
“Lo bakal nyesel.” Seorang pria tiba-tiba muncul dan menjawab pertanyaan Axel.
Axel sedikit terlonjak dan segera membalikan badannya untuk melihat siapa yang telah berbicara.
“Lo bakal nyesel. Lo mungkin gak peduli sama cewek manapun karena nyokap lo.” Pria itu menjeda ucapannya.
Axel hampir saja melayangkan pukulannya jika Dylan dan Dhavin tak menahannya.
“Tapi, lo harus tahu kalau cewek itu makhluk rapuh yang udah sepantasnya kita lindungi,” ucapnya. Ada sedikit rasa sedih yang terpancar di matanya.
“Terus apa urusan lo? Seorang Kenji yang di kenal sebagai musuh bebuyutan gue dengan berani ngajarin gue hal kaya gitu? Cih.” Axel berdecih dan berusaha melepaskan diri dari Dylan dan Dhavin.
Kenji tersenyum miring. Dia memang kesal pada Axel, namun entah mengapa hati kecilnya berkata untuk mengatakan hal itu pada Axel.
Kenji melangkah menjauh. Dia tak lagi berniat untuk menjawab perkataan Axel. Lagi pula harusnya dia tak sepeduli itu pada Axel.
“Sialan!” kesal Axel.
“Apa yang dia bilang ada benarnya juga, Xel.” Dylan mencoba memberikan pengertian pada Axel.
“Sesakit apapun dia, gua gak peduli dan gak akan pernah peduli.” Axel pergi dari sana setelah berkata demikian.
“Anak itu,” gumam Dylan.
“Emang susah kalau udah mendarah daging,” timpal Dhavin.
***
“Ah maaf Kak,” ucap gadis yang baru saja menabrak Axel. Buku yang dia bawa berhamburan begitu saja.
“Gak perlu, harusnya gue yang minta maaf,” jawab Axel dan segera membantu merapikan buku yang gadis itu bawa.
“Daisy?” ucap Axel setelah mereka selesai dengan bukunya. Axel sedikit ragu sebenarnya.
“Iya kak. Makasih ya.” Daisy membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih.
“Mau ke kantin dulu gak?” tanya Axel. Daisy yang mendapat tawaran tiba-tiba sontak memasang ekspresi tak mengerti.
“Sebagai permintaan maaf gue,” lanjut Axel. Sebuah timbal balik yang sangat mengagumkan.
Beberapa jam yang lalu, Daisy yang memberinya sebotol air mineral setelah selesai basket dan sekarang giliran dirinya yang membelikan Daisy sesuatu.
“Boleh?” tanya Daisy ragu.
Axel mengangguk dan tersenyum. Mereka berjalan beriringan menuju kantin. Jangan lupakan percakapan-percakapan kecil sepanjang jalan menuju kantin menjadi sorotan baru di SMA Nusantara.
“Mereka cocok.”
“Gue setuju kalau mereka jadian.”
“Waahh couple baru nih!”
__ADS_1
Itulah diantaranya perkataan-perkataan yang tertangkap indera pendengaran Axel dan Daisy sepanjang jalan menuju kantin.
“Mau makan apa?” tanya Axel setelah sampai di kantin.
“Apa aja,” jawab Daisy malu-malu.
“Oke tunggu.” Axel berjalan untuk memesan makanan. Sementara di sana Daisy hanya diam sembari menundukkan kepalanya.
***
“Ciya! kak Axel, kak Axel!” seru Beyza heboh.
Ciya segera menolehkan kepalanya dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Namun sepersekian detik kemudian senyum itu hilang begitu saja.
Tepatnya setelah dia melihat siapa yang datang bersama Axel. Napsu makannya hilang seketika. Ciya menundukkan kepalanya sebelum kemudian kembali menengok karena tawaran manis dari Axel pada Daisy.
“Lo sih pake bilang segala, hilang kan senyum dia,” bisik Daania pada Beyza.
Beyza yang merasa bersalah meremat ujung roknya dan memandang Ciya.
“Ciya... maaf harusnya gue gak bilang.”
“Gak apa-apa. Ciya baik-baik aja kok. Mereka cuma makan.” Layaknya seorang aktris, Ciya menjawab dengan senyum yang sudah terpatri kembali di bibirnya.
“Ke kelas aja yuk!” ajak Daania. Dia tahu Ciya tak baik-baik saja. Gadis itu pasti hanya menyembunyikan lukanya agar teman-temannya tak khawatir.
Mereka berjalan menuju kelas dengan ekspresi Ciya yang tak bisa diartikan. Bahkan luka Ciya beberapa jam lalu belum sepenuhnya sembuh dan dia sudah mendapatkan yang baru.
“Gue rasa lo harus lupain dia,” desis Daania.
Jika Beyza, dia tak akan berani berkata demikian pada Ciya apa lagi disaat keadaan Ciya seperti ini.
Ciya menatap Daania. “Haruskah?” tanyanya dengan ekspresi yang menyiratkan rasa sakit.
Daania tak lagi berani menjawab pertanyaan Ciya. Raut wajah Ciya yang seperti itu membuat keberanian Daania menciut.
Ciya ingin bertanya pada Daisy, namun dia tak punya keberanian, dia juga tak punya hak melarang Daisy untuk berdekatan dengan Axel karena Ciya bukan siapa-siapa.
“Dia kan adik kelas yang kecentilan itu?”
“Iya yang selalu godain Axel.”
“Tampangnya biasa aja sih.”
Begitulah celotehan-celotehan yang keluar dari mulut siswa dan siswi.
Ciya yang mendengar itu mulai mengeluarkan keringat dingin. Badannya juga bergetar. Sontak tangannya terangkat untuk menutup telinga.
Ciya segera berlari dari sana untuk mencari tempat sepi.
“Ciya!” teriak Beyza dan Daania saat melihat Ciya berlari begitu saja. Celotehan itu memang tak luput dari pendengaran kedua teman Ciya itu, namun reaksi Ciya sungguh di luar dugaan.
__ADS_1
Mereka berlari mengejar Ciya.
Sementara Ciya kini sudah ada di dalam toilet. Gadis itu mendudukkan dirinya di kloset dan mengatur napasnya.
“Enggak. Ciya bukan penggoda,” lirihnya. Air matanya menetes dengan napas yang masih terengah-engah.
Ciya mencoba menghibur dirinya dan meredakan rasa takut yang ada di hatinya.
“Ciya! Lo di dalam? Buka pintunya!” Daania menggedor pintu toilet.
Ciya menulikan pendengarannya. Dia tak mungkin keluar dengan keadaan seperti ini.
“Ciya buka pintunya atau gue dobrak?!” teriak Daania.
“Ciya, keluar ya. Lo bisa cerita sama kita,” bujuk Beyza. Gadis itu bahkan sudah mengeluarkan air matanya karena terlalu khawatir.
Ciya sungguh tak apa jika melihat Axel dan Daisy makan bersama karena itu hal yang wajar yang dilakukan sesama teman, namun perasaannya menjadi kacau saat celotehan itu masuk dalam pendengarannya dan membangkitkan kepingan ingatan yang membuatnya menggila.
Ciya menarik napasnya. Dia tak ingin membuat teman-temannya semakin khawatir.
Perlahan tangan Ciya terangkat untuk membuka pintu.
“Lo gak apa-apa?” tanya Daania heboh dan memeriksa seluruh badan Ciya berharap tak ada luka apapun di sana.
“Ciya gak apa-apa,” jawabnya. Senyum ceria yang biasa Ciya tampilkan kini telah kembali. Energi ceria itu seakan mengangkat semua kekhawatiran Daania dan Bezya.
Beyza segera menarik Ciya ke dalam pelukannya dan menangis dalam pelukan Ciya.
Dia sungguh khawatir pada temannya itu.
“Beyza kok nangis? Ciya tadi Cuma pipis,” ucap Ciya. Tentu saja gadis itu berbohong.
Beyza melepaskan pelukannya dan memandang lekat netra Ciya. “Mungkin lo bisa bohongin semua orang yang ada di sekolah ini, tapi enggak sama kita. Kita tahu lo gak baik-baik aja.”
Runtuh sudah pertahanan Ciya. Air matanya kembali luruh.
“Ciya cuma gak suka orang-orang ngomongin Ciya, hiks.”
“Mereka gak tahu apa-apa tentang Ciya, kenapa mereka menilai Ciya seenaknya?”
Daania memeluk Ciya.
“Lo gak usah dengerin apa yang orang lain bilang. Lo cuma boleh dengerin kita, oke?” Daania mencoba meyakinkan Ciya bahwa semuanya akan baik-baik aja.
Pada akhirnya Ciya mengangguk.
Pintu utama toilet terbuka menandakan ada yang masuk. Mereka bertiga menoleh dan memasang pandangan canggung.
“Lo?” ucap Daania.
__ADS_1