Retisalya

Retisalya
She's My Girlfriend


__ADS_3

Hari ini untuk kelima harinya Ciya tak pergi ke sekolah. Kondisinya yang semakin memburuk mengharuskannya dirawat inap di rumah sakit.


Selama lima hari itu pula, baik sahabat Ciya maupun Kenji tak pernah bolos untuk menjenguk gadis itu. Sahabat Ciya juga tak pernah melewatkan satu haripun tanpa air mata.


Mereka akan sibuk menahan air mata mereka saat dihadapan Ciya dan tangis itu pecah ketika mereka telah keluar dari ruang rawat Ciya.


Kenji masih di sana, di samping Ciya yang tengah berbaring dengan wajah pucatnya ketika kedua sahabat Ciya telah keluar.


“Bunda kok lama ya,” lirih Ciya. Beberapa menit lalu wanita paruh baya itu pamit pada putrinya untuk membeli makanan di kantin rumah sakit, namun hingga saat ini Bundanya tak kunjung kembali.


“Mungkin kantin lagi rame, jadi antri,” jawab Kenji.


Ciya mengangguk paham.


“Kamu gak mau makan juga?” tanya Kenji.


“Ciya belum lapar, Kak. Nanti aja sekalian minum obat.”


Kenji mengerti. Mereka hanya saling diam untuk beberapa saat. Pikiran Kenji melayang ke hari-hari lalu saat Ciya tak masuk sekolah. Entah mengapa dia muak melihat Axel yang terus bermesraan dengan Daisy.


Bukan cemburu, hanya saja dia memikirkan perasaan Ciya jika dia melihat rangkaian kejadian itu.


“Ciya?” tanya Kenji.


“Iya kak.”


“Benar-benar gak ada kesempatan buat aku?” Ciya tahu ke mana arah pembicaraan Kenji.


“Maaf, Kak. Tapi ...”


“Bahkan jika kamu menganggap aku Axel sekalipun. Apakat tak bisa?”


*****


Ciya melamun, merenungkan keputusan yang telah dia ambil. Ciya tahu Ciya salah, hanya saja dia ingin mencoba.


Ya, dia menerima keinginan Kenji. Mereka resmi menjalin hubungan walaupun tak ada rasa khusus di hati Ciya.


Kenji ingin gadis itu memanfaatkannya. Memanfaatkannya untuk melupakan Axel dan mengalihkan perhatian dari segala pikiran yang mengganggunya.


*****


Kenji seperti bukan Kenji hari ini. Wajah seram dan dingin yang biasa dia tampilkan di sekolah kini menghilang.


Dunianya seakan berubah. Senyum manis di bibirnya senantiasa setia menemani paginya diringi teriakan memuja dari para siswi yang melihatnya.

__ADS_1


“Kak, lo kesambet?” Daania dan Beyza yang tak sengaja berpapasan dengan pria itu terbengong aneh.


“Enggak. Gue baik-baik aja, sangat baik malah,” jawabnya.


Dania senyum mengejek. “Wahh ada apa nih?”


“Ahh rasanya semua beban gue terangkat gitu aja.” Tanpa mengindahkan pertanyaan Daania, pria itu melenggang pergi dengan wajah cerianya.


“Gila tuh orang,” gumam Beyza. Mereka melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan lagi sikap aneh Kenji.


Tanpa Kenji sadari, di sana Axel memperhatikan tingkah lakunya dan mengernyit heran.


*****


“Tuh orang kenapa bisa berubah drastis gitu?” gumamnya.


Axel menggelengkan kepalanya. “Bentar, kalau di ingat-ingat ini hari ke enam gue gak ngelihat cewek itu kan? Kemana dia? Udah kaya ditelan bumi aja.”


Axel kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet. Panggilan alam di pagi hari memang sangat menyiksa pikir Axel.


Langkah Axel terhenti saat melihat pemandangan yang membuatnya merasa de javu.


“Aku ada bekal buat Kakak,” ucap gadis dengan rambut diikat ekor kuda. Gadis itu memandang lekat pria dihadapannya seolah pria itu adalah sesuatu yang sangat berharga untuknya.


“Gak usah! Gue gak suka!” Pria itu membanting kotak makanan hingga isinya berhamburan. Gadis di hadapan pria itu terlihat sangat terkejut.


Kilatan masa lalu terulang kembali dalam memorinya. Dia seperti tengah melihat cerminan dirinya. Dulu dia melakukan hal yang sama pada Ciya, dan sekarang dia seolah ingin membantu gadis yang posisinya seperti Ciya saat itu.


Axel bungkam. Dia memundurkan langkahnya lesu.


“Sejahat itu gue?” lirihnya.


“Kak. Lagi ngapain di sini?” Tepukan ringan di bahunya menyadarkannya.


“Ah Daisy. G – gak ngapa-ngapain kok. Yuk aku antar ke kelas.”


Daisy mengangguk. Mereka berjalan ke arah kelas Daisy dalam keadaan hening. Tak ada satupun di antara mereka yang berniat memulai pembicaraan.


Suasana kelas Daisy sangat sepi seperti ‘waktu itu’. Di sana, tapat di belakang kelas, tempat di mana dulu Ciya berdiri dan mengetahui yang sebenarnya, tempat bagaimana dia berkata kasar pada gadis itu, dan dia menyaksikan bagaimana gadis itu terkulai lemas di tempatnya.


“Kak! Dengar gak sih?!” tanya Daisy sedikit berteriak.


“H – hah? Apa?” ucap Axel gugup. Dia tak mendengar sedikitpun apa yang dikatakan Daisy.


“Minggu depan aku ada olimpiade Sains, kakak ikut kan buat lihat aku?” Daisy mengulang kembali perkataannya.

__ADS_1


“Ah iya aku pasti ikut tenang aja.” Axel mengelus surai Daisy lembut. Daisy tersenyum hangat.


“Kalau gitu aku balik ke kelas dulu ya.” Axel pamit pada Daisy dan diangguki gadis itu.


*****


“Ada apa sih sama gue! Aaarrgghhh!!”  Ya, setelah mengantar Daisy ke kelas, Axel tak langsung pergi ke kelasnya. Dia pergi ke rooftop untuk meluapkan kekesalannya.


“Kenapa dia selalu muncul di otak gue akhir-akhir ini?”


“Siapa?” Sebuah suara muncul dari belakang Axel.


“Ngapain lo di sini?” tanya Axel terlihat sedikit terkejut.


“Berbagi kebahagiaan gue sama semesta. Jadi siapa yang lo maksud tadi?” ucapnya.


“Bukan urusan lo,” jawab Axel. Tatatapan matanya selalu saja berubah tajam saat melihat orang di hadapannya ini.


“Urusan gue dong karena gue tebak, orang yang lo pikirin itu cewek gue kan?”


“Maksud lo?” Axel mengernyit aneh, tak mengerti dengan orang di hadapannya.


“Ciya. Lo lagi mikirin dia kan?” Ya. Pria itu adalah Zafien Kenji.


“Maksud lo dia pacar lo, gimana?”


“Ahhh andai suara gue bisa kedengaran satu dunia, mungkin gue udah teriak kalau cewek itu sekarang milik gue.”


Waktu itu di rumah sakit, akhirnya Ciya mengiyakan permintaan Kenji. Dia akan mencoba mencintai pria itu walaupun mungkin itu membutuhkan waktu yang tak singkat.


“Jadi, lo tenang aja. Sekarang dia gak bakal ganggu lo lagi. Lo bisa hidup dengan tenang sama pacar lo itu.” Kenji pergi dari sana setelah berkata demikian.


Sementara itu tanpa disadarinya, Axel mengepalkan tangannya hingga kedua buku tangannya memutih. Rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk.


“Sialan!!” umpatnya.


“Ke mana dia sebenarnya selama ini? Kenapa hilang tanpa jejak?” Axel mulai gelisah karena ungkapan Kenji beberapa waktu lalu.


Priaa itu turun menuju kelasnya. Saat di penghujung tangga, dia mendengar sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.


“Iya nanti gue juga pergi nemuin Ciya. Kita pergi bareng aja.” Beyza mengajak Daania.


“Oke nanti kita pergi bareng. Sekalian bawa makanan buat dia dan kak Kenji,” ucapnya.


Tanpa menunggu lama, Axel menghampiri kedua sahabat Ciya itu.

__ADS_1


“Gadis itu, di mana dia sekarang?”


__ADS_2