Retisalya

Retisalya
Masa Lalu Ciya


__ADS_3

“Lo?” ucap Daania.


Orang yang baru saja masuk ke dalam toilet adalah salah satu dari mereka yang dengan beraninya membicarakan Ciya.


Ciya menundukkan kepalanya, kepingan-kepingan masa lalu kini berhasil masuk dalam ingatannya.


-SMP Rajawali-


Seperti biasa Ciya berjalan ke dalam sekolah setelah turun dari mobilnya. Ayah dan Bundanya yang selalu mengantarnya hingga sekolah.


Mereka tak ingin mengambil resiko terjadi apa-apa pada putrinya jika membiarkannya menaiki taxi atau angkot.


“Ciya? Nih buat lo.” Seorang pria dengan wajah tampan menghampiri Ciya dan memberikan sebuah kado.


“Ciya gak ulang tahun,” jawabnya. Dia belum mengambil barang yang disodorkan pria itu.


“Gue tahu. Tapi lo terima ini ya,” ucap pria itu dengan nada memohon.


“Maaf Delvin, Ciya gak bisa.” Ciya melanjutkan jalannya menuju kelas dan mengabaikan pria yang dipanggil Delvin itu.


“Cewe sombong,” desis Delvin saat Ciya sudah pergi jauh dari pandangannya.


Delvin Ryoji pria tampan yang sudah lama menyimpan ketertarikannya pada Ciya dan mulai berani mendekati ciya beberapa minggu belakangan ini.


Tak sampai di sana. Ketenaran Ciya saat di SMP bahkan melebihi ketenaran kakak kelas yang memiliki banyak followers di Instagramnya.


Paras Ciya yang cantik sekaligus lucu itu menjadi candu bagi para pria bahkan tak jarang para wanita pun memuji kecantikan Ciya.


“Hai Ciya cantik,” panggil salah satu teman Ciya saat Ciya sudah tiba di kelas.


“Hai Fay.” Ciya melambaikan tangannya dengan senyum manisnya. Fay adalah satu-satunya sahabat Ciya saat SMP begitu menurutnya, sementara yang lain, Ciya sering memanggilnya teman.


Semua mata yang ada di sana mengarah pada Ciya seakan memuja kecantikan Ciya.


Begitulah kehidupan SMP Ciya, hingga hal tak terduga terjadi begitu saja.


Tragedi yang membuat Ciya trauma, dan membuatnya menjadi gadis ceria dari luar.


***


Delvin Ryoji. Pria yang dipuja-puja oleh para gadis di SMP Rajawali sukses dibuat tertarik oleh seorang Ciya Bryonna.


Dengan segala cara dia berusaha meluluhkan Ciya, namun berapa kalipun mencoba selalu saja penolakan yang dia dapatkan hingga membuatnya muak pada gadis itu.


“Gue sih biasa aja, dia yang rajin banget deketin gue,” ucap Delvin pada Arya. Tentu saja apa yang dikatakan Delvin adalah sebuah kebohongan.


Tak hanya mereka berdua, di sana juga ada Fredella seorang gadis urakan yang sangat mencintai dunia malam.

__ADS_1


Umur mereka yang belum legal tak menjadi hambatan karena pemilik tempat di mana mereka menghabiskan malam itu adalah orang tua Fredella.


“Sumpah lo? Gue lihatnya lo yang deketin dia,” timpal Arya.


“Cih najis banget gue deketin bocah kaya dia,” sarkasnya.


Begitulah pembicaraan mereka tentang Ciya. perkataan Delvin yang secara keseluruhan bohong itu menjadi rumor mengerikan yang datang dalam kehidupan Ciya. Mungkin itulah yang disebut ‘setajam-tajam pisau, masih lebih tajam lidah’.


***


‘Ciya seorang gadis murahan yang mendekati setiap pria dan melepaskannya begitu puas’. Begitulah kiranya inti dari rumor yang tersebar.


Ciya datang ke sekolah seperti biasa bahkan disaat rumor itu semakin mencuat. Dia berusaha tak memedulikan perkataan orang, namun hal itu sia-sia.


Pikirannya terganggu, fisiknya berubah dan emosinya berbeda.


“Ciya, heii lo baik-baik aja?” Fay mencoba membuat Ciya sadar. Setelah mendengar rumor tak mengenakkan itu Ciya berubah.


Bibir merahnya hilang menjadi pucat pasi. Tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Dia selalu ketakutan setiap pergi ke sekolah dan hal itu tanpa sepengetahuan orang tuanya.


“I-ya Fay, Ciya baik-baik aja.” Ciya mencoba mengembangkan senyumnya walau itu sulit.


Tak cukup dengan dirinya mengalami depresi, seorang gadis yang tak Ciya kenali membully-nya habis-habisan.


Tak hanya jiwanya yang terguncang, fisiknya juga tersakiti.


“Terserah kalian. Tapi gue Cuma punya gunting sama silet,” jawab Fredella.


“Pipinya bagus nih!” sorak teman Fredella.


Fredella hanya menyunggingkan senyum puasnya.


“Berani banget lo deketin Delvin,” ucap Fredella sebelum temannya menyayat bagian pipi Ciya.


“Aakhh, Ci-Ciya gak de-deketin dia, dia yang deketin Ci-Ciya.” Ciya menggeram. Dia tak bisa melawan karena tangan dan kakinya terikat. Lokasi gudang yang berada di bagian belakang sekolah juga sangat mendukung hingga tak ada seorangpun yang melewati tempat itu.


“Berisik!” bentak Fredella.


Silet itu kembali menyayat bagian wajah Ciya hingga darah mengalir keluar.


“To-Tolong,” ucap Ciya sebelum kesadarannya hilang.


***


Malam harinya barulah Ciya ditemukan setelah kedua orang tua, guru dan juga teman-teman Ciya berusaha mencari gadis itu.


“Ciya...bangun Sayang, hiks...” isak bunda Jihan.

__ADS_1


Tangan halus itu mengelus bekas luka yang ada di wajah putrinya. Air matanya tak kunjung mengering sejak ditemukannya Ciya hingga saat ini Ciya tengah berbaring di brankar rumah sakit.


“Udah nangisnya Bun. Ayah yakin Ciya bangun.” Ayah Malvin berusaha menenangkan Bunda Jihan.


Mata dengan lingkaran hitam di bawahnya itu perlahan terbuka mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya.


Aroma khas rumah sakit menyeruak masuk dalam indera penciumannya.


“Ah Ciya di rumah sakit,” ucapnya dalam hati.


“Bunda...” ucapnya hampir tak terdengar.


“Ciya, kamu bangun?” tanya sang bunda dan reflek memeluk Ciya dengan erat.


“Sesak Bunda.” Ciya menepuk punggung Bundanya memberi kode bahwa pelukan bundanya terlalu erat.


“Ayah yakin putri ayah kuat.” Ayah Malvin mengusap surai Ciya lembut. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun sekuat tenaga dia tahan.


“Ada yang sakit?” tanya bunda Jihan.


Ciya menggeleng seraya tersenyum. Keberadaan bunda dan ayahnya sudah cukup menjadi obat untuk Ciya.


“Ciya mau minum,” ucapnya manja.


Ayah Malvin yang memang berjarak dekat dengan nakas segera mengambilkan Ciya minum.


“Apa yang terjadi?” tanya bunda Jihan saat dirasa memang waktunya tepat untuk bertanya.


Ciya terdiam. Matanya memanas mengingat apa yang telah dia lalui selama ini.


“Sayang... kamu sayang Bunda?” tanya bunda Jihan. Ciya mengangguk.


“Kamu sayang ayah?” tanya bundanya lagi. Ciya kembali mengangguk.


“Ayah sama Bunda sakit kalau lihat kamu kaya gini, kamu mau cerita apa yang terjadi?” Tak ada paksaan. Jika putrinya masih belum siap menceritakan, maka bunda Jihan dan ayah Malvin bisa menunggu.


“Ciya... gak tahu, Bunda,” ucapnya. Bunda dan ayahnya menghela napas.


“Banyak rumor tentang Ciya di sekolah,” lanjutnya. Kedua orang tuanya sontak menatap Ciya lekat saat dirasa putrinya sudah siap untuk menceritakan apa yang terjadi.


“Hiks... Ciya bu-bukan gadis murahan. Hiks...Hiks Ciya juga gak deketin Delvin,” isaknya. Wajahnya sudah memerah karena menangis.


“Akkhhh... di sini Bunda, di sini rasanya sa-sakit.” Ciya memukul dadanya berulang kali berharap rasa sakit itu menghilang, namun harapannya seakan hancur saat rasa sakit itu semakin bertambah kala kejadian-kejadian mengerikan itu kembali dalam ingatannya.


“Sayang, Bu-bunda sama ayah ada di sini. Kita akan jaga kamu, kamu akan baik-baik saja hmm.” Bunda jihan merengkuh putrinya dalam pelukannya. Perasaannya hancur saat melihat putri semata wayangnya menangis, menjerit kesakitan seperti ini.


Ayah Malvin, air matanya luruh begitu saja tak bisa dibendung lagi. Dia ikut merengkuh kedua harta berharganya.

__ADS_1


***


__ADS_2