak akan meninggalkanmu aku juga tidak ingin melihatmu dalam keadaan seperti ini, aku tidak bisa, kita akan pergi atau mati bersama-sama" ucapku sambil terus memapah dirinya.


Namun disaat aku memapah bi Susan tiba-tiba saja dari belakang ada salah satu pria yang memakai penutup kepala berlari ke arahku dengan berteriak dan membawa sebuah pisau tajam di tangannya, aku kaget dan membelalakkan mata ketika menoleh dan melihat hal itu, aku berusaha untuk kabur dan menghindar namun bi Meli justru malah datang dan menghadap pria itu hingga akhirnya justru malah dia yang tertusuk oleh pisau itu.


Bi Meli melindungi aku dengan mengorbankan dirinya sendiri, pria yang memakai penutup kepala itu terlihat kesal karena dia telah membunuh orang yang salah.


Aku langsung ambruk jatuh ke bawah dengan lemas melihat sebuah pisau yang menancap pada perut bi Meli begitu dalam.


Aku segera menghampirinya dan berusaha berbicara kepadanya.

__ADS_1


"Tidak... Bi bi aku mohon padamu tolong buka matamu tolong sadarlah bi, aku akan membawamu ke rumah sakit secepatnya" ucapku sambil mengangkat kepalanya,


"Nona... Bibi sudah tidak kuat, tolong pergi dan biarkan kami disini menahan mereka semua, pergilah nona" ucap bi Meli kepadaku,


"Berhenti bicara bi, kamu tidak boleh menekan perutmu aku tidak akan pergi bahkan jika mereka menusukku juga, aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini hiks...hiks..hiks...bi bangunlah aku mohon tolong bertahan untukku" ucapku sambil menggenggam tangannya dengan erat.


Aku menangis dengan kuat menggenggam tangan bi Meli, aku tidak ingin kehilangan sosok yang baik sepertinya dia sudah aku anggap seperti saudara bahkan ibu sendiri untukku, mereka yang merawat aku selama ini dan aku tidak mungkin meninggalkan mereka sendiri begitu saja dalam keadaan seperti ini.


Bi Susan juga menarik tanganku dan dia memaksa aku untuk pergi dari sana sebelum orang-orang jahat itu kembali menyerang kami dengan benda tajam lainnya.


"Nona ayo kita pergi, kamu tidak boleh berada disini, ayo nona kita harus segera pergi selagi ada kesempatan" ucap bi Susan terus menarikku dengan paksa.


Sampai tidak lama Albercio tiba dengan para bodyguard nya dan sekretaris Katy di tepat itu, para penjahat tersebut langsung lari berhamburan dan melarikan diri dengan cepat meski para bodyguard mengejar mereka secepatnya saat itu.


"Sialan mereka kabur, kejar mereka!" Teriak sekretaris Katy yang menggelegar,


Para bodyguard itu langsung naik kembali ke atas mobil dan mengejar mobil empat orang penjahat itu.


Sedangkan Albercio datang menghampiriku dan aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang kabur sebab terhalang dengan air mataku yang terus menggenang di dalam pelupuk mata tanpa henti.


"Albercio.... Hiks....hiks...bi Meli dia...." Ucapku tidak sanggup mengatakan semuanya.


Aku hanya bisa langsung menangis dengan tersedu-sedu dan Albercio langsung memelukku dengan erat dia menggendongku dan menyuruh sekretaris Ben untuk membawa bi Meli juga bi Susan ke rumah sakit terdekat, aku juga meminta Albercio untuk membawaku ke rumah sakit aku ingin menunggu bi Meli hingga dia tersadar.


"Albercio tolong bawa aku ke rumah sakit, aku ingin menemani mereka aku ingin bersama mereka" ucapku mendesak Albercio,


"Kamu pasti sangat syok dan kacau kamu harus menenangkan dirimu dahulu, aku akan mengantarmu kembali ke rumah biar aku dan yang lain akan menyelesaikan semua ini" ucap Albercio kepadaku,


"Tidak...aku tidak mau pulang, aku tidak akan bisa merasa tenang jika aku jauh dari bi Meli dan tidak melihat keadaan mereka berdua, tolong Albercio aku mohon aku mohon kepadamu" ucapku memohon dengan wajah yang sendu.


Akhirnya Albercio mengijinkanku untuk pergi ke rumah sakit dengannya dan saat tiba di rumah sakit dokter mengatakan bahwa bi Meli sudah meninggal dunia sejak dalam perjalanan, sedangkan bi Susan mengalami keadaan kritis saat ini.


Aku merasa kaget dan langsung terkulai lemas dalam pelukan Albercio di luar ruangan hingga jasad bi Meli di bawa dan akan di pindahkan ke ruang mayat saat itu, aku tidak sanggup melihatnya hingga tidak sadarkan diri ketika melihat mayat itu di bawa keluar oleh para perawat disana.


"Tidak.....ini tidak mungkin hiks...hiks...bi Meli tidak mungkin....." Ucapan terakhirku sampai akhirnya aku jatuh pingsan,


"Arisha.... Arisha bangun Arisha....hey... ayo bangunlah jangan membuatku cemas, dokter... Dokter!" Teriak Albercio yang mengkhawatirkan keadaan Arisha.


Dia langsung menggendong Arisha dan membawanya masuk ke dalam ruang rawat hingga dokter memeriksanya dan ternyata itu hanyalah syok berat hingga menyebabkan dia pingsan.


Tetapi walaupun dokter sudah mengatakan bahwa itu hanya syok besar dan Arisha akan segera bangun jika dia sudah merasa lebih baik nantinya, Albercio tetap saja merasa cemas dan ketakutan berlebihan dia terus menunggui Arisha di sana dan menyuruh sekretaris Ben mengurusi pemakaman bi Meli bersama dengan bibi Mia.


Mereka mulai melakukan tugas tersebut dan segera mengurusi proses pemakamannya mulai dari memandikan mengkafani hingga menyolatkan ya dan segera di bawa pada TPU terdekat yang ada disana, bibi Mia yang mengantarkan jenazah beliau karena bi Meli sudah tidak memiliki keluarga lagi dia sebatang kara sama seperti bi Susan yang sudah kehilangan putranya sejak lama juga keluarganya yang sudah meninggal lebih dulu.


Di pemakamannya hanya hadir beberapa orang saja sebab dia tidak memiliki banyak kenalan dan hanya menghabiskan sisa hidupnya itu bekerja pada keluarga Albercio.


Sehingga hanya para pelayan yang datang kesana untuk mengantarkan dia ke dalam peristirahatan terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2