Retisalya

Retisalya
S2 : Menemui Ciya


__ADS_3

Hari terus berlalu dan saat ini Axel Tengah Bersantai di rumah sakit karena jam ini adalah jam istirahatnya.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya orang yang dulu menjadi musuhnya dan sekarang mereka menjadi lebih dekat satu sama lain.


"Ngapain lu di sinim" tanya Axel saat melihat ada Kenji di sana.


"Ada yang mau gue omongin." tanyanya.


" apa?" tanya Axel.


"Ciya sebenarnya gak meninggal." seolah bukan hal yang besar Kenji berkata demikian di depan Axel yang tengah makan.


sontak Axel tersedak makanannya. "Lo kalau mau Bercanda jangan bercandain orang yang udah mati," ucap Axel tak terima.


"Gue nggak lagi bercanda gue ngomong yang sebenarnya." 


Karena menurut Axel ini adalah pembicaraan yang sangat sensitif akhirnya pria itu beranjak dan menarik Kenji untuk menjauh dari keramaian kantin dia menarik Kenji ke taman di mana saat itu Kenji berbicara dengan Cia.


"Gimana maksud lo?" tanya Axel.


"Ciya belum meninggal, dia masih ada di sini. selama lima tahun ini dia tinggal sama Omnya di luar negeri setelah menjalani pengobatan sampai dia sembuh total. Sekarang dia ada di sini buat liburan tapi mungkin kalau lu bisa ambil hati dia lagi dia bakal tinggal di sini selamanya," ucapnya.


" tunggu tunggu tunggu dulu lu nggak lagi bercanda kan? Masa iya orang yang udah meninggal hidup lagi?"


 walaupun terkadang Axel juga menginginkan hal yang demikian tapi dia tidak segera itu untuk menganggap orang yang telah meninggal masih hidup.


"Pertama gue gak gila gue juga nggak bercanda, kedua Gue baru tahu hal ini beberapa hari ke belakang itupun karena gue diam-diam Ikutin dia yang, ketiga gue benar-benar udah ketemu sama dia dan dia ngomong sendiri sama gue kalau kejadian 5 tahun lalu itu nggak bener, maksud gue kayaknya kejadian lima tahun itu lalu itu emang udah direncanakan."


tangan aksel terkepal erat saat ia mendengar hal itu. Walaupun masih ada rasa tak percaya di hatinya ketika Kenji mengatakan semua itu, tapi semua yang dikatakannya cukup masuk akal.


"Di mana gue bisa ketemu Ciya sekarang?" tanya Axel.


Untuk saat ini dia tidak memperdulikan jabatannya, pekerjaannya atau apapun itu yang dipedulikan adalah dia menerima permintaan maafnya.


" Gue nggak tahu dia di mana sekarang tapi lo bisa coba ke rumahnya, Siapa tahu dia ada di sana sekarang," jawab Kenji.


Axel hendak berlari untuk menuju kayak mobilnya namun tangannya dicekal oleh Kenji.


"Satu lagi gue cuma mau ngingetin jangan gegabah sama dia, jelasin pelan-pelan lo tau sendiri gimana sakitnya dia lima tahun lalu dan gue gak mau rasa sakit itu dia rasain lagi sekarang. sekarang gue cuma mau dia rasain kebahagiaan aja." 


Axel mengangguk. "Tanpa lu bilang begitu pun gue pasti bakal jelasin sama dia baik-baik," jawab Axel.


Kenji mengangguk dan akhirnya membiarkan Axel pergi dari sana. Seperti niat pertamanya tadi pria itu berlari menuju parkiran Di mana mobilnya terparkir beruntung dia mengetahui Di mana rumah ciya.


dengan kecepatan penuh dia menginjak pedal gasnya hanya perlu sepuluh menit hingga Dia tiba di sana saking kencangnya dia membawa mobil 


tok tok tok 

__ADS_1


Axel mengetuk pintu rumah Cia beberapa menit dia menunggu seseorang membuka pintu itu namun tak seorangpun datang untuk membukanya hingga beberapa kali Axel mengetuk masih tidak ada yang keluar.


 akhirnya Axel memutuskan untuk kembali besok. Namun ketika dia akan pergi dia melihat sosok gadis berambut panjang berwarna coklat dengan crop top putih dibalut dengan jaket denim dan jeans yang dia kenakan tengah berjalan menuju ke arahnya.


 Namun sepertinya Gadis itu tidak menyadari keberadaannya di sana. "Ciya," lirihnya. air matanya mulai menggenang ketika dia akhirnya bisa melihat lagi gadis itu. 


Gadis yang dulu sangat disakiti. "Ciya!!" Axel sangat berteriak membuat gadis yang sedang berjalan sendirian itu menoleh padanya. Tubuhnya menegang bisa Axel lihat dengan sangat jelas. Pria itu perlahan menghampiri Ciya namun Ciya Justru malah memundurkan langkahnya. "Cia ini aku," ucapnya.


"Ah kakak Salah orang kayaknya," jawab Ciya sambil hendak melarikan diri dari sana. Dia telah berbalik sebelum kemudian pria yang ada di belakangnya itu memeluknya dari belakang dengan erat.


"Aku mohon jangan pergi lagi aku minta maaf," ucap Axel.


Air matanya telah mengalir di pipinya begitu saja. "Maaf kayaknya Kakak salah orang." Ciya masih berusaha melepaskan pelukan itu hingga pada akhirnya pelukan itu benar-benar terlepas. Axel selalu berdiri pasrah di sana sementara Ciyw mulai berjalan balik arah.


"Ciya, kamu Ciya Bryonna kan? Dulu sering kasih aku bekal waktu sekolah l, Ciya yang suka pakai tas dan juga bando berwarna pink dia yang kasih susu buat aku di loker, dia yang suka kejar-kejar aku dulu kamu lakuin itu buat aku."


"Stop!!" dia menjerit air matanya sudah mengalir dengan deras ketika Axel mengingatkan tentang masa lalunya. sebelumnya Cia menoleh pada Axel. 


"Asal Kakak tahu satu yang belum Kakak sebutin, Ciya yang dulu cinta sama kakak dan ditolak habis-habisan sampai dia mati." ucapan Ciya itu benar-benar menohok hati Axel


Keesokan harinya Axel masih bekerja namun sayang fokusnya sangat hilang hari ini. Setelah Ciya mengatakan hal menohok kemarin, Gadis itu terlalu begitu saja Axel juga tak bisa menahannya karena dia tak bisa lagi menyakiti Ciya.


 jika dengan melepaskan Ciya Gadis itu akan bahagia maka akan dia lakukan. Tapi satu hal yan dia inginkan dari CIA yaitu, dia ingin Cia menerima permintaan maafnya. setelah itu Axel tak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Cia.


entah itu akan meninggalkannya memakinya ataupun menyakitinya dia akan terima itu semua asal Cia mau menerima permintaan maafnya.


Sudah beberapa kali Bagas memanggil Axel tapi Axel hanya diam melamun.


"Ah iya pak Maafkan saya Ada apa ya?"


"Kenapa kamu hari ini?" tanya Bagas karena melihat Axel yang tidak fokus.


"tidak Pak tidak apa-apa."


"kalau kamu ikut ke ruangan meeting dengan saya ," ucapnya.


Aksa mengangguk dan mengikuti Bagas menuju ke ruangan meeting seperti yang dia inginkan. di sana sudah ada dokter-dokter lain yang menunggu kedatangannya Axel sama sekali tidak tahu apa yang tengah terjadi di sini. namun pandangan dokter-dokter di sana terlihat sangat menakutkan dan seperti sedang menghakiminya.


"Ada apa ini pak?" tanya Axel tak mengerti. "Kamu bisa cek data keuangan rumah sakit dan transaksi apa yang sudah kamu lakukan dari anggaran rumah sakit ini." Axel semakin dibuat bingung dengan hal tersebut.


"Ada dana rumah sakit yang kamu gunakan buat kepentingan kamu sendiri ini bukti-bukti yang sudah mereka kumpulkan dan kamu tahu sendiri sanksi dari perbuatan ini."


Axel mengernyitkan keningnya dia sama sekali tak menggunakan uang rumah sakit sepeserpun. bahkan uang miliknya juga masih ada dan sama sekali tidak dia oakai.


"tapi saya nggak merasa pernah mengirim dana rumah sakit ke rekening saya Pak. Demi Tuhan," ucapnya.


" Jangan sebut nama Tuhan ketika sedang seperti ini. buktinya sudah ada Jadi kamu sudah terbukti bersalah dan kamu akan mendapatkan sanksi yang semestinya," ucap Bagas final.

__ADS_1


****


Axel membuka Jas putih kebanggaannya begitu dia memasuki rumahnya.


Seperti biasa rumahnya terlihat sangat rapi bahkan bisa dipastikan jika sang pemilik rumah sama sekali tidak menyentuh barang-barang yang ada di sana.


Pria itu berjalan menuju lemari pendingin dan membawa sebotol air mineral di dalamnya sebelum kemudian dia menegaknya. Rasa segar di tenggorokannya tidak sebanding dengan rasa sesak di hatinya.


Penolakannya yang dia dapatkan dari Ciya ditambah dengan tuduhan penggelapan dana rumah sakit membuat kepalanya terasa ingin pecah.


Entah apa yang akan dilakukan sekarang. "Kenapa lagi lo?" tanya Dilan. Seperti biasa pria itu sudah masuk sejak Axel belum pulang.


"gue udah bilang beberapa kali sama lo jangan masuk ke rumah orang sembarangan Gue nggak suka." ucapan Axel .


Namun seperti biasa hal itu hanya akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri Dilan.


"Hari ini Axel mengingatkannya dan besok pria itu pasti akan kembali untuk Mengulangi kesalahan yang sama. Tapi keberadaan Dilan hari ini cukup menguntungkannya karena dia bisa bercerita pada pria itu Ada apa lagi hari ini.


" kenapa wajah Lo mumet banget?"  tanya Dilan.


"Kemarin gue ketemu sama Ciya," ucap  tiba-tiba. 


"Mimpiin tentang dia lagi?" tanya Dylan .Axel memang sering bercerita padanya bahwa dia sering bertemu dengan Ciya di dalam mimpinya namun dalam mimpinya itu dia seolah-olah akan mencekiknya hingga dia akan kehabisan nafas dan terbangun saat tidur dengan keringat yang mengucur di dahinya.


 namun Axel menggeleng "bukan mimpi ini nyata." jawab Axel.


Lagi-lagi Dylan dibuat tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Axel. "lu ngomong apa sih jangan Bikin merinding deh," jawabnya.


"Kenapa lu harus merinding gue ketemu sama dia beneran dia belum meninggal."


"jangan gini lah kalau mau nemenin daisi di rumah sakit jiwa." Dylan malah mengira jika dirinya sudah Kehilangan kewarasannya.


"Udah gue bilang kalau gue beneran ketemu Ciya gue juga baru tahu dari kenji kalau sebenarnya dia nggak meninggal. Gadis itu dibawa sama Omnya ke luar negeri dan sekarang dia ada di sini."


Dilan sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja dia dengar. " lu yakin nggak salah orang?" tanya Dylan.


"enggak gue nggak salah orang. ketika di mimpi dia mau cekik gue, kemarin gue nemuin dia, dia tolak gue. dia gak terima permintaan maaf gue dan sekarang ada hal yang baru yang bikin kepala gue seakan mau pecah."


"apalagi?" tanya Dilan.


"Gue dituduh udah gelapin dana rumah sakit milyaran rupiah padahal gue juga gak tahu ke mana uang itu."


Seolah axel memang sudah gila dia menanggapi hal itu dengan senyuman "lu dituduh gelapin uang miliaran rupiah dan lo masih bisa senyum?"


" Terus apa lagi yang bisa gue lakuin?" tanya Axel sudah pasrah dia tidak peduli bahkan jika dirinya akan dipenjara atau dihukum mati sekalipun.


"Cari bukti. buktiin kalau emang lo bukan orangnya," ucapnya Axel menggelengkan kepalanya Entahlah gue udah capek banget sama semua ini.

__ADS_1


****


__ADS_2