
“Kalian?! Hai?!” sapa seseorang.
Gadis yang terlihat polos melambaikan tangannya pada Ciya dan Axel.
Axel terkesiap melihat penampilan gadis itu. Pakaian casual yang jarang sekali gadis itu gunakan dilengkapi dengan sneakers putih yang menghiasi kakinya membuat penampilannya begitu memukau di mata Axel.
“Daisy?” tanya Ciya. Gadis itu yang memang juga baru melihat penampilan Daisy yang seperti ini hampir tak mengenalinya.
“Ciya, belum pulang? Kok masih pakai seragam?” tanya Daisy. Walaupun Daisy tengah berbicara dengan Ciya, namun netranya tetap mencuri pandang pada Axel.
“Ehemm.” Axel berdehem saat tahu jika Daisy memperhatikannya.
“Iya Ciya belum pulang. Nanti habis makan langsung pulang,” jelas Ciya. betapa polosnya gadis itu, padahal dia tak perlu menceritakannya pada Daisy perihal kapan dia pulang dan dengan siapa.
Daisy mengangguk.
“Daisy mau makan juga?” tanya Ciya.
“Iya. Tadinya sih mau ngajak teman, cuma dia mendadak gak bisa datang.” Daisy tersenyum manis.
“Kalau gitu mau makan bareng kita?” tawar Ciya.
Axel sontak menolehkan pandangannya ke arah Ciya. Bagaimana bisa dia makan bersama kedua gadis ini. Yang satu pacarnya dan yang lainnya adalah orang yang Axel kejar selama ini.
“Boleh tuh!” semangat Daisy. Tak ada nada canggung sedikitpun di sana.
Axel yang mendengar persetujuan Daisy semakin menegang dan membulatkan kedua matanya.
“Gak bisa kita makan berdua aja?” tanya Axel pada Ciya. Dia harus mencoba menghindari kemungkinan yang akan terjadi jika mereka makan bersama.
Ciya menoleh dan memandang Axel lekat.
“Tapi kasian Daisy, masa dia makan sendiri.” Ciya berusaha menampilkan wajah memohonnya.
Axel menghela napas. Dia juga tak mungkin menolak keinginan Ciya, jika dia menolak, akan sangat ketara bukan?
“Oke kita makan bertiga.” Axel pergi mendahului dua gadis itu.
Ciya menggandeng lengan Daisy dan mengikuti Axel dari belakang.
Tak perlu waktu lama, makanan yang mereka pesan kini sudah terhidang di hadapan mereka. Memang bukan makanan mewah, namun cukup untuk mengganjal perut mereka yang keroncongan.
__ADS_1
Mereka bertiga makan dalam keadaan diam. Ciya yang sangat fokus pada makanannya sampai tak menyadari jika pria yang ada di sampingnya terus saja mencuri pandang pada gadis di hadapannya yang juga memandang netra Axel.
“Ahh Ciya kenyang,” ucap Ciya membuat Axel terkejut. Axel segera mengalihkan pandangannya pada Ciya sebelum gadis itu sadar apa yang telah dilakukannya.
“Mau makanan yang lain gak?” tawar Axel sambil mengelus surai Ciya.
Daisy terus saja memerhatikan interaksi mereka yang terlalu manis dengan senyum yang tak luntur di bibirnya.
“Enggak Kak, udah cukup,” tolak Ciya.
“Kalau gitu, aku bayar dulu.” Sengaja dia pergi ke kasir untuk membayar hanya untuk mengambil napas. Berada di antara dua gadis itu rasanya sangat menyesakkan.
***
“Daisy pulang sama siapa?” tanya Ciya. Kini mereka sudah berada di luar restoran tepatnya di tempat parkir.
“Naik taxi mungkin,” jawabnya.
“Sama kak Axel aja kalau gitu. Rumah Ciya kan udah dekat, biar Ciya yang naik taxi,” tawarnya. Dia hanya teringat pada kebaikan Daisy yang menolongnya saat tangannya melepuh waktu itu.
“Maksud lo?” tanya Axel. Walaupun dia senang, tapi bagaimana bisa Ciya menyuruhnya mengantarkan Daisy di saat status gadis itu sebagai pacarnya?
“Kasian Daisy kalau pulang sendiri,” jelasnya.
“Ciya bisa pulang pake taxi, kan rumah Ciya lebih dekat daripada rumah Daisy,” alasannya.
“Oke terserah lo.”
Ciya mencoba mencari taxi yang mungkin lewat ke sana dan akhirnya dia mendapatkannya.
“Hati-hati ya Kak Axel, Daisy.” Ciya melambaikan tangannya dari dalam taxi begitu juga dengan Axel dan Daisy yang membalas lambaian tangan Ciya.
Setelah taxi yang ditumpangi Ciya sudah tak terlihat lagi, Daisy dengan pasti menghapus senyum di wajahnya dan digantikan dengan tatapan tajam.
“Manis juga ya kencan kalian,” sindir Daisy. Axel mendengus mendengar ucapan Daisy. Bukankah gadis itu yang secara tak langsung menyuruhnya melakukan sesuatu agar Ciya benar-benar jatuh Cinta padanya?
“Kamu sengaja datang ke sini?” tanya Axel. Dia sudah curiga sejak tadi. Kota ini besar dan restoran juga bukan hanya itu saja, mengapa mereka bertemu di tempat itu secara kebetulan? Bukankah itu aneh.
“Yap betul.” Dengan bangga Daisy menjentikkan jarinya.
“Jadi, apa aku juga bakal diperlakukan kaya gitu kalau kita pacaran?” canda Daisy dengan kekehan.
__ADS_1
“Lebih dari itu,” ucap Axel terdengar lebih serius.
Daisy mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ayo pulang!” ajak Daisy.
“Gak mau main dulu?” tawar Axel. Dia berharap Daisy tak menolak ajakannya.
“Enggak. Aku mau langsung pulang,” putusnya. Harapan Axel pupus begitu saja saat Daisy menolak mentah-mentah ajakannya.
“Oke.” Axel mulai menyalakan motornya dan menancap gas setelah Daisy naik di belakangnya.
Tak ada pembicaraan di antara mereka sepanjang jalan. Axel terlalu kesal karena Daisy menolak ajakannya.
Sesampainya mereka di depan rumah Daisy, Axel tak langsung pergi. Pria itu harus memastikan Daisy selamat sampai masuk ke rumahnya, namun baru saja Daisy akan membuka pintu, seorang wanita paruh baya keluar dari sana dan berteriak di depan wajah Daisy.
“Dari mana aja kamu, hah!!? Bisanya buang-buang duit mulu!!” tak sampai di sana. Wanita paruh baya itu juga menampar pipi Daisy dengan keras hingga suaranya menggema di telinga Axel.
Axel membulatkan matanya dan segera turun dari motornya dan menghampiri Daisy.
Belum sempat Axel mengatakan sesuatu, wanita paruh baya itu menatap Axel tajam dengan sorot kebencian.
“Oh bagus ya keluyuran sama cowok!” bentaknya lagi. Daisy yang sadar akan keberadaan seseorang di sampingnya segera menoleh ke arah Axel sebelum kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Maaf, Tante saya teman Daisy.” Baru saja Axel menyelesaikan kalimatnya, suara Daisy yang dingin menusuk indera pendengarannya.
“Pergi,” ucapnya datar tanpa menatap Axel. Axel yang memang khawatir dengan keadaan Daisy hanya mematung tak mengerti dengan keadaan di hadapannya ini.
“Pergi!!!” teriak Daisy histeris. Gadis itu berbalik menatap Axel dan mendorong pria itu untuk segera pergi dari rumahnya.
“T-tapi kamu-.” Belum juga Axel menuntaskan kalimatnya, teriakkan Daisy kembali menggema di sana.
“Aku bilang pergi!! Pergi!!” Perlahan namun pasti, Axel mulai menjauhi Daisy. Walaupun dia khawatir pada gadis itu, akan sangat sia-sia menghiburnya sekarang.
Dia akan menanyakan keadaan Daisy besok saja.
“Bagus ya udah berani bawa cowok ke rumah.” Ucapan itu memang pelan, namun mampu menusuk hati Daisy karena dia tahu betul bagaimana ibunya ini.
Ya. Ibunya. Entah mengapa ada ibu yang seperti dia di dunia ini. Status ibunya sangat jauh dengan apa yang dia perbuat selama ini.
“D-dia cuma teman,” jawab Daisy tergagap.
__ADS_1
“Teman? Cih. Semua cowok sama aja Daisy!! Berlindung di balik kata teman!!!” teriak ibunya histeris.