Retisalya

Retisalya
S2 : Deep Talk


__ADS_3

Mereka telah tiba di rumah sakit Kwangya. Seperti yang telah dikatakan oleh Kak Kenji mereka sekarang menuju ruang pemeriksaan di mana Kenji biasanya diperiksa.


Namun sayang dia tak bisa ikut ke dalam karena ketentuan yang sudah ditetapkan. Akhirnya dia menunggu di ruang tunggu bersama dengan yang lainnya.


Karena dia merasa tak enak hati akhirnya gadis itu menuju ke kamar mandi untuk menenangkan hatinya dan sedikit membenahi penampilannya.


"Kenapa gue ngerasa gak tenang ya, padahal kan gue cuma berangkat sama Kenji," tanyanya sambil melihat pantulan dirinya di cermin.


Tak ingin berpikiran yang lain-lain akhirnya Ciya membasuh wajahnya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Setelah mengela nafas panjang akhirnya dia pergi dari toilet untuk kembali ke ruang tunggu. Dia tak ingin membuat Kenji khawatir karena tiba-tiba dia menghilang.


Tiba di ruang tunggu baru saja dia mendudukkan dirinya dia melihat seseorang yang sangat familiar wajah itu adalah wajah yang lima tahun lalu sangat dia dambakan dan sangat dia puja-puja.


"Kak Excel," lirihnya ketika dia melihat pria itu. Sekarang pria itu terlihat sangat tampan dengan balutan jas putih khas dokter yang menempel di badan tegapnya.


Namun sayang postur dan juga ekspresi wajahnya sangat terlihat jika pria itu sangat frustasi. Axel berjalan mendekat ke arah Ciya namun sepertinya pria itu sama sekali tak melihat atau mengenali Ciya.


"Semoga dia nggak lihat," ucap Ciya. Gadis itu terus merapalkan doa yang dia bisa sambil menundukkan kepalanya sementara itu Axel melewatinya begitu saja.


"Bahkan sampai sekarang dia nggak mau lirik gue sama sekali," ucapnya.


"Tapi tunggu dulu kenapa dia bisa ada di sini? Dia seorang dokter?" tanyanya penasaran.


Namun untuk saat ini dia sama sekali tak bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya.


Mungkin nanti pulang dari sana dia akan bertanya kepada Daddy-nya.

__ADS_1


Tqkk lama Kenji keluar dengan wajah tersenyum. Tentu saja dia hari ini sangat bahagia karena ada yang mengantarnya. "Udah Kak?" tanya Ciya sambil bangkit dari duduknya.


Kenji mengangguk. "Udah. Mau langsung pulang?" tanya Kenji.


Namun tanpa diduga Ciya malah menggelengkan kepalanya. "Kita jalan-jalan dulu boleh. Masih ada yang mau Ciya omongin sama kakak. Sebenarnya Ciya mau tanya sesuatu sih."


"Boleh mau sambil jalan-jalan?" tanya Kenji dengan ramah. Ciya mengangguk menyetujui tawaran Kenji.


Akhirnya mereka pergi ke sebuah taman yang cukup besar di rumah sakit itu. Taman itu memang dibuat untuk pasien dan juga kerabat yang ingin menjenguk pasien agar tidak bosan berada di kamar.


"Apa yang mau kamu tanyain?" tanya Kenji pada gadis itu.


"Waktu kakak tadi di dalam aku melihat Kak Axel berada di sini, dia juga pakai jas putih yang sering dipakai oleh dokter. Dia kerja di sini?" tanya Ciya. 


Kenji sadar jika Ciya masih memiliki perasaan yang belum selesai dengan Axel. Maka dari itu dia terus bertanya tentang Axel padahal dulu Axel adalah orang yang paling menyakitinya.


"Iya dia kerja di sini udah cukup lama. Mungkin sekarang jabatannya udah tinggi, gue kurang tahu," jawab Kenji.


"Lo masih suka kan sama dia?" tanya Kenji. Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya setelah dari tadi dia menahannya agar tidak menanyakan itu pada Ciya.


Ciya hanya terdiam mendengar pertanyaan itu dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini apakah dia masih mencintai Axel seperti yang Kenji katakan atau justru dia bertanya seperti itu untuk berjaga-jaga agar dia tidak terlalu sering datang ke sana?


"Nggak tahu Kak Ciya juga bingung sama perasaan Ciya sendiri." Ciya ngerasa kalau kepergian Ciya lima tahun ini bener nggak ada gunanya.


"Pada akhirnya kayaknya Ciya Emang masih mengharapkan Kak Axel untuk kembali menerima Ciya. Ah maksud Ciya bukan kembali tapi berusaha buat nerima Ciya," jawab Ciya akhirnya.


"Kalau lu emang masih sayang sama, dia temuin dia. Lo gak tau kan selama ini dia semenderita apa karena kehilangan lo?" 

__ADS_1


 Mendengar hal itu Ciya tentu saja terkekeh dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kenji. Mana mungkin Axel menderita hanya karena kehilangannya. Sementara dulu pria itu selalu berusaha agar dirinya menjauh dari pria itu.


"Nggak mungkin Kak Axel menderita karena kehilangan aku. Kakak tahu sendiri gimana dulu dia nolak aku mati-matian," jawab Ciya.


"Nggak selamanya dia nolak lo, lo gak tau kan gimana nangisnya dia waktu Dokter bilang kalau lo udah meninggal? Waktu itu dia nggak berhenti-berhenti nangis dan terus minta maaf sama lo atas apa yang telah dia lakuin sama lo."


Mendengar hal itu Ciya dibuat terkejut lagi dia tak tahu tentang kenyataan itu karena tidak seorang pun ada yang mengatakan hal itu padanya termasuk Bundanya sendiri.


"Gue tahu ini privasi Axel tapi waktu dia nanganin gue buat tes kesehatan, gue pergokin dia lagi lihat foto lo yang ada di meja kerja dia."


"foto Ciya di meja kerja dia?"


Ciya merasa tak percaya dengan yang satu ini.


"Kalau lo gak percaya, lo bisa ke ruangan dia sekarang. Gue bisa jamin kalau foto lu ada di atas meja kerja dia. Yang perlu lo tahu kalau sekarang Axel adalah Direktur baru rumah sakit."


 Entah berapa kali lagi dia harus merasa terkejut dengan hal-hal yang baru dia ketahui. "Kenapa Daddy  gak bilang sama Ciya?" tanyanya.


Kenji hanya menggedikan bahunya pertanda dia tidak tahu alasan kenapa Daddy Ciya tidak memberitahukan hal itu pada putrinya langsung sama dia. 


"Kenapa dia nggak kasih tahu lo kalau Axel ada di sana?"


"Menurut kakak Apakah Daddy tahu sama Kak Axel? apa dia kenal Kak Axel?" tanyanya  "Dia sampai rela bawa lu ke luar negeri buat berobat, Itu tandanya dia sayang sama dan bisa jadi selama ini maksud gue selama lo di sekolah lima tahun lalu dia selalu perhatiin lo dari jauh karena itu gue bisa bilang kalau Mungkin aja Daddy lo tahu tentang Axel."


Ciya terlihat terdiam sepertinya Gadis itu Tengah memikirkan sesuatu. Jangan bilang kalau Dasdy punya dendam sama Axel?


"Kak Kenji menurut kakak Apakah Daddy punya dendam sama Kak Axel?"

__ADS_1


"Gue nggak tahu dan nggak bisa jawab itu tapi kalau pun Daddy lo punya dendam sama Axel bukan itu bagus lo jadi gak harus balas dendam sama dia biar Daddy lo yang lakuin."


Ciya terdiam ada sedikit raut sendu di wajahnya dengan itu Kenji bisa paham jika Ciya masih peduli pada Axel.


__ADS_2