
Bukannya semakin membaik, kini keadaan Ciya semakin memburuk. Serangkaian pengobatan yang Ciya lakukan sepertinya tak membuat kemajuan.
Sangat terlihat dari penampilan fisiknya. Pipi yang dulu terlihat chubby kini terlihat sangat tirus. Berat badan Ciya juga berkurang banyak.
“Ada lagi yang kamu mau?” tanya Kenji. Ya, mereka kini ada di sebuah kedai es krim yang cukup terkenal di kota itu.
Semua itu karena keinginan Ciya dan kalian tahu sendiri jika Kenji benar-benar tak bisa menolak keinginan pria itu.
“Emm, Ciya mau beli baju, Kak.” Ciya menampilkan senyumannya.
“Oke kita berangkat!” jawab Kenji semangat.
“Bentar ah, Ciya masih mau nambah,” ucap Ciya.
“Lagi?” Tentu saja Kenji merasa heran dengan perut gadis kecil di hadapannya ini. Bagaimana bisa perut itu menampung banyak makanan? Ini sudah cup ketiga yang Ciya pesan.
Ciya mengangguk yakin. Dan lagi-lagi, tanpa bisa menolak, Kenji memesankan lagi satu cup es krim.
“Ini yang terakhir ya.” Kenji memeringati Ciya. Bukan sayang pada uangnya, namun dia sayang pada gadis di hadapannya. Dia tak ingin Ciya sakit karena terlalu banyak memakan es krim.
“Iya ini yang terakhir,” ucap Ciya sebelum kemudian menyendok es krim ke dalam mulutnya.
“Kakak gimana sekarang? Udah lebih baik?” tanya Ciya.
Kenji yang tak memahami arah pembicaraan Ciya menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.
“Hubungan Kakak sama ayahnya Kakak,” lanjut Ciya. Dia sudah tak lagi ragu untuk membahas tentang masa lalu Kenji.
Justru semakin Ciya sering membahasnya, Kenji akan semakin terbiasa nantinya. Jadi, di waktu luang seperti ini Ciya akan dengan sengaja membuka pembahasan itu.
“Emm, waktu itu... Hari di mana Kenji tanpa sadar menceritakan segalanya pada Ciya, Kenji sempat pulang sebentar, walaupun rasa benci masih mendominasi dalam hatinya, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia juga mengkhawatirkan ayahnya.
Entah suatu kebetulan atau memang ayahnya sudah tahu jika dirinya akan pulang, kini pria paruh baya itu tengah duduk sambil melihat ponselnya di ruang tamu.
Lama tak jumpa membuat Kenji pangling pada penampilan Ayahnya. Tubuhnya yang terlihat kehilangan berat badan dan wajahnya yang sedikit pucat menarik perhatian Kenji.
“Ada apa denganmu?” tanya Kenji. Sudah dia katakan, bahwa dia masih khawatir pada Ayahnya.
“Tak apa. Hanya sedikit demam,”’ jawab Ayahnya.
__ADS_1
Kenji berjalan ke arah lemari yang ada di ruang tamu itu. Tangannya bergerak untuk membuka salah satu pintu lemari dan mengambil kotak putih dari sana.
“Minumlah!” Kenji menyodorkan obat lengkap dengan air minumnya.
Tanpa mebantah sedikitpun, Devan segera meneguk obat itu. Lagi pula saat ini kepalanya memang terasa sangat pening.
Setelah perdebatan dengan putranya kala itu, Devan teringat dengan mendiang istrinya. Rasa bersalah mulai muncul. Itulah sebabnya beberapa hari lalu dia pergi ke rumah mantan istrinya. Tempat peristirahatan terakhirnya.
“Kenji, ada yang ingin Ayah bicarakan.” Devan menahan lengan Kenji agar tak pergi dari sana.
Tanpa menjawab sepatah katapun, Kenji menghela napas dan duduk di kursi dekat Ayahnya.
“Malam itu, kamu melihat semuanya?” tanya Ayah Devan Ragu.
Dengan sekuat tenaga Kenji menahan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Jika saja kuku jarinya panjang, mungkin pria itu sudah melukai tangannya sendiri.
“Lalu, bisa kamu katakan apa saja yang kamu lihat malam itu?” tanya Ayah Devan.
“Haruskah aku perjelas semuanya?” sindir Kenji. Bagaimana dia bisa melupakan kejadian mengerikan itu?
“Harus ku mulai dari mana?” tanya Kenji.
“Aku medengar suara barang berjatuhan, teriakan bunda yang memilukan, dan aku melihat darah mengalir dari kepala bunda. Ah, botol kaca yang kau pegang dengan berlumuran darah, aku juga melihat itu,” jelas Kenji tanpa melewatkan satu kejadianpun.
“Apa hanya itu?”
“Maksudmu?”
“Orang yang menyerang bundamu, kau melihatnya?” Pertanyaan Ayah Devan membuat Kenji mematung. Dia tak melihatnya, namun dia berasumsi bahwa ayahnya yang melakukannya karena botol berlumuran darah itu ada di tangan Ayahnya.
“Bu-bukannya kau yang melakukannya?” Devan tersenyum getir. Ternyata benar yang dia duga, selama ini putranya menyangka dialah yang membunuh Bundanya.
“Apa maksud dari senyumanmu itu?” Kenji mulai panik.
“Seberat apapun Ayah mabuk, Ayah tak akan pernah melakukan semua itu pada Bundamu. Ayah mengakui tentang Ayah yang tidak segera menolong Bunda, mungkin karena pengaruh alkohol. Tapi, yang membuat Bundamu seperti itu, sungguh bukan Ayah,” jelasnya.
Kenji mematung. Setelah sekian tahun berlalu mengapa Ayahnya baru mengatakan semua itu sekarang?
“Kau tak sedang berbohong, kan?” tanya Kenji.
__ADS_1
Devan mengangkat kepalanya. Air mata telah bercucuran membasahi pipinya.
“Tidak. Ayah selalu berusaha mengingat kejadian malam itu dan selalu gagal. Mungkin ini memang rencana Tuhan, Ayah baru bisa mengingat semuanya beberapa hari lalu.”
Deg
Kenji terperanjat dengan pengakuan Ayahnya.
“Lalu siapa orang di balik semua ini?” lirih Kenji. Jadi selama ini dia sudah membenci orang yang salah?
Devan menyerahkan sebuah flashdisk pada Kenji. “Kau akan menemukan jawabannya di sini,” ucap Devan.
Kenji sedikit terpaku dan dengan gemetar mengambil flashdisk yang diserahkan Ayahnya.
“Aku hanya meminta agar kau selalu berhati-hati.” Itulah ucapan terakhir yang dikatakan Ayah Devan sebelum pria paruh baya itu pergi ke arah kamarnya.
“Hanya itu yang dia katakan,” ucap Kenji mengakhiri ceritanya.
“Jadi siapa sebenarnya? Kakak udah lihat isi flashdisknya?” tanya Ciya penasaran.
Kenji menggeleng. Sudah beberapa hari sejak Ayahnya memberikan flashdisk itu, namun nyalinya tak cukup untuk melihat siapa orang yang telah tega melakukan itu pada Bundanya.
“Kenapa? Kita harus cepat. Siapa tahu kita bisa buka kasus ini lagi dan menghukum pelakunya.”
Kenji sedekit berpikir tentang apa yang dikatakan Ciya. Ada benarnya. Kenji harus mendapatkan keadilan atas apa yang terjadi pada Bundanya.
“Mau lihat bersama?” tawar Kenji.
Ciya mengangguk semangat.
“Ciya, ada satu lagi yang belum aku ceritain ke kamu,” ucap Kenji.
“Apa?” Ciya masih setia menyuap es krim ke dalam mulutnya.
“Kamu tahu kenapa aku sama Axel selalu ribut?” tanya Kenji. Ciya menggeleng, dia tak pernah terpikirkan hal itu. Dia kira, mereka bertengkar hanya karena masalah gadis atau pertengkaran singkat saja.
“Bunda Axel adalah selingkuhan Ayah dan aku pikir Ayah membunuh Bunda karena ingin bersama dengan Bundanya Axel. Tapi, jika kebenarannya Ayah tak membunuh Bunda, aku juga gak tahu apa yang terjadi dengan semuanya,” jelasnya.
Netra Ciya terbelalak. Dia tak pernah menyangka akan hal itu, semuanya cukup rumit untuk dia cerna.
__ADS_1
“Terus bagaimana dengan kak Axel?” tanya Ciya. Meskipun saat ini Kenji ada di hadapannya, namun ternyata gadis itu lebih memedulikan keadaan Axel.