
Terhitung hari ke-tujuh Ciya berada di Indonesia. Gadis itu saat ini sedang merebahkan dirinya di ranjang.
Setelah kemarin dia menginap di rumah bundanya, sekarang dia berada di rumah Daddy-nya.
Sejauh ini semuanya baik-baik saja dan orang yang mengetahui keberadaannya hanya sebatas kedua sahabatnya.
Niatnya hari ini dia ingin menjenguk Daisy ke rumah sakit jiwa. Meski gadis itu pernah menyakitinya tapi dia tidak ingin menjadi orang jahat juga. Dia ingin tetap baik pada semua orang.
Hari libur begini kebetulan sekali semuanya sedang berada di rumah. "Na gue bosen banget kalau di rumah terus," rengek Javier. "Belanja yuk!" sambungnya.
Kadang Ciya merasa jiwanya tertukar dengan Javier. Javier yang pria sangat menyukai belanja, mengeluarkan uang. Sementara dirinya tidak menyukai hal itu.
"Lo itu cowok Vi. Kenapa suka belanja terus sih?" tanya Ciya.
Bukannya tidak boleh seorang pria berbelanja hanya saja kebanyakan pria biasanya sangat malas saat diajak belanja.
"Ya udah sih nggak apa-apa lagian juga pakai uang gue," jawabnya.
"Iya gue tahu itu uang lo. Ya udah sana aja belanja sendiri. Gue males," jawabnya.
"Nyebelin banget sih lo. Awas aja nanti kalau minta antar gue kemanapun, nggak bakal gue mau nganter lo," ancam.
Ciya yang semula sedang rebahan, spontan langsung bangkit dan menempeleng kepala pria itu. Baru saja tadi dia mengatakan ingin selalu menjadi orang baik tapi sepertinya untuk Javier dia akan menjadi orang jahat.
"Bisa banget lo ngancem gue. Ya udah ayo siap-siap!!"
Dia langsung melompat ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Terpaksa dia harus mengantar Javier belanja agar pria itu mau diajak kemanapun olehnya.
Sementara itu Javier tersenyum licik. "Ternyata gampang banget ya ancam dia," ucapnya sambil terkekeh.
Setelah kepergian Ciya, dia juga ikut pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Tak lupa dia membawa kartu-kartu yang dia punya. Hari ini dia siap menghabiskan uangnya. Ini semua dia lakukan demi kesehatan jiwanya.
Ciya keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat keberadaan Javier di sana. Itu berarti pria itu sedang mengganti pakaian.
Gadis itu hanya mengenakan crop top berwarna putih, dipadukan dengan high waist jeans. Cukup simple dan dia tinggal membawa tas selempang kecil miliknya, jangan lupakan topi yang kemarin dia beli bersama bundanya.
__ADS_1
"Oke selesai," ucapnya setelah dia memastikan tidak ada yang kurang dengan penampilannya. Dia keluar dari kamar dan memilih untuk menunggu di bawah.
"Loh mau ke mana, Na?" tanya Daddy-nya yang sedang membaca koran sambil menikmati teh hangat di hadapannya.
"Mau nemenin Vi belanja Dad," jawabnya. Sambil menunggu saudaranya itu dia akhirnya duduk di sebelah Daddy-nya sambil memainkan ponsel.
"Mommy ke mana Dad?" tanyanya saat dia tidak melihat wanita itu.
"Nggak tahu tuh dari tadi di halaman belakang terus lagi ngurusin bunga-bunga kesayangannya mungkin," jawab Bagas.
"Daddy titip sesuatu boleh?" tanyanya sambil menutup koran yang semula dia baca.
"Boleh dong. Daddy mau apa?" tanya Ciya.
"Daddy mau batagor kuah. Lama banget Daddy gak makan makanan itu. Cerita dikit nih ya dulu waktu pulang dari sekolah pasti Daddy selalu jajan batagor. Apalagi yang batagor di samping sekolah, beuh itu enak banget. Daddy jadi kangen banget rasanya makan batagor," ucapnya.
Ciya terkekeh mendengar perkataan Daddy-nya. Walaupun Daddy-nya itu terlihat sangat tegas, tapi jika sedang bersama keluarga, dia menjadi sangat lucu di hadapan Ciya.
"Oke deh nanti Ciya beliin ya. Kalau ada tapi, kalau nggak ada gimana?" tanya Ciya.
"Oke."
Tak lama setelah itu Javier akhirnya turun dengan penampilan yang sangat santainya. Pria itu hanya menggunakan kaos over size berwarna hitam dan juga celana pendek selutut berwarna hitam.
Tak lupa dia juga memakai sepatu berwarna putih. "Lo cuma dandan kayak gini lama amat," tanya Ciya. Padahal rasanya Ciya berdandan lebih heboh tapi dia tak selamanya Javier.
“Lo udah selesai?” tanya Javier.
“Udah dari tadi gue nungguin lo. Lo aja yang lama banget,” ja9ab Ciya gemas karena Javier yang ingin pergi tapi pria itu juga yang sangat lama.
“Ya sorry, tadi kan gue pilih-pilih baju dulu,” ja9abnya.
“Terserah. Yuk berangkat.” Ciya bangkit dari duduknya kemudian pergi keluar terlebih dulu.
“Dad, keluar dulu ya bentar,” izinya pada sang ayah.
__ADS_1
“Hmm hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” Javier mengangguk sebelum kemudian dia pergi dari sana menyusul Ciya.
“Na, tungguin gue,” ucapnya. Namun terlambat karena sekarang gadis itu telah berada di dalam mobil.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang. “Mau belanja apa sih lo?” tanya Ciya. Padahal yang dia tahu pakaian pria itu sudah banyak, bahkan satu lemai juga tak cukup untuk menampungnya.
“Beli apa aja. Kalau ada yang gue suka ya gue beli,” ucapnya.
“Jangan boros!” Javier hanya terkekeh. Dia memang mendapatkan uang dari Daddy-nya tidak seperti Ciya yang sudah berpenghasilan.
Namun bukan berarti Ciya juga tak diberi uang saku, dia diberi, hanya saja dia manyimpannya. Sementara untuk hidupnya selama ini Ciya menggunakan uang dari hasil kerja kerasnya.
“Iya nanti gue simpan separo,” ja9abnya.
“Udah ratusan kali lo bilang gitu. Endingnya tetap aja uang saku lo habis dan minta lagi sama Daddy,” ucap Ciya.
“Udah ah jangan marahin gue mulu,” ucapnya saking kesalnya karena Ciya terus saja memarahinya.
“Bukan marahin, tapi gue ingetin lo buat jangan terlalu boros.”
“Iya-iya.”
Setelah itu mereka sama-sama diam hingga mereka tiba di tempat tujuan mereka. Javier pernah beberapa kali ke sini dulu sekali, jadi dia masih ingat tempat ini.
Sebuah distro yang sudah cukup terkenal dan produk mereka yang tak kalah bagus dengan produk luar berhasil menarik perhatian Javier.
“Udah sampai?” tanya Ciya saat Javier menghentikan mobilnya.
“Udah, yuk turun.” Javier turun lebih dulu dan disusul oleh Ciya. Ciya memandang bagian depan toko itu dengan bosan. Sudah bisa terbayangkan olehnya bagaimana dia akan merasa bosan nanti ketika menunggu Javier belanja.
“Gue tunggu di sini ya,” ucap Ciya sambil mendudukan dirinya di sebuah kursi yang memang disediakan oleh pemilik toko.
“Oke.” Dari sana Ciya bisa melihat barang apa saja yang dibeli oleh Javier. Bahkan pria itu tak hanya mengambil dua atau tiga baju. Entah berapa puluh baju yang dia ambil.
“Udah dibilang jangan boros, tapi masuk telinga kanan keluar telinga kiri,” desis Ciya.
__ADS_1
Tak hanya itu, Javier juga membeli beberapa sepatu dan juga topi. Entahlah Ciya harus mengingatkan pria itu seperti apa lagi. Dia sudah sangat lelah mengingatkannya.