Retisalya

Retisalya
S2 : Hampir Saja 2


__ADS_3

“Ah Ken, bisa tolong ambil pisau dulu di halaman belakang? Tadi Bunda habis makan apel di sana, kayanya ketinggalan,” ucapnya dengan cepat untuk mengalihkan perhatian pria itu.


“Oke Bun.” 


Sementara Kenji pergi ke halaman belakang, dengan cepat Bunda Jihan menuju kamar Ciya yang telah tebuka itu dan penampilkan putrinya yang sedang memegang ponsel.


“Sayang jangan keluar dulu sebelum Bunda panggil ya, di luar ada Kenji.” Saat mendengar hal itu Ciya membelalakan matanya terkejut.


Dia mengangguk dan kembali ke kamarnya. 


“Bun!!” Kenji berteriak karen dia tak bisa menemukan Bunda Jihan di dapur.


“Iya bentar!” Bunda Jihan balas berteriak sebelum kemudian dia kembali menemui Kenji.


“Ada?” tanya Bunda Jihan pada pria itu.


“Gak ada, Bun. Kenji udah cari kemana-mana,” jawabnya.


“Oh ya udah gak apa-apa. Biar Bunda pakai pisau yang satunya aja,” jawabnya.


Entah kenapa Kenji merasa ada yang aneh dengan Bundanya. “Bunda kenapa sih? Kok kaya ketakutan gitu?” tanyanya.


“Ah, gak apa-apa kok. Bunda baik-baik aja, perasaan kamu aja.” Bunda Jihan berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan dirinya.


“Kamu bawa apa?” Bunda Jihan kembali bertanya untuk mengalihkan perhatian pria itu.


Kenji membuka bungkusan yang dia bawa. Isinya adalah sebuah kue yang sepertinya dibeli Kenji dari toko.


“Emm, kayany enak tuh,” ujar Bunda Jihan.


Tak sengaja Kenji melihat dua buah kue yang ada di meja makan. “Ah Bunda juga buat kue? Berarti Kenji salah dong beli kue hari ini,” ujarnya.


“Enggak salah, Sayang. Kue itu Bunda bikin buat adik Bunda yang baru saja datang dari luar negeri. Kalau buat Bunda ya ini, yang kamu beliin,” kekehnya.


“Ya udah, kita makan sekarang?” tanya Kenji.


“Boleh.” Bunda Jihan dengan telaten memotong kue itu hingga menjadi beberapa bagian kecil. Dia mengambil satu potong ke sebuah piring kecil begitu juga dengan Kenji.

__ADS_1


“Enak gak Bun?” tanya Kenji. “Tadi Kenji penasaran banget mau beli ini soalnya tokonya baru, jadi mau coba,” sambungnya.


“Enak kok. Kue-nya lembut,” jawabnya.


“Syukur deh kalau Bunda suka.” Mereka kembali foku pada makanan di hadapan mereka.


“Oh iya, tadi Ken lihat ada sepatu di luar, punya siapa Bun?” tanya Kenji. Pasalnya selama dia sering ke sini, dia baru sekarang melihat sepatu itu.


“O-oh itu punya Bunda, emang kenapa?” tanyanya.


“Enggak, modelnya kaya anak sekarang banget. Bunda ternyata suka yang stylish ya,” kekehnya.


“Eh jangan gitu ya. Bunda juga masih muda, masih mau kelihatan modern kaya anak zaman sekarang,” ucapnya.


Kenji sama sekali tak menaruh perhatian dan melanjutkan makan mereka dengan percakapan kecil diantaranya.


Setelah selesai dengan kue, Kenji mulai mencuci piring bekas dirinya dan Bundanya.


“Gimana kerjaan kamu? Sibuk ya? Minggu kemarin kamu gak datang ke sini,” ucapnya.


“Iya Bun. Kerjaan sekarang lagi padat banget. Kemarin atasan Ken juga keluar, jadi kerjaan dia Ken yang handle,” jawabnya menceritakan kesehariannya di kantor.


“Belum mau Bun. Masih ada yang Kenji tunggu. Mungkin bentar lagi juga Ken mau bilang sama Ayah buat terima tawaran dia tapi gak sekarang.”


“Masih ada yang kamu tunggu?” Bunda Jihan kembali bertanya saat dia tak mengerti dengan yang dikatakan oleh Kenji.


“Bunda ingat teman Kenji yang renggut nyawa Bundanya Kenji?” Pikiran Bunda Jihan spontan terarah pada anak itu.


Dia sangat mengingat dan dia juga mengingat bagaimaa Kenji selalu menangis padanya karena tak menyangka jika yang merenggut nyawa Bundanya adalah temannya sendiri.


“Ah iya, seharusnya tahun ini dia keluar, kan?” tanya Bunda Jihan yang diangguki oleh Kenji.


Pria itu berjalan mendekati Bunda Jihan yang masih duduk di kursi setelah dia melepas apron yang semula dia kenakan.


“Iya Bun. Bentar lagi dia keluar. Niatnya Ken mau ajak dia kerja sama buat nerusin perusahaan Ayah,” jawab Kenji.


Bunda Jihan sangat tak menyangka jika kalimat itu yang akan keluar dari mulut Kenji. “Kamu gak benci sama dia?” Bukan maksudnya untuk meminta Kenji membenci temannya itu.

__ADS_1


“Benci, Kenji benci banget sama dia. Tapi dia teman Kenji, dia juga lakuin itu karena gak sengaja Bun. Setelah dia masuk sel, Bunda tahu sendiri gimana perusahaan Ayahnya dia. Bahkan Ayahnya sampai mengakhiri hidupnya. Kenji gak mau teman Kenji rasain kesepian yang sama kaya yang Kenji rasain, Bun,” jelasnya.


Tatapan Bunda Jihan spontan meneduh saat dia mendengar penjelasan Kenji barusan. “Kamu emang anak baik,” ucap Bunda Jihan yang hanya dibalas dengan senyuman oleh pria itu.


“Bunda setuju kalau kamu mau lakuin itu. Jangan tanggung-tanggung, lakuin yang terbaik. Bunda bangga sama kamu,” ucapnya.


“Bun, kalau Ciya masih di sini, apa dia juga bakal bangga sama Ken?” tanyanya dengan pandangan sendu. Dia kembali merindukan gadis itu. Adik kecil kesayangannya.


“Tentu aja dia bakal bangga sama kamu. Dia pasti bahagia banget punya Kakak baik yang sukses,” ucapnya.


“Kenji harap kalau kita nanti ditemukan di alam abadi, Kenji mau jadi abang Ciya. Kenji mau lindungin dia dari orang-orang yang selalu bikin dia sedih,” ucapnya.


Bunda Jihan mengangguk. Tak terasa air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


“Oh iya Bun, Bunda tau gak?”


“Apa?”


“Beberapa hari lalu kalau gak salah, Ken lihat orang yang mirip banget sama Ciya,” ucapnya yang membuat tubuh Bunda Jihan kaku mendengarnya.


“Dia mirip banget Bun. Yang bikin beda cuma warna rambut sama penampilannya aja masa. Warna rambut Ciya kan hitam, punya orang itu coklat. Dan penampilan dia juga lebih dewasa dari Ciya. Kaya dia emang kakak kandung Ciya aja bisa semirip itu,” ceritanya.


Kenji menceritakan orang yang dia lihat ketika dia makan siang waktu itu. Dia masih ingat dengan jelas raut wajah orang itu.


“Mungkin emang kembaran Ciya yang beda orang tua,” kekehnya bergurau. Dia tak ingin mengambil hal itu dengan serius atau Kenji akan tahu tentang Ciya yang sebenarnya.


Mungkin mereka akan bertemu, tapi nanti jika Ciya sudah siap bertemu dengan Kenji.”


“Bunda, karena sekarang Kenji izin ke kantornya buat makan siang. Jadi Kenji gak bisa lama. Kenji harus segera ke kantor lagi,” pamitnya.


“Kamu ini. Lain kali kalau emang gak sempat ke sini gak usah. Bunda gak apa-apa kok,” ucap Bunda Jihan karena takut merepotkan Kenji.


“Gak apa-apa Bun. Lagian sumpek kalau di kantor terus. Nanti bisa-bisa Ken gila,” kekehnya.


“Hus, jangan ngomong sembarangan.”


“Kenji pergi ya.”

__ADS_1


“Iya. Makasih ya kue-nya. Hati-hati di jalan.”


__ADS_2