
Siang itu pada jam istirahat kantor, Kenji sengaja izin untuk keluar sebentar. Atasannya juga dengan senang hati mengizinkan, namun atasannya itu meninggalkan sebuah tugas untuk Kenji seperti biasa.
“Hari aja, soalnya di hari lain juga pasti sama sibuknya da hari libur juga masih harus kerja,” ucap Kenji sambil menghidupkan mesin mobilnya.
Pria itu melajukan mobilnya hendak pergi ke apartemen Dzikri. Sedari tadi temannya itu dihubungi namun tak kunjung ada balasan, padahal hari ini Kenji akan menepati janjinya untuk menemani pria itu pergi ke makam Ciya.
“Tunggu, beli bunga dulu kali ya,” ujar Kenji saat dia melihat seorang penjual bunga. Setelah selesai dengan bunga, Kenji kembali melanjutkan tujuannya menuju apartemen temannya.
Setibanya di sana, Kenji langsung masuk tanpa menunggu sang pemilik membukakan pintu karena dia juga sudah tahu kode sandi apartemen temannya itu.
“Dzik!!” panggilnya. Kenji agak curiga karena suasana di dalam sini sekarang sangat dingin dan tak ada satupun lampu yang menyala. Semuanya gelap bagaikan tak ada penghuni.
Kenji terus berjalan hingga dia tiba di dapur setelah sebelumnya dia mengecek temannya itu di kamar dan tak menemukan apapun.
“Ken,” bisik seseorang. Kenji sama sekali tak melihat ada orang di sana karena juga memang gelap. Bodohnya, dia bahkan tak mengingat untuk menyalakan lampu terlebih dahulu.
Tak lama setelah bisikan itu, ada seseorang yang menggenggam pergelangan kakinya yang membuatnya sontak terlonjak dan terjatuh saking kagetnya.
“Sia*an!!” umpatnya. “Lo apa-apaan sih?!!” Kenji berteriak kala dia telah melihat siapa yang melakukan itu padanya.
“Sorry, tapi gue benar-benar gak bisa bangun,” ucap Dzikri. Ya, orang yang berhasil membuatnya terkejut adalah temannya sendiri.
Kenji bangkit. “Lagian lo ngapain tiduran di dapur?!” kesalnya.
“Gue juga gak mau, tapi demi Tuhan kalau gue baru aja bangun sekarang. Kayanya gue pingsan deh,” ucapnya.
Kenji menyalakan lampu agar dia bisa melihat lebih jelas dan yang lebih penting adalah agar tak ada lagi yang membuatnya terkejut.
“Ya udah, bangun sekarang! Katanya mau lihat makam Ciya,” ucap Kenji sambil menyimpan bunga yang sekarang sudah tak berupa itu karena tertindih saat terjatuh tadi.
__ADS_1
“Kalau gue bisa juga gue bakal bangun dari tadi. Gue gak bisa bangun, tolongin gue, perut gue sakit.”
Sekian lama Kenji mendiamkan temannya itu akhinya dia tahu apa yang membuat temannya berbaring di sana.
“Kenapa gak bilang dari tadi?” Kenji semakin dibuat kesal karena sekarang dirinya terlihat seperti orang jahat yang tengah mediamkan temannya yang sedang kesakitan.
“Kan lo marahin gue terus, mau kapan gue bilang sama lo,” jawabnya. Sekarang pria itu tengah digandeng oleh Kenji agar tak terjatuh.
“Lagian kenapa bisa sakit? Kemarin kan lo baik-baik aja,” ucap Kenji.
“Gue gak makan dari kemarin dan gue gak punya uang sepeserpun.” Sekarang dia sama sekali tak malu jika harus mengatakan pada Kenji jika dirinya tak memiliki uang.
“Udah kelaparan, baru aja lo bilang kalau lo gak punya uang. Kenapa gak bilang dari kemarin?” tanya Kenji.
“Ya dah sih jangan marahin gue terus. Jadi, lo mau kasih gue makan atau enggak?” tanya Dzikri dengan tak tahu malunya.
“Nih beli sendiri!” Kenji menyodorkan bebeapa uang seratus ribuan meminta agar Dzikri membeli sendiri makanan yang dia inginkan.
“Enggak, karenaa gue udah beli bunga, gue bakal tetap berangkat buat jenguk Ciya,” ucapnya.
“Sorry, kayanya gue sekarang gak bisa ikut,” sesalnya. Padahal dirinya yang meminta Kenji untuk menemaninya menemui Ciya, tapi dirinya juga yang membatalkan.
“Gue tahu dan gue juga gak minta lo ikut. Pesan makanan, gue ke makam Ciya dulu. Abis dari sana, nanti gue balik ke sini buat beli obat,” ucap Kenji yang diangguki oleh Dzikri.
Itulah kenapa Kenji bisa berada di makam Ciya tepat ketika Ciya juga berada di sana.
****
Kenji kembali mengendarai mobilnya setelah dia menemui Beyza di jalan tadi. Dia sangat yakin dengan apa yang dia lihat jika dia melihat Ciya. Tapi kenapa setelah berhenti tadi, tak ada siapapun di mobil Beyza?
__ADS_1
“Kenapa gak ada? Padahal gue yakin banget. Apalagi gue udah lihat orang itu dua kali.” Setelah diingat berulang kali, Kenji bertemu dengan orang itu sebanyak dua kali.
Bukan bertemu, lebih tepatnya dia melihatnya dari kejauhan. “Gak bisa, gue harus pasiin ini ke rumah Bunda,” ucapnya.
Akhirnya pria itu memutuskan untuk pergi ke rumah Bunda Jihan hendak memastikan apakah yang dilihatnya memang benar atau tidak.
Bahkan pria itu melupakan janjinya pada Dzikri. Entah temannya itu masih selamat atau tidak tanpa meminum obat.
Kenji tiba di rumah yang telah dia tuju. Dia menyimpan mobilnya agak jauh dari rumah Bunda Jihan, entah kenapa tapi perasaannya mengatakan jika dia harus melakukan itu.
Tok tok.
Padahal ada bel, tapi Kenji memilih untuk mengetuk pintu. Dia sama sekali tak bersuara, jika diingat kembali, saat beberapa hari lalu dia ke rumah ini, Bunda Jihan memintanya untuk mencari pisau yang sama sekali tak ada. Lalu wanita paruh baya itu tiba-tiba mengatakan jika dia akan menggunakan pisau lain, lalu kenapa tidak dari awal saja menggunakan pisau yang ada, bukannya malah mencari pisau yang tak ada itu.
“Iya sebentar,” jawab seseorang yang ada di dalam. Itu suara Bunda Jihan, Kenji bisa mengenalinya dengan mudah.
“Hei Ken, ke sini lagi? Emang kamu gak sibuk di kantor? Oh iya sini masuk,” ajak Bunda Jihan seperti biasa.
“Bunda, Ken mau tanya sesuatu sama Bunda,” ucap pria itu. Sangat terlihat jika raut wajah Kenji sekarang sangat serius, tidak seperti biasanya.
“Boleh, kalau Bunda bisa jawab, pasti Bunda jawab,” ujar Bundanya. Dia tidak menaruh curiga sama sekali pada Kenji saat ini.
“Bunda, Kenji pernah cerita, kan sama Bunda kalau Ken pernah ketemu sama orang yang mirip sama Ciya?” Bunda Jihan mengagguk. Kali ini dia bisa sedikit tenang dan berusaha mengontrol wajahnya.
“Hari ini Ken ketemu lagi sama dia. Bunda yakin kalau Ciya udah gak ada?” tanya Kenji. Entah keberanian dari mana dia bisa menanyakan hal ini.
“Kamu ini ngomong apa? Kan kamu juga waktu itu ada di rumah sakit, kamu lihat sendiri gimana Ciya pergi,” jawabn Bunda Jihan dengan tenang.
Beruntung dengan adanya Kenji di sana waktu itu membuat dia bisa dengan mudah mencari alasan.
__ADS_1
“Kenji emang di sana waktu Ciya pergi. Tapi Kenji sama sekali gak lihat gimana Ciya dikuburkan.” Hal itu yang membuat Bunda Jihan mematung.