Retisalya

Retisalya
Sakit


__ADS_3

Perkataan Axel tempo lalu selalu saja melintas dalam pikiran Ciya.


“Kapan sih lo mau berhenti ganggu hidup gue?!”


Ciya menghela napas berat. Biasanya dia akan sangat acuh dengan apapun yang dikatakan orang, namun entah mengapa perkataan satu itu terus saja berputar-putar di kepalanya.


Cahaya bulan menemani renungan Ciya malam ini. Angin malam berhembus seakan menusuk tulang-tulangnya, itu sebabnya secangkir teh manis hangat juga melengkapi malam Ciya.


“Kayanya Ciya bakal berhenti buat deketin kak Axel kalau kak Axel udah ada yang punya,” ucapnya tanpa disadari.


Sebuah notifikasi dari ponselnya membuat lamunannya buyar.


Daisy


Ciya, gimana tangan lo?


^^^BryonnaCiya^^^


^^^Tangan Ciya udah mendingan, tadi Bunda Ciya udah ganti perbannya.^^^


Daisy


Baguslah


Read


Pesan dari Daisy cukup mengalihkan perhatian Ciya.


Hari yang semakin larut membuat mata Ciya juga ikut lelah, akhirnya gadis itu memutuskan untuk berpetualang di alam mimpinya.


***


Hari minggu yang cerah untuk seorang gadis pendiam. Penampilannya yang sederhana dan rambutnya yang bergelombang memang sangat menarik perhatian.


Buktinya saat ini banyak pasang mata yang memandangnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Dress merah maroon yang sangat kontras dengan kulitnya membuat penampilannya semakin menawan, hanya satu yang kurang. Tak ada seseorang yang mendampinginya.


Daisy Caroline. Gadis itu tengah memilih buku-buku yang menunjang sekolahnya. Toko buku sepertinya sudah menjadi rumah kedua bagi Daisy.


“Hai,” sapa seseorang.


“Hai.” Daisy menjawab sapaan itu dengan canggung.


“Lo kenal gue?” tanya pria itu.


“Kak Dylan Danendra?” jawabnya agak ragu.


Sebuah kekehan terdengar dari pria itu menandakan jika dia senang karena gadis itu mengenalnya.


Netra Daisy memandang ke arah samping Dylan. Di sana juga ada sosok pria yang sangat dingin baginya. Daisy tentu saja mengenalnya karena pria itu terkenal di sekolah.


“Cari buku apa?” tanya Dylan.

__ADS_1


“Ah belum tahu. Cari yang menarik perhatian aja,” kekehnya.


Sementara itu Axel hanya diam saja memperhatikan percakapan keduanya.


Setelah selesai dengan urusan masing-masing, mereka keluar dari toko buku itu.


“Mau makan bareng?” tawar Dylan.


“Boleh?” tanya Daisy. Netranya memandang Axel takut-takut pria itu tidak menyetujuinya.


“Ehem.” Axel berdehem canggung menandakan jika dia menyetujui rencana itu.


Dan seperti rencana mereka, akhirnya mereka mengunjungi restoran yang ada di sekitar sana.


***


(Flashback saat tangan Ciya terluka)


“Lo suka sama Daisy?” tanya Dylan. Di sana juga ada Dhavin yang sedang fokus pada ponselnya. Setelah pelajaran usai, mereka memilih berkumpul di apartemen Dylan.


“Daisy?” tanya Axel.


“Iya, cewek yang nolongin Ciya tadi,” jelasnya.


Axel mengangguk-anggukan kepalanya. Dia baru tahu gadis yang tadi dia perhatikan itu bernama Daisy.


“Dari mana lo tahu namanya?” tanya Axel.


Axel tak mengindahkan pertanyaan Dhavin. Dia hanya fokus pada jawaban Dylan.


“Gimana gue gak kenal, dia salah satu siswa berprestasi yang masuk sekolah kita lewat nilai.” Dylan menyandarkan badannya di sandaran sofa.


“Jadi? Lo suka dia?” tanya Dylan untuk yang kedua kalinya.


“Enggak,” bantahnya.


Dylan dan Dhavin saling berpandangan mendengar jawaban Axel. Biasanya pria itu hanya diam menghiraukan segala pertanyaan yang menyangkut wanita, namun kali ini pria itu meresponnya.


***


Minggu pagi yang sangat menjengkelkan untuk Axel di mana dia harus pergi ke toko buku untuk mencari referensi tugasnya.


Berakhirlah dia di sini di temani Dylan. Toko buku yang sangat membosankan, namun netranya menangkap gadis yang dia lihat kemarin.


Gadis dengan dress maroon itu sepertinya tengah mencari sebuah buku.


“Lo lihat cewek itu?” tanya Axel tiba-tiba.


“Mana?” Dylan mencoba memandang ke arah yang ditunjuk oleh Axel.


“Oh Daisy?” ucapnya saat netranya menangkap maksud Axel.


“Kenapa?” lanjutnya.

__ADS_1


“Gue mau coba deketin dia, tapi buat sekarang lo yang mulai. Ajak dia makan,” jelasnya.


“Lo gila?! Dia teman Ciya dan lo tahu sendiri kalau Ciya suka sama lo.” Sebenarnya Dylan sedikit tak setuju dengan rencana temannya itu.


“Itu biar jadi urusan gue. Lo cuma harus ajak dia makan untuk saat ini,” ucapnya.


Jika Axel sudah berkata demikian maka Dylan harus melakukannya. Bukannya takut, tapi entah mengapa setiap ucapan Axel sepertinya bukan hal yang harus dia tolak.


“Oke. Tapi gue gak bakal tanggung jawab sama apa yang bakal terjadi.” Dylan kembali memperingatkan Axel.


Axel mengangguk menyetujui persyaratan itu.


“Ciya... mungkin ini satu-satunya cara,” ucapnya dalam hati.


***


 Ciya melihat semuanya. Dari mulai Dylan dan Axel berjalan di sebuah mal, menuju toko buku, bertemu Daisy, dan mengajaknya makan bersama. Ciya melihatnya.


Hatinya terasa sesak. Niatnya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya hancur begitu melihat pemandangan itu.


Dia tahu yang mengajak makan bukan Axel, hanya saja melihat kenyataan Daisy bisa berdekatan bahkan makan bersama dengan Axel membuat hatinya terluka.


“Dada Ciya sakit,” lirik Ciya. Kini mereka ada di sebuah kedai dessert. Kedua temannya Beyza dan Daania terpaksa membawa Ciya keluar dari toko buku itu dan membawanya ke sini.


“Berhenti. Kalau lo sakit, lo harus berhenti,” jawab Daania. Gadis itu memang bukan tipe orang yang suka bertele-tele. Dia akan segera mengeluarkan isi pikirannya.


“Gue setuju, lo harus berhenti. Berhenti nyakitin hati lo sendiri,” timpal Beyza.


Kedua mata Ciya sudah berair, hanya menunggu Ciya berkedip maka air mata itu akan luruh sepenuhnya.


“Tapi di sini bilang, Ciya gak boleh berhenti. Dia masih mau sama kak Axel.” Ciya menunjuk tepat di dadanya.


Kedua temannya terdiam. Mereka sadar, sepolos apapun Ciya gadis itu juga memiliki hati dan perasaan.


“Terus apa yang lo mau sekarang?” tanya Daania. Jika dia menjadi Ciya, dia akan mengacuhkan Axel dan mencari pria lain yang benar-benar mencintainya.


Ciya menggeleng. Dia juga tak tahu harus berbuat apa. Dia tak harus marah pada Daisy kan? Daisy tak melakukan kesalahan apapun.


Beyza dan Daania menghela napas mereka dan berusaha menenangkan Ciya.


“Sssttt berhenti nangis, orang-orang pada lihat kita,” bujuk Beyza. Tangan gadis itu masih setia mengelus punggung Ciya berharap Ciya akan sedikit tenang.


Ciya mengangguk dan sekuat tenaga menahan air matanya agar tak keluar hingga menyebabkan hidungnya memerah. Tangannya juga terkepal kuat menahan rasa sakit yang ada di dadanya.


“Makanan manis cocok buat naikin mood. Lo mau apa?” Beyza berusaha mengganti topik pembicaraan agar Ciya tak semakin larut dalam kesedihannya.


“Ini.” Tangan Ciya menunjuk satu makanan yang ada di menu sambil membersihkan ingus yang sedikit keluar dari hidungnya.


“Oke, Mbak?” Bezya memanggil pelayan yang ada di sana.


Begitulah mereka memesan makanan yang mereka inginkan dan sedikit berhasil meredakan tangis Ciya.


 

__ADS_1


__ADS_2