Retisalya

Retisalya
Jadian


__ADS_3

“Wahh kita datang barengan!”


Hari yang sangat ingin Axel skip adalah hari ini. Kenapa? Karena hari ini dia harus menerima jawaban dari gadis di depannya atas tawarannya kemarin.


Axel dengan terpaksa menyunggingkan senyumnya dan menyapa Ciya, gadis yang selalu menempel padanya sejak awal masuk sekolah.


“Mungkin kita jodoh,” jawab Axel menggoda Ciya.


Ciya tak menjawab, gadis itu hanya tersipu dengan wajah yang sudah memerah.


“Mumpung lo ada di sini, jadi gimana jawabannya?” Semakin cepat dia jadian dengan Ciya, semakin cepat juga dia akan berkencan dengan Daisy, itu yang ada dalam pikirannya.


“Emmm ehemm,” jawab Ciya sambil menganggukkan kepalanya.


“Jadi ini hari pertama kita?” tanya Axel memastikan.


“Iya ih Kak Axel, jangan nanya mulu. Ciya malu,” ucap Ciya sambil menutup wajahnya yang sudah memerah dengan kedua tangannya.


“Mau lakuin kencan pertama kita?” tawar Axel.


Ciya menatap wajah Axel dengan mata yang berbinar. Akhirnya apa yang dia tunggu-tunggu sejak lama, hari ini akan menjadi sebuah kenyataan.


“Boleh. Pulang sekolah?” tanya Ciya.


“Iya. Nanti gue jemput ke kelas ya.”


“Iya. Kalau gitu, Ciya duluan ya.” Ciya melambaikan tangannya pada Axel sambil terus berlari.


Perlahan senyum Axel pudar dan terganti dengan raut kesal.


“Wahh, gerak cepat nih.” Seorang gadis dengan blezer mocca datang dari arah belakang Axel sambil bertepuk tangan.


“Udah gak sabar jadi pacar aku ya?” Ya, gadis itu adalah Daisy. Raut bahagia jelas terpancar di wajahnya.


“Jadi, berapa hari aku harus jadi pacar tuh anak?” tanya Axel pada Daisy.


“Aku kan udah bilang sampai dia benar-benar jatuh cinta sama Kakak baru kalian boleh udahan,” jelas Daisy.


Alis Axel berkerut. “Sebenarnya kamu ada masalah apa sama Ciya? Kamu kan temannya,” tanya Axel. Entah mengapa dia mulai penasaran pada Daisy.


“K-kakak gak perlu tahu soal ini. Kakak cuma harus lakuin apa yang aku mau setelah itu kita berkencan.” Daisy mencoba meyakinkan Axel.


“Oke kalau gitu.” Axel hanya mengakhiri pembicaraannya sampai sana. Lagi pula dia tak peduli dengan masalah Daisy dan Ciya, yang dia mau saat ini hanya menjauh dari Ciya dan berkencan dengan Daisy.

__ADS_1


*** .


Seperti rencana awal, kini Axel berjalan ke arah kelas Ciya. Sepertinya dia sedikit terlambat karena kini dia hanya melihat Ciya sedang duduk sendiri di dalam kelas dengan ponsel yang sedang dia mainkan.


“Seru banget sampai gak sadar ada orang di sini,” sindir Axel. Pria itu duduk di kursi samping Ciya dan melihat apa yang sedang Ciya mainkan dalam ponselnya.


“Eh maaf ini lagi seru,” ucap Ciya.


Rupanya hanya sebuah aplikasi game memasak. Ternyata masih ada anak SMA yang bermain game seperti itu.


“Gak apa-apa. Mau berangkat sekarang atau mau lanjutin main?” tanya Axel.


“Berangkat sekarang!” jawab Ciya cepat. Tentu saja dia tak ingin menunda acara kencannya dengan Axel. Apalagi ini adalah kencan pertama mereka.


“Oke ayo!” Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.


“Mau ke mana?” tanya Axel sambil memasang helmnya.


“Kakak mau ke mana?” Ciya balik bertanya. Ini kali pertama dia pacaran dan kali pertama juga dia melakukan kencan. Jadi, jika dia yang memilih tempatnya dia takut salah dan mengacaukan semuanya.


Maka dari itu Ciya meminta Axel yang memutuskan tempat untuk mereka berkencan.


“Kita mulai dari taman?” Axel meminta pendapat Ciya.


“Oke setuju!” semangat Ciya. Mereka menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.


“Kak Axel kenapa diam aja?” tanya Ciya sedikit berteriak karena takut Axel tak mendengar apa yang dia katakan.


“Gak apa-apa. Soalnya kalau ngomong di jalan takut gak kedengaran,” ucap Axel beralasan. Sebenarnya bukan karena itu, dia memang tak mau berbicara dengan Ciya, makanya dia hanya berdiam diri tak mengucapkan sepatah katapun.


“Ohh oke,” jawab Ciya akhirnya mengerti mengapa Axel hanya diam saja. Dia kira Axel marah padanya.


Suasana taman sangat ramai oleh orang-orang yang berjalan-jalan. Terutama mereka yang bergandengan mesra dengan pasangannya.


Hal itu sangat menguntungkan bagi para pedagang yang menjual berbagai macam makanan atau mainan anak kecil yang berjejer di sekeliling taman ini.


“Mau beli sesuatu?” tanya Axel. Dia sangat berusaha keras untuk terlihat normal seperti pasangan pada umumnya yang menjalin hubungan karena rasa cinta.


“Nanti aja, Ciya mau keliling dulu,” ucap Ciya antusias. Karena tak sedikit anak kecil yang bermain-main di sekitar taman, membuat mata Ciya berbinar.


Keinginannya sedari dulu adalah memiliki adik, namun Bundanya tak kunjung mengabulkan keinginannya itu.


Axel menatap mata Ciya yang berbinar melihat kumpulan anak kecil yang sedang bermain.

__ADS_1


“Kamu suka anak kecil?” tanya Axel.


“Iya Ciya suka. Mereka lucu-lucu.” Mata Ciya tak sedikitpun berpindah dari pandangannya semula.


Entah kenapa Axel sedikit tersenyum melihatnya.


Tak terasa mereka sudah menghabiskan satu putaran untuk mengelilingi taman ini dan saat ini tenggorokan Ciya terasa sangat kering.


“Ciya haus Kak,” adunya pada Axel.


“Mau minum apa?” tanya Axel. Dia benar-benar menghabiskan uang dan waktu banyak untuk menjadi kekasih Daisy.


“Itu!” tunjuknya pada gerobak es krim. Bukannya minuman yang ditunjuknya, ternyata Ciya memilih menuntaskan hasratnya untuk memakan es krim.


“Oke ayo!” Mereka berdua berjalan menghampiri si Abang es krim.


***


Kini masing-masing dari mereka memegang satu cup es krim.


Sasaran mereka kali ini adalah bangku taman yang kosong.


"Habis ini mau ke mana lagi?" tanya Axel.


"Ciya baru pertama pacaran, jadi Ciya bingung kalau ditanya gitu, Kak." Raut wajah Ciya berubah sendu, dia tak ingin mengecewakan Axel.


"Ya udah gak apa-apa. Kita cari restoran aja," ucap Axel. Dia juga bingung harus ke mana, tapi akhirnya dia memutuskan untuk mencari makan saja.


Ciya mengangguk setuju. Ke mana pun itu jika bersama Axel dia benar-benar tak keberatan.


"Oh iya Kak, Ciya mau tanya, boleh?" tanya Ciya.


"Tanya apa?"


"Kakak kayanya dekat banget sama Daisy ya? Aku beberapa kali lihat Kakak makan sama Daisy," ucap Ciya.


"Oh itu, gak seberapa dekat sih. Biasa aja." Hampir saja Axel tak bisa menjawab pertanyaan Ciya, namun untungnya dia dengan bisa mengendalikan dirinya.


Ciya mengangguk walaupun ragu dengan jawaban Axel.


Setelah selesai dengan es krimnya mereka pergi ke restoran yang dibicarakan Axel.


"Wahh enak ya, alami banget serba hijau," ucap Ciya saat baru masuk ke dalam restoran itu.

__ADS_1


Sudah lama tak memiliki teman dia juga jarang bermain ke tempat seperti ini.


"Kalian?! Hai?!" sapa seseorang.


__ADS_2