Retisalya

Retisalya
Kehilangan


__ADS_3

Beberapa hari belakangan ini Ciya sekolah dengan biasa. Wajah cerianya kembali saat di sekolah, hanya saja semua itu hilang ketika dia sedang sendiri.


Ciya memakai topeng sangat tebal untuk menutupi rasa sakitnya, terutama di hadapan Axel.


Axel sendiri hari demi hari semakin romantis dengan Daisy. Walaupun tak bisa dipungkiri jika Ciya cemburu, namun dia harus ikut bahagia karena kebahagiaan Axel.


Sementara Kenji, Ciya masih dekat dengan pria itu. Pria itu menjadi salah satu penopang dalam hidupnya setelah Bunda Jihan, namun Ciya belum berani menerima perasaan pria baik itu. Saat ini dalam hatinya masih terukir nama Axel seorang.


“Bry, lo tahu anak kelas sebelah yang punya penyakit parah?” tanya Daania heboh sesaat setelah memasuki kelas.


“Hmm, Dametha Harumi kan? Yang blasteran jepang itu?” tanya Ciya memastikan.


“Iya iya yang itu.”


“Dia kenapa?” tanya Ciya.


“Meninggal, Bry. Padahal kemarin gue masih lihat dia berkeliaran di sekolah loh,” jelas Daania.


Ekspresi Ciya berubah. Wajahnya memucat, dia mengingat penyakitnya. Apakah kematian juga akan menjadi akhir baginya?


“Bry, lo kenapa?” tanya Daania.


“Ah, enggak. Cuma gak enak badan aja.” Ciya tersenyum canggung.


“Mau ke UKS aja?” tawar Daania.


Ciya menggeleng. Jika berada di ruangan sepi itu dia akan semakin mengingat penyakitnya. Lebih baik di sini, di kelas, setidaknya dia akan teralihkan dengan suasana ramai dalam kelas.


“Lagi apa nih?” Beyza menyentuh bahu Daania tiba-tiba yang menyebabkan Daania terlonjak.


“Kaget, gila!” seru Daania.


“Ya maaf. Lagian ngapain sih pagi-pagi udah ngerumpi aja.” Beyza berjalan ke arah kursinya dan menyimpan tas yang semula tersampir di bahunya.


“Gak ada. Kita Cuma ngomongin anak kelas sebelah yang baru aja meninggal,” jawab Daania santai.


“Hah!! Meninggal?!”


“Kok bisa sih!!” teriak Beyza.


“Ya bisa lah. Lo kira manusia bakal terus hidup kekal gitu di dunia ini.” Daania merotasikan bola matanya.


“Bukan gitu. Yang waktu itu lo bilang punya penyakit parah itu kan?” tanya Beyza. Daania mengangguk.


“Kemarin kan masih baik-baik aja, dia bahkan masih berangkat sekolah. Gue lihat dia kok kemarin,” ucap Beyza.


“Nah itu, gue juga lagi ngomongin itu sama dia.” Daania menunjuk Ciya.


“Bry, kok muka lo pucat banget sih. Lo sakit lagi?” tanya Beyza.

__ADS_1


“Enggak ko- uhukk uhukk.” Ciya membekap mulutnya dengan tangannya.


Ciya merasa ada yang keluar dari mulutnya.


“Darah,” ucap Ciya setelah dia melihat tangan yang semula membekap mulutnya.


“Hah?! Darah?” Daania dan Beyza terkejut saat Ciya bergumam kecil.


 Kedua sahabatnya itu mendekati Ciya dan melihat sesuatu yang ada di tangan Ciya.


“Ya ampun, Bry. Kita ke UKS sekarang ya.” Daania memegang kdua bahu Ciya berniat memapah sahabatnya.


“Gak usah. Ciya gak kenapa-kenapa,” lirih gadis itu memohon.


“Gak kenapa-kenapa gimana? Lo pikir darah yang keluar dari mulut lo itu suatu hal yang wajar?” bentak Daania.


“Kalian boleh panggilin kak Kenji aja gak? Biar dia yang bawa Ciya,” mohon Ciya.


“Oh jadi lo lebih butuh Kenji daripada kita?” sindir Daania.


“Oke, gue panggil dia!” Daania dan Beyza beranjak dari sana dengan amarahnya.


“Maaf,” lirih Ciya. Bukannya dia tak ingin dibantu oleh kedua sahabatnya, bukan keinginannya juga untuk memanggil kenji, namun keadaan yang memaksa.


Ciya tak ingin merepotkan kedua sahabatnya, Ciya tak ingik kedua sahabatnya tahu apa yang dia alami dan untuk Kenji, Ciya meminta pria itu datang karena di sekolah ini hanya Kenji yang tahu keadaan Ciya.


“Ciya!” Kenji datang dengan keringat yang bercucuran. Dia berlari setelah mendapatkan kabar dari Daania dan Beyza.


“Kak Kenji,” lirihnya. Ciya tersenyum simpul pada pria itu.


Kenji yang melihat noda merah di telapak tangan Ciya segera menarik tangan itu dan menghapus darah itu dengan tisu.


“Mau ke rumah sakit aja?” ucap Kenji lembut. Kening Kenji mengerut, dia khawatir denga keadaan Ciya yang sepertinya semakin hari semakin parah.


“Enggak, Kak. Udah mendingan, sesaknya sisa sedikit lagi.” Ciya berusaha tersenyum untuk menenangkan pria di hadapannya ini.


“Daania sama Beyza marah,” ucap Ciya seketika. Pandangannya kosong, air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya.


“Kenapa, hmm?” tanya Kenji sembari mengusap air mata Ciya yang berhasil lolos.


“Ciya gak bilang sama mereka kalau Ciya sakit. Ciya malah minta sama mereka buat panggilin Kakak,” isakknya.


Mata dan hidung Ciya yang memerah berhasil membuat Kenji gemas pada gadis itu. Tak terasa kekehan keluar begitu saja dari bibirnya.


“Kok malah ketawa sih?” tangis Ciya pecah karena tawa Kenji.


“Sstt udah-udah jangan nangis. Mereka marahnya cuma sebentar pasti. Lagian muka lo lucu.” Kenji kembali terkekeh.


Tangan Ciya terangkat untuk memukul kecil dada Kenji.

__ADS_1


“Rese!” kesalnya.


“Dih, udah berani ngomong gitu sekarang?” ucap Kenji yang membuat Ciya kembali tersenyum.


Tangisannya hilang berganti dengan sebuah tawa yang mampu menenangkan hati Kenji.


“Udah nangisnya?” tanya Kenji.


Ciya mengangguk.


“Tapi Ciya lapar, Kak.” Kenji terkekeh mendengar penuturan Ciya.


“Mau makan apa?”


“Apa aja yang ada di kantin deh.”


“Ayo.” Kenji menarik tangan Ciya untuk pergi ke kantin. Kehidupannya semakin membaik setelah dia mengenal Ciya.


***


Suasana kantin terlihat cukup ramai. Di sana juga ada Daania dan Beyza yang terlihat acuh pada Ciya seakan makanan di hadapannya lebih menarik.


Jangan lupakan pasangan populer yang selalu menjadi sorotan belakagan ini, Axel dan Daisy mereka juga melihat kedatangan Ciya ke sana.


Jalan menuju warung memang melewati dua sejoli itu.


“Bosen kejar gue, akhirnya mungut sampah juga lo!” sarkas Axel saat Kenji dan Ciya melewatinya.


Sebuah tinju melayang begitu saja di wajah mulus Axel. Kenji tahu pria itu sedang menyindir Ciya.


“Kak Kenji!” teriak Ciya terkejut, sementara Axel sudah terbaring di lantai karena pukulan Kenji.


“Jaga mulut lo,” ucap Kenji.


“Cih, mau sok jadi pahlawan lo?” lawan Axel. Daisy hanya memperhatikan tanpa ada niatan membantu Axel.


“Udah ya Kak. Yuk pergi, Ciya lapar.” Ciya menarik lengan Kenji untuk pergi dari sana. Ucapan Axel yang sangat menusuk hatinya berusaha dia lupakan walaupun sulit.


“Jangan dengerin omongan dia, oke,” ucap Kenji.


Ciya mengangguk mantap.


“Ya udah, mau makan apa?” tanya Kenji sekali lagi.


“Samain aja sama Kakak, pasti Ciya makan.”


Kenji kembali terkekeh. Andai saja gadis di sampingnya ini adalah miliknya, dia akan membahagiakannya sepenuh hati. Tak akan dia menyakiti gadis itu bahkan sedikitpun.


Walaupun saat ini Ciya bukan kekasihnya, tapi dia akan selalu melindungi gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2