
“Bunda gak mau tahu ya, pokoknya ruang tamu Bunda harus balik kaya semula,” tegas bunda Jihan.
Sungguh luar biasa, setelah pulang kerja bukannya disuguhi pemandangan rumah yang rapi nan bersih justru malah menampakkan ruang tamu yang sudah seperti kapal pecah.
“Iya Bunda, nanti Ciya beresin,” jawab Ciya dengan mulut penuh makanan. Jangan lupakan saos yang masih menempel di ujung bibirnya.
“Iya Tante, nanti kita beresin semuanya sampai bersih.” Daania berucap dengan sangat yakin. Walaupun gadis itu tak pandai berbenah, tapi untuk saat ini dia harus membujuk bunda Ciya untuk mempercayainya.
Urusan berbenah, mungkin dia akan menyerahkannya pada Ciya.
Bunda Jihan menghela napas kasar. Kapan putrinya ini akan dewasa, pikirnya.
“Udahlah Bun, lagian Cuma berantakan sedikit.” Ayah Ciya mencoba menenangkan istrinya. Malvin Alvendra adalah ayah yang sangat Ciya sayangi. Karena apa? Ya seperti ini, ayahnya selalu membela dan memanjakannya.
Ayah Malvin merangkul kedua pundak istrinya dan membawanya ke kamar mereka.
“Jangan lupa bereskan, Sayang,” teriak sang ayah saat sudah berada di ambang pintu kamarnya.
“Siap Ayah!” Ciya mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kepala memberi hormat pada ayahnya.
“Ahh kenyang banget. Oke karena orang tua lo udah balik, jadi gue juga balik ya,” pamit Daania pada Ciya.
Sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja agar tidak ikut berbenah bersama Ciya. Dapat kalian bayangkan bagaimana kacaunya ruang tamu jika di sana berada dua orang gadis dan jangan lupakan makanan yang tak terhitung banyaknya.
“Yahh kok gitu, Daania bantuin Ciya dulu,” rengek Ciya. Gadis itu memohon pada Daania dengan mulut yang masih penuh dengan makanan hingga kedua pipinya mengembung.
“Sorry nih ya, tapi ini udah sore banget. Nanti orang tua gue nyariin lo mau tanggung jawab?” tanya Daania.
Ciya menggeleng pelan dengan wajah melas.
“Nah, ya udah. Lo beresin sendiri aja ya, gue pulang. Gue janji besok gue traktir bakso mang Udin.” Daania mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
“Janji ya?” Ciya memastikan perkataan Daania.
“Janji!”
Mereka berdua menautkan jari kelingking mereka layaknya anak kecil yang tengah berjanji.
***
“Duduk! Bunda mau bicara.” Lylia menatap tajam putrinya.
Helaan napas terdengar dari gadis dengan setelan kantor itu. Dasi yang melingkar di lehernya sudah sedikit melonggar.
__ADS_1
Dengan terpaksa gadis itu duduk berhadapan di sofa ruang tamu rumahnya.
“Jadi?” tanya gadis berambut panjang itu.
“Apa yang kamu katakan pada adikmu hingga dia sangat membenci Bunda?” Netranya beradu dengan netra lawan bicaranya.
Tanpa diduga, putrinya itu berdecak dengan tatapan meremehkan.
“Apa yang aku katakan? Kau bertanya apa yang aku katakan pada Axel?” Suara tawa aneh menggelegar di tengah suasana sepi di rumah itu.
“Astaga, apa kau bercanda?”
“Pikirkanlah apa yang kau perbuat hingga putra putrimu menjadi seperti ini?” Gigi gadis muda itu bergemeletuk dengan rahang yang mengeras.
“Masih kurang jelas? Harus aku perjelas?” lanjutnya.
“Aku harus mulai dari mana?”
“Saat kau pulang larut malam dengan kondisi mabuk? Atau, saat kau dengan berani menampar suamimu sendiri?” Gadis itu masih berpikir.
“Ahh, atau saat kau berduaan dengan laki-laki lain tanpa busana?”
“Evelyn Nayara!” bentak sang bunda.
“Ya Bunda Lylia?” jawab Evelyn dengan nada mengejek.
Putri sulung dari Lylia Jazima dan Zayyan Zanerka itu kini menatap remeh bundanya. Dia tahu saat ini dia terlampau kurang ajar, namun bagaimana dia harus menghadapi bundanya yang tak tahu malu ini?
Gadis itu kehabisan kata-kata.
Tak lama sejak perdebatan mereka, Axel datang dengan tas besarnya. Dia baru saja pulang dari rumah Dylan. Jika saja kakaknya ini selalu ada di rumah, mungkin dia tak harus menginap di tempat temannya.
“Dari mana?” tanya Evelyn. Pandangannya melunak saat melihat sang adik datang.
“Rumah Dylan,” jawabnya singkat.
Bagi Evelyn hal itu bukan lagi hal baru. Jika rumah temannya sudah menjadi pelarian bagi Axel, berarti ada yang terjadi di rumah ini.
“Apa lagi kali ini?” Evelyn memegang keningnya. Axel mendudukkan diri di samping kakaknya.
“Dia tak mengatakannya?” tanya Axel. Matanya menatap Lylia.
Evelyn menggeleng. Walaupun sepertinya dia sudah tahu apa yang terjadi di rumah ini, dia tetap menanyakan kepastian pada adiknya itu.
__ADS_1
“Hal ‘itu’ dengan orang biasa,” kata Axel.
“Axel! Apa yang kamu katakan?” Lylia mencoba menyanggah apa yang dikatakan putranya.
“Aku mengatakan yang sebenarnya,” jawabnya. Dia sudah lelah berdebat dengan bundanya. Bunda yang seharusnya menjadi contoh dan menjadi tempat pulang namun bagi mereka bunda adalah sosok yang selamanya akan menjadi trauma.
Lylia menghela napasnya. Dia sudah tak bisa berkutik. Seberapa keras pun dia menyanggahnya, kedua anaknya sudah mengetahui dengan jelas apa yang dilakukannya.
“Aku akan keluar dari rumah ini.” Perkataan Axel sukses membuat Lylia dan Evelyn menatap pria itu.
“Apa maksudmu?” tanya Evelyn.
“Aku akan menjelaskannya nanti.” Axel memberi kode pada kakaknya agar menunggunya untuk bercerita. Dia tak ingin bundanya tahu ke mana dia akan pergi.
Axel melangkah menuju kamarnya saat dirasa Evelyn mengerti dengan maksudnya.
“Sudahlah, aku sedang tak ingin berdebat.” Evelyn juga meninggalkan bundanya menuju kamar. Pekerjaan yang menumpuk sudah mempu membuatnya pusing tujuh keliling belum lagi masalah keluarganya yang tak tahu kapan akan selesai.
Gadis itu merebahkan badannya di atas kasur. Helaan napas terdengar saat putus asa. Dia memang sudah memiliki apartemen sendiri itu sebabnya dia jarang pulang ke rumah.
Dia pulang ke rumah hanya jika sedang mengkhawatirkan adiknya. Tapi sepertinya sekarang dia tak perlu khawatir karena Axel juga akan keluar dari sana.
***
Hari terus berganti namun matahari seakan bosan terus menunjukan dirinya hingga hari ini dia tak muncul. Keberadaannya tergantikan oleh petir yang terus berkilatan di langit pagi hari ini.
Axel berdiri sejenak di teras rumahnya menatap langit yang sepertinya tak berniat untuk menghentikan hujannya.
Baru saja dia akan melangkahkan kakinya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Dylan, pria itu melambaikan tangannya dari dalam mobil memberi kode pada Axel untuk masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa membuang waktu, Axel segera berlari menuju mobil tanpa memedulikan bajunya yang basah.
“Kenapa gak pake payung, bego,” ucap Dylan.
“Males,” jawabnya.
Dylan melajukan mobilnya membelah hujan di jalanan yang sepi. Cuaca memang tak mendukung saat ini, namun bagi Axel cuaca seperti ini lebih terasa nyaman.
“Gimana? Lo udah putusin,” tanya Dylan. Sejenak pria itu menatap Axel yang ada di sampingnya.
“Udah,” jawabnya.
“Jadi ...” Dylan menunggu jawaban Axel, namun pria itu malah menghela napas dalam.
__ADS_1