Retisalya

Retisalya
Last Letter


__ADS_3

Semuanya berlalu begitu cepat, namun Kenji masih dengan keterpurukannya. Hal yang sama juga dialami oleh Axel.


Kenji yang setiap hari datang menjenguk Ciya, tak jarang juga pria tampan itu menginap di rumah sakit. Axel yang masih betah berada di kasurnya tanpa niat datang ke sekolah sedikitpun.


Bagi Axel, semuanya seakan telah berakhir. Penyesalan yang masih belum tersampaikan dan rasa kecewa pada gadis yang telah dia percayai selama ini.


Berbeda dengan kedua pria yang selalu murung itu, Ciya masih betah dengan alam mimpinya. Taka da tanda-tanda gadis itu akan membuka matanya bahkan untuk sesaat.


“Sayang, sampai kapan mau tidur? Kamu gak kangen Bunda?” Bunda Jihan masih setia menemani putrinya. Dia akan menitipkan Ciya pada Kenji jika pekerjaan mendesaknya.


“Lihat, Kak Kenji selalu tidur di sini. Lehernya mungkin sakit karena tidur di sofa setiap malam,” kekehnya.


Wanita paruh baya itu mencoba menghibur dirinya sendiri.


Dilihat dari kondisi fisik Ciya, kondisi gadis itu semakin memburuk. Badan yang mengecil dan wajah pucat sudah dapat menjelaskan segalanya.


Kenji berjalan menghampiri brankar Ciya dan menggenggam erat tangan gadis yang saat ini berstatus kekasihnya itu.


“Cepat bangun Cantik. Kita semua sudah merindukanmu,” ujar Kenji.


Tangis sang Bunda pecah saat itu juga. Antara sedih dan bahagia. Sedih melihat kondisi putrinya yang kian memburuk, tapi dia juga bahagia karena ada orang yang menyayangi Ciya dengan sangat tulus seperti Kenji.


“Ciya pasti bangun. Tante makan dulu ya,” bujuk Kenji.


*****


Dengan beribu-ribu keterpaksaan, Axel akhirnya kembali ke sekolah. Tentu saja tanpa sebuah gairah dan senyuman.


Semua yang ada di sekitarnya seakan membeku setelah melihat ekspresi Axel.


Netranya menangkap gadis dengan rambut panjang yang digerai. Dari belakang terlihat mirip seseorang, pikirnya.


“Ciya…” lirihnya hampir tak terdengar.


Axel segara menghampiri gadis itu, menyentuh bahunya dari belakang. Senyumnya hampir mengembang sebelum gadis itu memutar badannya.


“Iya Kak, ada apa ya?” tanya gadis itu.


“Ah maaf. Gue kira orang yang gue cari.” Axel tersenyum kecut saat mengetahui kenyataan bahwa dia bukanlah Ciya.


“Di mana lo? Udah berminggu-minggu gak kelihatan,” lirihnya.

__ADS_1


“Gue rasa apa yang dibilang Dylan benar. Gue suka sama lo.” Axel menundukan kepalanya dalam menahan cairan yang hendak keluar dari matanya.


“Kasih gue satu petunjuk aja, gue mohon.”


“Kenapa lo Kak?” Sebuah suara cukup membuatnya terkejut.


Axel mengusap air mata yang hendak jatuh menuruni pipinya.


“Daan,” ucapnya. Ya, dia adalah Daania. Gadis itu sedikit heran melihat perilaku kakak kelasnya ini. Terlihat sangat tidak percaya diri, jauh dari biasanya.


“Gue tahu, lo tahu kan di mana Ciya? Gue mohon, kasih tahu gue sekali aja. Gue nyesel, gue mau tebus semuanya.” Baru pertama kali dalam hidupnya Axel memohon pada seorang wanita.


Daania memalingkan wajahnya. Dia sangat tak paham dengan sikap Axel yang satu ini.


“Lo peduli sama Ciya?” tanya Daania.


Axel mengangguk cepat, dia tak ingin kehilangan kesempatannya lagi.


“Lupain dia. Biar Kak Kenji yang bahagiain Ciya.” Netra Axel terbelalak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Daania, namun Axel segera menetralkan ekspresinya.


“Gue tahu, rasa sakit yang gue kasih ke dia benar-benar besar banget. Tapi gue mohon, terakhir kali g – “


Belakangan ini Daania memang sangat sensitif dengan kalimat ‘terakhir kali’. Secara tidak langsung kalimat itu membuatnya mengingat kondisi Ciya saat ini.


“Lo kenapa?” tanya Axel heran.


“Gue gak bakal kasih tahu lo dan jangan pernah lo ngarep bisa nemuin Ciya!” Daania segera pergi meninggalkan Axel lagi-lagi denga kesia-siaan. Tak ada informasi yang dia dapatkan.


“Sialan!!” Axel meninju dinding yang ada di dekatnya hingga tangannya memar.


*****


Lima hari setelah kemarahan Daania pada Kenji.


“Lama banget kamu tidur. Bunda sama Kak Kenji nunggu kamu bangun,” ucap sang Bunda. Perasaannya sedikit tenang setelah Ciya membuka matanya beberapa menit lalu.


“Maaf bikin Bunda sama Kak Kenji khawatir.” Ciya tersenyum lemah.


“Udah ah. Makan dulu ya.” Bunda jihan memberikan sesuap nasi pada Ciya dan terus seperti itu hingga makanannya tandas.


Kenji hanya tersenyum melihat interaksi itu.

__ADS_1


“Kak Kenji gak makan?” tanya Ciya.


“Aku kenyang lihat kamu makan,” goda Kenji.


“Mana ada orang kenyang Cuma karena lihat orang makan.” Ciya mengerucutkan bibirnya.


“Iya iya, nanti kalau kamu selesai makan, aku makan.” Ciya mengangguk. Berada di samping orang-orang yang menyayanginya sudah lebih dari cukup baginya.


“Oh iya. Malam ini aku gak bisa nginep ya, ada sesuatu yang harus aku kerjain,” ucap Kenji.


Ciya mengangguk. “Gak apa-apa, lagian kasihan lehernya Kak Kenji kalau tidur di sofa terus,” kekeh Ciya.


Untuk sesaat Kenji merasa lega karena gadisnya sudah bisa tersenyum dan tertawa kecil. Dia berharap, semoga tuhan berbaik hati untuk memperpanjang waktunya Bersama dengan Ciya.


“Jaga kesehatannya ya, aku pulang dulu.” Kenji mengusap lembut surai Ciya diakhiri dengan kecupan ringan di kening Ciya.


Ciya mengangguk dan tersenyum. Setidaknya ada dua orang saat ini yang selalu menemani harinya.


“Hati-hati,” ucap Ciya dibalas dengan anggukan Kenji.


“Bunda juga tidur, udah malam.”


“Iya ini juga mau. Kamu juga tidur ya, istirahat.” Ciya mengangguk. Bunda jihan mengecup kening Ciya dan segera masuk ke alam mimpi.


Ciya termenung sendiri, di remangnya malam pikirannya berkecamuk. Tentang kesehatannya, pikiran negative yang selalu datang pada kepalanya.


“Setidaknya aku harus menyampaikannya kan?” lirihnya. Nama Axel masih tersemat dengan jelas di hatinya. Dia tahu ini salah, masih memikirkan Axel disaat Kenji sekarang berstatus sebagai kekasihnya, namun perasaan tak bisa dibohongi.


Pria yang dia cintai adalah Axel, sementara Kenji hanya dia anggap sebagai kakak, tidak lebih.


Ciya mengeluarkan sebuah kertas yang selalu dia simpan dalam tasnya. Sebuah pulpen merah muda dan amplop dengan warna senada.


“Mungkin untuk terakhir kalinya,” lirihnya.


Tangan Ciya mulai bergerah menggores sebuah tulisan di atas kertas yang tadi dia keluarkan. Kata demi kata dia torehkan di sana seakan dia sedang meluapkan isi hatinya.


Tak bisa di tahan lagi, air matanya mengalir, dia menangis dalam diam saat dia menulis setiap kalimat di sana.


Dia berharap orang yang dia tuju akan membaca suratnya walau nantinya tak ada sesuatu yang akan berubah, namun setidaknya untuk yang terakhir kali dia ingin menyampaikannya lagi.


“Aku harap Kak Axel selalu bahagia dengan apapun dan siapapun pilihannya. Aku pamit dan terimakasih untuk semua kenangan yang pernah Kak Axel kasih ke aku. I Love U.” Ciya membaca paragraph terakhir dalam surat yang dia tulis.

__ADS_1


__ADS_2