Retisalya

Retisalya
Pengakuan


__ADS_3

“Tunggu. Ada yang mau gue omongin.” Nada suara Dzikri berubah menjadi serius.


Kenji berbalik menghadap Dzikri dan mendengarkan apa yang akan dikatakan pria itu padanya.


“Gue yakin lo suka sama Ciya,” bisik Dzikri yang kemudian berlari dari sana dengan tawa yang menggema.


“Sialan lo!” Akhirnya Kenji ikut berlari. Lihat saja jika dia menangkap Dzikri akan dia pastikan kepalanya mendapatkan akibatnya.


***


Hari-hari Ciya berjalan seperti biasanya, namun tidak untuk Axel. Dia harus benar-benar menyiapkan hatinya untuk melancarkan rencananya.


Semula, dia tak sejahat ini untuk menyakiti seorang wanita, bisa dikatakan dia hanya tidak peduli pada seorang wanita, namun keadaan saat ini berbeda.


Gadis yang dia sukai memberinya syarat agar dia bisa bersama dengan gadis itu.


“Ciya bisa bicara sebentar,” ucap Axel. Pria itu tiba-tiba saja muncul di pintu kelas Ciya.


Ciya yang sedang asik dengan dunianya sejenak terlonjak dengan kehadiran Axel. Pasalnya baru kali ini Axel mencarinya bahkan sampai rela menghampirinya di kelas.


“I-Iya Kak.” Ciya bangun dari posisi duduknya.


“Hati-hati jangan mudah percaya sama omongan orang.” Daania mencekal tangan Ciya dan memberi peringatan pada gadis itu.


Ciya mengangguk. Perasaannya memang sedikit tak tenang, namun dia berusaha untuk mengendalikan perasaannya.


Ciya melanjutkan langkahnya. Di sana Axel terdiam di depan ruang kelas Ciya dengan tatapan lekat tak lepas dari Ciya.


“Ada apa Kak?” tanya Ciya saat dirinya sudah ada di hadapan Axel.


“Jadi pacar gue mau?” Pernyataan Axel membuat Ciya terlonjak untuk yang kedua kalinya. Dia memang mengharapkan hal seperti ini, namun bukankah ini terlalu mendadak?


Mata Ciya membulat sempurna dengan tubuh yang menegang.


“Jadi?” tanya Axel memastikan karena gadis itu tak kunjung membalas pertanyaannya.


“I-Itu Kak...” ucap Ciya tergagap. Otak dan hatinya sudah mengatakan ‘Ya’ sejak tadi, namun mengapa mulutnya tak bisa diajak berkompromi.


“Lo gak perlu jawab sekarang, gue kasih waktu lo sampai besok, gimana?” tanya Axel. Entah sejak kapan tangannya sudah berada di puncak kepala Ciya dan mengusap surainya lembut. Jangan lupakan senyum menawan yang sangat jarang pria itu perlihatkan.


“Ini Ciya gak mimpi kan ya?” Pandangan Ciya kosong. Gadis itu terlalu jatuh dalam pesona seorang Axel.

__ADS_1


Axel terkekeh mendengar penuturan Ciya. Tangan Axel turun untuk menyentuh pipi Ciya dan mencubitnya pelan.


“Aww,” rintih Ciya segera memegang pipinya.


“Bukan mimpi, kan?” ucap Axel. Axel kembali terkekeh dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


“Ehehe iya bukan mimpi.”


“Ya udah sana masuk, jam pertama udah mau mulai. Gue ke kelas dulu, besok gue tagih jawaban lo.” Axel pergi dari sana setelah melambaikan tangannya pada Ciya yang masih mematung di tempatnya.


“Kenapa di sini mendadak panas ya?” Ciya mengipasi wajahnya dengan tangannya. Wajahnya kini sudah terlihat seperti tomat. Ciya kembali ke kelas dengan ketidak percayaannya.


“Ciya lo baik-baik aja? Kenapa muka lo merah banget?” tanya Beyza. Gadis itu kini sudah memutar-mutar tubuh Ciya untuk memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.


“Ciya sangat baik. Aaaakkk!!!” Ciya berteriak di dalam kelas hingga semua teman-temannya menatapnya dengan pandangan aneh sekaligus kaget.


“Apa, apa, kenapa?!” tanya Daania heboh. Acara tidurnya terganggu karena teriakan Ciya. Sejak Ciya keluar tadi untuk menemui Axel, Daania berniat akan tidur sebentar sebelum kelas dimulai, namun baru saja dia akan masuk ke alam mimpinya, Ciya berteriak dengan kencang.


“Daania, Beyza, kalian tahu gak?” bisik Ciya. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Daania dan Beyza agar orang lain tak dapat mendengar ucapan Ciya.


“Ya gimana kita tahu kalau lo gak bilang!” kesal Daania. Acara tidurnya terganggu dan kini Ciya memberitahu sesuatu dengan bertele-tele. Sudah ada di puncak emosi Daania saat ini.


“Ciya di ajak pacaran sama kak Axel,” bisiknya.


“Jangan bercanda lo,” lanjut Daania. Dia masih tak memercayai apa yang dikatakan Ciya.


“Ih beneran. Kata kak Axel dia minta jawaban Ciya besok. Ciya harus bilang apa ya?” Ciya meletakan jari telunjuknya di kepala seperti sedang berpikir.


“Tadi lo dengar apa yang gue bilang, kan?” tanya Daania.


“Yang mana?” Ciya balik bertanya. Bagaimana dia bisa ingat, dari tadi banyak sekali yang Daania katakan.


“Aduhh Ciya lo lemotnya kebangetan banget sih. Gue bilang jangan mudah percaya sama omongan orang,” jelas Daania.


“Tapi kan ini kak Axel. Kak Axel baik kok,” jawab Ciya.


“Hhhh, terserah lo. Tapi gue saranin lo pikirin ini baik-baik jangan sampai lo nyesel.”


Daania kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan tumpuan tangannya. Sementara Beyza mengangguk menyetujui apa yang diucapkan Daania.


“Lo pikirin baik-baik ya,” ucap Beyza mengingatkan sekali lagi.

__ADS_1


Ciya mengangguk mantap.


***


Jika kemarin pelajaran Matematika ada di jam pertama, maka hari ini pelajaran yang paling tidak disukai oleh siswa-siswi itu ada di jam terakhir.


Disaat matahari sedang terik-teriknya, perut yang mulai keroncongan dan jangan lupakan rasa kantuk yang menyerang setiap siswa, mata pelajaran Matematika baru saja dimulai.


Guru killer itu mulai menjelaskan materi, namun otak Ciya sudah tak ingin lagi memikirkan nilai x dan y yang entah sampai kapan selalu dicari-cari.


Jam pelajaran selesai membuat semua siswa dan siswi menghela napas lega dan segera berhamburan dari ruang kelas.


Begitu juga dengan Ciya. Gadis itu keluar dari kelas dengan kedua sahabat yang mengapitnya.


“Lo pulang di jemput kan?” tanya Beyza.


“Iya, kenapa?” jawab Ciya.


“Gak kenapa-kenapa cuma nanya.” Ciya mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.


Langkah dan postur tubuh yang sudah Ciya hapal mulai mendekat padanya.


Axel, pria itu terlihat sangat memesona di mata Ciya hingga membuat matanya tak berkedip sekalipun.


“Hai,” sapa Axel ketika sudah berada di hadapan Ciya.


“Hai, Kak,” jawab Ciya.


“Gue pinjam Ciya ya.” Axel menarik tangan Ciya untuk menjauh dari keduaa sahabatnya.


“Jangan sakitin sahabat gue, Kak!!” teriak Daania dari tempatnya. Entah mengapa firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi.


“Bey, kenapa gue curiga ya sama kak Axel,” ucap Daania.


“Gue juga sama. Emang bisa ya perasaan berubah dalam beberapa jam? Apa lagi awalnya dia benci banget sama Ciya.” Beyza mulai mengeluarkan pendapatnya.


“Kalau dia benar-benar suka sama Ciya sih gue bersyukur, tapi gue tetap takut dia nyakitin Ciya. Apa lagi lo tahu kan sepolos apa Ciya itu?” Daania juga mulai mengeluarkan pikirannya.


“Ya udah lah, kita berdo’a aja semoga gak terjadi apa-apa sama Ciya.”


Sementara di sana tangan Ciya masih digandeng Axel bahkan setelah mereka sampai di parkiran.

__ADS_1


“Kenapa, Kak?” tanya Ciya.


__ADS_2