
Tibalah mereka di sebuah cafe terdekat. Yang membuatnya istimewa adalah letak kafe itu yang berada di rooftop. Beyza menganggap mereka akan nyaman bila bercerita di sana.
"Gimana suka gak?" tanya Beyza meminta pendapat Ciya dan Javier.
Javier dan Ciya terlihat memandangi kafe itu dengan seksama. Kafe dengan tema outdoor seperti ini mungkin akan sangat indah dan nyaman jika musim kemarau. Ketika musim hujan tiba, semuanya akan tutup.
"Oke sih," jawab Ciya setelah dia rasa menular kafe itu.
"Kita duduk di sana biar gue yang pesan. Minumnya lo mau apa?" tanya Daania.
"Apa aja samain sama lo." Daania mengangguk dan segera memesan.
Sementara yang lainnya menuju kursi yang menjadi pilihan mereka. Daania menghampiri mereka setelah selesai memesan.
"Lo udah berada hari di sini?" tanya Beyza. Dia belum menanyakan ini pada Ciya karena saking terkejutnya gadis itu.
"Emm mungkin sekitar tiga sampai empat hari kalau gak salah. Iya kan?" Ciya meminta pendapat Javier karena dia juga merasa lupa dengan itu.
"Iya sekitar segitu," jawab Javier.
Daania datang setelah dia selesai memesan. Dia mengambil tempat di sebelah Beyza.
"Oh iya gue mau minta sesuatu sama kalian," ucap Ara yang berhasil membuat Beyza dan Daania saling berpandangan dibuatnya.
"Apa?" tanya Daania setelahnya.
"Gue mohon jangan kasih tau tentang keadaan gue sekarang dan apa yang terjadi lima tahun lalu sama orang-orang. Biarin aja orang anggap kalau gue udah mati," pinta Ciya dengan sangat memohon.
"Kenapa lo mau kaya gitu?" tanya Beyza.
"Biarin kaya gitu aja. Gue gak mau lagi berurusan sama orang-orang yang ada di masa lalu gue. Gue udah capek," jawab Ciya.
Daania dan Beyza paham dengan apa yang dimaksud gadis itu. Tentu saja mereka paham karena dulu mereka jadi saksi betapa menyedihkannya hidup Ciya hanya karena seorang pria saja.
"Oka tenang aja. Kita gak bakal bilang ini sama siapapun. Lagian juga kita udah jarang ketemu sama mereka," jawab Daania yang disetujui oleh Beyza.
"Selain lo gak mau mereka tahu tentang lo, apa lo juga gak mau tau tentang mereka?" Pertanyaan Daania yang satu itu berhasil membuat Ciya mematung untuk sesaat. Dia bingung, dia ingin tahu tapi dia takut. Dia takut dengan tahunya dirinya tentang mereka akan membuat masalah baru dalam hidupnya.
"Gue gak maksa kok. Cuma nanya aja, kali aja kan lo penasaran," sambung Daania.
"Mau, gue mau tau." Akhirnya Ciya memutuskan untuk tahu apa yang terjadi pada mereka. Biarlah dia akan menyelesaikan masalah apapun itu nanti. Yang dia tahu saat ini adalah dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada orang-orang itu setelah kepergiannya.
__ADS_1
"Lo tau? Daisy sekarang ada di rumah sakit jiwa," ucap Daania.
Ciya tak terlalu terkejut, mungkin setelah kejadian gadis itu menyakitinya, Daisy berubah dan sekarang menjadi dokter di rumah sakit jiwa.
"Dia kerja di sana?" tanya Ciya. Dia sangat iri dengan teman satu angkatannya karena mereka sudah bekerja sementara dia masih berkutat dengan banyak tugas yang dikasih oleh Profesor.
"Bukan, dia gak kerja. Dia jadi pasien di sana." Saat itulah mata Ciya terbelalak. Dia terkejut luar biasa setelah mendengar hal itu.
"G-gimana bisa," lirih Ciya. Walau Daisy dulu pernah menyakitinya, tapi bukan berarti rada iba Ciya pada gadis itu hilang. Dia merasa kasihan pada gadis itu.
"Gue juga gak tau apa yang dipikirin dia sampai otaknya keganggu kaya gitu. Yang gue tau sekarang dia di rumah sakit jiwa," jawab Daania.
"Terus yang lainnya?" Ciya kembali bertanya.
"Bunda lo gak cerita tentang Kenji? Dia sering datang ke rumah lo kok," jawab Beyza.
"Ada, Bunda cuma cerita kalau Kak Kenji sering datang ke rumah. Cuma itu aja," jawab Ciya.
"Dia sekarang kerja di perusahaan yang gak terlalu besar. Dia jadi karyawan biasa, padahal Ayahnya pemilik perusahaan besar," ucap Beyza.
"Terus kenapa gak lanjutin perusahaan Ayahnya aja?" Ciya juga sedikit penasaran dengan hal itu.
"Dia dipenjara," sambung Beyza.
"Tapi bukannya tahun ini dia keluar ya?" Daania bertanya karena tak yakin.
"Gue gak yakin juga sih, tapi kayanya gitu," jawab Beyza.
"Yang satu lagi lo juga mau tau?" Daania bertanya pada Ara terlebih dahulu karena takut jika Ara tak ingin membicarakan pria itu.
Ciya menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau. Udah cukup," jawab Ciya. Ciya belum siap mendengar cerita tentang orang yang pernah ada di hatinya itu.
Beyza dan Daania mengangguk mengerti dan menghentikan penjelasan mereka sampai di sana.
"Gue malah nanya tentang orang lain. Terus sekarang kalian kerja di mana? Udah kerja kan?" tanya Ciya. Gadis itu sesekali meneguk minumannya.
"Hmm kita udah kerja. Gue Pramugari sekarang," ucap Beyza sambil tersenyum. Cita-cita yang dulu sangat dia impikan akhirnya bisa tercapai.
"Lo?"
"Gue perawat di rumah sakit," jawab Daania.
__ADS_1
"Rumah sakit mana?" Javier ikut bertanya penasaran.
"Kwangya Hospital." Mendengar hal itu, Ciya dan Javier terbelalak sambil tersenyum.
"Kenapa?" tanya Daania merasa aneh.
"Itu rumah sakit bokapnya dia," jawab Ciya sambil menunjuk Javier.
"Oh ya?!" Daania terkejut. Dunia begitu sempit dia rasa.
"Hmm. Kita ke sini juga salah satunya karena ada hal mendesak di rumah sakit," jawab Ciya.
"Hemm lo benar. Direktur rumah sakit tiba-tiba aja ngundurin diri, jadi posisinya kosong. Tapi sekarang udah keisi lagi kok," jawab Daania.
"Syukurlah kalau udah selesai. Mungkin kita bisa balik ke Inggris lebih cepat," jawab Ciya.
"Yah, jangan gitu dong. Gue masih mau main sama lo," rengeh Beyza.
"Berdo'a aja biar gue lebih lama di sini," kekeh Ciya.
Mereka melanjutkan makan diselingi dengan pembicaraan ringan.
"Na, kayanya kita harus pulang deh." Javier berkata setelah dia melihat ponselnya.
"Kenapa?" Ciya masih ingin bersama teman-temannya. Ada apa sampai mereka harus pulang.
"Daddy sama Mommy udah di rumah. Mereka minta kita pulang sekarang," jawab Javier.
"Gue juga gak tau ada apa, yang jelas mereka minta kita pulang." Ciya sangat kecewa dan sedih karena harus pulang sekarang. Awalnya dia akan menghabiskan waktu dengan temannya itu sampai sore tiba.
"Ya udah deh. Sorry ya, gue harus pulang," cicit Ciya.
"Gak apa-apa, yuk kita juga pulang. Nanti kapan-kapan kita lanjut lagi." Beruntung mereka sudah selesai dengan makannya.
Mereka pulang setelah membayar makanan mereka dengan Javier yang mengantar Beyza dan juga Daania terlebih dulu.
"Hati-hati di jalan ya. Kapan-kapan kita main lagi," ucap Beyza setelah dia tiba di rumahnya.
"Hmm see u!!" Ciya melambaikan tangannya dan segera melaju untuk pulang.
"Kenapa ya tiba-tiba disuruh pulang?" tanya Ciya.
__ADS_1