Retisalya

Retisalya
S2 : Dylan dan Kafe


__ADS_3

Lagi-lagi Dylan datang untuk mengganggu hidupnya. Setelah kemarin pria itu datang ke rumahnya dan mengganggu waktu istirahatnya, sekarang pria itu menunggu Axel di sebuah kafe.


Dengan kurang ajarnya temannya itu tiba-tiba mengirimkan alamat dan meminta Axel untuk datang ke sana.


"Mau apa sih? Kopi di rumah juga bisa bikin sendiri," protes Axel. 


Bukan dia pelit atau tak ingin mentraktir temannya itu, tapi setidaknya jika di rumah dia bisa berbaring santai setelah semua hal yang dia lewati hari ini.


"Kali-kali ngopi di luar kenapa sih?" tanya Dylan. Pria yang bekerja sebagai CEO itu terlihat sangat santai.


"Ini bukan kali-kali, tapi setiap kali," jawab Axel.


Memang sering sekali Dylan datang. Banyak sekali alasan yang dia gunakan untuk sekedar bertemu dengan Axel.


"Ya udah sih kalau gak mau traktir." Inilah kalimat yang digunakan Dylan sebagai jurus terakhir agar Axel merasa tak enak dan berakhir mentraktirnya.


"Ya udah pesan sana," titah Axel yang dituruti oleh Dylan.


Sambil menunggu Dylan memesan, Axel mengeluarkan ponselnya. Kesehariannya tak ada bosannya melihat potret seorang gadis yang sangat dia rindukan.


"Mau sampai kapan lo terus lihatin dia?" Tiba-tiba Dylan datang dan mungkin pria itu melihat apa yang tengah dilihat oleh Axel.


Axel segera memasukan ponselnya dan berdehem untuk menghilangkan rasa aneh di hatinya.


"Udah pesan?" tanya Axel berusaha mengubah topik pembicaraan mereka.


"Hmm udah." Dylan yang peka jika Axel tak menginginkan topik itu untuk diangkat, akhirnya dia hanya menjawab seadanya.


"Abis dari mana lo?" Dylan memilih bertanya tentang topik lain.


"Rumah sakit jiwa." Ketika Axel mengatakan itu, Dylan sudah tahu siapa yang ditemui temannya itu.


"Gimana kabarnya?" tanyanya.


"Kaya biasa. Dia nanya siapa gue dan selalu berakhir gak baik. Dia teriak dan suster yang tanganin," ujarnya. Walau dia seorang dokter tapi mengenai kejiwaan bukan menjadi spesialisnya.


"Padahal udah sering banget gue ke sana dan beberapa kali juga gue sebut nama gue. Tapi dia tetap gak ingat," lanjutnya.


"Tekanan dia berat jadi kaya gitu mungkin. Do'ain aja yang terbaik buat dia," jawab Dylan yang diangguki oleh Axel.


"Lo kerja seenaknya banget ya," ucap Axel saat dia berpikir betapa seringnya Dylan membolos.


"Kalau jadi atasan tuh ya kaya gini. Sibuk main sana sini, kerjaan dilimpahkan semua sama bawahan," jawabnya sombong.

__ADS_1


"Silahkan." Di tengah-tengah pembicaraan mereka, pelayan datang untuk mengantarkan pesanan.


"Makasih Mbak." Pelayan itu mengangguk dan segera pergi dari sana.


"Kenapa jadi milkshake?" tanya Axel pada Dylan karena pria itu yang memesan.


"Gak baik kalau lo ngopi terus," jawabnya sambil terkekeh.


Akhirnya Axel hanya bisa menghela nafas pasrah dengan sikap Dylan. Dia tahu Dylan khawatir padanya, tapi jika ini tentang kopi, rasanya sangat berlebihan.


"Gak usah lagi lo datang minta traktir kalau gitu," ucap Axel yang dibalas dengan kekehan.


"Gue punya teman cantik banget. Mau gue kenalin gak?" tanya Dylan.


"Lan, udah beberapa kali lo bilang gini ke gue dan udah beberapa kali juga gue jawab kalau gue gak mau," jawab Axel.


Mungkin sudah lebih dari seratus kali Dylan melontarkan pertanyaan yang sama. Axel juga menjawab dengan jawaban yang sama kalau dia tidak ingin dikenalkan dengan siapapun.


"Udah berapa tahun umur lo sekarang? Mau jadi perjaka tua lo?"


"Ngaca. Lo juga sama. Emang sekarang lo udah kawin?" tanya Axel membalikan kedaan.


"Seenggaknya gue udah punya pacar," jawab Dylan degan percaya diri.


"Gak apa-apa. Kalau putus tinggal nyari lagi," jawabnya enteng.


"Lan, udah berapa banyak cewek yang lo mainin selama lima tahun ini? Dari mulai Andini, Indah, Intan, Agnes, Joy dan cewek lo yang lainnya yang gak gue inget namanya itu. Mau nyari korban berapa banyak lagi?" tanya Axel.


"Eh ini tuh namanya proses seleksi. Nyari calon bini tuh harus pilih-pilih. Jangan nanti pas nikah baru tau keburukan dia," jawab Dylan.


"Emang benar nyari bini tuh harus pilih-pilih. Tapi kalau semua cewek lo coba, bukan seleksi namanya tapi mainin!" sentak Axel. 


Sementara itu, pria yang sedang diberikan wejangan itu malah terkekeh mendengar ucapan Axel.


"Kenapa malah ketawa sih?" tanya Axel tak senang.


"Aneh aja gue dapat wejangan dari jomblo yang udah lima tahun ini," godanya.


"Sialan!" 


Mereka meneguk minuman mereka sesekali selama pembicaraan mereka.


"Habis dari sini mau ke mana?" tanya Dylan.

__ADS_1


"Gak kemana-mana, langsung pulang. Nanti malam ke rumah sakit," jawabnya. "Kenapa?" sambungnya.


"Oh tadinya gue mau nginep. Lo tau kan cewek gue itu selalu nyariin atau datang ke rumah gue. Bosen banget gue lihat mukanya. Gak lama sih, tapi dia selalu minta duit sama gue buat belanja," curhatnya.


"Makanya cari cewek itu yang benar. Jangan cari cewek yang cuma tau duit, duit sama duit. Rugi lo," jawab Axel.


"Kayanya ramalan lo benar deh kalau gue bentar lagi putus," ujar Dylan yang dibalas dengan kekehan oleh Axel.


"Jadi nginep gak?" tanya Axel.


"Gak seru kalau nginep tapi di rumah lo kosong. Gak jadi deh," jawabnya.


"Ya udah. Gue gak rugi juga sih."


Axel melihat-lihat sekitar yang cukup banyak orang. Dia kira di hari kerja seperti ini tak akan banyak orang yang datang. Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh sama sekali.


Netranya menyipit saat dia tak sengaja melihat orang yang sangat mirip dengan Ciya berada di tengah kerumunan.


Dia mengedip beberapa kali sebelum kemudian kembali melihat pada objek itu.


"Lo lihatin apa sih?" tanya Dylan.


Pria itu mengikuti arah pandang Axel dan sama sekali tak menemukan apapun yang menarik.


"Lo lihat itu? Mirip sama Ciya," ucapnya yang membuat Dylan tersentak.


"Lo lihat hantu?" Pertanyaan Dylan itu sontak dihadiahi tonjokan ringan dari Axel.


"Sembarangan!" ucapnya.


"Ya lagian lo ada-ada aja. Mana ada orang yang udah ninggal balik hidup lagi," ujar Dylan.


Axel mengalihkan pandangannya pada Dylan dan memandang pria itu dengan tatapan menusuk.


"Iya kan? Mana ada coba." Dylan mencoba meyakinkan Axel bahwa pernyataannya tak salah.


Ketika Axel kembali memandang ke arah tadi, orang yang dia rasa mirip dengan Ciya sudah hilang. Yang tersisa hanya keramaian di sana.


"Gara-gara lo gue jadi kehilangan dia," ucapnya saat dia kehilangan orang itu.


"Xel, lo gak gila kan?" tanya Dylan khawatir jika saja temannya itu rindu dengan Ciya sampai membuatnya gila.


"Enggak lah gila. Gue masih normal!" jawab Axel.

__ADS_1


"Syukur deh. Gue takut lo gila karena kehilangan dia," ujar Dylan yang membuat Axel terdiam.


__ADS_2