Retisalya

Retisalya
Kenangan Kelam Kenji


__ADS_3

"Lo gak apa-apa?" tanya orang yang baru saja membawa Ciya pergi dari hadapan Axel.


"Kak Kenji?" lirih Ciya.


"Hmm," jawab Kenji.


"Makasih, Kak."


"Mau cerita?" tawar Kenji.


Saat ini mereka berada di rooftop. Tempat favorit siswa siswi untuk menenangkan pikirannya.


Ciya menggeleng. Dia memang butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya, namun dia ragu untuk bercerita pada Kenji.


"Oke gak apa-apa. Lo boleh cari gue kalau lo berubah pikiran," ucap Kenji.


"Kak," lirih Ciya pelan.


Kenji mendongak menatap netra Ciya menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.


"Emang Ciya kaya sampah ya?" tanya Ciya. Isakkan kecil mulai keluar dari bibir Ciya. Gadis itu tak bisa lagi menahan rasa sakit di dadanya.


"Siapa yang bilang?" respon Kenji. Mata Kenji seakan menerawang menatap langit biru.


"Orang yang bilang gitu sama lo gak pantas buat lo perjuangin. Semua cewek itu adalah permata yang harus di lindungi. Tapi... "


"Gue gagal lindungin wanita yang gue sayang," lirihnya di akhir kalimat.


Ya. Kenji melihat dan mendengar sendiri apa yang dilakukan dan dikatakan Axel pada Ciya.


Bukan sok pahlawan membela Ciya, tapi entah mengapa hati kecilnya mengatakan bahwa dia harus membawa Ciya keluar dari sana saat itu.


"Maksud Kakak?" tanya Ciya saat mendapatkan perkataan Kenji yang janggal.


"Nyokap gue. Gue gagal jaga dia sampai dia ninggalin gue buat selamanya," jawabnya.


Entah sadar atau tidak, tapi ini kali pertama Kenji menceritakan masalah hidupnya pada orang selain Dzikri.


Malam itu, malam di mana awal dari rasa sakit Zafien Kenji.


Hujan mengguyur kota seakan Tuhan menumpahkan seluruh air ke muka bumi ini.


Kenji yang sedang tertidur lelap terpaksa harus terjaga karena suara barang yang berjatuhan dari luar kamarnya.


"Apa sih?" ucapnya. Tidur nyenyaknya harus terganggu karena hal itu.


Kenji melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, di mana suara itu berasal.

__ADS_1


Perlahan suara jerit tangis juga mulai terdengar di indera pendengarannya.


Mata Kenji terbelalak saat melihat hampir semua barang di sana berjatuhan.


Tak hanya itu, Bundanya dan Ayahnya juga ada di sana. Posisi yang membuat tubuh Kenji benar-benar lemas.


Cairan merah segar mengalir membasahi lantai rumahnya, pusat darah itu dari kepala sang Bunda.


"Bunda," lirihnya. Langkahnya memelan. Tenggorokannya seakan kering, dia tak mampu mengucapkan apapun lagi.


"Kenji~ suruh Bunda kamu bangun!" teriak sang Ayah. Kenji tahu jika saat ini sang Ayah tengah berada di bawah pengaruh minuman keras.


Botol yang digenggam Ayahnya kini berlumuran dengan darah yang masih menetes.


"Apa yang Ayah lakukan?!!" teriak Kenji murka. Wajahnya memerah antara ketakutan dan rasa marah yang memuncak.


"Aku tak melakukan apapun~" ucap Ayahnya yang kemudian pergi dari sana dengan langkah sempoyongan.


Kenji beralih menatap Bundanya. Wanita itu tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


"Bun, Bunda bangun." Kenji meraung membawa tubuh Bundanya ke dalam pelukan.


"Ambulans, ambulans," lirih Kenji dengan panik. Dia kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Tak lama ambulans datang. Bunda Kenji segera dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, para perawat mencoba menghentikan pendarahan itu.


"Tolong selamatkan bunda saya," ucao Kenji pada dokter yang akan menangani Bundanya setelah sampai di rumah sakit.


Kenji berjalan mondar-mandir di hadapan UGD karena hatinya yang tak tenang.


Pintu UGD terbuka, terlihat seorang dokter membuka masker yang semula dia kenakan.


"Keluarga pasien?" tanya Dokter itu.


"Ya saya, Dok." Kenji segera menghampiri dokter itu.


"Maaf, Nak. Dengan berat kami harus mengatakan bahwa pasien tidak bisa diselamatkan." Dunia Kenji seakan runtuh begitu saja setelah mendengar penuturan sang Dokter.


Terlambat. Dia terlambat keluar dari kamar dan menolong Bundanya. Bundanya meninggalkannya adalah salahnya.


Tanpa sadar, Kenji menceritakan semuanya. Kronologi Bundanya bisa meninggal pada Ciya.


"Bukan salah Kak Kenji, Tuhan sayang Bundanya Kak Kenji, jadi dia mau ketemu Bundanya Kakak lebih cepat. Kakak jangan sedih." Ciya mengusap punggung Kenji.


Kenji yang mendapatkan usapan lembut itu merasa sangat nyaman. Rasanya bebannya sedikit terangkat.


"Itu alasan kenapa gue narik lo dari sana. Gue gak mau terlambat lagi, gue ga mau lagi kehilangan wanita yang berharga buat gue." Kenji menatap netra Ciya dengan lekat.

__ADS_1


"Gue suka sama lo," lanjut Kenji.


Air mata Ciya berhenti begitu saja. Netranya membulat sempurna. Apakah dia baru saja menerima pernyataan suka?


"Ah. Gue gak butuh jawaban lo. Gur cuma mau lo tahu perasaan gue aja." Kenji berdiri dengan tiba-tiba.


Dia baru saja merutuki dirinya yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.


Kenji pergi dari sana menyisakan Ciya dan segala perasaan bingungnya. Ciya masih mematung di tempatnya saat Kenji meninggalkan rooftop.


"Kak Kenji suka Ciya?" monolognya. Ciya menggelengkan kepalanya.


"Ahh gak mungkin, Kak Kenji cuma mau hibur Ciya aja kali ya," ucapnya sambil melangkahkan kakinya untuk meninggalkan rooftop.


Di jalan menuju kelas, Ciya berpapasan dengan Daisy dan Axel yang tengah berjalan beriringan sambil berbincang.


Ciya menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah karena menangis.


"Dari mana lo?" tanya Daania saat Ciya baru saja sampai di kelas.


"Tadi ada Axel di sini, tapi dia kok pergi sama Daisy sih?" lanjut Daania.


Ciya tersenyum, namun Daania tahu jika senyum yang ditampilkan Ciya saat ini adalah senyum palsu.


"Ciya dari toilet. Tadi perut Ciya sakit. Kayanya kebanyakan makan," ucap Ciya berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.


"Gak usah bohong. Gue tahu ya," ancam Daania. Beyza yang juga ada di sana ikut mengangguk setuju dengan Daania.


"Jadi, lo gak mau cerita?" ancam Beyza.


Ciya memutar bola matanya jengah. Dia memang tak pandai berbohong apalagi pada kedua sahabatnya ini.


"Ciya putus sama kak Axel. Kak Axel gak suka sama Ciya," ucap Ciya sambil tersenyum.


"Terus selama ini?..."


"Ciya juga gak tahu apa alasannya. Tapi, Ciya lihat kak Axel suka sama Daisy," lanjut Ciya.


"Gue udah ingetin lo dari dulu," kesal Daania.


"Mulai kapan lo tahu kalau dia gak suka sama lo?" Kali ini Beyza yang bertanya.


"Waktu di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit, Ciya mau mapah kak Axel tapi dia ngehindar." Ya, Ciya ingat dengan jelas bagaimana Axel menghindarinya waktu itu.


"Kenapa lo sampai nginap waktu itu? Kan lo bisa pulang aja, gue tahu kalau bokap, nyokap lo gak bakal kasih ijin lo nginap di rumah sakit."


"Jangan bilang siapa-siapa, okey?" Ciya mengacungkan jari kelingkingnya meminta kedua sahabatnya ini untuk berjanji padanya.

__ADS_1


"Kak Axel kehilangan banyak darah waktu itu. Jadi..."


"Jangan bilang lo..."


__ADS_2