Retisalya

Retisalya
Pulih


__ADS_3

Lima jam telah berlalu setelah Ciya mendonorkan darahnya. Meskipun plester bekas suntikan telah dilepas, namun dokter menyarankan agar Ciya berbaring sedikit lebih lama di rumah sakit.


Hari menjelang malam, Ciya menghubungi Bundanya dan terpaksa berbohong bahwa dia menginap di rumah temannya. Untuk malam ini dia akan tidur di rumah sakit menemani Axel.


 “Ciya, lo baik-baik aja?” Sebuah suara membuat Ciya mengarahkan pandangannya ke arah pintu.


“Kak Dhavin, Ciya baik-baik aja.” Ciya mengembangkan senyumnya.


Bibir yang semula begitu merona itu kini terlihat pucat.


“Ciya boleh minta tolong?” tanya Ciya pada pria yang kini sudah ada di sampingnya.


“Hmm. Lo mau apa?”


“Minum. Ciya haus,” ucapnya. Dia berusaha mendudukkan dirinya dari posisi tidur.


“Hati-hati.” Dengan spontan Dhavin membantu Ciya duduk sebelum kemudian tangannya meraih gelas yang ada di atas nakas.


Dhavin memberikan gelas berisi air putih itu pada Ciya. Mungkin karena banyak cairan dalam tubuhnya yang hilang hingga tak lama air dalam gelas ituu sudah tandas begitu saja.


“Makasih,” ucap Ciya dan memberikan gelas kosong itu pada Dhavin.


Dhavin mengangguk.


“Lo mau langsung pulang atau gimana?” tanya Dhavin. Ini sudah malam, mungkin saja orang tua Ciya akan khawatir.


“Enggak. Malam ini Ciya tidur di sini aja, sambil jagain kak Axel. Ciya udah bilang kok sama Bunda,” jelasnya.


“Oke kalau gitu.”


“Gimana keadaan kak Axel?” tanyanya pada pria yang masih setia di sana.


“Kata dokter tinggal nunggu dia bangun aja.”


Ciya menghela napas lega setelah mengetahui keadaan Axel.


“Ciya mau lihat boleh?” tanya Ciya. Sebenarnya tubuhnya masih sangat lemas, namun dia ingin melihat Axel, dia ingin menjaga Axel hingga siuman.


“Nanti aja kalau lo udah mendingan.” Karena memang tubuhnya masih belum kuat, maka untuk saat ini dia akan mendengarkan Dhavin.


“Oh iya Kak. Ciya mau minta tolong lagi.” Netra Ciya memandang Dhavin dengan lekat.


“Apa?” tanya Dhavin.

__ADS_1


“Jangan bilang sama kak Axel kalau Ciya yang donorin darah ya, bilang sama yang lain juga,” lirihnya. Maksudnya dia tak ingin Axel tahu jika Ciya mendonorkan darahnya, karena itulah Ciya juga ingin Dhavin menyampaikan pada Evelyn dan Dylan jangan sampai Axel mengetahuinya.


Ciya telah mengenal siapa itu Evelyn tepat sebelum dia mendonorkan darahnya. Kakak Axel itu juga berterima kasih padanya dan sangat bersyukur.


“Emang kenapa?” Kening Dhavin mengerut. Bukankah bagus jika Axel mengetahuinya.


Ciya menggeleng. Dhavin yang mengerti maksud Ciya akhirnya mengangguk pasrah.


“Oke,” ucapnya.


Setelah pembicaraan mereka selesia, Dhavin pergi untuk mencari sebuah kursi roda. Walapun sepertinya keadaan Ciya telah membaik, dia tak ingin mengambil resiko Ciya terjatuh karena lemas.


Ciya terus saja berbicara jika dirinya ingin bertemu Axel, itu sebabnya kini Dhavin kembali membawa sebuah kursi roda.


“Hati-hati,” ucap Dhavin. Pria itu memapah Ciya untuk duduk di kursi roda. Entah mengapa jantungnya kini berdetak sedikit lebih kencang.


“Oke kita berangkat,” ucapnya setelah Ciya duduk dengan aman. Senyum Ciya mengembang, dia tak sabar bertemu dengan Axel.


***


Ini sudah larut dan terhitung kurang lebih empat jam Ciya masih saja meneteskan air matanya. Kini dia sudah berada di ruang rawat Axel dan memegang tangan pria itu dengan erat.


“Lo udah nangis selama empat jam, gak ada niat buat berhenti?” ucap Dylan. Dhavin menyenggol lengan Dylan saat dirasa perkataannya it terlalu tajam.


“Kamu gak pulang? Orang tua kamu gak nyariin?” Evelyn menghampiri Ciya dan mengelus punggung gadis itu berusaha mengalihkan perhatian Ciya dari Axel.


“Ciya tidur di sini, tadi udah bilang sama bunda.” Ucapan Ciya masih diiringi dengan isakkannya.


“Jangan nangis terus, Kakak yakin Axel akan baik-baik aja. Asal kamu tahu aja, dia cowok kuat,” ucap Evelyn diiringi kekehan.


Ciya mengangguk semangat. Dia mencoba menghapus ari matanya walaupun air mata itu kembali menetes.


***


“Bunda, Ciya pulang nanti sore ya. Mau main dulu sama teman Ciya sekaligus jenguk teman yang sakit.” Ciya kembali menelpon bundanya saat sampai pagi haripun Axel tak kunjung membukan matanya.


Ciya mengangguk mendengar jawaban dari seberang sana sebelum kemudian menutup teleponnya.


“Lo bohong lagi,” ucap Dylan yang tiba-tiba saja datang.


Ciya tersenyum getir.


“Sekali lagi aja, kalau kak Axel belum bangun sampai sore, Ciya bakal pulang,” ucapnya.

__ADS_1


Dhavin mengangguk dan ikut duduk di bangku depan ruang rawat Axel.


“Segitu sayangnya lo sama Axel?” tanya Dhavin. Entah dia sadar atau tidak berucap demikian karena pandangannya kosong.


Ciya menoleh pada Dhavin. “Sayang banget, lebih daripada sayang sama diri Ciya sendiri,” ucapnya polos.


Hati Dhavin terasa sedikit nyeri saat Ciya menjawab pertanyaannya, namun Dhavin tetap tersenyum dan mengangguk.


“Mau sarapan dulu?” Dhavin kembali ceria dan beranjak dari duduknya.


“Boleh, perut Ciya juga udah minta diisi.” Ciya ikut berdiri dan mereka berjalan berdampingan menuju kantin yang ada di rumah sakit ini.


“Mau makan apa?” tanya Dhavin. Mereka saja belum sampai di kantin dan Dhavin sudah bertanya apa yang ingin Ciya makan.


“Ciya lagi mau makan bakso sih, tapi kalau di sini gak ada Ciya beli yang ada aja,” kekehnya. Dhavin ikut tersenyum melihat Ciya tersenyum


Bukankah bahagia itu sangat sederhana?


***


Ciya dan Dhavin kembali ke ruangan Axel setelah perut mereka penuh. Bahkan Ciya sempat tak bisa bangun saking kenyangnya dia.


Saat ini Ciya kembali ke posisinya. Menggenggam tangan Axel sepertinya sudah menjadi sesuatu yang nyaman baginya.


“Kapan bangunnya, Kak?” lirih Ciya.


“Dia bakal bangun Ciya, lo gak usah terlalu khawatir.” Dhavin mengingatkan Ciya.


Evelyn, Dylan dan Dhavin yang juga ada di sana saling menoleh satu sama lain. Mereka yang lebih dulu mengenal Axel pun tak sekhawatir itu karena mereka yakin Axel baik-baik saja.


Tapi Ciya, gadis itu bahkan mengenal Axel baru-baru ini dan raut kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.


“Udah?” tanya Dylan begitu Dhavin dan Ciya tiba di sana.


“Udah. Sana gantian,” ucap Dhavin. Evelyn dan Dylan pergi dari sana untuk sarapan. Mereka memang sudah berencana untuk bergantian menjaga Axel.


Suasana sepi ketika dua orang itu pergi. Ciya yang masih betah memandangi wajah Axel dan Dhavin yang sibuk memandangi wajah Ciya.


Ciya sedikit terlonjak saat merasakan pergerakan di genggaman tangannya. Tangan Axel baru saja bergerak.


“Kak Axel? Kak udah bangun?” tanya Ciya semangat dengan senyumnya.


Axel mulai membuka matanya. Penglihatannya belum sepenuhnya stabil, sangat buram.

__ADS_1


“Daisy?” Nama yang pertama kali terucap dari bibir Axel saat kesadarannya kembali.


__ADS_2