Retisalya

Retisalya
Back to School


__ADS_3

Entah dosa apa yang telah dilakukan Ciya di kehidupan sebelumnya sampai-sampai rasa sakit bertubi-tubi menghampirinya. Seakan tuhan tak memberikan Ciya untuk sekedar beristirahat dari rasa sakit itu.


Saat ini Ciya masih terbaring lemah di brankar rumah sakit. Kenji dan Bunda Jihan dengan setia menemani gadis itu, namun yang ditunggu tak memberikan tanda-tanda akan segera sadar.


"Kamu gak mau bangun, Sayang?" lirih Bunda Jihan. Bahkan luka di hatinya karena kepergian sang suami belum sepenuhnya sembuh, namun dia sudah menerima luka baru yang begitu memukul hatinya.


"Kenji yakin, Ciya akan bangun, Tante. Mungkin dia sedikit lelah dengan semua yang dia perjuangkan selama ini. Jadi, biarkan dia mengistirahatkan tubuhnya sejenak," ucap Axel. Sebenarnya dia sama paniknya dengan Bunda Jihan, dia berkata demikian hanya untuk menenangkan hatinya yang sangat risau.


Perlahan namun pasti, netra indah itu mulai terbuka berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indera penglihatannya.


"Bunda," lirih Ciya saat netranya menangkap Bundanya yang tengah menangis sambil menunduk.


"Sayang, udah baikan?" tanya Bunda Jihan.


"Bunda panggilkan dokter ya." Saat hendak beranjak, lengan Bunda Jihan ditahan oleh Ciya.


"Gak perlu, Bunda. Ciya udah baikan," ucapnya. Suaranya tak begitu jelas mengingat nebulizar masih setia bertengger di hidung dan mulutnya.


"Ciya kenapa, Bunda?" tanya gadis itu berbisik.


"Sebenarnya Bunda gak mau kamu tahu, tapi kamu udah dewasa. Kamu juga berhak menjaga kesetanmu sendiri."


"Kata Dokter, kamu mengidap pneumonia, Sayang," ucap sang Bunda. Ciya tak begitu terkejut mengingat belakangan ini dia memang sering merasakan sesak napas.


"Tapi kamu gak usah khawatir, Bunda yakin kamu bisa sembuh." Bunda Jihan memegang erat tangan Ciya sebelum akhirnya mengecupnya lembut. Dia benar-benar sangat rapuh saat ini.


Ciya sedikit menengok ke arah belakang Bundanya. Pria yang sangat dia kenali berada di sana. "Loh, Kak Kenji yang bawa Ciya ke sini?" tanya Ciya memastikan.


"Iya," jawab Kenji.


"Makasih, Kak," lirih Ciya. Ternyata memang bukan Axel yang membawanya.


"Ciya boleh pulang kapan, Bunda?" tanya Ciya. Dia berharap bisa pulang dan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Menikmati hidupnya yang tak bisa dipastikan akan sampai kapan.


"Bunda belum tahu, nanti kita tanya Dokternya dulu, ya. Sekarang kamu istirahat biar cepat pulih." Ciya mengangguk.

__ADS_1


Matahari mulai turun dan langit mulai menjadi gelap. Ciya masih setia berbaring di atas brankar dengan nebulizer itu. Sementara Kenji kini telah pulang.


Bundanya tengah tertidur di atas sofa yang tersedia di ruang rawat itu.


"Ayah, Ciya sakit. Ayah gak mau hibur Ciya?" lirihnya. Pandangannya tertuju pada langit malam yang berbintang mengingat langit memang terlihat dari jendela ruang Ciya.


"Ciya masih butuh Ayah untuk melanjutkan hidup Ciya. Masih banyak mimpi ayah yang ayah harapkan dari Ciya belum terwujud." Perlahan air mata jatuh mengalir membasahi pipi Ciya.


Sekuat tenaga gadis itu menahan isakkannya agar tak keluar. Dia tak mau Bundanya ikut sedih karena Ciya menangis.


"Ayah tahu? Setiap langkah yang Ciya kerjakan, setiap waktu yang Ciya habiskan, di sana ada mimpi Ciya untuk membahagiakan Ayah, namun semesta berkata lain. Ayah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun." Isakkan kecil mulai terdengar.


"Ciya rindu Ayah, sangat." Tangis Ciya pecah setelah kalimat itu berhasil terucap dari bibirnya.


Bunda Jihan tersentak saat mendengar raungan yang sangat memilukan memenuhi ruangan itu.


"Sayang! Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Bunda Jihan khawatir. Dia mendekati putrinya dan melihat keadaannya.


"Sakit Bunda~."


Akhirnya kedua wanita itu tak bisa lagi menahan untuk tidak menangis. Mereka menangis dengan Ciya yang berada di pelukan Bunda Jihan.


***


Hari ini wajah Axel terlihat sangat ceria. Selain karena dia berhasil mendapatkan Daisy, dia juga berhasil merintis bisnis yang dijalaninya bersama Dylan.


Tangan Axel menggenggam tangan Daisy dan terus menyusuri lorong sekolah untuk mengantarkan gadis itu menuju kelasnya.


"Pulang sekolah jenguk Ciya?" tanya Daania pad Beyza. Sejak kemarin mereka memang belum sempat menjenguk Ciya, mereka juga tak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. Hanya saja mereka pikir itu hal yang sedikit serius mengingat Ciya sampai dirawat.


"Oke." Berbarengan dengan selesainya percakapan Daania dan Beyza, Axel dan Daisy masuk ke kelas itu.


"Kak Axel udah jenguk Ciya?" tanya Beyza. Dia hanya ingin memastikan bagaimana sikap Axel setelah apa yang dilakukan Ciya untuknya.


"Kenapa emangnya?" tanya Axel sedikit acuh.

__ADS_1


"Ciya di rawat di rumah sakit," ketus Daania.


"Enggak kayanya. Gue juga gak ada hubungan apa-apa sama dia."


Daania mengepalkan kedua tangannya tepat setelah Axel berkata demikian. Daania mengingat pengorbanan Ciya tentang darah yang sekarang mengalir di tubuh pria berengsek itu.


Daania tak ingin berdebat. Dia mengacuhkan jawaban Axel dan kembali fokus pada tugasnya.


"Nanti pulang sekolah aku ke sini. Kita kencan," ucap Axel pada Daisy yang membuat Daania muak mendengar kata-kata Axel.


Daisy mengangguk. Untuk saat ini dia hanya akan menjalani dan mengikuti perkataan Axel. Entah sampai kapan dia akan melakukan ini.


"Ciya!" teriak Beyza. Gadis itu membulatkan matanya saat melihat Ciya di ambang pintu. Tak sendiri, Ciya bersama Kenji.


"Lo kok udah di sini? Bukannya di rumah sakit?" tanya Daania setelah mendongakkan kepalanya. Tak hanya mereka berdua yang terkejut dengan kedatangan Ciya, namun semua orang yang ada di kelas terkejut termasuk Axel dan Daisy.


Mereka memusatkan perhatian mereka pada Ciya dan tentu saja Kenji.


Tatapan mata Ciya dan Axel beradu. Axel dengan tatapan heran dan Ciya dengan tatapan rindu. Dua rasa yang berbeda, yang membuat salah satu hati terluka.


Ciya mengalihkan pandangannya. "Iya, Ciya udah baikan. Dokter bilang Ciya udah boleh pulang." Ciya mengembangkan senyumnya.


"Kak Kenji, makasih ya udah antar Ciya. Ciya baik-baik aja sekarang."


"Iya sama-sama. Kalau ada apa-apa panggil gue." Kenji mengusap surai Ciya gemas. Dia sudah memantapkan hatinya pada Ciya.


Ciya yang mendapat perlakuan manis seperti itu sontak tertegun. Bukan pertama kali memang, namun tetap saja rasa menggelitik itu selalu ada.


"Gue ke kelas dulu." Ciya menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangannya saat Kenji mulai menjauh dari pandangannya.


Ciya berjalan ke arah kursinya.


"Apa yang terjadi, Bry?" tanya Daania khawatir.


"Enggak kenapa-kenapa. Ciya Cuma perlu istirahat dan makan banyak. Mungkin Ciya kaget karena ditinggal Ayah." Ya, Ciya memilih berbohong kepada dua sahabatnya. Dia tak ingin menjadi beban untuk siapapun.

__ADS_1


Cukup Bunda dan Kenji saja yang tahu tentang penyakitnya. Tak boleh ada yang mengetahui hal itu lagi.


__ADS_2