
Ciya dan Javier duduk dengan kikuk di sebuah ruang tamu yang bisa dikatakan tak banyak berubah. Ciya masih bisa mengingat ruangan ini. Yang berubah hanya posisi foto keluarga mereka.
“Kapan kalian datang? Kok gak ngasih kabar?” tanya Bunda Jihan. Dia masih berusaha menahan rasa ingin memeluk Ciya.
Yang membuatnya menjadi canggung saat ini adalah karena mereka lama tidak berjumpa dan tidak berhubungan satu sama lain serta penampilan Ciya yang berubah drastis.
“Baru aja sampai Tan. Rumah Daddy belum diberesin, jadi kita ke sini dulu.” Javier menjawab dengan tenang.
“Oh iya. Baik-baik kan Daddy sama Mommy kalian?”
“Baik. Tante sendiri gimana kabarnya?” tanya Javier. Bunda Jihan mengangguk. “Tante juga baik.” Raganya memang baik dan sehat tapi tidak dengan hatinya.
“Aku boleh ikut ke kamar mandi? Kebelet,” kekehnya. Bunda Jihan menunjukaan jalan menuju ke kamar mandi sebelum dia kembali ke ruang tamu.
Kini di sana hanya tinggal Ciya dan Bunda-nya. Entah kenapa lidahnya tiba-tiba kelu bahkan hanya untuk menanyakan kabarnya saja.
“Gimana kabarnya sayang?” tanya Bunda memulai pembicaraan di antara mereka.
Sudah lama Ciya tak mendengar panggilan itu. Demi Tuhan dia sangat merindukannya. “B-baik B-bun,” jawabnya dengan gagap. Dia tak bisa bicara dengan benar padahal itu adalah Bundanya sendiri.
“Jangan gitu, Bunda jadi sedih dengernya.” Bunda Ciya merasa anak gadisnya ini sudah sangat jauh darinya terlihat dari cara bicaranya.
Bunda Jihan mulai menangis tersedu. Dia sangat rindu tapi Ciya bersikap aneh. Dengan mencoba untuk memberanikan diri, Ciya mendekati wanita paruh baya itu dan memeluknya dengan erat.
“Bunda kanget sayang,” lirihnya. Tangannya sudah melingkar di pinggang Ciya begitu juga dengan Ciya. sekarang giliran Ciya yang juga menangis. Akhirnya dia bisa menumpahkan rasa rindu ini.
“Ciya juga juga kangen Bunda, hiks,” isaknya. Ciya menangis tersedu dan sifat manjanya kembali ketika sekarang dia sudah ada dalam pelukan sang Bunda.
“Maaf Bunda gak pernah nengok kamu. Maaf juga gak pernah kabarin kamu,” ucap Bunda Jihan setelah dia melepaskan pelukannya dan memandang lurus pada netra gadis itu.
Ciya menggeleng. “Bunda gak salah, Ciya tahu Bunda lakuin ini juga demi Ciya.” Bunda Jihan mengangguk membenarkan ucapan Ciya.
__ADS_1
Yang dia lakukan semua ini untuk kebaikan Ciya. “Sekarang kamu bakal tinggal di sini, kan?” tanya Bundanya.
Ciya bergeming, dia bingung akan tidur di mana. “Biar nanti Ciya tanya Daddy dulu ya,” ucapnya. Jihan hanya bisa mengangguk.
Adiknya itu lebih tahu apa yang harus dilakukan karena selama lima tahun terakhir ini juga dia yang mengurus semuanya.
“Kamu baik-baik kan di sana?” Buda Jihan kembali bertanya.
“Iya Bun. Ciya baik di sana, Ciya kuliah dan tes kemarin Ciya dapat nilai sempurna,” jawabnya.
“Syukurlah, Bunda tau kalau anak Bunda ini hebat.”
“Maaf lama Tan.” Javier kembali dari toilet sambil memegangi perutnya. Entah kenapa perutnya tiba-tiba sakit dan tak bisa diajak kompromi.
“Habis makan apa kamu sampai lama banget di toilet?” kekeh Bunda Jihan. Baru sehari juga belum, dia sudah diperlihatkan dengan tingkah abstrak Javier.
“Gak tau Tan, sakit banget,” jawabnya. Mereka semua terkekeh mendengar hal itu.
“Bunda, Ciya kangen Ayah. Nanti kapan-kapan mau ke rumah Ayah boleh?” tanyanya.
“Lihat nanti aja ya Bun. Kalau mau, pasti Ciya ke sini dulu,” jawabnya yang diangguki oleh Bunda Jihan.
“Bunda, Ciya mau tanya sesuatu boleh?” tanyanya.
“Kamu gak harus izin dulu buat tanya sesuatu sama Bunda, sayang.” Ciya tersenyum simpul.
“Bunda masih suka ketemu sama teman-teman Ciya waktu sekolah?” tanya Ciya. Dia bertanya hanya untuk berjaga-jaga. Siapa tahu ketika dirinya ada di sana, seseorang tiba-tiba datang.
“Cuma Kenji,” jawabnya singkat.
“Kak Kenji?” Ciya memastikan jika orang yang disebut oleh Bundanya adalah orang yang sama dengan orang yang dia kenal.
__ADS_1
“Iya, dia sering datang ke sini bawain Bunda makanan. Selain dia Bunda gak pernah ketemu siapapun lagi.” Ada rasa sedih dan kecewa di hati Ciya saat dia tahu bahkan sampai saat ini hanya Kenji yang peduli.
“Kalau boleh, Bunda jangan kasih tau sama Kak Kenji kalau Ciya ada di sini ya. Ciya mau Kak Kenji cuma tahu Ciya udah gak ada,” ucapnya.
Bunda Jihan mengangguk. Lagi pula dia tak ada niatan untuk mengataka semua kebenaran itu pada siapapun. Dia ingin membiarkan Ciya tenang dengan hidupnya sekarang setelah berbagai macam siksaan yang dilewati gadis itu lima tahun lalu.
“Gimana sama dua sahabat kamu?” tanya Bundanya. Mungkin Ciya mau bertemu dengan mereka karena mereka adalah seorang sahabat.
“Untuk saat ini Ciya gak mau ada orang yang tau Bun. Biarin kaya gini aja,” jawabnya. Bundanya bisa mengerti mengapa Ciya menginginkan hal itu.
“Javier, kamu juga sekolah sama Ciya di sana?” tanya Bunda di saat dia sadar telah mengabaikan pria itu cukup lama.
“Iya Tan, kita bareng. Tante tenang aja, Javeier pasti selalu jagain Ciya,” ucapnya dengan semangat.
“Dih siapa sebenarnya yang jagain siapa,” timpal Ciya tak terima. Bunda Jihan terkekeh melihat kedekatan dua orang itu.
“Bentar dulu, kalian ke sini bareng sama Daddy sama Mommy kalian, kan?” Dia baru ingat jika sedari tadi dia sama sekali tak melihat dua adiknya itu.
“Iya kita bareng kok. Tadinya sih cuma mau berdua, tapi tiba-tiba Daddy ada urusan di rumah sakitnya yang di sini, jadi akhirnya semuanya ikut ke sini,” jelas Javier.
“Terus di mana mereka sekarang?”
“Daddy ditelpon sama orang rumah sakit, jadi pas baru sampai tadi, dia langsung ke rumah sakit. Mommy juga ikut sama Daddy, Bun.” Ciya menjelaskan keadaannya.
“Ah gitu. Kalau rumah Daddy belum diberesin, kalian bisa tidur di sini dulu malam ini,” tawar Bunda Jihan.
“Lihat nanti aja ya Bun. Kata Ciya tadi kan Ciya takut kalau tiba-tiba Kak Kenji datang ke sini. Jadi buat jaga-jaga kayanya Ciya tidur di rumah Daddy dulu,” tolaknya.
Ada rasa sedih di hatinya, tapi dia juga harus mengerti bagaimana keadaan Ciya saat ini. “Ya udah iya. Berarti habis ini kalian mau ke mana?” tanya Bunda Jihan.
“Gak tau Bun. Kayanya kita nunggu di sini dulu deh sambi nunggu Daddy pulang. Gak apa-apa, kan?” tanya Ciya.
__ADS_1
“Gak apa-apa dong. Ini kan juga rumah kamu, kenapa harus minta izin segala,” jawab Bunda Jihan yang dibalas dengan senyuman oleh Ciya.
Mereka membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan hingga membuat mereka kembali dekat satu sama lain.