Retisalya

Retisalya
S2 : Rumah Ayah


__ADS_3

Gadis itu bangun dari tidurnya. Dia tidak sendiri melainkan ada Javier di sampingnya. Pria itu masih tidur dengan pulas.


"Ih dasar kebo!" ucapnya sambil menyingkirkan kaki Javier yang dengan kurang ajarnya menindih kakinya.


Ciya bangkit untuk mencuci wajah dan juga menggosok giginya. Setelahnya dia menemui Daddy dan Mommy-nya yang sudah siap di bawah.


"Kalian mau ke mana?" tanya Ciya. 


"Sayang, hari ini kita ke rumah sakit lagi. Mommy gak sempat masak, jadi kalian delivery order atau makan di luar aja ya," ucapnya.


"Oh iya buat mobil, pakai aja yang itu. Nanti biar Daddy ambil lagi mobilnya yang ada di rumah sakit," timpal Bagas.


"Oke Dad, Mom. Hati-hati ya!!" Ciya melambaikan tangannya mengiringi kepergian dua orang yang sangat dia cintai itu.


"Ahh beneran gak ada makanan," ucapnya. Hari masih pagi sekali. "Joging deh." Ciya kembali menuju kamarnya untuk membangunkan saudaranya itu.


"Bu bangun!!" Ciya menggoyangkan tubuh Javier.


Pria itu hanya sebatas mengerutkan dahinya dan kemudian kembali terlelap. "Temenin gue joging, nanti pulangnya langsung sarapan," pinta Ciya.


Tapi sama sekali tak didengar oleh Javier. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri saja. Hanya mengelilingi kompleks dia rasa.


Ciya mengganti bajunya dengan setelah olahraga, tak lupa dia juga menggantungkan handuk kecil di lehernya.


"Oke siap!" 


"Vi gue berangkat dulu. Keliling kompleks. Karena lo gak mau ikut, jadi cari makan sendiri aja!!" Ciya berbicara tepat di telingan Javier karena dia tahu jika tidak begitu, saudaranya itu tidak akan sadar dengan apa yang dia ucapkan.


Tiba di halaman rumah, Ciya menghela nafas untuk persiapan. Dia juga melakukan sedikit pemanasan.


"Go!" Gadis itu mulai berlari dengan kecepatan sedang sambil melihat ke sana dan kemari. Sangat nyaman udara di pagi hari seperti ini.


Rambut yang dia kucur itu bergoyang mengikuti gerakan larinya. Cukup jauh sudah dia berlari. Namun keringat masih belum keluar banyak. Akhirnya Ciya kembali berlari satu putaran lagi saja.


Benar saja, setelah melakukan satu putaran lagi, keringatnya akhirnya keluar. Dia berhenti di taman kompleks di mana di sana banyak sekali orang yang berjualan. Sangat cocok dijadikan tempat istirahat seperti sekarang.


Ciya memutuskan untuk membeli sebotol air mineral. Nafasnya terengah saat dia kembali setelah membeli air.

__ADS_1


"Na, kok ninggalin gue sih?!" protes seseorang yang membuat Ciya terkejut. Dia juga hampir tersedak minumannya.


"Apaan sih lo, lagian udah gue bangunin masih aja tidur. Eh sekarang main nyalahin gue," jawab Ciya tak terima.


"Kenapa banguninnya gak lebih sabar," ucapnya sambil mengambil botol minum milik Ciya dan kemudian meneguknya.


"Makan yuk! Lapar gue," sambung Javier.


"Lo ke sini bukan mau joging kan? Tapi mau makan." Ciya sudah curiga dari awal karena ketika pria itu datang sama sekali tak mengeluarkan keringat. Jadi itu berarti Javier hanya lari dari rumah hingga ke taman ini saja.


"Yuk." Karena Ciya juga merasa lapar, akhirnya dia menyetujui ajakan Javier.


"Mau makan apa?" Mereka melihat setiap pedagang yang ada di sana. 


"Gue mau ketoprak," ucap Ciya. Rasanya sudah lama dia tak memakan makanan yang satu itu.


"Ya udah samain yuk!" Mereka berjalan menuju penjual ketoprak. Beruntung tak terlalu penuh.


"Pak mau dua porsi dimakan di sini ya," pesan Ciya.


"Siap Neng. Ditunggu ya." Ciya tersenyum dan mengangguk. Javier telah lebih dulu memilih tempat duduk yang dirasa nyaman.


Mereka menunggu beberapa menit hingga makanan mereka datang.


"Silahkan Neng, Mas." Mata Ciya berbinar saat makanan mereka datang. Pasalnya perutnya sudah lapar sejak tadi. 


"Selamat makan!!" ucapnya dengan semangat.


Mereka memakan makanannya dengan lahap. Tak memperdulikan orang-orang yang sudah memandangi mereka karena mutu Ciya yang belepotan.


"Ahhh kenyang." Akhirnya makanan mereka habis dilahap. 


"Habis ini mau ke mana?" tanya Javier. Mereka yang memang tak ada kegiatan jadi bingung sendiri harus melakukan apa seharian.


"Mau temenin gue ketemu Ayah gak?" tanya Ciya. Ada raut sedih di sana.


"Boleh," jawab Javier. 

__ADS_1


"Ya udah yuk pulang!" Ciya beranjak dari sana melewati penjualnya. Setelah satu langkah berada di gerai ketoprak itu Ciya berkata, "Vi, bayar ya!" teriaknya.


Javier mendengus kesal. Beruntung dia membawa uang. Bagaimana jika dia tak membawa uang sedikitpun.


Mereka tiba di rumah dengan keringat yang membanjiri tubuhnya sisa berlari tadi.


"Mandi ya, abis ini kita berangkat," ucap Ciya yang diangguki oleh Javier.


Sekitar satu setengah jam mereka bersiap. Ciya memakai pakaian hitamnya. Tak lupa kaca mata hitam yang dia kenakan untuk menghindari silaunya sinar matahari. Begitu juga dengan Javier yang tak jauh berbeda dengan Ciya.


Mobil yang sudah disediakan oleh Daddy mereka mempermudah perjalanan mereka karena mereka bisa kemanapun dengan mobil itu.


Ciya tiba di sebuah pemakaman yang sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang datang untuk menjenguk keluarnya yang telah pulang lebih dulu.


Perlahan Ciya mendekat pada tempat di mana Ayahnya beristirahat untuk selamanya.


Dia berjongkok dan menyentuh nisan sang Ayah.


"Ayah, Ciya datang," ucapnya dengan lirih. Sekuat tenaga dia menahan agar tidak menangis.


Javier berdiri di belakang Ciya melindungi gadis itu dari terpaan panas sinar matahari.


"Ayah gimana kabarnya di sana? Pasti udah bahagia ya di surga," lirihnya.


"Ciya gak jadi ikut Ayah. Maaf karena akhirnya Ciya lebih memilih buat nemenin Bunda di sini, Yah." 


Perlahan tangan Javier mengusap rambut Ciya menenangkan gadia itu.


"Ayah yang tenang di sana. Maaf Ciya gak bisa sering datang Yah. Lima tahun lalu Ciya ada di Inggris dan sekarang baru pulang. Ciya jahat banget ya Yah gak pernah jenguk Ayah." Air matanya sudah mengalir. Dia tak bisa lagi menahannya.


Rasa sesak di dadanya sangat menyiksa ketika mengingat sang Ayah sudah tak ada di dunia ini. Bahkan dia sudah tak bisa menemui pria yang menjadi pahlawannya itu lagi.


"Kalau Tuhan izinin, nanti di surga, Ciya mau jadi Putri Ayah sama Bunda lagi. Ciya gak mau orang tua lain selain kalian," ucapnya.


"Na, udah jangan terlalu dipikirin ya. Gue yakin Om udah tenang di sini dan dia bahagia lihat lo udah bangkit kaya gini." Javier ikut berjongkok mendekap Ciya dalam pelukannya saat dirasa gadis itu semakin jatuh dalam rasa sakit karena kehilangan Ayahnya.


"Sekarang juga lo udah punya Daddy, anggap dia kaya Ayah lo sendiri," sambung Javier.

__ADS_1


Ciya mengangguk dan menghapus air matanya yang sudah mengalir sejak tadi. Setelah cukup tenang, Ciya kemudian mengajak Javier untuk pergi dari sana.


__ADS_2