
"Lu juga sering ke rumah gue tanpa kasih tahu. Bahkan sering banget rumah gue udah acak-acakan gara-gara lo," ucap Axel.
Merasa diserang habis-habisan, akhirnya dilan hanya bisa mengangguk dan membiarkan Axel tanpa perlawanan.
"Habis dari mana lo?" Dilan bertanya karena pakaian yang dikenakan Axel terlihat berbeda dari biasanya.
"Dari rumah cia," jawabnya singkat.
Hanya dengan mengatakan itu Axel yakin jika dilan sudah mengerti apa yang dimaksudnya.
"Tapi dia ada?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal dari dilan, spontan Axel menatap pria itu dengan tatapan tajamnya.
"Iya elahh gue bercanda doang, serius amat sih," ucap Dylan.
Axel merotasikan bola matanya dan memilih diam. "Gue diangkat jadi direktur rumah sakit."
Ucapan Axel kali ini berhasil membuat Dylan membelalakkan matanya dan mengalihkan perhatiannya secara penuh pada Axel.
"Lo nggak lagi bohongin gue kan?" Yang membuat dilan tak percaya adalah pria yang saat ini ada di hadapannya itu pria yang sangat dingin. Bagaimana mungkin pria itu bisa mendapatkan kepercayaan dari pemilik Rumah sakit untuk menjadi direktur di sana.
"Apa untungnya buat gue kalau gue bohongin lo?" Dilan terdiam karena memang tak ada untungnya bagi Axel jika dia berbohong padanya.
"Berarti bentar lagi lo kaya dong," ucap dilan.
Axel sungguh tak ingin menjawab ucapan pria itu lagi. Dia merasa temannya itu sudah terkontaminasi virus koruptor di luar sana.
"Mending benerin otak lo dulu deh," saran Axel.
"Aduh kalau bisa ga sih nggak usah sensi. Dikit aja gitu bercanda sama gue. Dulu kan kita juga sering bercanda." Dilan merubah ekspresi wajahnya seolah pria itu sangat sedih.
"Xel, gimana kalau lo nikah aja." Ucapan dilan berhasil membuat Axel menatap pria itu.
"Ada apa lagi sekarang sampai nyuruh gue buat nikah?" tanya Axel.
"Lo tahu nggak, gue punya temen cewek yang cantik banget. Body-nya jangan ditanya." Dilan dengan asyik mendeskripsikan setiap titik pada tubuh gadis itu.
"Jadi gimana lo tertarik gak?" Dylan mengakhiri ceritanya dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Lan, gue udah bilang beberapa kali kalau gue nggak mau. Kalau nanti gua udah mau nggak bakal cari sendiri kok," ujar Axel.
Raut wajah dilan berubah menjadi serius. "Gini deh, gimana caranya lu bisa lupain dia kalau lo sendiri yang nggak mau lupain dia. Kalau keinginan lo buat lupain Ciya keras, gue yakin lo bisa lupain dia dengan cepat," ucapnya.
"Gue nggak pernah bilang buat lupain Ciya. Justru itu yang gue mau, gue gak akan mau lupa sama Ciya. Gue gak bakal lupain apa yang pernah gue lakuin sama dia. Rasa sakit yang dia rasain dulu, biar gue bayar sekarang."
Axel akhirnya mengeluarkan pendapatnya. Sejak dulu dia tak mau mengatakannya karena dia pikir dilan sudah mengerti dirinya. Tapi ternyata tidak.
"Tapi ini udah lima tahun, Xel. Masa lo mau jomblo sampai mati," ucap Dylan.
"Kalau dengan itu bisa hapus dosa gue sama dia, gue bakal lakuin. Gue gak akan nikah sama gue mati, jangankan nikah gue gak akan pernah mau jatuh cinta sama siapapun lagi."
Menurut dilan ucapan asal sudah sangat dalam, mungkin untuk sekarang dia akan menghentikannya sampai di sini saja.
"Terserah lo. Gue mau main game." Dilan berlalu dari sana menuju ruang keluarga di mana di sana ada sebuah PlayStation.
"Gue ikut." Axel mengikuti langkah dilan ke ruang keluarga. Mungkin dengan bermain game hatinya akan sedikit tenang.
****
Sementara itu di sebuah rumah yang cukup besar, sedari tadi dia membolak-balikkan dirinya mencari posisi yang nyaman sambil memainkan ponsel.
Entah sudah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut Ciya.
"Na, lo tahu nggak udah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut lo? Dari tadi juga gue jawab, kalau lo mau keluar ayo gue temenin," jawab Javier yang juga sama sedang memainkan ponselnya. Hanya saja pria itu tidak rewel seperti Ciya.
"Tapi gue bingung mau main ke mana," ucapnya.
"Ya udah pikirin dulu lo mau ke mana. Nanti kalau udah dapat baru kasih tau gue."
"Lo sama sekali gak ngebantu."
Ciya malah merajuk dan berlalu menuju kamarnya. Sementara itu Javier hanya bisa memperhatikan Ciya yang sedang merajuk.
"Ahh emang sulit mood cewek itu," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Namun meski begitu pria itu segera menghampiri Ciya ke kamarnya untuk membujuknya.
"Na gue masuk ya," izin Javier.
__ADS_1
Pria itu membuka pintu kamar Ciya dan melihat gadis itu sedang tengkurap di ranjangnya.
"Gue bosan!!!" Teriakannya teredam oleh bantal sehingga tak terlalu terdengar.
"Ya udah kemarin kan lu bilang mau temuin seseorang, temuin sekarang aja gimana?" saran Javier.
"Emang sekarang mereka ada ya?" Dia akhirnya membalikan badannya menatap Javier.
"Ya mana gue tahu. Coba aja dulu siapa tahu ada," jawabnya.
"Dari tadi kek lo kasih saran kayak gitu, mungkin gue nggak akan kebosanan."
"Ya udah cepetan ganti baju, kita berangkat sekarang." Ciya mengangguk dan mulai mengganti bajunya setelah Javier keluar dari kamarnya. Pria itu juga mengganti pakaiannya menjadi lebih manusiawi sedikit setelah sebelumnya pria itu hanya memakai boxer dan kaos rumahan yang sudah tipis.
Selesai sudah mereka dengan persiapannya. "Jadi mau ke mana kita?" Javier bertanya karena dia tidak tahu siapa yang akan ditemui oleh Ciya.
"Berangkat dulu aja nanti gua tunjukin jalannya." Javier hanya bisa mengangkut mengikuti apa yang dikatakan oleh gadis itu.
Sepanjang perjalanan dia terus mengarahkan Javier ke jalan yang benar. "Depan belok kanan, habis itu nanti kita nemu pom bensin belok kiri."
Seperti itulah kiranya percakapan mereka sepanjang perjalanan. Yang dituju oleh cia memang cukup jauh, namun dia rela menuju ke sana karena dia merindukan mereka.
"Siapa sih yang mau lo temuin?" Akhirnya Javier merasa penasaran.
"Lihat aja nanti." Javier mendengus kesal. Udah dirinya harus menyetir, sekarang dia bertanya pun bahkan tidak dijawab oleh Ciya.
"Dia teman gue juga sih tapi bisa dibilang sahabat lah," ujar Ciya.
"Nah gitu kan enak tinggal bilang aja kalau dia sahabat lo," ucap Javier setelah dia mendapatkan sebuah jawaban.
Mereka sudah melewati pom bensin dikatakan oleh Ciya. "Habis ini ke mana lagi?"
"Nah di depan kita belok kiri lagi."
"Dari tadi belok mulu ini beneran gak sih atau lo lagi ngerjain gue?"
"Suuzon mulu hidup lo. Bentar lagi juga nyampe sabar dikit dong." Ciya ikut kesal karena Javier terus bertanya.
"Nah itu yang di depan ada mobil merah rumahnya. Berhenti di sana ya," ucap Ciya.
__ADS_1