Retisalya

Retisalya
Pengorbanan


__ADS_3

“Apa,” tanya Dylan pada sambungan teleponnya. Baru saja Axel meninggalkan apartemennya dengan terbur-buru dan sekarang pria itu sudah menelponnya lagi.


“Dengan keluarga Tuan Axel?” Pertanyaan dan suara asing dari seberang sana berhasil membuat dahi Dylan mengerut. Tak terkecuali Dhavin, pria itu juga penasaran apa yang dikatakan orang di seberang sana hingga membuat dahi Dylan mengerut.


“Ya, dengan siapa ya? Pemilik ponsel ini di mana?” Dylan mulai was-was. Semoga ini bukan seperti yang dia pikirkan.


“Kami dari Rumah Sakit XXX, Tuan Axel sedang ditangani oleh dokter di UGD karena kecelakaan yang beliau alami baru saja.” Ternyata salah. Kekhawatiran Dylan benar-benar terjadi, tanpa menjawab orang di seberang sana Dylan segera memutus sambungannya.


“Axel kecelakaan, sekarang di rumah sakit,” ucapnya pada Dhavin yang sepertinya benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.


“Apa lo bilang?! Wah jangan becanda lo!” Dhavin bangkit dari posisi duduknya dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya.


“Gue gak becanda, kita berangkat sekarang.” Dylan mencoba tetap tenang, walaupun tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat khawatir sekarang, terlihat dari wajahnya yang sudah pucat pasi bahkan tangannya yang bergetar.


Mereka berdua segera pergi ke rumah sakit di mana Axel di rawat. Dylan tak ingin mengambil resiko besar jika dia menyetir. Dia menyerahkan bangku kemudi pada Dhavin yang terlihat lebih tenang darinya.


Entah mengapa, laju yang sebenarnya sudah sangat cepat ini terasa begitu lambat bagi Dylan. Rumah sakit yang jaraknya tak terlalu jauh pun tak kunjung nampak di matanya.


Jika kalian bertanya mengapa pihak rumah sakit menghubungi Dylan bukan yang lainnya, jawabannya panggilan darurat pada nomor dial satu di ponsel Axel adalah Dylan.


Dylan memang bukan keluarganya, tapi Axel hanya memiliki pria itu untuk keluh kesah dan tempat berlindungnya.


Evelyn memang keluarganya, namun Axel tak mungkin mengganggu dan membuat kakaknya mengkhawatirkan jika dia sedang ada masalah seperti ini. Itu sebabnya dia memilih Dylan untuk menjadi orang penting baginya.


Mengingat Evelyn, dia juga harus tahu tentang keadaan adiknya. Akhirnya Dylan mencoba menghubungi gadis itu untuk pertama kalinya.


Untungnya Axel sempat memberikan nomor ponsel kakaknya walaupun Dylan belum mencoba menghubungi gadis itu sekalipun.


“Halo,” ucap Dylan.


“Ya. Dengan siapa?” tanya Evelyn.


“Kak, gue Dylan temannya Axel.”


“Oh iya. Axel sempat cerita tentang lo beberapa hari lalu,” jawab Evelyn.

__ADS_1


“Hmm oke.” Dylan sempat ragu untuk memberi tahu kabar tak enak ini pada Evelyn, tapi gadis itu juga harus tahu apa yang terjadi pada adiknya.


“Ada apa lo hubungin gue?” tanya Evelyn karena Dylan tak kunjung mengatakan tujuannya menelpon.


“Axel beberapa menit lalu lagi ngumpul di apartemen gue, tapi setelah ada yang telpon dia pergi gitu aja. Beberapa menit setelah itu ada pihak rumah sakit hubungin gue bilang kalau sekarang Axel lagi ditangani dokter di UGD. Lo jangan terburu-buru gue juga masih di jalan,” jelas Dylan.


Dia sengaja menceritakan kronologisnya agar Evelyn tak terlalu terkejut dengan kabar itu.


Terdengar nafas yang memburu dari sambungan telepon. Sama seperti apa yang Dylan rasakan, Evelyn juga merasa sekujur tubuhnya seketika lemas ketika mendapat berita itu.


“Kirim alamatnya sekarang!”


***


“Kirim alamatnya sekarang!” ucap Evelyn. Gadis itu beranjak dari kursi kerjanya dan meminta ijin pada atasannya untuk pergi lebih awal dan menceritakan alasannya.


Evelyn merogoh kunci mobil yang ada di tasnya sembari bergumam.


“Salah gue kasih tahu dia secara mendadak tentang keberadaan ayah,” lirihnya.


Gadis itu memasuki mobilnya dengan terburu-buru dan menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit yang alamatnya sudah dikirim Dylan.


***


Ciya berlari menyusuri jalanan menuju rumah sakit setelah menerima pesan dari Dylan. Dia bahkan melupakan bus dan taxi yang tentu saja masih beroperasi di jam ini.


Air matanya terus mengalir dengan napas yang terengah. Mungkin saat ini orang-orang yang melihat keadaan Ciya akan mengira bahwa gadis itu gila.


Gadis berambut ekor kuda yang sedikit acak-acakan dengan piyama unicorn dan jagan lupakan sendal bulu yang dia kenakan siang hari di tengah keramaian kota, bagaiman mungkin orang-orang menganggapnya sebagai gadis normal.


Ya, selepas pulang sekolah merupakan kebiasaan Ciya ganti baju dengan piyama tidur jika dia tak akan kemana-mana.


Rumah sakit yang memang tak terlalu jauh dari rumah Ciya sudah nampak di matanya. Dia menghiraukan rasa lelah dan keringat yang bercucuran. Dia hanya fokus pada satu orang yang tengah memperjuangkan hidupnya di dalam sana.


Kebetulan yang sangat sempurna. Dylan, Dhavin, Evelyn dan Ciya sampai bersamaan. Mereka berempat saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya masuk bersama ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


“Pasien atas nama Axel Lorenza?” tanya Evelyn pada staf bagian resepsionis.


Resepsionis tersebut melihat data yang terdapat dalam komputernya sebelum kemudian berbicara.


“Beliau masih ditangani oleh dokter di UGD,” ucapnya sambil menunjukan di mana Axel berada.


Keempat orang itu segera berlari ke arah ruangan yang ditunjuk oleh resepsionis. Ruangan dengan pintu yang masih tertutup rapat menandakan bahwa dokter belum selesai dengan urusannya.


Sementara di dalam sana Axel tengah berjuang dengan hidupnya. Darah yang semula mengalir deras kini sudah dibalut perban hingga kemungkinannya darah itu akan berhenti mengalir.


Beberapa waktu lalu monitor pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring dan garis lurus tercetak jelas di sana, namun dengan cepat dokter mengeluarkan defibrilator.


Beruntunglah atas kehendak Tuhan, jantung Axel kembali berdetak, namun karena benturan di kepalanya hingga darah yang terus mengalir itu Axel kehilangan banyak darah.


“Kita membutuhkan darah, kondisi pasien kritis,” ucap dokter.


Perawat yang ada di sana segera mengangguk.


“Stok darah untuk pasien habis, Dok. Kita harus menemui keluarga dan mencari yang akan mendonorkan darahnya,” ucap salah satu perawat.


Dokter tersebut mengangguk dan segera keluar dari UGD. Pintu UGD terbuka membuat orang-orang yang menunggu di luar bangkit dan mendekati dokter yang menangani Axel.


“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya Evelyn. Dia panik namun tak ada air mata yang keluar. Dia mencoba menjadi kuat untuk adiknya.


Beda halnya dengan Ciya yang kini berjongkok dan menumpukan kepalanya di atas lutut. Tangisnya tak kunjung berhenti. Matanya sudah sembab dan wajahnya memerah.


“Pasien dalam kondisi kritis. Akibat benturan di kepalanya yang menyebabkan darahnya terus mengalir membuat pasien kehilangan darah cukup banyak. Kebetulan stok darah yang sesuai dengan pasien sedang habis, dan saat ini kami butuh pendonor dari keluarga,” jelas Doker itu.


“Tapi golongan darah saya AB,” lirih Evelyn. Dia mulai putus asa dengan keadaan.


“Golongan darah Kak Axel apa, Dok?” Ciya sontak bangkit. Dia berdoa semoga darahnya sama dengan Axel.


 “Golongan darah pasien A,” jawab dokternya.


“Ambil darah Ciya, Dok.”

__ADS_1


__ADS_2