Retisalya

Retisalya
S2 : Cerita Lima Tahun Silam


__ADS_3

Ciya dan Bunda Jihan sekarang berada di taman belakang. Sementara Javier malah numpang tidur di sana.


"Bunda, Ciya mau tau apa yang terjadi lima tahun lalu," tanyanya.


"Ciya pernah tanya ini sama Daddy, tapi Daddy bilang biar Bunda aja yang jelasin. Selama lima tahun ini Ciya gak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi," sambungnya.


Bundanya terlihat diam untuk sesaat. Mungkin dia bingung harus memulai ceritanya dari mana.


"Lima tahun lalu, kamu sakit keras dan hari itu Dokter udah vonis kalau kamu gak bisa selamat dan dinyatakan meninggal. Semua orang diminta agar keluar ruangan, dan saat itu Daddy kamu masuk. Tepat saat Daddy kamu masuk, detak jantung kamu kembali, Nak. Itu adalah sebuah mukjizat," jelasnya. Dia masih sangat mengingat bagaiamana adiknya dulu bercerita padanya dan dia sangat bersyukur akan hal itu.


"Daddy kamu urus semuanya dari mulai pemakaman kamu yang tidak nyata, pindahan kamu ke luar negeri untuk berobat, bahkan dia juga yang jaga kamu selama di sana. Bunda selalu ingin bertemu dan menyusul kamu ke sana, Nak. Tapi Daddy kamu bilang Bunda gak bisa ke sana untuk kebaikan kamu. Bunda ngerti, terlalu banyak teman kamu yang terikat dengan Bunda, itulah kenapa Daddy kamu larang Bunda ke sana. Itu yang terjadi lima tahun lalu."  Bunda Jihan menyelesaikan ceritanya.


"Lalu teman-teman Ciya?" tanyanya Ragu. Dia tak ingin membuka luka lama, tapi dia rindu dengan orang-orang di masa lalunya.


"Semua orang sayang kamu. Semua orang kehilangan kamu. Itulah kenapa sampai saat ini Bunda selalu terima kedatangan Kenji ke sini karena Bunda merasa bersalah udah bohongin dia." 


"Semua orang?" Ciya kembali bertanya.


"Termasuk…" Ciya sengaja menggantung kalimatnya karena sangat berat baginya untuk menyebutkan nama orang itu.


"Termasuk dia," jawab Bundanya. 


Hal itu berhasil membuat Ciya mematung. Matanya tak berkedip. Apakah dia yang dimaksud oleh Bundanya adalah orang yang dulu sangat dia cintai?


"Perjuangan kamu gak sia-sia karena pada akhirnya dia jatuh pada kamu sayang," ucap Bundanya.


Ciya masih terdiam. Gadis itu bingung mau menjawab apa setelah semua yang dikatakan oleh Bundanya.


"Sayang, Bunda tau niat Daddy kamu bawa kamu ke sana selain untuk pengobatan, dia juga mau jauhin kamu dari sumber rasa sakit kamu. Tapi Bunda akan serahkan sama kamu, apa kamu mau kasih dia kesempatan lain atau memilih membiarkan dia dengan rasa sesalnya seumur hidup. Itu pilihan kamu." 


Mendengar hal itu membuat Ciya menatap Bundanya dengan tanya.


"Dia dengan rasa sesalnya? Apa bahkan dia belum menemukan orang baru di hidupnya? Atau mungkin Daisy?" tanya Ciya. Gadis itu memberanikan diri untuk menyebut nama seorang gadis yang dulu sangat menyakitinya.


Bunda Jihan menggeleng. "Dia masih sendiri dengan rasa sesalnya dan Daisy sedang menanggung karma dari perbuatannya. Dia ada di rumah sakit jiwa." Tangan Ciya terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat mendengar penuturan Bundanya.

__ADS_1


"Dia di rumah sakit jiwa?" Ciya bertanya kembali untuk memastikan jika Bundanya tak salah bicara.


Namun anggukan dari sang Bunda membuat Ciya akhirnya percaya.


"Astaga kenapa semuanya bisa jadi kaya gini?" lirihnya. Dia tak berharap semua orang itu akan menderita. Justru dia sangat berharap orang-orang itu bahagia. Tapi apa ini?


"Maafkan mereka ya, Bunda gak paksa kamu buat ketemu lagi sama mereka. Bunda cuma mau kamu maafin mereka. Tetap jadi orang baik yang memaafkan kesalahan orang-orang," ucap Bundanya.


"Sebelum Ciya pergi ke Inggris juga Ciya udah maafin mereka Bun. Ciya gak pernah dendam sama mereka. Hanya saja kalau dimintai untuk bertemu, Ciya gak tau." 


"Gak apa-apa. Mulai dari memaafkan dan Bunda dukung kamu buat lupain mereka yang bikin kamu sakit. Tetap bahagia putri Bunda."


Bunda Jihan mendekat pada putrinya dan mengecup keningnya. Dia sangat merindukannya.


"Bunda kalau Ciya balik lagi ke Inggris dan tinggal di sana, Bunda gimana?" tanyanya.


"Selama itu baik buat kamu Bunda dukung. Bunda gak apa-apa di sini. Lagipula Kenji pasti akan datang jenguk Bunda kali-kali," jawabnya.


Sebenarnya berat bagi seorang ibu untuk melepaskan anaknya. Tapi seorang ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya bahkan jika dirinya harus sakit.


"Siapa Bun?" tanyanya pada sang Bunda.


Bundanya menggedikan bahu karena dia juga tak tahu. Karena penasaran dan dengan agak cemas, Ciya berjalan ke arah dapur setelah sebelumnya dia mengambil sebuah sapu untuk digunakan sebagai senjata.


"Ih Lo ngagetin tau gak?!!" marah Ciya saat ternyata yang ada di dapur adalah Javier. 


Pria itu tengah membuat jus. "Ini rumah orang loh, lo gak tau malu banget ya!" sambung Ciya kesal.


"Apa sih Na. Gue cuma haus dan mau jus. Boleh kan Tan?" tanya pria itu pada sang pemilik rumah.


Bunda Jihan mengangguk sambil terkekeh melihat tingkah laku dua orang yang ada di depannya itu.


"Udah numpang tidur, jadi beban pula," ujarnya sambil kembali menyimpan sapu yang dia ambil di tempatnya.


"Mau gak?" Javier bertanya tanpa mendengarkan segala macam keluhan dari Ciya.

__ADS_1


"Ya mau lah!" 


"Nah kan? Mau juga kan akhirnya. Dasar!" Meski begitu akhirnya Javier membuat tiga gelas jus. Untuk dirinya, Ciya dan juga Bunda Jihan.


Ciya dan Bunda Jihan menunggu di meja makan sambil kembali mengobrol ringan.


"Kalian beneran gak mau tidur di sini? Terutama kamu?" tanya Bunda Jihan lagi. Selepas berpisah dengan putrinya selama lima tahun, tentu saja dia ingin bermanja dan bersama lebih lama.


"Kalau aku kayanya enggak Tan."


"Nanti Ciya coba ngomong sama Daddy deh, boleh gak kalau Ciya tidur di sini," ucap Ciya mencoba menentramkan hati Bundanya.


Bunda Jihan tersenyum setidaknya dia memiliki harapan agar Ciya tidur di rumahnya.


"Tadi Daddy telpon gue. Katanya dia juga mau ke sini abis dari rumah sakit. Jadi kita disuruh jangan pulang duluan," timpal Javier.


"Oh gitu. Emang jam berapa Daddy mau pulang?" 


Javier melirik jam di dinding. "Sekitar jam lima mungkin?" 


"Masih ada waktu cukup lama kalau gitu buat kita cerita," jawab Ciya.


"Silahkan diminum."Javier menghidangkan jus buatannya.


"Gak sekalian sama makanannya juga?" tanya Ciya.


"Dih dikasih hati minta jantung," ucapnya.


Javier duduk di samping Ciya dan mulai meminum minumannya.


"Bunda Ciya gak bohong loh. Ciya lapar," cicitnya. Sudah sejak tadi perutnya sangat keroncongan dan sudah menagih untuk diberikan asupan.


"Ya udah, kamu mau makan apa? Biar Bunda masakin." 


"Beneran?" Ciya sudah sangat lama tak makan masakan Bundanya. Tentu saja dia sangat merindukannya.

__ADS_1


__ADS_2