Retisalya

Retisalya
Harapan Palsu


__ADS_3

Setelah beberapa hari mencoba menenangkan diri dengan berkata 'Semua akan baik-baik saja.' akhirnya Ciya kembali menjadi Ciya yang ceria.


"Sayang, tumben bawa bekal?" tanya Bunda Jihan sambil memasukan makanan-makanan itu ke dalam kotak makanan berwarna abu.


"Iya Bunda. Buat kak Axel." Ciya tersenyum malu. Ini pertama kalinya gadis itu menceritakan Axel pada Bundanya.


"Axel? Siapa dia?" Bunda jihan menyodorkan bekal makanan yang sudah selesai dia tata pada Ciya.


"Kakak kelas Ciya. Dia ganteng loh, Bunda." Dengan bangga Ciya mendeskripsikan Axel pada Bundanya.


"Iya? Jadi kamu suka?" tanya Bunda Jihan. Sebenarnya dia sudah tahu hanya saja dia ingin mendengarnya langsung dari putrinya.


Kalian ingat kan saat Bunda Jihan melihat isi chat Ciya dan Axel? Ya, saat itulah dia tahu.


"Eemmm, iya Bunda." Ciya menganggukkan kepalanya masih dengan senyum malu-malunya.


"Kalau gitu, nanti kapan-kapan kenalin sama Bunda ya," goda Bunda Jihan.


Ciya kembali mengangguk. Dia harus bisa mendapatkan hati Axel.


"Ya udah, ayo kita berangkat!!" ucap Bunda Jihan seraya menggandeng lengan Ciya.


"Ayah ayo!! Ciya sama Bunda udah siap!" teriak Ciya. Entah sedang apa sang Ayah masih berdiam diri di kamarnya.


"Iya Sayang, sebentar," Jawab Ayah Malvin.


Ayah Malvin keluar dengan setelan jas biru navi-nya dan jangan lupakan tas kecil yang dia pegang.


"Ayo!" ucap Ayah Malvin.


Sepanjang jalan mereka bercerita ria, ah bukan, bukan mereka yang bercerita tetapi hanya Ciya.


Sementara kedua orang tuanya hanya menjadi pendengar setia atas semua ocehan Ciya.


Mereka sedikit lega karena mungkin Ciya sudah melupakan kenangan kelam itu sepenuhnya.


"Selamat berjuang Sayang. Jangan lupa belajar juga," kekeh Bunda Jihan setelah mereka sampai di tujuan.


Seperti biasa, mereka mengantarkan Ciya sampai di depan gerbang sekolah.


"Bunda ah anaknya malah di suruh yang enggak-enggak, biarin dia belajar dulu," ucap Ayah Malvin memperingatkan.


Bunda Jihan mengibaskan tangannya memberi kode pada Ciya agar gadis itu segera pergi dari sana.


Ciya terkekeh sejenak sebelum berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Ciya sekolah dulu Ayah, Bunda." Ciya melambaikan tangannya pada Ayah dan Bundanya hingga mobil yang ditumpangi mereka perlahan mulai menjauh dan hilang dari pandangan Ciya.


Semua kegiatan yang Ciya lakukan bersama kedua orang tuanya tak luput dari perhatian seseorang.


Orang dengan pandangan sinis itu berdecih kecil.


"Cih, anak manja!" kesalnya.

__ADS_1


***


"


Pagi Ciya!!" sapa Beyza.


Ciya tak menjawab sapaan Beyza. Matanya memicing curiga.


"Tugasnya udah belum?" Bezya tersenyum menampakkan giginya.


Apa yang Ciya pikirkan ternyata benar, Beyza menyapa karena memang ada maunya.


"Udah Ciya duga." Ciya menghela napasnya, namun meski begitu Ciya mengeluarkan buku geografinya untuk diberikan pada Beyza.


"Gue sekalian deh." Ciya menganga mendengar penuturan Daania. Dia pikir Daania sudah mengerjakan tugasnya karena tak meminta pada Ciya, namun dugaannya salah.


Daania menggunakan Beyza untuk bisa mencontek tugasnya.


"Ciya kira Daania udahan ngerjain tugas," ucapnya.


"Ya kan nunggu lo datang. Sumber tugas gue kan semua di lo." Daania tersenyum puas saat dirasa berhasil mengerjai Ciya.


"Terserah Daania aja, Ciya pusing," jawabnya.


Sementara kedua temannya sedang menyalin tugasnya, Ciya mengeluarkan ponselnya dari tas.


Gadis itu melihat kotak bekal abu yang akan diberikan pada Axel.


"Hampir aja Ciya lupa," ucapnya sambil menepuk pelan keningnya.


"Ah enggak. Ciya keluar dulu ya, nanti kalau ada guru masuk chat Ciya."


Gadis itu mengambil kotak bekal yang sudah dia siapkan dan bergegas menuju kelas Axel.


Belum sampai di kelas, Ciya sudah menangkap sosok yang dia cari. Sepertinya Axel baru saja datang melihat tas hitam masih tersampir di bahunya.


"Kak Axel?!" teriak Ciya dan segera berlari menghampiri pria itu. Tak menghabiskan satu menit kini Ciya sudah ada di hadapan Axel.


Rasanya telinga Axel lelah karena terus mendengar teriakan Ciya. Matanya memutar kesal.


"Kak Axel, ini Ciya bikinin sarapan." Ciya menyodorkan kotak bekal berwarna abu itu.


Senyumnya mengembang hanya dengan melihat wajah Axel.


Tanpa di duga, Axel mengambil bekal itu dan melangkah pergi.


Ciya melongo. Setelah sekian lama, inilah kali pertama Axel menerima pemberian darinya.


"Wah Ciya gak mimpi kan?" Gadis itu menepuk pipinya pelan memastikan bahwa ini bukan mimpi.


Ciya membalikan badannya hingga punggung Axel tampak hingga menjauh.


Senyum Ciya memudar saat melihat pemandangan di depannya.

__ADS_1


Axel membuang makanan itu di tong sampah dan tepat di hadapan Ciya.


Axel berhasil membuat Ciya terbang setinggi-tingginya dan menghempaskannya begitu saja.


"Hiks... Ciya pikir ini awal buat Ciya, ternyata emang gak ada kesempatan ya?" lirihnya. Entah untuk yang keberapa kali air matanya jatuh karena Axel.


***


Axel berjalan santai setelah dengan kurang ajarnya membuang bekal pemberian Ciya.


Pria itu benar-benar muak dengan kehadiran Ciya dalam hidupnya. Jika saja, waktu itu Bundanya tak membuat masalah, dia tak akan pulang dari sekolah dan berakhir disiram Ciya.


Awal pertemuannya dengan Ciya memang sudah memuakkan, namun dia pikir itu bukan apa-apa sebelum akhirnya Ciya mengganggu hidupnya setiap hari.


"Hei Bro, tumben pagi," ucap Dhavin.


Pria itu sedikit aneh karena Axel datang lebih awal.


"Dylan mana?" lanjut Dhavin.


"Dia gak masuk, sakit," jawab Axel.


"Lo kali yang sakit, buat lo ini masih kepagian loh." Dhavin terkekeh. Mulutnya memang benar-benar lancar jika menjahili orang.


"Gue gak tidur, puas lo?!" kesal Axel.


Malamnya terganggu karena panggilan mendadak Bundanya, paginya juga hancur karena bertemu Ciya. Apakah temannya ini akan memperburuk keadaan dengan selalu mengusilinya?


"Santai Bro. Kenapa lo?" Ekspresi Dhavin mulai berubah. Dia pikir Axel sedang membutuhkannya saat ini.


"Biasa, nyokap," jawabnya. Entah mengapa dia bisa seterbuka ini jika bersama Dhavin dan Dylan.


"Rooftop?" tanya Dhavin.


Dhavin mengerti, mereka tak mungkin menceritakan hal ini di kelas yang banyak orang.


Mereka membutuhkan tempat sepi untuk mengeluarkan isi hati mereka khususnya Axel.


"Oke," jawab Axel. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rooftop.


Di tengah perjalanan, netra Axel menangkap pemandangan yang entah mengapa sedikit mengganggunya.


Ciya sedang berbicara dengan seorang pria. Pria dengan anting hitam di telinganya terlihat serius memperhatikan wajah Ciya.


Zafien Kenji dan Ciya Bryonna? Apa sebenarnya hubungan mereka? Begitulah kiranya pertanyaan yang ada dalam hati Axel.


"Cih, murahan!" desisnya. Kalimat itu spontan keluar dari mulutnya.


"Hah? Siapa?" tanya Dhavin. Dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Axel, namun tak mengerti apa maksudnya.


"Bukan apa-apa." Axel memandang Dhavin meyakinkan pria itu bahwa apa yang dikatakannya memang bukan apa-apa.


"Oke," ucap Dhavin.

__ADS_1


Mata Axel memicing memerhatikan percakapan antara Ciya dan Kenji sebelum suara lembut memanggil namanya.


"Kak Axel, bisa bicara sebentar?"


__ADS_2