Retisalya

Retisalya
Hurt


__ADS_3

"Kak, happy birthday." Seorang gadis dengan seragam sekolah sama dengan seperti yang dikenakan Axel memberikan sebuah kado kepada Axel.


Kebetulan sekali suasana sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berlalulalang di sana.


Axel menerima pemberian gadis itu dengan senyum tipisnya. Lagi-lagi ingatannya melayang pada gadis yang telah dia tolak berkali-kali.


"Makasih," ucap Axel.


Axel kembali melanjutkan langkahnya dan kejadian serupa terus terulang. Kini sudah ada lima kado yang ada di tangannya.


"Wihh apa tuh?" Dhavin menghampiri Axel saat pria itu sudah berada di dalam kelas. Sebenarnya bukan Axel yang dia tuju, tapi hadiah-hadiah yang ada di tangan Axel.


Sudah menjadi ritual setiap tahun Axel akan mendapatkan banyak hadiah seperti ini dan sudah menjadi ritual juga hadiah itu akan menjadi milik Dhavin.


"Buat gue nih?" tanya Dhavin basa-basi saat Axel meyodorkan hadiah-hadiah itu ke hadapan Dhavin.


"Hmm." Axel mengangguk dan berlalu menuju tempat duduknya.


"Kapan gue bisa jadi seterkenal lo?" anganya. Dhavin mulai membuka sat persat hadiah itu dan melahap habis isinya. Ya memang, hadiah-hadiah itu hanya berisi makanan karena menurut pengalaman mereka, Axel akan membuang segala bentuk hadiah yang berupa barang.


Jika dijelaskan secara kasar, sebenarnya Axel juga membuang makanan ini. Hanya saja tempat pembuangannya yang berbeda.


Raut wajah Axel tak berubah setelah dia mengakhiri hubungannya dengan Dasisy dan setelah dia tak kunjung berhasil menemukan Ciya.


Pria itu terlihat sangat putus asa.


*****


Sementara itu dua hari lalu sebelum hari ulang tahun Axel, seorang gadis yang sudah lama tak menunjukkan keberadaannya di sekolah kini kembali ke sana.


Tak banyak waktu yang dia habiskan, bahkan dia hanya mengenakan pakaian rumahan tanpa memerhatikan penampilannya.


Tidak, dia tidak sendiri. Daania adalah satu-satunya yang bisa dia mintai pertolongan di saat seperti ini.


"Lo yakin mau pergi ke sekolah?" tanya Daania.


"Hmm Ciya yakin." Ciya mengangguk mantap. Tangan mungilnya menggenggam sebuah amplop dan sebuah susu kotak.


Sebenarnya Daania takut akan terjadi apa-apa dengan Ciya. terlihat bagaimana pucatnya gadis itu membuat rasa khawatir Daania menjadi.

__ADS_1


"Sebentar aja. Gue bakal nganter lo sebentar, setelah itu lo harus balik ke rumah sakit!" perintah Daania. Dia bersumpah tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa pada Ciya.


"Iya cuma sebentar, simpan ini terus pulang," ucap Ciya sambil mengacungkan barang-barang yang ada pada genggamannya.


Mereka berdua berjalan menuju kelas Axel. Suasana sekolah sepi karena semua siswa telah kembali ke rumahnya.


Ciya berhenti sejenak setelah mencapai pintu kelas Axel. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.


Sebuah loker menjadi tujuan utamanya. Dia tak ingin lagi menyimpan hadia untuk Axel di laci meja pria itu karena suatu kejadian. Hadiahnya disantap habis oleh orang lain yang tanpa sopan santun membuka laci meja Axel.


Loker dengan nama 'Axel Lorenza' itu tidak terkunci. Mungkin karena pemiliknya jarang menggunakannya.


Dengan gerakan pelan, Ciya menyimpan amplop dan sekotak susu di dalam loker itu.


"Udah?" tanya Daania pelan.


Ciya mengangguk dan kembali menutup loker itu. Menatap sebentar suasana kelas itu, menghampiri meja Axel dan mengusapnya perlahan.


"Ciya harap, Ciya masih bisa lihat kelas Kak Axel di lain waktu," lirihnya.


*****


Axel berjalan perlahan hendak keluar kelas. Suasana rooftop sepertinya sangat cocok dengan keadaannya saat ini, namun netranya teralihkan dengan loker yang sudah lama tidak dia sentuh.


"Bukannya gue gak pernah buka ini loker? Kenapa bisa kebuka gini?" Axel berjalan ke arah loker. Saat hendak menutupnya, sebuah amplop dengan warna mencolok menarik perhatiannya.


"Masih ada ternyata kado dari fans gue," monolognya dengan senyum miringnya.


Axel mengambil amplop itu lengkap dengan susu kotak yang ada di sana.


"Tumben banget ada yang kasih surat." Perlahan tangan Axel membuka amplop itu. Entah mengapa dia sedikit penasaran dengan tulisan di dalamnya. Apakah pernyataan cinta atau hanya sebuah ucapan ulang tahun?


Matanya terbelalak saat membaca nama di bagian bawah surat itu. Jantungnya berdegup dengan cepat diiringi dengan getaran di seluruh tubuhnya.


"Ciya?" lirihnya. Perlahan Axel membaca kalimat demi kalimat di surat itu.


Hai ganteng-nya Ciya, ah ganteng-nya Daisy maksud Ciya.


Kak Axel gimana kabarnya? Lama ya kita gak ketemu. Ciya harap Kak Axel selalu bahagia ya.

__ADS_1


Kak Axel tahu, kayanya ini hampir satu tahun Ciya suka sama Kak Axel.


Ciya tahu, Kak Axel anggap Ciya cuma pengganggu.


Udah banyak cara yang Ciya gunakan buat tarik perhatian Kak Axel, tapi semuanya selalu gagal. Bahkan jikapun itu berhasil, ternyata semuanya hanya sandiwara saja.


Kak Axel terlalu jauh untuk Ciya gapai, bahkan mungkin tak akan pernah berhasil meskipun Ciya mempertaruhkan nyawa Ciya.


Daania bilang, belakangan ini Kakak cari Ciya ya? Ciya bahagia kalau memang itu benar.


Lagi-lagi lewat surat ini, Ciya mau bilang kalau Ciya mencintai Kak Axel. Tapi, Ciya tak berharap Kakak membalas perasaan Ciya.


Kalaupun Kakak berniat untuk membalasnya, Ciya harap Kakak segera mengurungkan niat itu. Karena mungkin saat Kakak membaca surat ini, Ciya sudah tak berada di dunia yang sama dengan Kakak.


Mulai sekarang gak ada lagi yang bakal ganggu Kakak.


Ciya harap Kak Axel selalu bahagia dengan apapun dan siapapun pilihannya. Ciya pamit dan terimakasih untuk semua kenangan yang pernah Kak Axel kasih ke Ciya. I Love U.


Dari : Ciya Bryonna


Tak terasa, air mata Axel sudah mengalir membasahi pipinya. Apa maksud gadis itu dengan 'tak berada di dunia yang sama lagi'?


Napasnya memburu dia menggenggam erat surat itu dan segera mencari Daania.


Hatinya tak tenang, dia rasa ada yang salah selama ini dengan Ciya.


Pintu ruang kelas Daania terbuka dengan kencang membuat semua orang yang ada di sekitar sana menoleh ke asal suara.


"Daa-daan, gue mohon sekali lagi sama lo. Kasih tahu gue di mana Ciya, gue mohon," ucap Axel diiringi raungannya.


Pria itu menangis sejadi-jadinya membuat semua orang terheran-heran.


"Apa-apaan sih lo Kak!" bentak Daania.


"Gu-gue dapat surat dari Ciya. Ciya baik-baik aja, kan?" Axel histeris. Dia ketakutan. Dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Daania memalingkan pandangannya. Air mata mulai menggenang di peluluk matanya.


"Ciya. Dia gak pernah baik-baik aja." Ucapan Daania seolah menghantam kuat hatinya.

__ADS_1


Sakit, apakah perasaan ini yang selama ini dirasakan Ciya? Jika iya, Axel mohon berikan kesempatan kedua untuknya. Setidaknya untuk memperbaiki semua ini.


"Aaarrgghhh!!!!" Axel memukul-mukul dadanya histeris.


__ADS_2