
Raut wajah yang Daisy perlihatkan saat mengetahui Axel kecelakaan masih saja terekam dengan jelas dalam memori Ciya.
Tak ingin berlarut dengan pikiran negatifnya, Ciya bangkit dan kembali tersenyum seperti biasa.
"Beyza, Daania, kantin? Ciya bayarin," tawar Ciya semangat. Dia akan mentraktir teman-temannya untuk mengembalikan mood-nya.
Daania dan Beyza saling berpandangan dengan senyum bahagia.
"Gasss," ucap mereka kompak.
Ketika gadis itu berjalan beriringan menuju tempat di mana mereka bisa memuaskan perut mereka.
Aroma berbagai macam makanan menusuk indera penciuman mereka saat mereka sampai di kantin.
Berbeda dengan ketiga gadis itu, Daisy saat ini tengah memandangi ponselnya. Pesan yang dia kirim tak kunjung di balas oleh orang yang ada di seberang sana.
^^^Daisyy^^^
^^^Kak, katanya Kakak kecelakaan?^^^
^^^Sekarang gimana kabarnya?^^^
Daisy terus saja memandangi ponselnya berharap orang di sana membalas pesannya.
Tak ada perasaan khusus untuk Axel, dia hanya berpikir, jika Axel sakit rencananya akan semakin lama menuju keberhasilan bukan?
Tak lama ponselnya bergetar menandakan pesan baru saja masuk.
^^^Daisyy^^^
^^^Kak, katanya Kakak kecelakaan?^^^
^^^Sekarang gimana kabarnya?^^^
AxelLo
Udah baikan kok, nanti sore udah boleh pulang.
^^^Daisyy^^^
^^^Syukurlah, aku gak bisa ke sana tugas lagi numpuk banget. Maaf ya...^^^
AxelLo
Iya gak apa-apa.
Daisy kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Perutnya yang berbunyi menandakan ingin diisi membuatnya terpaksa pergi ke kantin.
***
Axel memang mengatakan tak keberatan jika Daisy tak datang, namun di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat berharap Daisy akan datang walau hanya sebentar.
"Kenapa tuh wajah ditekuk gitu?" tanya Evelyn yang baru saja kembali dari kantin Rumah Sakit.
"Gak apa-apa," jawab Axel singkat. Mood nya hancur hanya karena Daisy tak bisa menjenguknya.
__ADS_1
"Jangan-jangan gara-gara pacar lo gak datang nih," sindir Evelyn dengan senyum jahilnya.
"Apaan sih lo," risih Axel.
Bahkan dia tak terpikirkan Ciya sama sekali. Dalam otaknya saat ini hanya Daisy, Daisy dan Daisy.
Gadis yang bahkan tak mengetahui Axel kecelakaan. Sementara Ciya yang menunggunya sampai sadar tak ada dalam pikirannya sedikitpun.
"Di mana lo ketemu dia?" tanya Evelyn.
"Hah? Siapa?" tanya Axel yang masih linglung.
"Pacar lo!" gemas Evelyn.
"Bukan urusan lo."
"Ckk. Gue cuma mau bilang jangan lepasin dia, dia cewek baik." Entah kenapa Axel sedikit tertarik dengan pembicaraan Evelyn kali ini.
"Maksud lo?" tanya Axel.
"Bukan, bukan apa-apa. Nih makan." Evelyn menyumpal mulut Axel dengan apel yang sudah dia kupas sebelumnya.
Dia tak ingin membahas Ciya lagi, dia takut akan keceplosan perihal donor darah itu.
"Oh iya. Waktu itu sebelum kecelakaan lo nekat mau nemuin Ayah kan?" tanya Evelyn.
"Hhmm." Sebenarnya dia sedikit takut untuk mengatakannya, dia takut Evelyn akan marah padanya.
"Bego. Gak sabaran banget jadi orang," ucap Evelyn dengan sedikit toyoran di kepala Axel.
"Gue udah ketemu dia kemarin." Axel sontak menolehkan pandangannya ke arah Evelyn dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Terus lo bakal nemuin dia dalam keadaan gini? Gimana cara lo jalan, hah?" kesal Evelyn. Suruh siapa Axel pergi tanpa ijinnya dan berakhir kecelakaan.
"Sebagai gantinya gue udah jadwalin pertemuan lo sama Ayah. Tapi gue antar," lanjut Evelyn.
Axel mendongakkan kepalanya menatap Evelyn dengan sangat serius.
"Oke kapan?" tanya Axel tak sabaran.
"Malam nanti, lo bisa?" tanya Evelyn. Dia memang belum memastikan jadwal dengan Ayahnya, dia harus memastikan dulu jadwal kosong Axel.
"Bisa," jawabnya mantap tanpa berpikir panjang.
"Oke nanti gue jemput lo, di apartemen Dylan, kan?"
Axel mengangguk mengiyakan Evelyn.
***
Sore ini adalah kepulangan Axel dari rumah sakit. Keadaannya semakin membaik hanya saja perban di kepalanya masih belum dilepas.
Ciya dengan langkah kecilnya bersenandung kecil sepanjang koridor Rumah Sakit.
Sesekali dia mencium bunga yang ada di genggaman tangannya.
__ADS_1
"Sore Kak Axel!!" sapa Ciya begitu memasuki ruang rawat Axel hingga orang-orang yang ada di sana menolehkan kepalanya serentak.
"Sore," jawab Axel dengan senyum kecil.
"Selamat ya udah boleh pulang," ucap Ciya seraya memberikan bunga yang ada di genggamannya pada Axel.
Axel menerima bunga itu tanpa sepatah katapun.
"Iya dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak!" sindir Dhavin.
Ya, di sana ada Dhavin, Dylan dan Evelyn. Bunda Axel sama sekali tak tahu keadaan putranya karena memang mereka bungkam tentang hak itu.
"Apaan sih," kesal Axel.
"Kak Axel bisa jalannya? Biar Ciya gandeng," tawarnya.
Baru saja Ciya akan menggenggam tangan Axel, pria itu sudah berdiri terlebih dahulu.
"Gak usah, aku bisa sendiri." Mungkin jika itu Daisy dia akan menerimanya dengan senang hati.
Senyum yang semula tercetak jelas di bibir Ciya luntur begitu saja.
Ciya menggelengkan kepalanya yang sedikit pening.
"Kenapa?" tanya Dylan yang melihat Ciya menggelengkan kepalanya.
Semua yang ada di sana sontak menolehkan pandangannya pada Ciya .
"Ah gak apa-apa Kak," jawabnya kemudian berjalan mengikuti Axel dari belakang.
Axel berjalan terlebih dahulu diikuti keempat orang yang selalu ada di sampingnya.
Seperti yang diharapkan, Ciya mengantar Axel hingga ke depan pintu apartemen Dylan. Setelah itu mereka satu persatu pergi dari sana hingga menyisakan Axel dan Dylan.
"Gue ada urusan bentar nanti malam sama kakak gue," ijin Axel pada Dylan.
Dylan tak ingin bertanya lebih banyak, dia hanya mengangguk menyetujuinya.
"Xel, lo serius kan sama Ciya?" tanya Dylan. Dia khawatir jika Axel hanya bermain-main saja dengan Ciya. Pasalnya dulu pria itu sangat anti pada Ciya.
"Maksud lo?" tanya Axel.
"Cuma nanya doang. Gue harap lo serius, Ciya cewek baik. Dia juga rela jagain lo semalaman dan gak pulang," jelas Dylan.
"Gue gak nyuruh dia buat jagain gue. Kalau boleh milih, gue juga gak mau dijagain dia," ucap Axel sarkas.
"Terus maksud lo pacarin dia itu apa?" tanya Dylan.
"Bukan urusan lo," jawabnya.
"Xel, gue bukan ceramahin lo. Gue cuma mau ingetin lo. Gue tahu lo benci sama nyokap lo. Gue juga tahu kalau itu sala satu alasan lo gak pernah ngejalin hubungan sama cewek belakangan ini, tapi bukan berarti lo lampiasin kekesalan itu sama cewek polos yang gak tahu apa-apa kaya Ciya," jelasnya.
"Hubungannya sama lo apa? Lo suka sama dia? Ambil!" ucap Axel.
Tangan Dylan rasanya sudah gatal ingin menghajar Axel, namun keadaan Axel saat ini sungguh tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Gue udah ingetin lo. Terserah lo mau gimana. Semoga lo gak nyesel sama keputusan lo." Dylan beranjak menuju kamarnya.
"Nyesel? Cih."