
Ciya dan Bunda Jihan telah bersiap untuk membuat kue. Rencananya mereka hanya akan membuat dua saja karena takut kebanyakan.
“Bunda, emang dua cukup ya?” tanya gadis itu. Lidahnya sudah pernah merasakan bagaimana lezatnya cake buatanya Bundanya, makanya dia bertanya takutnya hanya membuat dua akan kurang.
“Dua aja, takut gak habis,” jawabnya.
“Tapi Ciya yakin bakal habis, atau justru malah kurang,” jawabnya.
“Kenapa bisa seyakin itu?” kekeh Bundanya seolah anak gadisnya itu adalah peramal saja bisa berkata dengan yakin.
“Soalnya cake buatan Bunda itu enak gak ada tandingannya, makanya Ciya yakin kalau ini bakalan habis,” jelasnya.
“Lidah kamu mungkin bisa bilang enak, tapi kan kita gak tau apa Daddy kamu itu suka atau enggak. Gampang nanti kalau kurang kita bikin lagi,” jelasnya.
“Ya sudah.” Mereka memulai mencampurkan semua bahan yang ada sesua dengan ketentuan. Ciya yang awalnya ingin membantu ternyata hanya melihat saja atau mengerjakan hal kecil.
“Katanya mau bantu Bunda,” ujar Bunda Jihan yang melihat Ciya malah terus memperhatikannya.
“Ciya takut salah, Bun. Nanti kalau cake-nya jadi gak enak gimana?”
“Gak bakal. Pasti enak, kan ada Bunda juga yang lihatin kamu. Nanti Bunda ajarin.” Ciya mengangguk dan mulai turun untuk membantu Bundanya.
Sekarang dia yang mengerjakannya dengan arahan dari Bunda Jihan. Tahap demi tahap sudah mereka lewati dan sekarang cake mereka sudah siap untuk masuk oven.
“Oke kita tunggu selama empat puluh sampai limaa puluh menit ya.” Ciya melihat jam tangannya dan mengingat-ingat waktu ketika merek memasukan adonan itu ke dalam oven.
Selama menunggu itu, mereka hanya kembali berbincang. Lima tahun yang mereka lewatkan tanpa satu sama lain membuat cerita mereka sangat menumpuk.
“Gimana aja kamu di sana? Seru belajar di sana?” tanya Bunda Jihan.
“Seru Bun. Ciya di sana kalau berangkat kadang diantar Daddy, tapi pulangnya pasti naik bus atau kereta. Kadang Ciya sama Javier juga suka jalan-jalan dulu di sekitar kampus,” jelasnya.
“Bunda di sini suka ke mana aja?” tanya Ciya.
__ADS_1
“Gak kemana-kemana. Bunda di rumah aja, paling kalau lagi bosen Bunda pergi belanja. Kadang juga ada yang pesan cake, Bunda bikinin, kaya gitulah, gak ada kegiatan rutin,” jawabnya.
“Maaf ya, karena Ciya gak ada Bunda jadi sendirian,” cicitnya.
“Kamu ini ngomong apa? Justru itu Bunda bahagia karena dengan dibawanya kamu ke sana, kamu bisa sembuh total seperti sekarang. Bunda lega lihatnya,” jawab Bunda Jihan.
“Bunda, kalau Ciya ketemu Kak Kenji kira-kira dia bakal bereaksi kaya gimana ya?” tanyanya iseng. Sebenarnya sampai sekarang dia belum memiliki niatan untuk bertemu dengan pria itu.
“Kayanya dia bakal bahagia banget karena tahu kamu masih di sini. Selama ini kamu tau, kayanya perasaan dia sam kamu masih sama. Bahkan sampai sekarang dia belum kenalin perempuan lain sama Bunda,” jelasnya.
Mendengar penjelasan Bundanya itu membuat Ciya mematung. Apakah benar begitu? Lalu, apakah akan baik-baik saja jika suatu saat mereka bertemu?
“Ciya harap perasaan Kak Kenji lekas berubah sama Ciya. Ciya cuma mau Kak Kenji jadi Kakak Ciya. Dia baik banget Bun, selama Ciya sakit, dia selalu dukung Ciya,” lirihnya.
Ada rasa bersalah di hatinya karena dia tak bisa membalas perasaan pria yang satu itu. Tapi mau gimana lagi karena perasaan memang tak bisa dipaksakan.
“Boleh Bunda tanya sesuatu sama kamu?” tanya Bunda Jihan. Sebenarnya dia sangat ragu untuk menanyakan hal ini.
“Boleh dong. Bunda mau tanya apa?” tanyanya.
Lama tak menjawab membuat Bunda Jihan peka dan akhirnya dia kembali beruara. “Ah maaf, Bunda harusnya gak bahas ini. lupain aja,” ucapnya menyesal telah mengangkat topik pembicaraan yang sangat sensitir untuk Ciya.
“Enggak Bun, gak apa-apa, Ciya jawab sekarang. Ciya juga gak tau gimana perasaan Ciya sekarang Bun. Ciya bingung. Otak Ciya bilang kalau harusnya Ciya gak boleh mikirin dia lagi, Ciya harus lupain dia. Tapi hati Ciya enggak, Bun,” jawab Ciya.
Bundanya mengerti, itu artinya masih ada rasa di hati putrinya pada Axel. Pria yang sejak dulu selalu menyakiti putrinya itu.
“Bunda ngerti. Bunda gak akan paksa kamu karena kamu sudah besar. Kamu pasti tau apa yang terbaik buat diri kamu sendiri.”
Ciya mengangguk dengn pasrah. Dia juga tak tahu akan melakukan apa setelah ini. Yang dia tahu saat ini dia belum ingin jika bertemu dengan Axel. Dia belum siap dengan semuanya, apalagi penolakan. Dia belum siap ditolak untuk yang kesekian kalinya.
Ting
Suara oven menandakan jika cake mereka telah matang. Buda Jihan beranjak dan membuka oven itu. Seketika wangi manis dari cake itu menyeruak menerobos indera penciuman mereka.
__ADS_1
“Ini sih pasti enak. Ciya yakin mereka bakal suka. Tapi Ciya berharap mereka gak akan terlaalu suka, biar Ciya aja yang habisin semuanya,” ujarnya. Dia sangat rindu dengan cake buatan Bundanya.
“Hus, kok gitu sih ngomongnya. Kalau mereka gak suka, berarti cake Bunda gak enak dong,” ujarnya yang membuat Ciya hanya bisa terkekeh.
Bunda Jihan mengangkat cake-nya dan segera menghidangkannya. Dia akan memotong cake itu, tapi sebelumnya harus menunggu hingga cake itu dingin.
“Udah selesai?” tanya Ciya.
“Udah, emang mau apa lagi?” tanya Bundanya.
“Kok cepat banget ya?”
“Kalau udah biasa kaya Bunda emang rasanya jadi cepat karena gak gagal dan gak perlu diulang.”
Ciya mengangguk mengerti setelah ini sepertinya dia harus benar-benar belajar membuat cake pada Bundanya.
“Javier, Mommy sama Daddy kamu mau ke sini gak?” tanya Bundanya.
“Gak tau, mereka sih gak bilang mau ke sini.”
“Kalau mereka emang gak mau ke sini, nanti biar Bunda yang antar ini ke rumah mereka,” sambungnya.
“Nanti Ciya coba telpon mereka dulu ya.”
Ciya berlalu menuju kamarnya. Kebetulan ponselnya di sana. Sementara itu Bunda Jihan membereskan bekas masak mereka.
Tiba-tiba bel berdenting menandakan jika di depan ada tamu. Dengan cepat Bunda Jihan membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang datang.
“Bunda, Ken bawa sesuatu,” ucapnya sambil mengangkat makanan yang dia bawa. Pria itu masuk ke dalam rumah, ke dapur lebih tepatnya untuk menyajikannya.
Sementara itu Bunda Jihan masih berdiri di tempatny karena terlalu terkejut. Tak ingin semuanya kacau, akhirnya dia menyusul Kenji.
“B-bawa a-apa kamu?” tanya Bundanya gagap.
__ADS_1
Pintu kamar Ciya terbuka membuat perhatian Kenji terarah ke sana.