
Lima tahun mendekam di balik jeruji besi membuat Dzikri sangat rindu dengan dunia luar. Dia sudah menyesali perbuatannya sejak sebelum dia dibawa ke tempat ini.
Sekarang hidupnya sudah hancur. Sudah tak ada lagi harapan baginya karena perusahaan ayahnya telah bangkrut dan ayahnya juga mengakhiri hidupnya.
Kini Dzikir menjadi manusia sebatang kara yang sangat menyedihkan. Yang tersisa hanya tinggal sebuah apartemen yang dulu sempat dia beli menggunakan uang tabungannya.
"Ahh segar banget ternyata di luar sini." Dzikri baru saja keluar dari penjara. Tak ada yang menjemputnya, tak ada yang menunggunya. Dia hanya seorang diri dan pulang juga sepertinya seorang diri.
Pria itu menyusuri jalan untuk tiba di apartemennya. Besok dia harus mulai mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Tiba-tiba sebuah mobil melintas di sampingnya. Dia juga tak menduga jika mobil itu akan berhenti tepat di sampingnya.
"Naik," ucap seseorang yang ada di mobil itu setelah dia menurunkan kaca mobil.
Dzikri menundukkan badannya sedikit untuk melihat siapa orang yang ada dalam mobil itu.
Setelah dia tahu, tanpa berkata apa-apa Dzikri masuk ke dalam mobil.
"Ngapain lo ada di sini?" tanya Dzikri begitu mobil sudah melaju.
"Menurut lo?" Sebenarnya Dzikri sudah menduga jika Kenji ada di sini untuk menemuinya. Tapi dia tak tahu apa yang diinginkan pria itu.
"Ke mana?" tanya Kenji singkat.
"Apartemen," jawabnya tak kalah singkat. Tentu saja Kenji sudah tahu letak apartemen temannya itu karena tempat itu adalah tempat yang dulu menjadi rumahnya.
Tempat di mana dia bisa menemukan kenyamanan sebelum akhirnya dia mengetahui semuanya.
Tak ada suara lagi sepanjang perjalanan selain suara klakson dan deru kendaraan yang lalu lalang di seluruh penjuru kota.
Tiba di sana, mereka juga berjalan beriringan tanpa sepatah katapun. Namun ketika mereka telah tiba di dalam, barulah Dzikri kembali bertanya.
__ADS_1
"Jadi, ada apa?" tanyanya Dzikri penasaran. "Kalau lo mau minta ganti rugi buat semuanya, gue udah gak punya apa-apa lagi selain apartemen ini sama isinya dan nyawa gue. Lo bisa pilih salah satunya, atau mungkin lo ambil dua-duanya."
Sebuah tempelengan mendarat tepat di kepalanya setelah dia berkata demikian. Apa yang salah? Dia pikir apa yang dia katakan semuanya adalah kebenaran.
"Awhh," ringisnya sambil memegangi bekas tempelengan itu.
"Emang lo cuma bisa berpikiran buruk sama gue ya?" tanya Kenji setelah sekian lama dia menahan amarah itu.
"Ya habisnya lo mau apa lagi nemuin orang yang udah bunuh nyokap lo? Gak ada kerjaan banget," jawab Dzikri.
Ada rasa sakit di hati Kenji ketika temannya itu kembali mengingatkannya tentang kematian Bundanya.
"Selama lo ada di sana, gue sadar. Lo bukan hanya teman buat gue, tapi juga saudara. Dulu lo selalu ada kalau gue lagi terpuruk dan susah. Jadi sekarang gue juga mau ada buat lo. Lupain soal kematian Bunda gue, kita sama-sama gak mau dia meninggal, lo cuma gak sengaja. Lupain itu."
Akhirnya kalimat panjang yang ingin dia ucapkan dari dulu tersampaikan juga.
"Gue gak bisa Ken. Sejak kejadian itu gue sama sekali gak bisa lupain itu," lirihnya. Memang dia tak pernah makan maupun tidur dengan tenang.
"Pelan-pelan. Lakuin bareng gue, sekarang ubah pikiran lo, lo harus berpikir kalau lo gak bunuh nyokap gue." Kenji memegang kedua bahu Dzikri berusaha menguatkan pria itu.
Dzikri hendak menangis sebelum akhirnya dia tak jadi menangis karena ucapan Kenji. "Masa anak cowok Mamah nangis sih," goda Kenji sambil tersenyum jahil.
"Sia*lan lo!!" Dzikri meninju lengan atas Kenji karena kesal. Itu adalah candaannya dulu ketika mereka masih bersama dan belum tahu apa yang telah terjadi.
"Gue turut berduka cita buat kepergian bokap lo. Gue gak nyangka kalau dia lebih milih pergi dari dunia ini ketimbang bangkit buat nerusin usahanya," ucap Kenji.
"Itu udah jalan Tuhan. Dia milih itu dan gue gak tau juga harus berbuat apa."
"Gue punya penawaran menarik buat lo," ucap Kenji yang membuat Dzikri penasaran.
"Penawaran menarik?" tanyanya.
__ADS_1
"Hmm. Lo tau, sekarang gue kerja di perusahaan orang. Dan lo pasti tahu gimana capenya kerja di perusahaan orang," ceritanya.
Dzikri mengernyitkan keningnya. "Bukannya lo punya perusahaan punya bokap lo? Kenapa gak kerja di sana aja?" tanya Dzikri. Padahal menurutnya akan terasa lebih mudah melanjutkan apa lagi itu perusahaan ayahnya sendiri.
"Nah itu, sebenarnya bokap udah nawarin buat lanjutin perusahaan dari dulu. Cuma ada hal yang gue tunggu dan sekarang itu udah berlalu. Lo orang yang gue tunggu. Mau bantu pegang perusahaan bokap gue sama gue gak?" tanya Kenji.
Hal ini tentu saja ada diluar perkiraan Dzikri. Dia tak menyangka jika Kenji akan mengajak seseorang yang telah membunuh bundanya untuk bekerja sama mendirikan sebuah perusahaan.
Dzikri terbahak mendengar hal itu. "Lo gak lagi bercanda, kan?" tanyanya setelah dia menyelesaikan tawanya.
"Enggak. Gue serius tentang hal ini," jawab Kenji dengan sangat yakin.
"Ken, apa lo lupa siapa gue? Mantan napi yang juga pernah nyakitin lo. Lo gak salah ajak gue jadi partner bisnis lo?" tanyanya.
"Enggak, gue gak lupa dan gue sangat sadar. Lama lo, jadi mau apa enggak? Kalau enggak gue mau cari orang lain!!" ujar Kenji tak sabar.
"Iya mau!!" Dzikri menjawab dengan cepat. Tak munafik jika sekarang dia juga sedang membutuhkan pekerjaan. Ini adalah sebuah keajaiban yang datang dari Tuhan pada seorang pendosa sepertinya.
"Nah gitu kan cepat," ucapnya. "Lusa mungkin gue akan bilang ini sama bokap. Siap-siap aja," sambung Kenji.
"Eh, tapi emang bokap lo gak akan marah kalau gue jadi bagian dari perusahaannya?" Dia takut jika ayah Kenji justru yang memiliki dendam padanya.
"Gue udah ngomong sama dia dan dia baik-baik aja."
Dzikri sudah tak tahu lagi harus bagaimana mengucapkan kata maaf dan terima kasih pada keluarga Kenji. Selain dengan mudah memaafkannya, pria itu juga memberikannya sebuah pekerjaan.
"Oh iya. Boleh minta tolong gak?" tanya Dzikri.
"Minta tolong apa?"
"Lima tahun lalu, sejak Ciya meninggal, gue sama sekali belum pernah datang ke makam dia. Gue emang gak terlalu dekat sama dia, tapi tingkah aneh bin lucu dia selalu bikin gue terhibur. Secara gak sengaja gue udah anggap dia kaya adek gue sendiri. Gue mau jenguk rumah terakhir dia, boleh temenin gue? Gue gak tau tempatnya di mana," pinta Dzikri.
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan sekarang. Sekarang gue masih harus ke kantor." Dzikri mengangguk mengerti.