Retisalya

Retisalya
S2 : Rumah Bunda


__ADS_3

"Ya udah biar Daddy antar kamu ke sana," ucapnya.


"Gak usah Dad. Daddy lagi ada kerjaan kan di sini?" tanyan Ciya.


"Gak apa-apa. Kerjaan Daddy bisa di-handle sama yang lain. Yuk. Mana kunci mobilnya?" Bagas mengulurkan tangannya untuk meminta kunci mobil yang ada pada putrinya.


Ciya akhirnya memberikan kunci mobil itu. Dia juga tak ingin kecelakaan ini terulang lagi.


"Maaf ya aku jadi ngerepotin Daddy," sesalnya.


"Ngerepotin apanya, justru Daddy yang minta maaf karena gak bisa terus sama kamu." Bagas mengusap rambu Ciya dengan sayang sebelum akhirnya mereka berjalan beriringan menuju keluar.


Tiba di meja administrasi, mereka berhenti sebentar.


"Tunggu bentar ya," ucap Bagas pada Ciya. Ciya mengangguk.


"Sus, saya mau keluar sebentar. Minta tolong sampaikan sama direktur baru buat handle kerjaan saya sebentar ya," ucapnya.


"Baik Dok. Nanti saya sampaikan." 


Bagas mengangguk dan berbalik pada Ciya. "Yuk!" ajaknya.


Mereka berlalu meninggalkan rumah sakit. Sementara itu Axel baru saja melewati meja administrasi.


"Dok," panggil perawat yang dapat pesan tadi.


Axel menghentikan langkahnya. "Maaf Dok, tadi Dokter Bagas titip agar Dokter Axel handle kerjaan dia sebentar," ucap perawat itu.


"Dia mau ke mana?"


"Gak tau Dok. Kayanya antar putrinya," jawabnya.


Axel mengangguk mengerti. Pria itu berpikir jika anak orang kaya seperti anak Dokter Bagas itu memang selalu manja.


Sementara itu, sepanjang jalan Ciya hanya bercerita pada Daddy-nya tentang bagaimana dia bertemu dengan teman-temannya dan bercerita banyak hal.


"Bagus deh kalau kamu udah ketemu sama dia. Pasti teman-teman kamu lega banget ya," jawab Bagas.


"Hmm mereka kelihatan lega banget karena aku ternyata masih ada," jawab Ciya.


"Dad malam ini boleh gak kalau aku tidur di rumah Bunda?" tanya Ciya dengan ragu-ragu.

__ADS_1


"Kenapa mau tidur di Bunda? Gak betah ya di rumah?" tanya Bagas.


"Ciya masih kangen sama Bunda, Dad. Tapi kalau gak boleh juga gak apa-apa," jawab Ciya dengan raut sedih.


Bagas mengusap surai Ciya dengan sayang. Senyuman simpul terlukis di wajahnya. "Boleh kok kalau mau nginep. Tapi harus ada jeda ya sama nginep di malam berikutnya," jawab Bagas.


"Maksud Daddy, kalau malam ini kamu nginep besok jangan nginep nanti nginep lagi dua atau tiga hari ke depan, gimana?" tawar Bagas.


Akan terlihat sangat jahat jika dia sama sekali tidak mengizinkan Ciya untuk menginap di rumah Bundanya sendiri.


Jadi mungkin ini adalah cara terbaik agar Ciya bisa tinggal di sana dan orang yang dia hindari juga tidak akan bertemu dengannya.


Senyum Ciya mengembang tadi yang mendengar izin dari Daddy-nya.


"Serius Dad?" tanya Ciya.


"Serius dong. Asal kamu ikuti apa yang Daddy bilang tadi," jawabnya.


Ciya mengangguk antusias. Jika hanya itu syarat yang diminta oleh Daddy-nya, maka dengan mudah dia akan mengikutinya.


"Makasih Dad, Daddy baik banget deh." Ciya mencondongkan badannya untuk memeluk pria yang ada di sampingnya.


"Iya sayang sama-sama." 


Mereka akhirnya tiba di rumah Bunda Jihan. Seperti biasa rumah itu terlihat sangat sepi. Tentu saja sepi karena penghuni rumah itu juga hanya satu orang.


"Makasih ya Dad. Daddy mau masuk dulu nggak?" tawar Ciya.


"Nggak sayang, nanti aja kapan-kapan. Kerjaan Daddy di rumah sakit masih banyak," jawabnya.


"Ya udah, hati-hati di jalan ya Dad." Setelah dia keluar dari mobil gadis itu melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan dengan Daddy-nya.


Ciya belum masuk sampai mobil yang dikendarai oleh Daddy-nya itu pergi dari sana.


Gadis itu berjalan menuju ke rumah. Dia tidak tahu apakah Bundanya ada di rumah atau tidak. Dia akan mencoba mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Bun," panggilnya sambil mengetuk pintu.


Tak membutuhkan waktu lama, pintu itu terbuka, tepatnya dibuka oleh pemilik rumah.


"Ciya? Kenapa kamu di sini Nak?" tanya Bunda Jihan saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Setelah bertanya itu, Bunda Jihan melihat ke kiri dan ke sekitar pagar rumahnya untuk melihat apakah di sana masih ada orang atau tidak.


"Ciya tadi diantar sama Daddy, Bun." 


"Terus sekarang ke mana Daddy kamu?" tanya Bunda Jihan karena dia sama sekali tidak melihat adiknya ada di sana.


"Daddy udah balik lagi ke rumah sakit, dan malam ini Ciya mau tidur di sini sama Bunda," ucap Ciya.


"Sini masuk dulu kita bicara di dalam." Tangan Ciya yang kosong digenggam dan di bawahnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Bentar dulu itu kening kamu kenapa? Kok pakai perban kayak gitu?" tanya Bunda Jihan sambil menunjuk ke kening Ciya yang dibalut oleh sedikit perubahan.


Hampir saja Ciya melupakan hal itu. Bahkan rasa sakitnya kini sudah tidak terasa, mungkin karena pengaruh dari obat yang diberikan oleh Daddy-nya.


"Ah ini Bun tadi waktu dalam perjalanan ke sini ada kucing lewat jadi Ciya injak pedal rem tiba-tiba terus kejedot," jawabnya merasa bodoh.


"Astaga kamu ini ada-ada aja. Lagian kenapa kamu nyetir sendiri? Emang kamu bisa nyetir?" kata Bunda Jihan. 


Pasalnya dulu terakhir dia ada di sini gadis itu belum memiliki izin mengemudi, jadi dia tidak bisa mengendarai mobil.


"Bisa Bun. Ciya udah belajar kok cuma emang jarang bawa mobil aja jadi kadang lupa," jawab Ciya.


"Berarti tadi kamu ke rumah sakit dulu?" tebak Bunda Jihan.


Ciya mengangguk membenarkan apa yang ditanyakan oleh bundanya. "Iya Bun, sebenarnya tadi Ciya udah hampir nyampe, tapi karena darahnya gak berhenti-berhenti, jadi Ciya putar balik dulu ke rumah sakit. Untung Daddy ada di sana. Eh tahunya abis diobatin, malah Daddy yang mau antar Ciya ke sini. Kayaknya dia khawatir kalau Ciya nyetir sendiri lagi," jelas Ciya.


"Ya jelas dia khawatir lah, dia sesayang itu sama kamu Nak," Jawa Bunda Jihan.


"Oh iya, kenapa kamu gak minta antar sama Javier aja, kan biasanya juga kamu berangkat bareng dia," ucapnya.


"Justru itu, dia mau belanja sama Mommy, jadi Ciya rasa di rumah bakal sepi. Makanya Ciya ke sini sendirian. Eh taunya malah kecelakaan, untung cuma kucing yang lewat," kekeh Ciya.


"Syukur kamu masih dilindungi sama Tuhan."


Ciya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya.


"Mau temenin Bunda bikin cake gak? Kita bikin buat Daddy, Mommy sama Javier." Bunda Jihan memberikan ide karena memang dia sedang tidak ada kegiatan di rumah hari ini.


"Boleh, Ciya juga mau belajar sekalian." 


"Boleh banget. Yuk kita mulai."

__ADS_1


"Bahan-bahannya udah ada Bun??" tanya Ciya.


"Oh iya, Bunda lupa belum beli." 


__ADS_2