
Seorang pria yang tertidur di lantai bergerak gelisah dengan keringat yang ada di pelipisnya. Nafasnya terengah seakan dia sedang berlari dari kejaran seseorang.
"Huh huh huh." Akhirnya pria itu bisa membuka matanya setelah beberapa lama dia berlari di alam mimpinya.
Tangannya terangkat untuk memegang kepalanya yang sakit seakan mau pecah. Dia juga mengusap keringat yang ada di keningnya.
"Aarrgghh!" Dia berteriak dengan kencang. Kadang dia ingin sekali mati di saat seperti ini. Tapi dia ingat dengan seseorang yang telah dia sakiti lebih dari ini.
Itulah alasan kenapa sampai sekarang dia masih bertahan.
Ponselnya berdering menandakan jika ada panggilan masuk. "Siapa malam-malam gini?" tanyanya.
Walau begitu, pria itu masih mengambil dan mengangkat panggilannya.
"Halo Dokter Axel. Maaf mengganggu, tapi sekarang ada pasien darurat. Bisa segera ke rumah sakit?" ucap orang di seberang sana.
Keahliannya dalam bidang medis terutama hal yang dia bidangi lebih spesifik membuat dia dipercaya dan terkenal menjadi dokter terbaik.
"Aku ke sana sekarang!"
Tanpa berpikir lagi, Axel langsung mengambil snelly dan juga mengganti celananya sebelum kemudian dia berangkat ke rumah sakit.
Jarak yang dekat membuat dia beruntung karena tak harus lama hingga tiba di sana.
"Sebelah sini Dok!!" Baru saja tiba, sudah ada yang memanggilnya. Axel bergegas ke sana.
Ketika berada di ambang pintu dan dia melihat pasien menggunakan oksigen membuatnya teringat seseorang.
Cita Bryonna. Walau gadis itu selalu ada dalam pikirannya, tapi kali ini buruk. Karena dalam kondisi seperti ini selalu bayangan buruk gadis itu yang datang hingga menghambat Axel untuk menangani pasiennya.
Tangannya mulai bergetar, dengan penglihatan yang mulai menguning. Dia memegangi kepalanya sebelum teriakan seseorang kembali menyadarkannya.
"Axel!!!"
Axel tersadar dan langsung menangani pasien.
****
__ADS_1
"Lo tuh kenapa sih selalu aja kaya gitu kalau lagi ada pasien darurat?" tanya seseorang yang tadi berteriak padanya. Setelah menangani pasien itu, mereka sepakat untuk meminum kopi di taman.
"Bawaan aja," jawab Axel seadaanya.
Dia tak ingin orang itu tahu tentang masa lalu dan traumanya. Biarkan dia merasakan ini sendiri sebagai bentuk balas dendamnya.
"Lo mau gue kenalin sama psikolog?" tanya wanita itu.
"Mel, jangan berlebihan deh. Gue gak apa-apa," ucap Axel.
"Gak apa-apa gimana? Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri gimana respon lo kalau ada pasien kaya tadi," belanya.
Gadis bernama Mela Putri itu menjelaskan apa yang selalu dia lihat.
"Biarin aja. Abaikan, toh gue juga gak keberatan hidup kaya gini," jawab Axel seadaanya.
Mela tak bisa lagi menolong sifat keras kepala Axel. Sebenarnya sudah beberapa kali dia menawarkan kontak seorang psikolog pada Axel dan sepertinya pria itu tidak sama sekali menemuinya satupun.
"Terserah lo deh." Mela kembali meneguk kopinya.
Satu tahun kurang lebih dia mengenal Axel dan pria itu tak pernah bisa tersentuh hingga saat ini. Menurutnya, Axel bukan orang yang sombong, hanya saja pria itu terlalu tertutup.
"Gue balik dulu," pamit Axel. Kebetulan ini memang bukan jamnya dia untuk berada di rumah sakit.
Jadi dia akan kembali ke rumahnya. Dan dia akan datang jika orang rumah sakit memintanya. Kecuali jika memang jam dia harus di rumah sakit maka dia akan selalu ada di sana.
"Hmm, thank's udah datang," ucap Mela. Gadis itu juga kit berdiri untuk menghargai Axel yang akan pergi dari sana.
"Semisterius itu lo," ucapnya setelah Axel benar-benar pergi dari sana.
****
Axel kembali ke rumahnya. Helaan nafas selalu saja mengiringinya ketika dia membuka pintu rumah.
Walau bekerja di rumah sakit yang sangat ramai, tetap saja Axel merasa kesepian.
"Rasanya dia masih ada di sini," ucap Axel.
__ADS_1
Entah mengapa belakangan ini dia selalu gundah dengan perasaannya. Kepergian Ciya sudah beberapa tahun lamanya. Tapi rasanya gadis itu masih ada.
Tak ingin berpikir lagi tentang hal itu, Axel melepas snelly-nya dan kembali ke tempat di mana dia tidur tadi.
Ranjang king size memang ada di sana dan itu terlihat sangat nyaman. Tapi Axel lebih memilih untuk tidur di lantai hanya dengan beralaskan selimut.
Beberapa kali sudah dia coba untuk tidur normal di atas ranjang dan yang dia dapatkan malah rasa tak nyaman di hatinya.
Dia merasa seperti bersalah jika tidur di atas ranjang. Harusnya dia merasaka sakit, bukan nyaman.
"Gue harap semuanya cepat berlalu dan Tuhan cabut nyawa gue." Sudah lama dia ingin mengakhiri hidupnya. Tapi dia kembali disadarkan dengan ketidak tahu maluannya.
Bagaimana mungkin dia bisa mati begitu saja sedangkan masih ada rasa sakit seorang gadis yang harus dia bayar.
"Aku rindu," raungnya tiba-tiba. Axel sangat merindukan Ciya-nya. Dia ingin bertemu gadis itu.
"Gimana cara aku biar bisa tebus semuanya, Ciya? Gimana?" lirihnya dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Kalau bisa aku mau sakitin diri aku. Tapi rasanya gak adil kalau cuma fisik aku yang sakit," lanjutnya.
"Berapa banyak yang udah aku perbuat sama kamu? Seberapa sakit yang udah kamu rasakan? Bahkan kayanya dunia udah gak peduli lagi sama aku, Ya. Mereka semua ninggalin aku. Mungkin kalau kamu masih ada, cuma kamu yang selalu setia di samping aku."
Pria itu terus menangis sambil tertidur di lantai yang dingin. Bahkan dia juga memukul dadanya yang terasa sesak.
Sudah lima tahun dan dia masih belum bisa melupakan bagaimana dulu Ciya-nya menatapnya, bagaimana Ciya-nya memberikan bekal untuknya. Yang paling dia ingat adalah ketika gadis itu terkulai lemah di brankar rumah sakit dengan wajah memucat dan nadi yang sudah tak berdenyut.
"Wajah kamu selalu datang di mimpi aku. Tapi selama lima tahun ini kamu gak pernah datang dengan senyum kamu. Kamu selalu datang dengan wajah pucat tanpa senyum yang bikin aku takut, Ya."
Itulah alasan kenapa dia selalu terbangun di malam hari dengan keringat di pelipisnya dan juga nafas yang terengah. Bahkan beberapa malam dia juga kadang selalu terjaga hingga pagi.
Dia hanya berani melihat potret Ciya yang tersenyum. Dia berharap senyum itu yang akan datang di mimpinya.
"Kalau saja ada kesempatan kedua. Aku gak bakal sia-siain kamu. Aku gak bakal," ucapnya.
Cukup lama dia menangis hingga akhirnya Axel masuk ke alam mimpi dengan bekas air mata yang mengering di pipinya.
Deru nafasnya mulai teratur walau kadang dia terguncang dan kembali tertidur.
__ADS_1
Malam panjang setiap malam yang Axel rasakan sungguh sangat menakutkan.