
Akhirnya Ciya memutuskan untuk berbelanja bahan dan alat yang diperlukan terlebih dahulu. Tenang saja, kali ini Bunda Jihan yang menyetir.
"Bunda selama lima tahun ini kalau kemana-mana suka nyetir sendiri?" tanya Ciya.
"Hmm. Setelah kalian pergi, Bunda kemana-mana sendiri. Awalnya mau naik taksi, tapi ternyata biayanya lebih mahal," jawabnya.
"Ahh gitu. Enak ya kalau bisa nyetir kemanapun jadi gampang," sambungnya.
"Kamu juga bisa. Cuma mungkin emang gak biasa aja."
Ciya mengangguk setuju. Jika saja kemampuan menyetirnya itu lebih sering digunakan mungkin dia akan lebih fasih berkendara.
"Mungkin nanti Ciya akan minta Daddy buat kasih izin Ciya nyetir sendiri," ucapnya yang disetujui oleh Bundanya.
Mereka tiba di sebuah swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Hari ini terlihat lebih ramai dari biasanya.
"Wahh Bun ini rame banget,"ucapnya saat melihat keadaan yang ada di depannya.
"Iya gak apa-apa. Kita cuma bentar kok, beli tepung, gula sama bahan-bahan kecil lainnya abis itu kita pulang," ucapnya.
Ciya setuju, tapi entah kenapa dia menginginkan sesuatu. "Habis beli itu semua Bunda bisa temenin Ciya beli sesuatu gak?" tanya Ciya.
"Boleh, memangnya kamu mau beli apa?"
"Rahasia, yuk kita beli bahan buat cake dulu." Ciya berjalan lebih dulu seolah dia tahu di mana letak bahan-bahan cake. "Tunggu Bunda!" ucapnya agak berteriak ketika melihat sang putri jalan dengan antusias di depannya.
Ciya berbalik dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya. "Ayo Bun!" Ciya mengulurkan tangannya sebagai kode pada Bundanya agar menggenggam tangannya.
Bunda Jihan menggenggam tangan Ciya dan mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
Akhirnya Jihan bisa merasakan bagaimana rasanya berbelanja dengan sang putri ketika selama ini dia pikir hal itu sangat mustahil.
Mereka mengambil tepung. "Ini mau berapa Bun?" tanya Ciya karena tak tahu takaran yang akan mereka gunakan. Tepung kemasan menjadi pilihan mereka saat ini.
"Emm kita ambil dua aja deh udah cukup," ucap Bundanya.
Ciya mengangguk dan memasukan tepung itu ke dalam troli. Jangan lupakan bahan lain yang berfungsi sebagai penunjang.
"Ternyata banyak banget ya bahan buat biki cake ini. Ciya kira cuma pakai tepung sama gula pasir aja," kekehnya. Gadis itu melihat betapa penuh saat ini troli mereka.
Belum lagi belanjaan lain untuk sehari-hari yang membuat troli mereka semakin penuh.
__ADS_1
"Udah semua?" tanya Ciya meyakinkan Bunda Jihan.
"Kayanya udah deh. Kamu katanya tadi mau beli sesuatu. Mau apa?" Rupanya Bundanya itu masih mengingat apa yang dia katakan tadi.
"Ayo kita ke sana." Ciya membawa Bundanya ke tumpukan rak yang menyajikan sebuah topi.
Kemarin, waktu ke sini dia hanya membawa satu topi dan dia pikir itu kurang. Jadi dia memutuskan untuk membelinya lagi.
"Mau beli topi?" tanya Bunda Jihan.
Ciya mengangguk dengan semangat. "Bunda kira mau beli apa. Pakai dirahasiakan segala," ujarnya yang mengundang kekehan dari Ciya.
"Mau aja bikin Bunda penasaran. Bunda bantu pilih ya," ucapnya.
"Bunda gak tahu selera kamu kaya gimana. Kamu pilih aja sendiri," jawabnya karena dia takut apa yang menjadi pilihannya Ciya belum tentu suka.
"Gak apa-apa. Ciya bakal pakai apa yang Bunda pilih buat Ciya."
Bunda Jihan tersenyum sebelum kemudian dia memilih topi yang menurutnya cocok dengan Ciya.
Pilihannya akhirnya jatuh pada topi berwarna broken white dan juga berwarna abu. Tulisan yang ada di topi itu berbeda.
"Yang ini sama yang ini, menurut kamu gimana?" tanya Bunda Jihan.
"Udah itu aja?"
"Iya ini aja. Bunda mau beli apa lagi?" tanya Ciya. Siapa tahu ada barang yang tertinggal.
"Kayanya udah deh. Bahan buat cake udah, sayuran buat stok juga udah, apa lagi ya?" Jihan berusaha mengingat agar tak ada lagi yang tertinggal.
"Kamu mau stok minuman ringan gak?" tanya Bunda Jihan.
"Boleh?" tanya Ciya.
"Boleh. Tapi jangan yang bersoda ya." Ciye tersenyum senang. Dia mengangguk dan segera mengambil beberapa.
Selesai dengan semua yang ingin mereka beli, mereka segera menuju ke kasir. Seperti yang kalian tahu di sini sangat antri dan mereka juga harus mengantri panjang untuk membayar.
"Bunda tunggu aja di sana, biar Ciya yang antri di sini," pinta Ciya.
Dia takut Bundanya merasa pegal karena lama berdiri.
__ADS_1
"Ya udah, ini uangnya." Bunda Jihan hendak mengeluarkan uang dari dompetnya sebelum kemudian Ciya mencegahnya.
"Ciya yang bayar ya."
"Tapi–"
"Ciya ada uang. Bunda duduk di sana, nanti kalau Ciya udah selesai, Ciya ke sana." Tak bisa lagi menolak akhirnya Bunda Jihan berjalan ke sebuah tempat di mana dirinya bisa menunggu sambil duduk.
Dari sana dia memperhatikan putrinya dengan pandangan yang tak bisa diartikan. "Dia udah tumbuh, Yah," ucapnya.
Andai suaminya masih ada di sana, pasti akan mengucapkan hal yang sama. Ciya yang dulu dia kenal sangat polos sekarang menjadi dewasa dan sangat modis. Terlihat dari pakaian yang gadis itu gunakan.
Siapa yang tak akan menyukainya sekarang. Mungkin orang itu juga akan sangat menyesal jika dia melihat Ciya dalam kondisi seperti sekarang.
Bunda Jihan melihat kini giliran Ciya. Gadis itu menunggu kasir menyebutkan nominal belanjaannya sebelum kemudian dia menyerahkan sebuah kartu pada kasir itu.
"Dari mana dia dapat uang, padahal masih sekolah," kekehnya.
Ciya menghampirinya dengan dua kantong belanjaan di tangannya.
"Yuk Bun," ajak Ciya setelah mereka selesai.
Dalam perjalanan, ingin sekali Bunda Jihan menanyakan dari mana gadis itu mendapatkan uang.
"Kamu kerja di sana?" tanya Bunda.
"Emm Ciya bingung mau jelasin dari mana," kekehnya. Dibilang kerja juga dia hanya bermain dengan ponsel, tapi jika dibilang tak kerja, dia juga mendapatkan uang dari kegiatannya itu.
Sementara itu Bunda Jihan menunggu putrinya menjelaskan.
"Ciya jadi kreator di salah satu platform online Bun. Banyak yang nawarin Ciya buat promosiin produk mereka. Terus Ciya dibayar. Itu kerja kan ya?" tanya Ciya masih bingung.
"Ohh gitu. Baguslah kalau cuma kerja di rumah. Bunda kira kamu kerja diluar, padahal kan kamu masih harus fokus sama sekolah kamu."
"Enggak lah Bun. Lagian Ciya emang bisa apa kalau kerja dik luar. Kaya gini juga udah syukur soalnya bisa kurangin beban Daddy," kekehnya.
"Anak Bunda emang hebat."
Mereka tiba di rumah setelah beberapa menit berada dalam perjalanan.
"Mau langsung aja?" tanya Bunda Jihan.
__ADS_1
"Bentar ya Bun, Ciya mau ganti baju dulu. Gak nyaman banget," izinnya.
"Ya udah sana ganti dulu. Biar Bunda siapin ini semua. Nanti kita tinggal eksekusi," jawab Bundanya yang diangguki oleh Ciya.