Retisalya

Retisalya
See U Dad


__ADS_3

“Jangan bilang lo...”


“Iya. Ciya donor darah Ciya buat Kak Axel,” lirik Ciya. Dia tak menyesal, dia bersyukur karena saat ini sebagian darahnya mengalir pada tubuh Axel walaupun Axel tak mengetahui kebenarannya.


 “Lo gila?!” pekik Daania.


“Enggak, waktu itu kan kak Axel emang lagi perlu darah, masa Ciya sebagai pacarnya gak nolong sih,” ucap Ciya.


“Terserah lo deh, polos lo keterlaluan banget. Cape gue bilanginnya.” Daania beranjak dari sana, pergi meninggalkan Ciya dan Beyza.


“Yah Daan, mau ke mana?” tanya Beyza kebingungan. Dia bingung apakah harus di sini bersama Ciya atau menyusul Daania.


“Beyza pergi aja, Ciya tahu kalau Beyza mau nyusul Daania,” ucap Ciya.


“Hehehe, maaf ya Bry. Gue pergi dulu, bye.” Beyza berlari dengan kencang berharap bisa menyusul Daania.


“Kenapa pergi gitu aja sih, cape tahu gak.” Beyza mengatur napasnya saat langkahnya sudah sejajar dengan Daania.


“Habisnya kesel gue sama Ciya. Bisa-bisanya dibegoin sama Axel.” Kini mereka duduk di kursi taman yang ada di sekolah.


“Ya mau gimana lagi kalau cinta itu emang bikin buta dan sekarang Ciya lagi rasain itu,” jawab Beyza.


“Gue tahu dia suka sama kak Axel tapi gue gak mau dia sakit hati Cuma gara-gara cinta, Bey.” Daania mulai terlihat serius.


“Apa gue kasih perhitungan aja tuh cowok?” tanya Daania meminta pendapat Beyza.


“Udahlah, gak usah ikut campur. Itu masalah Ciya, biar Ciya yang urus semuanya.” Perkataan Beyza memang ada benarnya, tapi mana mungkin dia diam saja di saat sahabatnya disakiti seperti itu.


“Kenapa kalian marah-marah.” Seorang pria mendekat ke arah Daania dan Beyza. Bukan tanpa alasan, namun beberapa detik lalu pria itu mendengar nama Ciya disebut. Itulah alasan mengapa dia ingin tahu apa yang terjadi.


“Ah, Kak Kenji!” seru Beyza. Mamang hal yang jarang Kenji lakukan mengenai urusan orang lain, namun saat ini hal itu sepertinya berkaitan dengan gadis yang dia sukai.


“Bukan apa-apa, Kak,” jawab Daania.


“Gue tadi dengar lo sebut nama Ciya. Kenapa sama dia?” desak Kenji.


“Dia donorin darahnya buat kak Axel,” ucap Daania. Dia berbicara tanpa berpikir karena terlanjur kesal.

__ADS_1


Kenji menaikan sebelah alisnya karena tak mengerti. Dia memang belum mengetahui perihal kecelakaan Axel.


“Kak Axel kecelakaan beberapa hari lalu dan dia kehilangan banyak darah. Jadi, Ciya donorin darahnya buat kak Axel dan sekarang cowok gila itu malah nyakitin sahabat gue setelah apa yang Ciya korbanin untuknya!” Nada suara Daania kian meninggi seiring ingatannya mengingat hal menyebalkan itu.


Rahang Kenji mengeras.


“Begitu sukakah Ciya sama Axel?” desis Kenji hampir tak terdengar.


“Oke, gue pergi.” Kenji pergi dari sana dengan pikiran yang tak menentu.


Dia memang tak memiliki hak untuk marah karena Ciya mendonorkan darahnya untuk Axel, namun yang membuat dia marah adalah sikap Axel pada Ciya setelah apa yang dilakukan Ciya untuknya.


“Kak Kenji mau ke mana?!” Ciya berteriak memanggil kakak kelasnya itu. Pasalnya Kenji melewatinya begitu saja tanpa sapaan.


“Bukan urusan lo,” jawab Kenji. Dia masih merasa kesal dengan apa yang dikatakan Daania beberapa menit lalu. Kenji pergi dari sana mengabaikan Ciya yang masih setia berdiri di tempatnya.


Ciya menunduk, ternyata bukan hanya Axel yang tak menyukainya tapi semua orang sepertinya membencinya. Apakah Ciya semenyebalkan itu?


Ponsel yang berada dalam sakunya bergetar terus menerus menandakan ada telepon masuk. Ciya merogohnya dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


“Iya, Bunda ada apa?” tanya Ciya ceria.


“Bunda kenapa?” Ciya juga ikut panik karena isakkan Bundanya.


“Ciya pulang ya sayang,” lirih Bunda Jihan.


“Kenapa Bunda, ada apa?” Ciya mulai panik, perasaannya tak menentu saat ini.


“A-ayah u-udah pergi, Sayang.” Akhirnya Bunda Jihan mengucapkan apa yang ingin dia ucapkan.


“Ayah pergi ke mana? Ada pekerjaan?” tanya Ciya berusaha berpikir positif.


“A-ayah meninggal.” Dunia Ciya seakan runtuh begitu saja. Kakinya terasa lemas bahkan hanya untuk berpijak.


“Bunda bercandanya gak lucu.” Suara Ciya bergetar dengan air mata yang mulai berlomba-lomba untuk keluar dari mata sang tuan.


“Bunda gak bercanda. Kamu pulang ya,” lirihnya. Ciya mematikan sambungan telepon sebelum berlari dengan kencang.

__ADS_1


Dia tak memedulikan pandangan orang-orang padanya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalam membuktikan kebenaran tentang ucapan Bundanya.


Kenji menatap Ciya saat gadis itu melewatinya begitu saja. Dapat dia lihat dari ekor matanya bahwa gadis itu menangis. Tak hanya ada Kenji di sana, Axel dan Daisy juga melihat hal itu.


Jika Axel dan Daisy memilih acuh, maka tidak dengan Kenji. Pria itu segera menyusul Ciya.


Ciya kelimpungan di depan gerbang sekolah. Selama ini dia tak pernah pulang sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk berlari saja sebelum sebuah tangan mencekalnya.


“Ada apa?” tanya Kenji panik. Kepanikannya meningkat saat melihat wajah Ciya yang sembab dan memerah.


“C-ciya m-mau pulang,” lirihnya tergagap. Dia hampir tak bisa mengucapkan apapun.


“Tenang. Tarik napas lo, buang. Ngomong pelan-pelan, oke.” Kenji memegang kedua bahu Ciya berharap gadis itu bisa sedekit tenang dengan arahannya.


“Ciya mau pulang Kak Kenji.” Tangis Ciya pecah. Dia tak tahu lagi harus bagaimana.


“Oke oke kita pulang. Gue anter, tapi lo tenang. Jangan nangis.” Kenji pergi mengambil motornya di parkiran yang tak jauh dari sana.


“Naik!” Tanpa berpikir panjang, Ciya menuruti perintah Kenji. Kenji sendiri tak banyak bertanya. Dia akan tahu apa yang terjadi nanti setelah sampai di rumah Ciya.


Ciya benci melihat bendera kuning di depan rumahnya. Banyak orang berdatangan, jangan lupakan mobil ambulans yang terparkir di halaman rumahnya.


Kenji memucat. Dia salah karena meminta Ciya untuk tenang.


“Ayah!” teriak Ciya dari luar. Gadis itu berlari menuju ke dalam rumah. Di sana nampak Bundanya tengah memeluk Ayahnya yang terbaring dengan wajah pucatnya.


“Ciya, sini sayang.” Ciya memeluk bundanya dengan erat.


“Aaakhh Bunda, A-ayah Ciya gimana?” Ciya meraung di pelukan sang Bunda. Dunia, harapan dan mimpinya seakan hancur begitu saja. Semua kebahagiaannya direnggut.


“Ciya jangan sedih Sayang, masih ada Bunda.” Bunda Jihan berusaha menenangkan putrinya walaupun saat ini dia juga butuh penenang.


Sementara di sana, kenji melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk ke dalam rumah Ciya. Jantungnya berpacu dengan cepat seakan kejadian waktu itu terulang lagi.


Kematian memang hal yang sangat menakutkan. Memang bukan kita, tapi itu akan meninggalkan trauma pada orang yang ditinggalkan.


“Aku tahu rasanya,” lirih Kenji.

__ADS_1


 


__ADS_2