
Sementara itu, di sebuah rumah sakit ternama di ibu kota, seorang gadis dengan tubuh mungil sedang berjuang untuk hidupnya.
Seperti yang dikhawatirkan Daania, benar saja gadis itu drop setelah beberapa saat meninggalkan rumah sakit untuk memberikan hadiah pada Axel.
"Ciya, Sayang... Jangan tinggalin Bunda ya," isak Bunda Jihan.
"Kamu bilang mau bahagiain Bunda, mau nemenin Bunda. Ayah udah gak ada, masa kamu juga ninggalin Bunda," lirihnya.
Selang oksigen tersemat di hidung gadis itu. Nyatanya walaupun dibantu dengan oksigen, napas gadis itu masih saja tetlihat sulit.
Kenji masih setia menggenggam tangan Ciya erat. Tangan mungil itu kini semakin dingin.
Kenji sibuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kenangan kelam ketika dia kehilangan Bundanya mulai menghantui pikirannya.
Dia tak ingin lagi merasakan kehilangan.
*****
"Setelah kenal lo Kak. Setelah kenal lo, Ciya gak pernah bahagia!"
"Puas sekarang lo, hah?!!"
"Dia cinta sama lo tulus!! Lo lihat gimana perjuangan dia selama ini?"
"Cewek itu bahkan gak bisa masak sama sekali dan dia maksain buat bikin sarapan buat lo sampai tangannya kena luka bakar!!!"
"Apa balasan lo?! Lo buang makanan itu di depan Ciya!!"
"Lo tahu gimana perasaannya?" ucap Daania menggebu-gebu.
"Tapi pernah dia ngelu? Pernah dia benci sama lo? Pernah dia marah sama lo?!!"
"Jawab gue anji*g!!!" teriak Daania dengan wajah yang sudah dipenuhi dengan air mata.
Axel bungkam. Air matanya masih mengalir dengan tubuh yang melemas. Dia menjadikan meja di hadapannya sebagai tumpuannya.
"Ma-maaf, maaf," lirih Axel.
"Maaf lo gak guna sekarang!"
"Lo tahu siapa yang donorin darahnya saat lo hampir mati? Orang yang lo sia-siain, orang yang lo kecewain dan orang yang lo bohongin adalah orang pertama yang khawatir akan keselamatan lo, Kak." Nada suara Daania semakin melemah.
__ADS_1
Hatinya sakit mengingat seberapa perjuangan Ciya untuk mendapatkan pria bajingan ini.
"Dia tahu semua masalah hidup lo termasuk keluarga lo, sorry kalau gue lancang, tapi segitu pedulinya dia sama lo," ucapnya.
"Lo tahu kenapa dia selalu senyum di depan lo?" tanya Daania.
Axel memandang lekat Daania menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Karena dia gak mau ninggalin kenangan buruk buat lo. Karena dia mau saat lo ingat dia hanya senyum dia yang lo ingat!"
"Sekuat itu Ciya nahan rasa sakitnya demi buat lo bahagia, Kak." Daania meraung memegangi dadanya yang teramat sakit.
Akhirnya dia bisa mengungkapkan semua isi hati Ciya yang dibagikan padanya.
"Sementara lo, lo tahu apa tentang Ciya?"
"Lo tahu bokapnya meninggal?" Mata Axel sontak membulat. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Gak sampai di sana Kak. Ciya juga berjuang untuk hidupnya. Lo ingat saat dia minta pelukan lo buat terakhir kalinya? Mungkin itu benar-benar menjadi pelukan terakhir kalau lo kabulin keinginannya. Tapi, sekarang itu mungkin hanya akan menjadi mimpi yang akan Ciya bawa selamanya!"
"Pneumonia. Dia di diagnosa pneumonia," ucap Daania pada akhirnya.
"Sekarang dia di rumah sakit buat perjuangin hidupnya. Dua hari lalu dia memaksa buat pergi ke sekolah cuma mau kasih surat sialan itu sama lo dan dia drop setelah pulang dari sini." Daania mulai tenang dan memberitahu Axel semuanya.
Axel tak menjawab. Pria itu segera berlari ke arah parkiran. Menghidupkan motornya dan melajukannya seperti kesetanan.
Dia bahkan sudah tak peduli dengan helm dan air mata yang memenuhi wajahnya.
Seperti suasana rumah sakit pada umumnya. Axel memarkirkan motornya asal dan segera berlari mencari kamar Ciya.
*****
"Sayang kamu kenapa?!" teriak Bunda Jihan. Nafas Ciya tersenggal-senggal. Gadis itu seperti sedang meraih nafas terakhirnya.
"Dokter!!" Kenji keluar kamar mencari dokter yang menangani Ciya. Dia bahkan melupakan bel di kamar Ciya yang terhubung langsung dengan para perawat dan dokter.
Orang-orang dengan snelly putih itu beramai-ramai menuju ruangan Ciya. Kenji juga ada di antara mereka.
"Kalian bisa tunggu di luar." Dokter meminta Bunda Jihan dan Kenji untuk menunggu di luar ruangan sementara dokter menangani Ciya.
Bunda Jihan dan Kenji sudah panik. Wajah mereka memucat dengan jantung berdebar kuat.
__ADS_1
Beberapa menit hingga para perawat kembali memersilahkan mereka masuk.
"Senin, 17 Februari 2020 pukul 15:15 Ciya Bryonna dinyatakan meninggal dunia."
"Maaf semua sudah kami lakukan, namun Tuhan berkehendak lain."
Tepat setelah dokter menyelesaikan perkataannya, Axel tiba di sana, di ambang pintu dengan tubuh melemas.
Tangis Bunda Jihan pecah. Kenji memeluk Bunda Jihan dengan tangisannya juga.
Lagi-lagi dia tak bisa mempertahankan orang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Dan hari ini, tuhan mengabulkan do'a Ciya. Gadis itu bukan hanya berhasil melupakan, namun juga melepaskan.
Tak hanya melepaskan Axel, dia juga melepaskan segalanya.
Tangan halus itu terkulai lemas. Tak ada lagi energi ceria yang ia pancarkan.
Perlahan, dokter menaikan kain putih itu hingga menutupi wajah Ciya.
Axel bebas, takkan ada lagi yang menganggu hidupnya.
"Ciya," lirih Axel membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya pada asal suara.
Axel bangun untuk mendekati brankar Ciya.
Tangannya menggenggam erat tangan Ciya yang sudah terkulai lemas.
"Gue datang. Ma-maafin gue!" Axel meraung menangis, mengecupi tangan Ciya.
Dia terlambat.
"Gue bodoh aarrgghhhh." Axel menjambak rambutnya sendiri meluapkan rasa sakitnya.
"Ma-maaf," lirihnya. Dia terus saja mengucapkan kata maaf meski dia tahu orang yang dia tuju sudah tak bisa lagi mendengarnya.
"Lo telat. Orang yang benar-benar peduli sama lo sekarang udah gak ada. Bahkan sampai titik terakhirpun, yang keluar dari mulutnya adalah nama lo," ucap Kenji berusaha tenang, namun air mata yang sudah membasahi wajahnya tak bisa membohongi jika pria itu juga sangat hancur.
Bunda Jihan memeluk jenazah sang putri. Tak ada lagi putri manis yang selalu manja padanya.
Semua orang-orang berharga dalam hidupnya pergi meninggalkannya.
__ADS_1