
Bunda Jihan berusaha kembali menormalkan sikapnya. Bagaimanapun sekarang dia harus merahasiakan ini karena Ciya yang belum siap dengan pertemuan mereka.
“Jangankan kamu, Ken. Bunda aja gak lihat,” ucapnya. Kenji sangat ingat dulu, ketika Ciya dikuburkan, dia sama sekali tak melihat wajah gadis itu. Sekujur tubuhnya tertutup dengan kain.
“Bunda juga gak lihat. Bunda juga ingat jika jarak kita dengan Ciya terlalu jauh waktu itu hingga kita gak bisa lihat wajah dia. Dari keluarga kita, cuma Om-nya Ciya yang lihat,” jawab Bunda Jihan. Saat itu mereka memang dibatasi juga jaraknya, tentu saja itu semua juga rencana dari Bagas.
“Om? Ciya punya Om?” tanya Kenji. Bunda Jihan melupakan jika Kenji tak tahu Ciya memiliki Om.
“Iya, dia punya Om. Saat itu dia datang dari luar kota dan hanya dia yang melihat Ciya.” Entah apakah alasan yang dia gunakan masuk akal atau tidak, yang penting sekarang Kenji harus mempercayainya.
“Tapi waktu itu Bunda juga terlihat mencurigakan.” Kenji seakan terus memojokan Bunda Jihan.
“Kapan?” tanya Bunda Jihan seolah dia tak ingat.
“Saat Bunda minta Ken buat cari pisau di luar, padahal pisau itu gak ada, kan?” tanya Kenji.
Bunda Jihan terkekeh mendengar hal itu. “Bunda minta maaf kala itu bikin kamu salah paham. Tapi Bunda waktu itu benar-benar ingat nyimpen pisau itu di luar. Besoknya ternyata pisau itu jatuh ke bawah meja yang ada di sana, jadi wajar kalau kamu gak lihat,” jawabnya dengan santai.
Tentu saja Bunda Jihan sudah memprediksi jika ini akan terjadi, jadi dia telah mempersiapkan jawaban semasuk akal mungkin untuk Kenji.
Kenji terdiam. “Ken, Bunda paham kamu rindu sama Ciya. Tapi kamu gak boleh gini, Ciya udah pergi, jadi jangan gini ya,” pintanya. “Mungkin suatu saat kita akan kumpul lagi sama Ciya di dunia yang abadi,” ucap Bunda Jihan.
Mendengar hal itu seolah Kenji disadarkan dari sebuah keserakahan yang dia rasakan sekarang. Serakah, dia menginginkan Ciya kembali, padahal Tuhan sudah mengatur semuanya.
“Bunda, Kenji minta maaf. Mungkin Bunda benar kalau Kenji cuma rindu sama Ciya. Harusnya Kenji gak gini,” ujarnya sambil menunduk dalam.
“Gak apa-apa. Bunda ngerti kok.” Dalam hatinya Bunda Jihan sungguh meminta maaf pada Kenji atas semua kebohongan yang dia ucapkan barusan.
“Bunda juga minta maaf ya,” ucap Bunda Jihan tanpa dia sadari.
Kenji menatap Bunda Jihan heran. “Kenapa Bunda minta maaf?” tanya Kenji.
“A-ah, Bunda minta maaf kalau Bunda pernah nyakitin kamu selama ini.” Entahlah, hanya itu yang sekarang terpikirkan dalam kepalanya.
__ADS_1
Kenji tersenyum dan mengangguk. “Sekarang hari kerja, kan? Terus kenapa kamu masih ada di sini jam segini?” tanya Bunda Jihan saat dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul satu lebih tiga puluh menit.
“Ah iya Kenji lupa cerita sama Bunda. Eh bentar, buat informasi aja kalau hari ini Kenji udah izin sama atasan Kenji.” Bunda Jihan terkekeh mendengarnya.
“Mau cerita apa tadi?”
“Dzikri udah bebas Bun. Dan Kenji juga udah ajak dia buat ambil alih perusahaan Ayah,” ucapnya.
“Terus gimana keputusan dia?” tanyanya.
“Dia setuju,” jawab Kenji.
“Terus sekarang dia tinggal di mana?”
“Dia tinggal di apartemen yang dia punya sejak dulu Bun. Tadi juga Ken habis dari sana dan dia... Astaga!!”
Kenji berteriak saat dia mengingat sesuatu. “Kenapa?!!” Bunda Jihan juga ikut berteriak karena terkejut.
“Astaga Ken. Kamu ini ada-ada aja, itu anak orang loh,” ujar Bunda Jihan heboh. “Sana kamu beliin obat jangan sampai dia kenapa-kenapa.”
Bunda Jihan akhirnya meminta Kenji pergi dari sana. Bukan mengusir, hanya saja dia tak ingin teman dari Kenji itu kesakitan.
“Iya Bun. Kalau gitu Kenji pamit dulu ya.” Kenji pergi dari sana setelah dia berpamitan. Sepertinya memang benar, orang yang dia lihat mirip dengan Ciya itu hanya halusinasinya karena dia terlalu merindukan gadis itu.
****
Cukup lama Ciya dan Javier menunggu di sekitar kompleks depan rumah Bunda Jihan. Awalnya Ciya akan kembali ke rumah Bundanya sesuai dengan rencana. Tapi tadi dia tak sengaja melihat sebuah mobil yang dia kenali.
Mobil yang tadi mengikutinya, itu berarti itu mobil Kenji.
“Tuh udah keluar.” Javier yang sedari tadi memperhatika pintu rumah Bunda Jihan akhirnya sekarang bersuara dan menunjukannya pada Ciya.
“Aahhh kenapa gak dari tadi sih? Gue udah pegal banget nunggu di sini,” ucap Ciya. Posisi duduknya saat ini entah sudah yang keberapa kali karena dia sangat pegal terus duduk di sana.
__ADS_1
Mereka belum memajukan mobilnya, masih menunggu Kenji benar-benar pergi dari sana.
“Yuk, udah gak ada tuh!” ajak Ciya. Dia yakin jika Kenji telah pergi dari sana. Akhirnya Javier melajukan mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Bunda Jihan.
Baru saja Bunda Jihan akan menutup pintu, tiba-tiba dia melihat Ciya dan Javier yang telah datang.
“Loh, kok pulangnya sama Javier. Beyza ke mana?” tanya Bunda Jihan heran karena tadi anak gadisnya itu berangkat dengan Beyza namun sekarang dia pulang dengan orang yang berbeda.
“Mungkin Kak Kenji juga udah cerita sama Bunda? Kalau tadi dia lihat Ciya dan dia kejar Ciya sama Beyza. Akhirnya Ciya telpon Javier buat jemput,” jawab Ciya sesuai dengan apa yang dia alami tadi.
“Pantesan, tadi dia juga bilang gitu. Dia bilang terus ketemu sama orang yang mirip kamu,” jawab Bundanya.
“Terus Bunda jawab apa?” Ciya khawatir karena sejauh ini yang Ciya tahu, Bundanya itu sama sekali tak bisa berbohong.
“Udah Bunda jawab dan dia percaya,” jawabnya. Mungkin karena telah sering berbohong membuat dia lebih terbiasa dengan hal itu.
“Ahh syukurlah kalau dia percaya,” jawab Ciya.
Gadis itu mendudukan dirinya di kursi setelah hari yang panjang ini. Dia merasa sangat lelah dan ingin berbaring.
“Bersih-bersih dulu sana, nanti baru tidur,” ujar Bunda Jihan yang melihat Ciya telah memejamkan matanya.
“Kamu mau nginep di sini juga Vi?” tanya Bunda Jihan pada Javier.
“Enggak Tan. Sekarang juga Vi mau pulang.”
“Makasih ya Vi udah tolong gue,” ucap Ciya sebelum pria itu berlalu.
“Oke. Tapi jangan main ke tempat yang aneh-aneh lagi deh,” pintanya yang diangguki oleh Ciya.
Ciya sebenarnya tidak berjanji, tapi dia akan berusaha untuk tak bepergian ke tempat yang mungkin akan mempertemukan dia dengan orang-orang yang sangat dia hindari.
“Oke, gue pulang ya. Tan Vi pulang dulu.”
__ADS_1