Retisalya

Retisalya
Dzikri's POV


__ADS_3

Kenalin, gue Dzikri Moza. Orang yang tak seberuntung orang lain. Kehidupan mewah yang selalu mengelilingi hari-hari gue itu hanya sebuah kedok.


Wajah yang orang bilang tampan ini sebenarnya menyimpan banyak luka di tempat-tempat yang tak nampak.


MZ. Group, siapa yang tak mengenal perusahaan itu? Salah satu perusahaan tersukses yang dipegang oleh pria arogan dengan tempramen buruk.


Pria itu adalah Ayah gue. Dari luar, keluarga kita terlihat harmonis dengan bergelimang harta dan cinta.


Bunda yang memilih melanjutkan karirnya di bidang desain juga tak jarang membuat orang lain iri.


Itulah yang orang lain lihat tanpa memedulikan keadaan sebenarnya di balik keluarga ‘harmonis’ ini.


Sebenarnya banyak sekali luka yang kami terima. Seperti beberapa tahun lalu, entah karena apa Ayah mengamuk di rumah dan membanting barang-barang yang dia lihat.


Kebiasaan buruknya kumat. Tak hanya barang-barang mewah itu yang menjadi sasaran, tapi orang yang ada di rumah itu juga menjadi santapan lezat untuk meluapkan amarahnya.


“Arrgghhh sialan!!” Semua barang yang berada di atas lemari kini berjatuhan karena pria itu.


Wajah memerah dengan rahang mengeras tentu sudah menjadi gambaran bahwa pria itu kini sedang berada di puncak amarahnya.


“Yah, tenang! Ada apa ini.” Udah. Gue udah coba nenangin pria yang gue sebut Ayah itu, tapi nilih semua tak ada artinya.


Tatapannya berubah tajam saat Ayah natap gue. Tentu saja gue yang memang udah tahu apa yang selanjutnya terjadi hanya bisa diam dengan tubuh bergetar.


Benar saja, Ayah melangkahkan kakinya mendekat ke arah gue.


“Anak gak guna! Udah saya bilang, belajar berbisnis!!” Sebuah dorongan di bahu gue sukses membuat gue terhuyung. Bukan karena gue lemah, tapi dorongan itu benar-benar kuat.


Belum sempat gue bangkit sebuah tendangan mendarat di perut gue.


“Karena kamu gak guna!! Saya kehilangan klien penting saya!!” Habis-habisan Ayah gue membentak gue.


Melawan? Itu bukan ide yang bagus. Gue cuma bisa diam jika masih ingin hidup. Mendengarkan omelan yang sebenarnya bukan sepenuhnya salah gue. Gue hanya menjadi pelampiasannya.


“Perusahaan kurang ajar. ZK sialan!!” umpatnya. Tak hanya mengumpat, Ayah juga melayangkan pukulan pada wajahku.

__ADS_1


“Dzikri!!” teriak wanita paruh baya yang baru saja memasuki rumah.


Gue menoleh buat memastikan jika itu memang benar nyokap gue. Dan ya, dia di sana sudah menangis dengan badan yang gemetar.


Ayah yang mendengar suara Bunda sontak melangkahkan kakinya ke arah wanita itu sebelum dengan sigap gue menahan kakinya.


Bersyukurlah posisi gue masih terbaring hingga membuat gue dengan mudah menahan kaki Ayah.


“Masuk kamar, Bun.” Itulah yang gue katakan karena gue tahu Ayah juga akan melakukan hal yang sama pada Bunda.


“T-tap-“


“Dzikri bilang masuk!” Akhirnya gue berteriak karena Bunda tak mendengarkan perkataan gue. Bukan tak sopan, hanya saja gue gak mau apa yang terjadi pada gue juga terjadi pada Bunda.


Karena teriakan gue akhirnya Ayah kembali fokus pada mangsanya.


Ayah menghempaskan tangan gue yang menahan kakinya dan kembali menendang pria yang menjadi putranya ini.


Dengan sekuat tenaga gue bangkit dan menahan amarah Ayah. Memegang kedua bahu ayah dan mengingatkan pria itu.


“Karena anak tolol kaya kamu yang gak pernah mau belajar bisnis, saya kehilangan klien saya!! ZK group berhasil mengambil semuanya!!” Ayah kembali mendorong gue hingga badan gue terpental dan luar biasanya kepala gue mengenai bagian sudut lemari.


Mungkin maksudnya, jika saja gue mau belajar bisnis dan mengerti bisnis, gue bisa membantu Ayah menahan klien-nya agar tak pergi.


“Cih selain tak berguna ternyata kamu juga lemah!!” Ayah meludah di hadapan gue dan setelahnya melenggang pergi dari rumah.


Memang cukup pening, gue memegang bagian belakang kepala gue yang terbentur. Darah.


Gue tersenyum getir. Apa lagi yang gue harapkan setelah Ayah mengamuk seperti ini? Selamat tanpa luka sedikitpun? Cih, mustahil.


Dengan susah payah gue berusaha bangkit dan mencari pegangan agar tak tumbang begitu saja. Satu tempat yang dia tuju saat ini, kamar Bundanya. Dia ingin memastikan keadaan wanita paruh baya itu.


“Dzikri,” lirih Bunda gue. Rat khawatir sangat ketara di wajahnya. Wanita paruh baya itu segera bangkit dan menghampiri putranya.


“Dzikri gak apa-apa,” ucap gue lemah.

__ADS_1


“Astaga darah!!” teriak Bunda setelah melihat telapak tangan gue yang berlumuran darah. Perlahan, Bunda memutar tubuh gue mencari dengan teliti di mana sumber darah itu berasal.


Bunda sontak menutup mulutnya karena kaget setelah menemukan lukanya.


“Kita ke rumah sakit sekarang.” Bunda menggandeng tangan gue menuju mobilnya dan seperti yang dia katakan, kita menuju rumah sakit.


Ini memang jahitan pertama di kepala gue, tapi bukan jahitan pertama di tubuh gue. Masih banyak bekas jahitan yang ada di tubuh gue yang tak pernah gue perlihatkan pada siapapun. Hanya gue dan Bunda yang tahu.


Setelah selesai dengan pengobatan singkat ini, pikiran gue melayang ke masa di mana Ayah menyebutkan alasan melakukan ini.


ZK group. Orang yang membuat gue merasakan luka. Entah karena sudah bosan atau terlampau sakit, gue mencari informasi seputar perusahaan itu.


Malam itu, malam di mana Ayah kembali kumat. Gue bisa tahan jika yang diperlakukan seperti itu adalah gue, tapi kali ini Ayah melakukannya pada Bunda. Dia menampar dan menjambak Bunda sekuat tenaga.


Gue berusaha melerai keduanya. Setelah berhasil mengamankan Bunda, gue yang udah mendapatkan informasi tentang perusahaan itu dan siapa pemiliknya lengkap dengan alamatnya, tanpa sadar pergi ke alamat itu dengan tergesa walaupun gue tak melupakan masker untuk menutupi wajah gue.


Gue memasuki rumah yang gue yakin itu rumah pemilik ZK group. Dari informasi yang gue dapatkan, pemilik ZK group adalah seorang perempuan.


Hanya untuk berjaga-jaga, gue mengambil botol kaca bekas dari luar rumah itu.


Gue menjatuhkan barang-barang yang ada di sana. Awalnya hanya untuk menakuti dan meneror keluarga ini, namun karena terkejut dengan kedatangan wanita paruh baya, gue memukulkan botol kaca itu tepat di kepalanya.


Teriakan wanita itu selal terngiang di telinga gue. Karena terkejut dengan apa yang udah gue lakukan, gue mencoba menghirup udara dengan membuka masker gue dan memastikan apa yang udah gue lakukan.


“Sialan, kelepasan!” umpat gue.


Gue lari dari sana dengan nafas yang terengah. Kaget? Pasti. Gue memandangi tangan gue yang penuh dengan darah dan tak menyangka gue bisa melakukan hal sekeji itu.


Bukan itu maksud dari kedatangan gue ke sana. Awalnya hanya ingin membuat keluarga itu ketakutan dan menerornya, namun siapa sangka gue melukainya.


Tak lama suara ambulan memekakkan telinga gue.


“Gak mungkin, kan?” tanya gue berbisik. Badan gue bergetar. Gak mungkin ambulasn itu menuju rumah tadi kan?


“Enggak, itu pasti gak mungkin,” lirih gue.

__ADS_1


__ADS_2