
Setelah kejadian di lapang basket siang itu, Kenji segera menghampiri Ciya dan memberikan sebuah tinjuan di wajah Axel.
Axel memang tak tahu mengenai penyakit Ciya, namun haruskah dia sekasar itu pada Ciya, terlebih Ciya adalah seorang wanita.
Dengan cekatan Kenji membawa tubuh Ciya yang sudah meluruh. Dia tahu penyakit Ciya kembali kambuh saat gadis itu menonton pertandingannya.
“Kak Kenji, besok Ciya titip absen ya,” ucap Ciya sedikit terkekeh. Dia tak ingin melihat Kenji sedih karena keadaannya.
Kenji mengangguk. Kedua sahabat Ciya baru saja pulang beberapa waktu lalu.
Kini Ciya terbaring di brankar rumah sakit dengan selang oksigen yang sangat setia menemani harinya.
Keadaannya semakin menurun setelah kejadian di lapangan basket itu.
“Jangan lama-lama titip absennya, kamu harus sekolah lagi,” bisik Kenji. Ciya mengangguk dengan senyum simpulnya.
“Kak,” panggil Ciya pelan.
“Hmm.”
“Masih banyak tahu hal yang mau Ciya lakuin tapi belum kesampaian,” ucapnya.
“Kalau gitu kamu harus sembuh biar bisa tuntasin semuanya.”
“Hmm, Ciya juga mau sembuh. Tapi kenapa rasanya tubuh Ciya makin lemah ya.”
“Di sini, rasanya selalu menyakitkan dan hari demi hari rasa sakit itu kian bertambah,” ucap Ciya sambil memegang dadanya.
“Kamu ingat berapa kali hati kamu sakit karena Axel?” Kenji menatap lekat netra Ciya sebelum melanjutkaan ucapannya.
“Kamu juga pasti ingat berapa kali kamu kembali tersenyum dan kembali berjuang setelah penolakan itu.”
“Kamu gadis kuat. Sama seperti kamu mengabaikan rasa sakit yang diberikan Axel dan kembali berjuang, dalam keadaan inipun aku harap kamu bisa seperti itu.”
“Kembali bangkit walau berulang kali rasa sakit itu terus menggerogoti sampai rasa sakit itu menyerah menggerogoti tubuh kamu dan kamu kembali sehat.”
“Kamu ngerti maksud aku kan?”
Perlahan namun pasti air mata Ciya mengalir saat mendengar penuturan Kenji. Memang benar apa yang dikatakan pria itu.
Dia bisa kembali bangkit di tengah terpaan rasa sakit yang diberikan Axel, lalu mengapa dia harus menyerah dengan rasa sakit yang ada di tubuhnya?
Dia harus sembuh apapun yang terjadi.
“Ciya mau sembuh,” ucap Ciya bertekat.
__ADS_1
Ada rasa lega yang menjalar di hatinya saat Ciya berucap demikian. Seolah-olah dia masih memiliki kesempatan untuk menjaga Ciya lebih lama lagi.
*****
Seperti yang dikatakan gadis itu tempo hari, saat ini Kenji benar-benar membantu Ciya untuk menyampaikan surat sakit ke kelas Ciya.
Daania dan Beyza sudah tidak lagi terkejut dengan ketidak hadiran Ciya karena mereka sudah mendapat kabar langsung dari Ciya.
“Miris ya lihat cowo brengsek yang sekarang lagi mesra-mesraan sementara di sana orang yang mempertaruhkan nyawanya buat dia lagi memperjuangkan hidupnya.” Daania sengaja mengeraskan suaranya agar Axel dapat mendengar perkataannya.
Dia sangat berharap pria itu peka dengan apa yang dikatakannya. Axel yang merasa perkataan itu ditujukan padanya segera menoleh ke arah Daania.
“Apa maksud lo?” tanyanya. Tangannya masih setia menggenggam erat tangan Daisy. Ya, itulah yang dikatakan Daania sedang bermesraan.
“Bukan apa-apa!” kesal Daania. Ingin sekali dia mengatakan bahwa saat ini ada sebagian darah Ciya yang mengalir dalam tubuh cowok berengsek itu jika saja Ciya tak melarangnya untuk memberitahu Axel.
Sementara Axel yang yakin perkataan Daania itu dimaksudkan padanya berpikir keras apa yang dimaksud gadis itu.
Siapa yang mempertaruhkan nyawanya untuk Axel?
“Udahlah, mungkin bercanda,” ucap Daisy berusaha mengalihkan perhatian Axel.
Pada akhirnya Axel kembali ke fokus utamanya yaitu kekasihnya.
*****
“Baguslah, jadi gak ada yang ganggu gue,” ucapnya saat dirasa Ciya tak sekolah karena seharian ini tak menampakkan dirinya.
Axel kembali melangkahkan kakinya menuju kantin. Rasa dahaganya tak bisa lagi ditolelir. Tangan pria itu terangkat untuk membuka lemari pendingin yang ada di kantin. Entah kenapa netranya terfokus pada minuman bervariant pisang yang ada di hadapannya.
Saat tangannya terangkat untuk mengambil minuman itu, tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya.
“Apaan sih! Sejak kapan gue suka yang begitu,” monolognya.
Pada akhirnya dia hanya mengambil sebotol air mineral yang orang bilang ‘ada manis-manisnya’ itu.
“Oyy segerah apa lo sampai ngadem depan kulkas.” Dhavin yang tiba-tiba datang cukup mengejutkannya.
Axel segera menutup lemari pendingin di hadapannya dan pergi untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
“Banyak tanya lo, nih bayar.” Axel memberikan uang sepuluh ribu pada Dhavin dan menyuruh pria itu membayar minuman yang baru saja diambilnya.
“Kebiasaan,” ucap Dhavin, namun pria itu tetap melangkahkan kakinya untuk membayar minuman Axel sekalian menghabiskan uang kembaliannya.
“Kayanya dia udah nyerah sama gue,” ucap Axel saat Dhavin sudah berhasil menyamakan langkahnya.
__ADS_1
“Hah? Apaan? Siapa?” tanya Dhavin yang tak mengerti ke mana arah pembicaraan Axel.
“Hah? Enggak, bukan apa-apa,” jawab Axel. Gengsi sekali jika dia harus menanyakan pada Dhavin keberadaan gadis itu.
Dhavin menganggukkan kepalanya pertanda tak ingin memperpanjangnya.
“Eh lo tahu gak dia di raw-“
“Kak Axel!! Dari mana?” Asel menyunggingkan senyumnya saat kekasihnya menghampirinya.
“Beli minum dari kantin,” jawabnya.
“Eh tadi lo mau ngomong apa?” tanya Axel pada Dhavin yang tadi belum sempat menuntaskan perkataannya.
Dhavin menggelengkan kepalanya. Tak mungkin juga dia membicarakan orang yang sangat sensitif bagi Axel apalagi di hadapan Daisy.
“Ya udah, kita duluan ya.” Axel menarik tangan Daisy untuk pergi dari sana. Sementara Dhavin menghela napasnya.
“Kayanya Axel udah benar-benar kena pelet tuh cewek deh,” ucapnya random.
Tanpa memedulikan sahabatnya itu dia pergi mencari Dylan yang mungkin akan dengan senang hati mendengarkan gosip yang dibawanya.
*****
“Sebenarnya Kak Kenji gak harus ke sini setiap hari,” ucap Ciya sedikit kurang jelas karena mulut dan hidungnya terhalang masker oksigen.
Sudah hari kedua Ciya mendapatkan perawatan di rumah sakit. Bundanya yang memang harus mengurus pekerjaannya terpaksa menitipkan putrinya pada Kenji.
“Kamu ngelarangpun aku bakal tetap ke sini,” kekeh Kenji.
“Jangan mikir macam-macam, kamu fokus sama kesehatan kamu dulu.”
Ciya mengangguk. Dia teringat sesuatu untuk ditanyakan pada pria di hadapannya.
“Kak, Ciya boleh tanya?” Pandangan mereka beradu sejenak sebelum kemudian Kenji tersenyum simpul.
“Mau tanya apa tuan puteri?” goda Kenji cukup membuat Ciya tersenyum lebar.
“Gimana kabar kak Axel di sekolah? Dia baik-baik aja kan?” Pertanyaan Ciya mampu membuat Kenji mematung.
Bukannya apa, hanya saja Kenji tak memprediksi sebelumnya jika pertanyaan itu yang akan keluar dari bibir Ciya, namun dengan segera Kenji menormalkan raut wajahnya.
“Hmm dia baik-baik aja. Lebih dari kata baik-baik aja,” jawabnya.
Ciya mengangguk. Kabar singkat yang diberikan Kenji benar-benar lebih dari cukup untuk menghangatkan hatinya.
__ADS_1