Retisalya

Retisalya
S2 : RSJ


__ADS_3

Axel berjalan di sebuah lorong rumah sakit yang sudah cukup lama tidak dia kunjungi. Sebenarnya dia tidak berkunjung ke sini bukan hanya karena tidak ingin, tetapi juga karena kesibukan di rumah sakit. Bahkan seringkali waktu istirahatnya juga tersita.


Namun setelah Dylan mengingatkannya kemarin, akhirnya hari ini dia memaksakan diri dan menggunakan waktu istirahatnya untuk datang ke tempat ini lagi.


"Anda datang lagi?" tanya salah satu suster yang ada di sana begitu Axel melewatinya.


"Ah iya aku baru santai akhir-akhir ini," jawabnya.


"Menemuinya lagi?" Suster itu kembali bertanya.


"Iya dia masih di tempat yang sama, kan?" tanya Axel. Takutnya orang itu dipindah tempatkan.


"Iya dia masih di tempat yang sama, perlu saya antar?" Axel menggeleng. 


"Aku bisa ke sana sendiri." 


Dia sudah terbiasa berjalan sendiri sehingga akan terasa sangat canggung jika suster itu menemaninya.


Suster wanita itu mengangguk dan berlalu untuk mengerjakan pekerjaan lainnya sementara Axel terus berjalan hingga dia tiba di depan ruangan bernuansa putih.


Dia bisa melihat dari luar bahwa di dalam sana kosong. "Ke mana dia?" tanya Axel saat netranya tak melihat siapapun di ruangan itu.


Akhirnya Axel memutuskan untuk mencari orang itu hingga ketemu. Tempat terakhir yang dia datangi adalah sebuah taman rumah sakit yang dipenuhi dengan tanaman hias dan juga beberapa pohon itu terasa sangat sejuk. Hal tersebut membuat hati Axel rasanya tenang. Mungkin itu juga tujuan dari desain taman itu.


"Ketemu," ucapnya saat Axel akhirnya bisa menemukan orang yang dia cari. 


Rambut panjang hitam itu masih sama sangat indah dipandang. Yang berbeda hanya tatapan kosong dan juga wajah yang pucat dari gadis itu.


Axel berjalan untuk mendekatinya dan duduk di kursi di sebelah gadis itu.


"Hai Daisy, gimana kabar lo?" tanya Axel. 


Tatapan pria itu fokus pada gadis yang ada di sampingnya sementara itu gadis yang dipanggil Daisy itu hanya memandang Axel dengan tatapan bertanya-tanya.


"Siapa?" tanyanya dengan tetapan linglung. Axel terkekeh miris mendengar hal itu.


"Padahal hampir tiap bulan gue ke sini tapi pertanyaan yang sama masih lo lontarkan," ucap Axel.


Seperti dugaan kalian Daisy mantan pacar Axel dulu berada di rumah sakit jiwa. 

__ADS_1


Kejiwaannya terganggu setelah berbagai macam hal yang dia lewati dan di sinilah dia sekarang tanpa seorang wali yang merawatnya.


Itulah mengapa Axel selalu datang rutin untuk menemui Daisy. Meskipun gadis itu banyak memberikan luka tapi Axel tak ingin lagi menjadi orang tanpa belas kasihan yang membiarkan Gadis itu sendirian.


"Gue Axel, Axel Lorenza. Lo ingat?" tanya Axel pada gadis itu.


"Axel?" tanyanya bingung. Kedua tangan mungil itu terangkat dan perlahan menyentuh wajah Axel.


"Iya ini gue. Terlepas dari lo inget sama gue atau enggak, gue berharap lo bisa cepat keluar dari tempat ini. Gue selalu berdoa yang terbaik buat lo."


Axel tahu jika Daisy tidak akan bisa memproses perkataannya dengan cepat atau mungkin gadis itu sama sekali tak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Tapi setidaknya itulah keinginannya untuk Daisy.


"Lo baik-baik di sini karena gue gak bisa terlalu sering datang. Kerjaan di rumah sakit banyak banget," lanjutnya.


Sudah sama sekali dia tidak menjawab ucapan Axel. Dia hanya terus memperhatikan pria itu yang tak henti berbicara hingga akhirnya ekspresi wajah Daisy berubah menjadi seperti ketakutan.


Dia memeluk dirinya sendiri dan mulai mengacak rambutnya.


"aaakkkkhhh!!!" Dia terus berteriak histeris.


Axel tentu saja tidak tinggal diam, dia mencoba menenangkan Daisy.


Karena gadis itu tidak berakhir tenang, akhirnya seorang suster menyuntikkan cairan yang membuat tubuh Daisy perlahan melemah dan matanya mulai terpejam.


Gadis itu tertidur dalam pangkuan suster. "Maaf Mas kayaknya dia perlu istirahat dulu," ucap salah satu suster.


Axel mengangguk mempersilahkan dua suster itu untuk membawa Daisy ke ruangannya.


Axel masih di sana tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dia masih betah berada di sana dengan kesejukan suasana yang ada.


"Gue masih gak nyangka kalo lo bakal kayak gini. Demi Tuhan gue juga udah maafin lo buat semua yang udah lo lakuin sama gue dan Ciya. Gue mohon cepet sembuh," ucapnya.


Cukup lama Axel berdiam diri di sana hingga akhirnya dia mulai bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.


Axel mengemudikan mobilnya dengan pandangan kosong. Seperti yang dia katakan, setelah kehilangan di Ciya dia juga kehilangan semangat hidupnya. Tapi dia juga tidak bisa pulang tanpa dijemput.


Tujuannya saat ini adalah rumahnya. Dia berangkat dari rumah sakit tadi untuk menjenguk Daisy dan sekarang dia akan menggunakan waktu istirahatnya dengan tidur di rumahnya.


Namun, niatnya harus berubah ketika dia ingat bahwa dia memiliki janji temu dengan Dylan.

__ADS_1


Lagi-lagi pria itu mengganggunya dengan menelponnya dan mengatakan jika dirinya ingin traktiran.


"Di mana sih?" Axel bahkan sampai lupa di mana dia harus menemui Dylan.


Pria itu kembali membuka pesan di ponselnya dan melihat di mana dia harus menemui Dylan.


Brak


Axel menghentikan mobilnya saat dia merasa telah menabrak sesuatu.


Pria itu keluar dari dalam mobil dengan wajah paniknya.


"Ah maaf, aku gak sengaja. Kamu baik-baik aja?" Axel bertanya.


Beruntunglah orang yang dia tabrak barusan baik-baik saja.


"Gak apa-apa. Aku baik-baik aja. Lagian ini salahku gak lihat kiri kanan," ujar gadis dengan mantel tebal itu.


"Ini, hubungi aku kalau terjadi sesuatu. Sekali lagi aku minta maaf." Axel menyodorkan kartu namanya pada gadis itu sebelum kemudian gadis itu pergi dengan kaki yang sedikit pincang.


Dia berharap gadis itu baik-baik saja.


Axel kembali masuk ke dalam mobilnya. "Astaga kenapa sampai gak fokus," ucapnya sambil memijat kepalanya dengan pelan.


Axel menarik nafasnya dengan dalam sebelum dia kembali melajukan mobilnya. "Gara-gara Dylan gue jadi gak fokus," ucapnya.


Setelah Axel menemukan alamat yang diberikan oleh Dylan, Axel memarkirkan mobilnya dan segera turun untuk menemui temannya itu.


Suara pintu terbuka membuat semua orang yang ada di dalam sana menoleh dan memfokuskan perhatiannya pada Axel termasuk seorang pria yang tengah bersantai dengan ponsel di tangannya.


"Hei di sini!" ucap pria itu ketika dia melihat Axel.


Tanpa berpikir panjang Axel segera menghampiri Dylan.


"apaan sih kurang kerjaan banget mau ditraktir," tanya Axel.


Bukannya keberatan untuk mentraktir, tapi untuk saat ini dia perlu istirahat.


Sudah berapa malam dia tidak tertidur dengan pulas walau biasanya juga seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2